Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 117 Sofwan Versus Miko


__ADS_3

Lanjut ya author masukan visual tokoh lainnya di part 117 ini.



Alena Leonardo



Anggita Natasya



Tini Maryati



Widiastuti



Rahmawati


Buat visual tokoh Wati, Tuti dan Tini sengaja author ambilkan tokoh yang wajahnya kira-kira menunjang sebagai karakter ke tiganya yang memang lucu.


*


*


"Ayah...jangan tidur di belakang ya, nanti jatuh ngga ketauan sama bunda."


"Ngga akan jatuh bun, kan ayah peluk pinggang bunda kuat-kuat."


"Bun..."


"Hmmmm...apa yah??"


"I love you..."


"I love you too..."


Miko memeluk Sania dengan erat. "Akan ayah ucapkan setiap hari kata-kata itu sampai ayah tak bisa lagi mengucapkannya untuk bunda."


Air matanya terus menerus mengalir di pipinya yang tirus dan pucat. Lalu mengering terkena sapuan angin di wajahnya.


"Seandainya aku tahu jika aku tak akan mampu bertahan hidup lebih lama untuknya, tak akan kusakiti hati dan perasaannya."


"Akan kubisikan setiap hari kalau aku mencintainya."


"Yah...sudah sampai, ayo turun."


"Bunda..." Juned dan Syifa berlari keluar menyambutku.


"Ada ayah juga ikut kesini!!" Kata Syifa.


Tak lama mas Sofwan dan Dina keluar dari dalam rumah sambil menggendong si kembar.


"Lama sekali perginya dek!! Untung si kembar ngga rewel, inget kamu masih punya bayi yang harus kamu urus!!"

__ADS_1


Sofwan meninggikan volume suaranya. Entah mengapa semenjak dia tau bahwa Miko menikah lagi dengan Alena, dia begitu gondok pada lelaki di depannya ini.


Selain itu ada terselip rasa cemburu di hatinya melihat Sania dekat kembali dengan Miko.


Rasa cinta dan sayangnya masih terlalu besar untuk mantan istrinya itu, membuatnya kadang sulit mengendalikan diri.


"Iya mas maaf...tadi bibi menelpon kalau Miko sedang sakit dan memintaku untuk datang ke sana."


"Kalau sakit itu mestinya memanggil dokter, bukan malah memanggilmu...kan Miko tau kamu itu punya bayi yang belum genap berumur 3 bulan."


"Sudah mas, ayo kita masuk...masuklah yah, angin di luar tidak baik untuk kesehatanmu."


"Aku mau masak dulu sebentar, kalian jangan ribut dan bertengkar...kita makan siang sama-sama di sini."


Akhirnya Miko dan Sofwan menurut. Mereka masing-masing menggendong si kembar.


"Yah...kalau ayah masih sakit, rebahan aja di kamar jangan dipaksakan untuk bangun."


"Ngga apa-apa bun, ayah pengen main sama si kembar."


Sofwan hanya mencibir sinis memandang Miko. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Eh ada tamu jauh banget..." Kataku ngga jadi masuk ke dapur.


"Tante...." Teriak Syifa dan Juned


bersamaan.


"Waduh...lengkap di sini ya...ada suami, ada mantan dan ada calon mantan!!" Kata Wati berseloroh.


Aku mendelikan mataku padanya. Ketiga lelaki di depanku ini sudah pada jelek mukanya mendengar candaan Wati yang spontan.


"Bang Sofwan apa kabar?" Kata Tini.


"Baik Tin, alhamdulillah."


"Miko kok mukanya pucat banget? Sakitkah??" Kata Tini lagi.


"Saya rada ngga enak badan mba..." Kata Miko


"Sultan ngga ngajar?" Kata Miko.


Yang ditanya Sultan yang jawab Wati. "Ngga, tadi sengaja ikut ke sini katanya lagi kangen...ngga tau kangen sama siapa!!"


Mataku tambah mendelik padanya, apalagi wajah Sofwan dan Miko jadi memerah dan Sultan yang jadi serba salah.


"Ishhhh si kompor mleduk ini, kok bicara ngga tau sikon ya??" Tini berbisik pada Tuti.


