Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 216 Buku Harian Sultan 2


__ADS_3

Aku tetap mengawasi Sania yang hampir pingsan di pemakaman Miko, tapi aku lagi-lagi membenci diriku sendiri yang tak mampu berbuat banyak untuk membantunya.


Aku hanya bisa berusaha untuk menghiburnya agar dia tidak terus tenggelam dalam kesedihannya.


Sabtu 1 februari 2020


Aku tadi memeriksakan kesehatanku pada dokter karena aku sering merasakan nyeri di dada kiriku.


Jawaban dokter membuatku merasa takut dan cemas.


Aku menderita penyakit jantung. Aku shock mendengarnya. Jika aku sakit siapa yang akan menjaga Sania?


Apalagi aku mengemban sebuah tugas penting dari Miko.


Diaryku, aku terlalu bahagia sampai tak sempat menuliskan ungkapan rasa kebahagiaanku.


Entah aku egois atau apa, tetapi sebelum Miko meninggal, aku diamanatkan olehnya untuk menikahi Sania agar aku bisa terus menjaga mereka.


Tetapi bagaimana aku bisa terus menjaga mereka jika aku sakit?"


Tidak...aku tidak boleh sakit, aku harus terlihat kuat di hadapan semua orang.


Minggu 23 februari 2020


Siapa sih itu? kudengar dia adalah saudara kembar Miko. Namanya Juan Niko Saputra.


Dia tampak akrab dengan Sania dan anak-anaknya.


Aduh...mengapa aku belum berani untuk mengungkapkan bahwa aku mencintainya, bahwa aku telah diamanatkan Miko untuk menikahi dan menjaganya...


Dasar aku adalah laki-laki pengecut.


Aku takut Niko akan mengambil Sania dari sampingku lagi.


Senin 2 maret 2020


Apa-apaan ini? Sofwan pakai acara mendekati Sania lagi.😡😡


Sainganku banyak banget sih?? ya Nikoq, ya Sofwan...lalu nanti siapa lagi yang akan jadi sainganku?


Senin 4 mei 2020


Bagaimana ya? sudah dua bulan mau kucoba untuk mengatakan pada Sania tetapi Niko terus menempel padanya seperti benalu.


Baru aku sekarang sering merasa nyeri di dadaku semakin menjadi-jadi.


Ya Allah...kumohon jangan engkau ambil nyawaku sebelum aku melihat Saniaku benar-benar hidup bahagia walaupun dia bukan engkau takdirkan untukku.


Minggu 7 juni 2020


Apa??? Saniaku ternyata mengidap kanker darah😭😭


Oh tidak...mengapa harus dia??


Mengapa bukan aku saja yang menanggung semua sakitnya?😭😭


Bagaimana ini?? kemana harus mencari tranplantasi tulang sum sum untuknya?


Seandainya tulang sum sumku bisa dan cocok, maka ambillah sebanyak-banyaknya, jangan kata hanya sum sumku, nyawakupun seandainya bisa kuberikan, akan kuberikan untuknya.


Senin 15 juni 2020


Siapa lagi sih laki-laki yang bernama Riko itu?🤔🤔


Menurut cerita yang kudengar dari Sania, Riko dulu adalah seorang anak kecil yang sering diasuhnya.


Sepertinya aman...ngga mungkinlah Riko suka sama Sania, secara usia mereka selisih belasan tahun.


Senin 13 Juli 2020


Ada kabar membahagiakan😊😊 kakak Sania yang telah lama menghilang akhirnya datang lagi pas Sofwan pula yang menemukan dan membawanya pulang.


Siapa tadi namanya ya?? oh iya, kak Della namanya.


Tetapi kok ngga ada kemiripan sama sekali di antara keduanya ya??


Tapi itu ngga penting karena menurut internet, saudara kandung kemungkinan besar bisa diambil sum sumnya untuk Sania. Semoga bisa ya!!


Hanya satu permintaanku, Sania bisa sembuh seperti sedia kala.


Amiinn...


Kamis 13 agustus 2020


Apa-apaan kamu Niko??? Dasar keparat...tega-teganya kamu melangsungkan pernikahanmu dengan wanita lain di luar kota sana😡😡😡


Kamu anggap Sania itu hanya pelarianmu saja.


