Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 190 Kenyataan


__ADS_3

"Bagaimanapun restu orang tua sangat penting untuk kelanggengan rumah tangga kami berdua."


"Terus bagaimana dengan wanita yang ada di rumahmu itu?" tanya Della lagi.


"Sudah berapa kali Riko bilang tante, yang dikandung Alena itu bukan anak Riko!! Riko tau persis bagaimana sepak terjang Alena di luaran sana."


"Jika kamu menikahi adikku, jangan sampai suatu hari nanti Alena menjadi duri dalam daging di rumah tangga kalian!!"


"Aku tidak mau melihat adikku terluka lagi, pahamkah kamu Riko??" Della memberi penekanan.


Riko hanya mengangguk saja.


*


*


"Kamu sudah siap? Della melongokan kepala ke dalam kamar.


"Sudah kak, semoga permeriksaan kesehatannya berjalan lancar ya!!" ucapku.


"Unda...epat embuh ya!!"


Mendapat ciuman di pipi kiri dan kananku dari anak kembarku membuat semangatku jadi berapi-api kembali.


Aku harus sembuh, semua demi anak-anakku. Aku harus kuat, harus cepat sehat.


Ddrrrttt...ddrrrtttt


📱"Assalamualaikum...sayang, sudah mau pergikah!!"


Riko menelpon dari kantor karena pagi-pagi tadi dia berangkat ke kantor, ada kasus rumit yang harus di selesaikannya.


📱"Waalaikum Salam, iya ini mau berangkat sama kak Della..


📱"Jangan naik motor, pesan taxi online aja supaya ngga kepanasan di jalan!!"


📱"Maaf ya mah, papah ngga bisa ikut ngantar tetapi papah selalu berdoa semoga mamah cepat sembuh


📱"Amin..." ya sudah mamah berangkat dulu ya, Assalamualikum!!"


📱"Waalaikum Salam.


Kami berdua naik taxi online. Di rumah ada Syifa dan Juned yang menjaga adik-adik mereka.


"Bagaimana? kalian sudah siap melakukan tes kesehatan? jika cocok maka mba Sania bisa segera di operasi mumpung kondisi mba Sania lagi fit!!" kata dokter Alvin


Setengah hampir satu jam akhirnya aku dan kak Della dipanggil keruangan dokter Alvin.


"Bagaimana hasilnya dokter? apa penyakit adik saya bisa segera ditangani?" kata Della.


Dokter Alvin terdiam dulu beberapa saat sambil memandang kami berdua.


"Maaf, hasil pemeriksaannya menyatakan sum-sum ibu Della tidak cocok dengan mba Sania, apa kalian benar saudara kandung?"


Deg...


Tiba-tiba jantungku berdebar kencang...apa maksud perkataan dokter Alvin? apa maksudnya kami bukan saudara kamdung?"


Raut wajah kak Della juga tiba-tiba kulihat berubah, ada apakah gerangan?"


"Maaf dokter, maaf Sania...kakak terpaksa harus jujur padamu sekarang, 30 tahun lebih rahasia ini terjaga tapi tampaknya harus terbongkar juga."


"Kita memang bukan saudara kandung, Nia...ibu dan bapak mengadopsimu waktu usiamu 3 tahun dan waktu itu kak Della sudah berumur 6 tahun.

__ADS_1


*


*


Flashback...


"Ibu...ini anak siapa? kok dibawa pulang kerumah kita?" tanya Della kecil saat ibu dan bapaknya pulang dari luar kota dengan membawa seorang anak kecil.


"Della, sini...!!" panggil ibu pada Della.


"Kenalin adik ini namanya Sania Marfuah...anak dari atasan bapak di kantor namanya om Raftar.'


"Della pasti kenal deh sama om Raftar...itu lho yang orangnya ganteng seperti pemain film-film India...memang om Raftar dan tante Sartika kan orang India.


"Makanya ibu dan bapak pergi keluar kota beberapa hari ini, kami mau menjemput Sania di rumah sakit."


"Memang om Raftar dan tanye Sartika kemana bu?" tanya Della.


Om Raftar gugur tertembak saat memimpin pasukannya sewaktu ada penyerangan di kompi tempat beliau bertugas di kota A."


"Lalu tante Sartika menyusul ke sana untuk melihat jenazah suaminya di rumah sakit bersama Sania..."


"Tante Sartika sangat terpukul melihat kondisi jenazah suaminya, karena tante Sartika sebelumnya memang menderita penyakit jantung tiba-tiba penyakit jantung koronernya kambuh dan beliau juga meninggal dalam kondisi memeluk suaminya."


"Terus adik kecil ini ikut kita, bu!!" tanya Della yang awalnya ngga suka.


"Iya nak, Sania tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini...kasihan dari pada Sania harus dititip di panti asuhan atau diasuh oleh orang yang tak jelas mending ibu sama bapak yang mengasuhnya."


Akhirnya Della iba juga melihat Sania yang air matanya seolah tak pernah kering selalu saja menangis memanggil ayah dan ibunya.


"Sudah ya dek, jangan menangis lagi...kakak di sini kok untuk jagain kamu!! cup...cup, diam ya!!"


