Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 226 Bertemu


__ADS_3

Matanya yang tadi basah oleh air mata kini memancarkan tatapan maut yang mengerikan.


"Sabar ya sayang...ibu akan selalu ada bersamamu, ibu juga tau kok kalau Sania itu wanita yang baik...mungkin usia kalian memang jauh berbeda tapi apalah arti usia karena bagi ibu, itu hanyalah sebuah angka belaka!!"


"Terima kasih bu, hanya ibu yang mau mengerti keadaan Riko!!" Riko memeluk ibu Intan dengan erat.


"Kita akan segera ke Indonesia bertemu dengan anak istrimu, oke??" Riko mengangguk dengan binar mata bahagia.


*


*


"Hai..."


Dina hanya mengangkat sedikit kepalanya kearah suara yang menyapanya.


Nathan sudah memasang senyum terbaiknya pada gadis berperawakan mungil dan imut itu.


Tapi Nathan justru melongo saat Dina melewatinya tanpa membalas senyum itu sama sekali.


"Ambo...ngga ada dalam sejarah hidupku semenjak taman kanak-kanak aku di cueki cewek??" kata Nathan.


Nathan masih memandangi Dina yang duduk di bangkunya sambil membaca buku.


"Hai Nathan...rasanya pagi bertambah cerah semenjak kehadiranmu di sekolah kita!!" Trio biang kerok menggoda Nathan.


"Monik, Diah, Yuni...selamat pagi!! kalian juga cantik banget hari ini??" kata Nathan tersenyum sambil mencuri pandang ke Dina.


Tapi jangankan menoleh, mengangkat kepalanya pun tidak. Gadis itu masih asyik berkutat pada buku pelajarannya.


Sungguh tadi malam dia tidak bisa belajar dan tidur dengan tenang. Sepulangnya dari rumah sakit bundanya kembali demam begitu pula dengan Raftar adiknya.


Sebagai anak yang sangat sayang pada ibunya, akhirnya Dina bergantian dengan tante Della berjaga dan menggendong Raftar.


Setelah itu tampak gadis muda itu menelungkupkan kepalanya ke meja, dia benar-benar sangat lelah dan mengantuk.


Kepala Dina terasa sakit seperti diganduli batu segunung rasanya.


Belum sempat Nathan mendekat, tiba-tiba Juma muncul dan langsung duduk di sampingnya.


"Kepalamu sakit ya?? memang Raftar dan bunda masih sakit?" tanya Juma sambil memijit kepala Dina.


"Raftar?? bunda??" sepertinya mereka sangat mengenal satu dengan yang lain?? " bisik hati Nathan.


Dina mengangkat kepalanya dan menatap Juma sesaat.


"Iya...sepulangnya dari rumah sakit bunda kembali demam dan Raftar juga sakit jadi aku ikut membantu menjaga, kan kasihan tante Della berjaga sendirian!!" jawab Dina.


Sambil terus memijat kepala Dina, Juma berkata, "Kenapa kamu tidak menelpon ayah atau aku paling tidak Miki dan Miko bisa dibawa nginap di rumah biar ngga terlalu rewel."


Nathan terus memperhatikan Juma dan Dina.


"Kok aku tiba-tiba ngerasa cemburu dengan kedekatan mereka, ya?? bisa aja mereka berdua itu sepupu!! haduh...bikin malu saja kau ini Nathan!! " bisiknya lagi.


Saat bel masuk berbunyi, teman sebangku Dina ijin dua hari pergi keluar kota jadi Juma memutuskan untuk duduk sebangku dengan Dina sampai temannya itu kembali.


Sepanjang pelajaran berlangsung, Nathan yang tidak fokus karena kedekatan Dina dan Juma jadi bertambah kesal karena Juma memutuskan untuk mengantarkan Dina ke uks karena dilihatnya wajah Dina yang pucat pasi.


"Kalian berdua mau kemana?? butuh bantuanku?" tanya Nathan menawarkan diri.


"Ngga usah Nath, terima kasih!!" jawab Juma sementara Dina tak berkata sepatah katapun.


Sebuah tepukan di bahunya membuat dia terkaget.


"Kita ke kantin yuk!!" ternyata Joko teman sebangkunya.


Sepanjang perjalanan kekantin mereka mengobrol hingga akhirnya Nathan bertanya pada Joko.