Begitu caranya lebih baik kamu buta saja selamanya.


Kamu dan Miko memang tak ada bedanya.


Ya ngga beda sih!! mereka kan saudara kembar secara pasti sifat mereka sama, sama-sama suka mempermainkan perasaan wanita😡😡

__ADS_1


Awas kamu Niko, jika sampai terjadi sesuatu pada Saniaku maka aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.


Kasihan Sania, lagi-lagi dia harus berakhir opname di rumah sakit gara-gara ulah dua manusia kembar sialan ini😡😡


Senin 20 agustus 2020


Alhamdulillah...puji dan syukur hamba panjatkan padamu ya Allah...akhirnya Sania bisa sembuh dan keluar dari rumah sakit.


Bagus kak Della, jauhkan saja Sania dari jangkauan Niko agar mereka tidak lagi bertemu yang mengakibatkan Sania stres dan sakit lagi.


Aku senang sekali mendengar keputusan mereka untuk pindah ke rumah yang lama dulu😋😋


Jadi aku bisa menjenguknya setiap saat yang aku inginkan.


Minggu 4 oktober 2020


Apa-apaan nih???


Ternyata aku salah menduga😭😭


Ternyata Riko bukan menganggap Sania hanya sekedar tante doang...lebih dari itu ternyata dia mencintai Sania.


Duh...bocil itu...mengapa aku sampai tak memperhitungkan keberadaannya ya??


Jadi aku harus bagaimana??😓😓


Sabtu 10 0ktober 2020


Hari ini tuh aku seneng banget!! memang sih gara-gara drama penyakit jantungku ini yang harus berakhir di bed rumah sakit...tetapi Sania menjengukku, menungguku dan menyuapi aku😍😍😍


Aku hampir melompat kegirangan jika tidak mengingat jarum infus yang bersemayam di tangan kiriku ini.


Moment kebersamaan kami persis seperti saat Sania hamil si kembar dulu.


Seandainya ini adalah mimpi...aku tak ingin segera bangun agar aku bisa bersama selalu dengan dia selamanya.


Rabu 11 november 2020


Apa sih maunya Sofwan itu?? dia mau berangkat 2 minggu ke Jakarta dan berjanji saat pulang nanti akan melamar Sania lagi?


Belum cukupkah dia menyakiti Sania selama bertahun-tahun? mengapa harus Sania? sebegitu cintanyanya kah dia pada mantan istrinya itu??


Rasanya hatiku tak rela untuk melepaskan Sania bersama dengan Sofwan kembali.


Minggu 20 desember 2020


Bagus ya Sofwan...benar-benar seperti binatang kelakuanmu😡😡


Untung Sania belum mengiyakan untuk menikah kembali denganmu jika tidak, apa yang akan terjadi padanya?


Teganya kamu Sofwan, kamu khianati lagi hati yang rapuh itu...


Tau kah kamu penyakit yang di derita oleh mantan istrimu itu, Sofwan?? sedikit saja dia tertekan maka akan berakibat fatal pada kondisi fisiknya.


Itulah mengapa aku tak pernah berani menceritakan semua aibmu kepada Sania.


Ini semua kulakukan agar dia tidak mengalami stres berkepanjangan.


Sampai di sini aku membaca catatan harian dari Sultan aku berhenti sejenak dan terisak lagi.


"Maafkan aku Sultan, terlalu banyak pengorbananmu untukku dan keluargaku!!"


"Mengapa tidak kamu katakan dari awal dulu jika kamu mencintaiku!! apakah kamu tak peka jika aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu?"


"Tak mungkin rasanya aku sebagai wanita yang mengungkapkannya terlebih dahulu."


"Aku hanya bisa menunggu ungkapan hatimu selama bertahun-tahun sehingga aku lelah dan menyangka bahw kamu memang tak pernah menyukaiku."


"Aku sadar kok siapa aku, mana mungkin laki-laki soleh, mapan dan tampan sepertimu mau dengan janda yang mempunyai banyak anak seperti aku."