Sania diasuh oleh ibu Kamsiah dan suaminya tanpa dibedakan kasih sayang antara anak kandung dan anak angkatnya, membuat Sania kecil lambat laun bisa melupakan ayah dan ibunya yang telah tiada.


Sania menangis mendengar cerita kak Della, begitu pula dengan dokter Alvin.


Musnah sudah harapannya untuk bisa sembuh dari sakitnya.


"Jangan putus asa, mba...semoga Allah memberikan jalan terbaiknya!!" kata dokter Alvin.


Akhirnya aku dan kak Della dengan langkah gontai meninggalkan ruangan dokter Alvin dan berjalan menuju lobi.


Sementara menunggu Taxi online datang, aku duduk di kursi yang ada di koridor. Aku benar-benar shock mengetahui kenyataan bahwa aku bukan anak ibuku.


Pantas dulu semasa kecil saat aku dan kak Della sering diajak ibu atau bapak pergi orang selalu bertanya, "cantik sekali anaknya bu!!! seperti orang India saja wajahnya." begitulah kira-kira kata mereka.


"Kak, " kataku setelah sekian lama berdiam diri.


"Terus makam kedua orang tuaku di mana? aku ingin sekali mengunjungi makam kedua orang tuaku.


"Itulah yang kakak ngga tau, Nia...ibu tak pernah membicarakan masalah itu dengan kakak."


Sampai di rumah aku langsung masuk kedalam tanpa menoleh lagi pada Sultan yang sedang duduk bersama Syifa dan Juned yang menemani si kembar bermain.


"Sania kenapa kak? kok wajahnya kusut begitu?" tanya Sultan.


"Sebaiknya kamu temani Sania sana!! dia benar-benar terpukul hari ini!!" kata Della.


Sultan masuk ke dalam dan langsung menuju kamar Sania.


Tok..tok..tok


"Boleh aku masuk?" dia menongolkan wajahnya dari pintu.

__ADS_1


Aku tak menjawab tapi Sultan sudah masuk dan duduk di sebelahku seperti biasanya jika aku sedang mempunyai masalah.


"Ada apa? bagaimana pemeriksaan kesehatannya?" tanyanya menatapku.


"Sum-sum kak Della tidak cocok, Sultan!!" jawabku.


"Kok bisa? biasanya kalau saudara kandung itu hampir dipastikan memilki kecocokan tulang sum-sum!!"


"Ya bisalah...kak Della bukan kakakku dan aku bukan anak kandung bapak dan ibu." suaraku bergetar menahan isakanku supaya tak keluar.


Sultan tercengang mendengar ceritaku. Dia tak menyangka begitu rumit jalan hidup yang telah kulewati.


"Apa ngga bisakah orang lain yang mendonorkannya, Nia?" tanyanya lagi.


"Tapi siapa Sultan?" kataku.


"Sekarang aku hanya tinggal menunggu waktu penyakitku ini menggerogotiku sedikit demi sedikit sebelum kemudian ajal akan menjemputku!!" kataku sudah putus asa.


"Jangan berkata seperti itu, berdoalah pada Allah...semoga bisa menemukan jalan keluarnya!! hidup harus optimis, jangan pesimus begitu." Sultan memberanikan diri menggenggam tanganku.


"Aku akan selalu ada untuk membantumu, Nia...aku akan selalu berusaha sebisa mungkin ada di dekatmu."


"Seperti janjiku pada almarhum Miko dulu, Nia!!" batinku


"Terima kasih, Sultan...kamu memang sahabat terbaik yang kumiliki." jawabku.


Sultan hanya tersenyum miris mendengar perkataanku.


"Sekarang kamu keluar ya...bersikaplah seperti biasa di depan anak-anak...agar tak menambah beban pikiran mereka."


Aku hanya mengangguk. Setelah menghspus air mataku, aku lalu keluar mengikuti Sultan.


*


*


Sementara Sania sedang berduka di kota Jakarta Sofwan dan Vivi semakin hari semakin iengket. Pelatihan perusahaan yang menyebabkan mereka harus selalu bersama membuat mereka semakin dekat.


"Nanti malam acara perpisahan, kamu datangkan?" tanya Vivi pada Sofwan yang sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Memang harus ya!!" kata Sofwan tapi matanya tak beralih dari laptopnya.


"Haruslah sayang...kapan lagi kita bisa berkumpul dengan teman-teman lain divisi kalau tidak malam ini." kata Vivi.


"Sayang...sayang kepalamu peang!!" jawab Sofwan.


"Tapi nanti malam aku berencana mau keluar mencari oleh-oleh buat anak-anakku juga mencari cincin buat melamar mantan istriku kembali."


Mata Sofwan berbinar-binar bahagia. Ingin rasanya dia langsung segera pulang.


Vivi cemberut mendengar perkataan Sofwan. Hatinya sungguh tak rela melepaskan laki-laki masa lalunya itu.


"Aku harus mengambil apa yang menjadi milikku lagi...enak betul si Sania itu!! Sofwan milikku dan akan tetap jadi milikku selamanya.


*


*


***Bersambung...


Bagaimana kisah asmara yang sempat terputus itu? akankah tersambung kembali?


Mohon dukungannya selalu ya teman-teman...Insya Allah mulai besok sudah bisa mampir membaca novel teman-teman semua lagi.

__ADS_1


__ADS_2