"Sudahlah...jangan bercanda terus, ini kita bawa camilan yang banyak...kita makan aja dulu sambil nunggu Nia masak dan kita makan bareng!!" Tini menengahi.


"Kepala ayah pusing bun..." Tiba-tiba Miko mengerenyitkan dahinya.


Miki di serahkannya pada Sultan yang duduk di dekatnya. Sultan kalang kabut menyambut bayi Miki karena dia sudah lama tidak menggendong bayi semenjak istri dan anaknya meninggal 5 tahun lalu.

__ADS_1


"Makanya Sul...belajar gendong...gitu aja grogi..." Wati cepat menyambut dan menggendong Miki.


Miko dan Miki ini sangat mirip, yang membedakan hanya warna bola matanya saja. Kalau Miko bola matanya berwarna coklat sedangkan Miki berwarna hazel.


"Sini Miki ganteng...gendong aunty Wati ya...ayah Sultan grogi ngga berani gendong Miki nanti takut jatuh!!"


Sultan dan Sofwan saling pandang lalu saling membuang muka.


"Aduh..." Tuti mencubit Wati.


"Apa yang aku bilang benarkan? Pas Sania melahirkan si kembar, kan Sultan yang mengazani mereka berdua, tho!!"


"Lama-lama di sini bisa jadi perang dunia ke tiga nih gara-gara mulutnya Wati."


Aku mengantarkan Miko untuk istirahat di kamar diiringi pandangan sinis Sofwan dan pandangan cemburu Sultan.


"Maaf ya yah...ayah jadi terganggu!!" Kataku.


"Ngga apa-apa bun, "kata Miko dengan suara serak."


"Ayah makan dulu ya, dari rumah sana tadi ayah mau makan tapi ngga kesampaian juga."


"Bunda tolong suapi ayah ya...kalo ngga disuapi ayah ngga mau makan..." rengeknya manja.


"Dasar manja ngga berguna..." Sofwan yang kebetulan lewat di samping kamar mau ambil minum ke dapur jadi gondok hatinya melihat dan mendengar kemanjaan Miko."


Aku berpapasan dengan mas Sofwan di dapur. "Kalau mas Sofwan mau makan duluan, makan aja dulu mas!!"


"Ngga mau, kalau ngga kamu suapi..." katanya dengan mimik muka kesal lalu lanjut ke ruang tamu lagi.


Ayah, mas Sofwan, Sultan ini kenapa sih? Lagi PMR bareng kali ya mereka?" Aku mengangkat bahu lalu menuju ke dapur.


Sementara Miko di kamar merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya. Dia ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Sampai di puncak rasa sakitnya, dia jatuh tak sadarkan diri.


"Lho...katanya minta di suapi kok malah tidur sih yah??" Aku meletakan piring nasi di atas meja.


Aku duduk di samping pembaringan tanpa tau kalau sebenarnya Miko itu bukan tidur tapi pingsan


"Ayah sebenarnya sakit apa? Wajah ayah pucat sekali..." Aku membelai rambutnya. Dan sekali lagi rambut Miko banyak yang rontok dalam genggaman tanganku.


"Maafkan bunda ya ayah, seandainya bunda tidak berselingkuh dengan mas Sofwan waktu itu, karma tak akan terjadi pada rumah tangga kita."


"Bunda sayang sama ayah, apapun kesalahan ayah...sudah bunda maafkan karena bunda sadar bunda juga punya banyak salah pada ayah."


Miko secara samar masih mendengar perkataan istrinya tapi untuk membuka mata rasanya berat sekali.


Ingin rasanya dia memeluk dan mendekap istrinya tercinta tapi jangankan untuk mengangkat tangan, untuk membuka matanya saja dia tak bisa. Hanya air matanya yang meleleh di pipinya.


"Ayah kenapa menangis? Ayah bermimpi apa? Ayah mimpi sedihkah sampai menangis seperti ini?" Kataku sambil menyeka air matanya.


"Bun...katanya mau makan, ayo!!" Dina menjenguk dari depan pintu kamar.


"Tante Tini sudah menggelar tikar di ruang tamu jadi kita bisa makan barengan."


"Ayah bunda tinggal dulu ya...nanti kalau ayah sudah bangun ntar bunda suapi."


***Bersambung...

__ADS_1


Happy reading💗💗 jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenys ya!!!


__ADS_2