Aku terisak sambil bersandar di ranjang dan menatap keluar jendela yang sore itu hawa begitu dingin seperti mewakili perasaanku yang seperti membeku.


"Aku juga sangat kesepian tanpa ada kamu lagi di sampingku Sultan."


"Biasanya di saat begini kamu selalu datang menemaniku, menggodaku sehingga membuatku tertawa lagi."


"Aku tidak pernah peduli mau Niko menikah, mau mas Sofwan meniduri 1000 wanitapun aku sudah tak peduli, yang aku ingin kamu kembali padaku, Sultan."


"Mengapa hingga detik terakhir dalam hidupmu kamu tak pernah mau mengatakan jika kamu juga sedang sakit? kamu selalu berusaha untuk menjadi orang yang sangat sehat untuk selalu bisa menjagaku dan melindungiku tanpa kamu memperhatikan lagi keadaan dirimu sendiri."


Aku memeluk buku harian Sultan seakan-akan aku sedang memeluk dirinya. Merasakan setiap keluh kesah yang ada di lembar demi lembar buku itu seolah dia sendirilah yang tengah bercerita kepadaku dan aku sebagai pendengar terbaiknya.


"Sania...."


Tiba-tiba suara kak Della memanggilku.


Dengan cepat kuhapus jejak air mataku dan kusimpan dahulu buku harian itu di bawah bantalku. Niatku nanti setelah suasana sedikit tenang maka aku akan melanjutkan untuk nembacanya kembali.


"Iya kak Della ada apa?" teriakku dari dalam kamar.


"Keluarlah dulu sebentar, Nia...!!"


Aku bergegas keluar saat di ruang tamu kulihat ada mas Sofwan.

__ADS_1


"Dek, mas Sofwan pamit mau balik ke batam dulu, mungkin setelah dari Batam mas mau ke Yogyakarta untuk menjemput Aisyah dan membawanya kembali ke Balikpapan."


"Mas mau kembali bekerja di perusahaan yang ada di Balikpapan saja!! mungkin benar di Batam mas memperoleh gaji yang jauh lebih tinggi, tapi mas ngga punya ketenangan sama sekali bekerja di sana...mas selalu kepikiran terus denganmu dan anak-anak di sini, dek!!"


"Kamu baik-baik saja di sini ya!! mas janji akan secepatnya kembali untuk kalian." kata Sofwan padaku.


"Ngga usah terlalu banyak berjanji jika pada akhirnya mas Sofwan sendiri yang akan mengingkarinya!!"


Sofwan seketika terdiam mendengar perkataanku yang mungkin baginya secara halus aku telah menyindirnya.


"Iya dek, mas tau dosa dan kesalahan mas terlalu banyak padamu itu sebabnya mas mau berusaha untuk memperbaiki sedikit demi sedikit kesalahan mas pada keluarga kita."


"Syukurlah jika mas sudah menyadarinya, aku hanya manusia aku tak berhak menghakimi kesalahan siapapun walau pada dasarnya akulah di sini pihak yang telah tersakiti.


"Sampaikan salam mas pada Dina dan Juned ya, dek!! mas tau Juned terutama Dina sangat membenci mas Sofwan."


Aku hanya mengangguk saja. Bahkan saat Sofwan menggenggam erat tanganku dan menatap iba pada penderitaanku.


"Baik-baiklah kamu menjaga dirimu ya!! ingatlah ada banyak yang harus kamu lindungi semenjak Riko dan Sultan tak ada."


"Jadilah lebih tegar agar mampu bertahan dari terpaan badai sekeras apapun!"


Lalu mas Sofwan memeluk Syifa yang sekarang sudah duduk di bangku kelas 6 SD.


"Anak bungsu bapak sudah besar...yang nurut sama bunda ya nak!! kasihan bundamu, bapak sayang banget sama Syifa."


Sofwan menciumi kepala Syifa dengan bercampur aduk rasa dalam hatinya.


"Mas pamit dulu ya dek, maaf mas tidak bisa mendampingimu meghadapi masa-masa yang sulit ini...tapi mas janji secepatnya mas selesaikan urusan pekerjaan di Batam agar mas bisa balik lagi kemari."


