Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 258 Berjumpa


__ADS_3

"Terserah bos ajalah..." akhirnya Johan menyerah juga.


Sambil menyetir Johan tampak senyum-senyum bahagia. Riko yang sedang mengecek pesan di gawai cerdasnya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum..!!"


"Tapi ngomong-ngomong bos...bu Della itu cantik juga ya?? tapi kok ngga ada yang mau ya?" kata Johan sambil mengetuk-ngetuk setir yang dia pegang.


"Bukan ngga ada yang mau, dia nunggu kamu melamarnya, John!!" jawab Riko ngasal.


"Masa sih bos??" tapi ditanggapi serius oleh Johan.


"Kamu coba aja lamar dia...Insya Allah dia akan menerimamu!!" kata Riko.


"Wesss...kalau begitu pulang sore nanti saya sehabis mengantar bos pulang mau balik ke toko perhiasan lagi, ahh!!" kata Johan tersenyum sumringah.


"Mau ngapain, John??" tanya Riko.


"Mau merampok mau bobol toko mas...ya mau beli cincinlah bos masa mau beli semen??" kata Johan.


"Iisshhh orang yang lagi kasmaran bawaannya sensitif amat..." kata Riko.


*****


"Dengan ibu Sania??" tanya dokter wanita setengah baya itu.


Sore itu karena Riko belum bisa pulang, akhirnya Riko meminta tolong kak Della untuk menemani istrinya untuk memeriksakan diri.


"Selamat ya bu, ibu Sania positif hamil!!" kata dokter Santi.


"Saya hamil lagi dok??" tanya Sania seolah tak percaya.


Ada nada kekhawatiran dari ucapannya.


Sania ingat akan penyakit yang sedang dia derita sekarang ini.


"iya ibu hamil...sekarang ini intinya ibu jangan terlalu lelah dan jangan stres juga yah...itu akan berdampak pada janin dan kesehatan ibu Sania sendiri...ini saya berikan resep vitamin dan obat untuk mengurangi mualnya, ya!!"


"Terima kasih dokter!!" kata Sania dan kak Della.


"Kak, apakah penyakitku tidak membahayakan anak yang aku kandung ini?" tanya Sania pada kak Della.


"Dan apakah aku masih diberikan kesempatan untuk melahirkan dan mengasuhnya seperti anak-anakku yang lain?" tanya Sania sedih.


"Nia, kakak ngga suka liat kamu pesimis begini, umur manusia sudah ada yang mengaturnya...jadi ingat kata dokter tadi usahakan untuk tidak stres dan tidak kelelahan.


"Iya kak!!" jawab Sania.


Sepanjang perjalanan pulang Sania terus kepikiran tentang kehamilannya. Apakah dia harus senangkah? atau sedihkah?"


"Apakah sampai umurku untuk melihat anak-anakku tumbuh dewasa? bagaimana jika aku harus dibuatkan pilihan antara harus memilih aku yang hidup atau bayiku yang hidup?"


"Ya Allah....semoga itu tidak akan terjadi pada hidupku...aku ingin melihat mereka semua tumbuh dewasa ya, Allah....semoga Engkau mengabulkan semua doa-doaku!!"


Dia menatap keluar jendela taxi online yang mereka tumpangi. Melihat Sania terdiam, kak Della menyapanya.


"Apa lagi yang kamu pikirkan, Sania? sudahlah...jangan kamu berpikiran yang tidak-tidak, tenangkan hati dan pikiranmu, oke!!" kata Della menepuk pundak adiknya.


*****


"Bagaimana sayang??"


Datang-datang bukannya membuka pakaiannya, Riko malah mencari istrinya dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Positif kan, yang???" tanyanya.


"Iya pah...mamah positif hamil lagi!!" jawab Sania.


"Benarkah? terima kasih sayang...terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang suami dengan dua orang putranya." Jawab Riko begitu bahagia!!


"Memang papah yakin yang kedua ini cowok lagi?" tanya istrinya.


"Sembarang aja lah, mah...yang penting mamah dan bayi kita sehat selalu!!" kata Riko.


******


Suara riuh di lapangan basket depan sekolah. Hari ini pertandingan basket antar sekolah segera dimulai. Pertandingan basket untuk mengeratkan persahabatan.


Kapten tim basket Nusa Bangsa, Leo Pranasetha dan kapten tim basket sekolah lawan, Juma Saputra.


Para gadis berteriak-teriak histeris...karena kebanyakan anggota tim basket itu ganteng-ganteng dan tubuh mereka yang tinggi atletis itulah yang menjadi incaran para siswi.


Para gadis berlomba-lomba untuk menarik perhatian para tim basket sekolah lawan yang gantengnya di atas rata-rata.


Tetapi yang paling menonjol di antara yang lain adalah kapten tim basket, Juma dan seorang lagi yang bernama Nathan. Mereka menjadi incaran para gadis.


Dina juga menonton pertandingan itu tapi tak seheboh teman-temannya yang lain.


Dia hanya duduk di pinggir lapangan dan tepuk tangan aja seperti sewajarnya tanpa ada drama teriakan histeris.


Mata Juma tak berkedip menatap wajah ayu gadis berkerudung yang duduk di pinggir lapangan.


"Dina!!" gumamnya.


Tapi dia tak bisa berpikir lama saat dia harus fokus kembali pada pertandingan itu. Tubuh jangkungnya sangat kontras dengan tubuhnya yang atletis dan membuat cewek-cewek menjerit melihatnya.


"Hadeuh...hanya seorang Juma saja harus diteriaki seheboh itu...apa sih istimewanya Juma dan Nathan sejak tadi dielukan terus!!" gerutu Dina.