"Juma itu siapanya Dina sih?? kakaknya kah??" tanya Nathan. Akhirnya dia tak mampu lagi menyimpan pertanyaannya.


"Sepertinya bukan...kami tidak tau pasti karena Dina dan Juma itu sama-sama pendiam bahkan Dina lebih parah lagi, dia gadis yang bukan hanya irit uang tetapi juga irit senyum dan irit bicara."


"Kenapa nanya-nanya tentang Dina?? kamu suka sama Dina ya...sebaiknya jangan deh sebelum kamu benar-benar dibanting olehnya.!!" kata Joko mengingatkan.

__ADS_1


"Kok bisa dibanting??" kening Nathan Anggara tiba-tiba berkerut.


"Dina itu juara 1 karateka tingkat sekolah, bahkan dia memenangkan pertandingan melawan sekolah xxx yang sudah 3 tahun berturut-turut menjadi juaranya." jelas Joko.


Nathan hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.


"Terus apakah cowok yang mau jadi pacarnya akan dibanting olehnya juga??" tawa Nathan mengekeh di iringi oleh Joko.


"Sebenarnya di satu sekolah ini hanya Juma yang berani mendekati gadis itu, cowok lain sudah gaer duluan jika berpandangan dengan mata dinginnya." Kata Joko.


"Pantas..." kata Nathan.


"Pantas apa??" tanya Joko.


"Dia imut sekali!!" kata Nathan sambil tersenyum.


*


*


"Lho, ibu kok sudah masuk?? bukannya ibu masih sakit??" tanya Hans saat dia dan Sania berpapasan di depan.


"Saya tidak mau sakit terlalu lama, Hans...almarhum sudah mempercayakan kepada saya urusan kafe ini, saya usahakan semampu saya untuk mengelolanya dan membuat kafe ini semakin maju."


Hans terpana melihat senyum berlesung pipit dari wanita cantik itu.


"Ibu...kenapa setiap hari kok tambah cantik sih!!" bisik hatinya.


"Sadar Hans sadar...eling...dia itu bosmu sekarang!!" bisiknya lagi.


"Saya ke dalam dulu ya Hans!!" pamit si cantik itu dan membuat Hans menjadi gelagapan.


"Ngopi sana dulu Hans biar ngga grogi!!" kata Sania lagi sambil berlalu keruangannya.


"Aduh...aduh..." Hans menampar pipinya kiri kanan agar dia segera tersadar.


Semua itu tak luput dari tatapan mata sayu seseorang.


Dengan semangat Hans menyiapkan menu-menu hari ini. Kafe sedang ramai pelayan sibuk semua melayani pesanan tak disangka dia melihat ibu idolanya itu masuk kedapur.


"Hans...kamu sibuk banget ya??" tanyanya dengan suara lembutnya.


"Iya bu memang ada apa? apa ibu minta dibuatkan sesuatu?" tanya Hans.


"Tadinya saya mau minta dibuatkan makanan berkuah yang bisa menggugah selera makan saya, sebab sejak pulang dari rumah sakit saya sulit sekali menelan makanan, Hans!!" keluhnya.


"Saya akan buatkan untuk ibu, tunggu sebentar ya!!" jawab Hans.


"Tapi kalau kamu sedang sibuk sebaiknya nanti saja Hans!!" jawab Sania.


"Ibu tunggu di ruangan saja nanti saya bawakan ke dalam..." kata Hans.


Dalam hatinya bersorak gembira, jarang-jarang Sania mau makan masakannya. Sejak wanita cantik itu bekerja di kafe ini tak sekalipun dia melihat bosnya itu makan siang. Dia selalu menolak ajakan yang lain untuk makan.


Bukan karena sombong atau apa, tetapi memang perutnya menolak semua makanan yang dihidangkan.


Makanya Hans senang sekali mendengar bosnya itu minta dibuatkan sesuatu untuk dimakan.


Tok..tok..tok


Masuk...


"Bu ada dua orang tamu yang ingin bertemu dengan ibu, katanya beliau teman ibu Sania."


"Kamu menanyakan siapa mereka, Shinta?" tanya Sania.


"Mereka tidak memberi tau kan nya karena ingin bertemu dengan ibu langsung."


Akhirnya Sania keluar dari ruangannya, bersama Shinta dia keluar untuk menemui dua orang yang di maksud oleh Shinta tadi.