Setelah pamit juga pada kak Della, akhirnya Sofwan terbang kembali ke Batam.


Aku berniat ingin melanjutkan membaca kembali buku harian Sultan yang tadi sempat tertunda saat tiba-tiba beberapa karyawan kafe milik Sultan datang.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum Salam..." jawabku.


"Ada apa kalian ramai- ramai datang kemari?" tanyaku pada mereka semua.


"Bu, kami harap ibu Sania mau menjadi pengganti pak Sultan sebagai manajer kami supaya kafe yang sudah berdiri bertahun-tahun ini tetap bisa berjalan.


"Kami tau pak Sultan almarhum telah mempercayakan ibu sebagai pengganti beliau, mari lah kita bersama bahu membahu bekerja sama agar kafe ini bisa tetap berdiri...kasihan kami bu, anak istri kami mengandalkan gaji dari kafe ini."


Hatiku merasa tersentuh pada mereka semua.


"Baiklah mulai besok saya akan datang ke kafe biar saya di bantu oleh Tini dan suaminya dulu." kataku.


"Aku harus bangkit itu keinginan terakhir Sultan. Aku tak boleh larut terus menerus dalam kesedihan, nasib para pekerja kafe ini sekarang ada di tanganku."


Dari dalam kak Della tersenyum melihatku yang kembali bersemangat.


"Jangan khawatir Nia, kakak akan terus berupaya untuk membantumu!!" ucapnya pelan.


"Sultan...aku akan selalu menjaga semua peninggalanmu, kamu tak usah khawatir, aku tak akan menangis lagi kok...kamu yang tenang di sana ya??"


Aku tersenyum menatap foto Sultan yang ada di halaman depan buku diary berwarna biru itu.


Baru kusadari sekarang, betapa tampannya pria berkulit hitam manis berdarah campuran India Jawa itu.


Betapa baiknya hati pemilik wajah itu bagaikan terbuat dari emas tanpa cela.


"Kamu benar, walaupun kamu sudah pergi sangat jauh tetapi kamu akan selalu tetap dekat di sini...di hati ini..." bisik ku perlahan sambil mengurai senyum.


Aku memutuskan mulai malam ini aku harus menata hidupku kembali yang selama semingguan ini terasa porak poranda semenjak ditinggal pergi oleh Sultan.


Aku harus menjadi orang yang berguna di sisa umurku yang aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan melawan penyakitku ini.


Aku melangkah menuju meja makan. Sudah seminggu ini aku tak menyentuh makanan dengan baik. Padahal itu malah akan memperburuk kondisi fisikku sendiri.


Aku terlalu terpukul seakan tak percaya pada kepergian Sultan yang tiba-tiba meninggalkanku.


"Kak Della, Raftar sudah tidur?" kataku melihat kak Della di ruang tamu sudah mengampar kasur agar si kembar Miko dan Miki juga Raftar bisa tidur bersama di luar.


"Sudah...baru saja!! tampaknya dia sangat lelah belajar tengkurap seharian ini!!" kata kak Della sambil mengulas senyum membelai kepala Raftar.


"Syukurlah!! sudah semingguan ini aku kurang memperhatikan anak-anakku karena terlalu tenggelam dalam kesedihanku." Aku menciumi ketiganya dan ikut berbaring bersama mereka.


"Sebaiknya kamu makan dulu, Nia...nanti malah ketiduran!! Kata kak Della.


Aku hanya menggangguk tak jadi berbaring lalu kembali ke ruamg makan.


Dina masuk ke ruang makan hendak mengambil minum jadi berhenti saat dia melihat bundanya sudah mulai mau makan kembali.


"Dina sangat senang bun, melihat bunda bisa kembali seperti dulu...kita semua memang sangat terpukul dengan kepergian om Sultan yang tiba-tiba...tapi jangan lantas membuat kita juga ikut larut dalam kesedihan!!" ucapnya.


*


*


***Bersambung...


Semangat Sania...semoga hari yang cerah dan masa depan yang baik akan menunggumu.

__ADS_1


jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya🙏🙏


__ADS_2