Bruak....


Dina yang jalan sambil menunduk bertabrakan dengan sosok jangkung Juma.


"Isshhh dasar pendek...kalau jalan itu liat-liat!!" katanya.


Dina langsung mendongak dan memandang kesal pada orang yang telah memanggilnya dengan sebutan...PENDEK."


"Kamu kan tinggi...mestinya kamu bisa lihat aku yang pendek ini...dasar menyebalkan!!" kata Dina.


Tiba-tiba Juma langsung meraih tubuh mungil Dina yang hanya setinggi lehernya. Dipeluknya tubuh gadis yang beberapa bulan ini telah menghilang dan sangat dia rindukan.


"Dasar gadis nakal, bar-bar, tengil...kamu kemana saja kucari sampai keujung dunia kamu tak bisa lagi kutemui." Kata Juma.


Huft...hahaha


Tawa Dina meledak mendengar perkataan Juma, sementara si jangkung ganteng itu malah bingung melihat Dina malah tertawa.


"Apanya yang lucu??" tanyanya.


"Ya lucu lah...mencariku sampai keujung dunia...gayamu!!" kata Dina.


Juma memeluk Dina erat. Jangan pergi jauh dariku lagi ya pendek..." kata Juma.


"Aku mati rasa tanpamu di rumah dan di sekolah!!" kata Juma.


Ehem...ehem

__ADS_1


Spontan Juma melepaskan pelukan eratnya di tubuh mungil Andina.


"Kalian ini membuat aku cemburu!!" kata Nathan.


"Hai Nathan...apakah kamu juga mencariku sampai keujung dunia??" kata Andina tersenyum.


Nathan mengelus kepala Andina yang tertutup hijab.


Kitakan sahabat bahkan mulai sekolah dasar ya nyatalah aku juga mencarimu, kecil!!" kata Nathan.


"Apa maksudmu kita sudah saling mengenal sejak sekolah dasar, Nathan??" tanya Andina mengerenyitkan dahinya.


"Apa kamu lupa padaku, Dina?? aku Nat..Nathaniel..." kata Nathan.


"Dulu kita sering pulang bareng, berangkat sekolah bareng...sampai akhirnya kamu pindah ke kota dan meninggalkanku!!" kata Nathan sedih.


Dina terdiam mendengar perkataan Nathan. Sebenarnya dia sudah tau bahwa Nathan ini adalah Nathan teman masa kecilnya dulu...tetapi dia tidak mempunyai keberanian untuk menyapa apalagi mengingatkan Nathan, dia takut jika Nathan telah melupakan dia. Ternyata dia salah, Nathan tetaplah mengingat dirinya.


"Sudah nostalgianya??" kata Juma cemberut merasa diacuhkan.


"Ngga usah cemburu gitu, aku dan Dina teman akrab mulai sekolah dasar!!" kata Nathan.


"Kita kekantin aja yuk?? aku traktir kalian!!" kata Nathan.


Mereka berjalan menuju kantin tak disangka di kantin mereka bertemu dengan duo racun.


"Ya ela...kamu ini sudah seperti ja*lang saja ya?? sampai kekantin saja kamu diapit oleh dua orang cowok ganteng begini, berapa kamu dibayar oleh keduanya??" Vina berteriak lantang dari dalam kantin mengundang para siswa dan siswi untuk menatap kearah pintu kantin.


Wajah Juma dan Nathan sudah merah padam tetapi Andina tetap tenang-tenang saja.


Sengaja dia melewati Vina cs dan bersuara lantang.


"Juma, Nathan nama cewek yang mulutnya seperti kaleng rombeng ini Vina, dan yang lagi senyum-senyum ngga jelas itu namanya Susi mereka berdua ini baru kemarin keluar dari rumah sakit jiwa, jadi yah...mungkin sekarang ini mereka lupa membawa obat gilanya...jadi maaf ya, abaikan saja!!" kata Dina lalu mencari tempat duduk sengaja di tengah-tengah.


Ganti wajah Vina dan Susi yang merah padam.


"Cewek keparat....!!" maki Vina lalu melemparkan tempat tisu yang terbuat dari plastik.


Dina pura-pura menunduk kebawah bangku untuk mengambil sesuatu dari bawah meja.


Malang bagi Vina, pak Burhan guru fisika paling killer di kelas masuk kekantin dan langsung menerima lemparan tempat tisu pas di kepala botaknya.


"Vinnnaaaaa!!" teriak pak Burhan.


"Bukan salah saya pak...itu semua salah Dina!!" tunjuk Vina pada Dina.


"Kamu jangan kurang ajar melempar batu sembunyi tangan, saya nyata melihat kamu yang melempar ke kepala saya...kamu ngga suka sama saya bilang...saya skors kamu tidak usah mengikuti pelajaran saya selama satu bulan!!" kata pak Burhan menatap Vina dan Susi dengan kesal.


"Dasar kalian berdua ini biang kerusuhan!!" kata pak burhan.


Vina dan Susi keluar dengan wajah merah menahan malu. Niat hati ingin mempermalukan Dina, malah jadi dia yang dipermalukan di depan anak-anak semua.


Saat melewati Dina dia berucap, "kamu jangan main-main denganku brengsek!!" kata Vina.


Lalu Dina menjawab dengan dingin, "kamu yang jangan main-main denganku...putri keong!!" sambil tersenyum smirk.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Akhirnya Dina bertemu dan ingat akan teman masa kecilnya, lalu bagaimana jalinan kisah mereka? akankah menjadi sebuah jalinan cinta segi tiga??


Jangan lupa dukungan like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏


__ADS_2