'Yang mana orangnya, Shin!!" tanya Sania.


"Itu bu, dua orang yang duduk membelakangi kita!!" sahut Shinta.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu lanjut bekerja aja lagi biar saya yang akan menemui mereka!!" jawab Sania.


Semakin mendekat Sania merasakan jantungnya berdegup kencang, karena dari belakang dia seperti mengenali sosok pria berkemeja biru yang duduk membelakanginya itu.


"Wangi ini...bentuk tubuh itu??? ah, tidak mungkin...dia sudah meninggal, bahkan jenazahnya saja belum diketemukan sampai sekarang..." desisnya.


"Maaf...anda berdua ingin bertemu dengan saya??" sapaku!!


Wanita di sampingnya menoleh kebelakang dan aku seperti pernah melihat wajah itu bahkan sangat familiar tapi di mana ya??


"Selamat siang!!" sapanya sambil tersenyum.


Sosok di sampingnya belum menolehkan diri menghadapku.


"Kami memang mencarimu, silakan duduk!!" katanya.


Aku terpaku menatap laki-laki yang mengenakan kaca mata hitam dan mengenakan masker itu lebih seksama.


"Ada keperluan apa ya, ibu dan bapaknya ingin menemui saya!!" kataku tapi mataku tak lepas menatap orang yang duduk di depanku itu.


"Mah..."


Aku seketika tercekat mendengar dia menyebutkan kata keramat itu!!


"Ka...kamu..."


Seketika dia membuka kaca mata hitam dan maskernya. Dengan berlinangan air mata dia menatapku yang sudah bergetar menahan gejolak perasaanku selama setahun lebih ini.


"Riko..."


Hanya itu yang sempat kuucapkan sesaat sebelum pandanganku mengabur dan sebelum jidatku mencium meja aku masih sempat merasakan sepasang tangan kekar menangkap tubuhku lalu aku tak ingat apapun lagi.


"Riko..."


Aku menyebutkan namamu itu berkali-kali dalam kondisiku yang belum siuman.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter??" kata Riko sangat cemas.


"Istri bapak hanya sangat shock saja...sebentar lagi ibu Sania akan siuman, sebaiknya saya permisi dulu ya pak!!"


Setelah dokter itu pergi, Sania yang dibaringkan di kasur dalam ruangan kerjanya perlahan siuman.


Setelah pingsan tadi, suasana kafe jadi heboh...Hans yang sedang membawakan semangkuk sup untuk bosnya itu menaruh kembali nampannya dan bergegas melihat keluar.


Hatinya mendadak terasa panas saat melihat Sania tengah pingsan dan dipeluk oleh seorang laki-laki yang tak henti memanggil namanya dengan sebutan, mamah???


"Mama?? mengapa laki-laki itu memanggil mamah pada ibu Sania sambil menangis menciuminya??"


Mendadak ada perasaan yang tak enak di hati Hans mendengar panggilan itu.


"Apa itu papanya Raftar yang berarti suami ibu Sania masih hidup??" katanya bermonolog pada dirinya sendiri.


Lalu si ganteng berkemeja biru itu mengangkat ibu Sania yang tengah pingsan masuk keruangannya diikuti wanita paruh baya di sampingnya.


Sania mulai sadar saat ibu Intan menciumkan aroma minyak kayu putih ke hidung Sania.


"Papah...kamu kah itu!!" lalu tangis Sania pecah dalam pelukan Riko yang juga tengah menangis memeluk sang istri yang terlihat jauh lebih kurus dari setahun yang lalu saat dia tinggalkan.


Ibu Intan Anggrainipun menangis terharu melihat menantunya.


"Papah jahat...mamah benci sama papah!!" ucap Sania sambil memukul-mukul dada Riko sementara tangisannya makin keras memilukan.


Riko membiarkan istrinya itu melampiaskan dulu kekecewaan dan kekesalannya, setelah Sania merasa lebih baikan dan tangisannya mereda barulah dia berusaha untuk menjelaskan semua pada istri yang sangat dicintainya itu.


*


*


***Bersambung..


Akhirnya Riko dan Sania bertemu walau dalam keadaan yang serba membingungkan bagi Sania, akankah mereka terpisah lagi??"


Mohon dukungannya agar author receh ini bisa terus berkarya ya reader...terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2