
"Ada apa bu? Kok ibu tampak panik?" Bibi menghampiriku yang berdiri dengan tubuh gemetar di ruang tamu.
"Bapak bi...bapak kritis..." Sahutku sambil berlinangan air mata.
"Bi, saya harus kembali ke rumah sakit...saya minta tolong titip anak-anak ya!!"
Aku bergegas menaiki motorku tapi celakanya sampai di tengah jalan motorku mogok.
"Ya Allah...kenapa motor ini mogok di saat tidak tepat begini? Mana ngga ada angkot lewat lagi..."
Aku berinisiatif menelpon Sultan tapi nomornya sedang tidak aktif. Begitu pula Tini dan suaminya. Semua nomor tak bisa dihubungi.
Mau tidak mau aku berlari...kutinggalkan saja motorku di situ sambil melihat-lihat kalau ada kendaraan umum atau ojek yang lewat. Sebab kalau aku memesan ojek online pasti akan lama lagi menunggunya.
"Aduh sudah hampir habis napasku...sementara ponselku terus berdering. setelah sekitar 15 menit berlari, akhirnya ada angkot yang lewat.
"Saya sudah mau pulang bu!! Kata supir angkot.
"Tolonglah pak...suami saya sedang kritis di ICU saya dari tadi berlari karena tidak ada kendaraan umum yang lewat." Mohonku pada bapak supir angkot.
"Baiklah bu, saya kasihan sama ibu...ke rumah sakit mana bu?"
"Rumah sakit xxx pak...!" Jawabku.
Angkot melaju cepat membelah jalan raya. Ponselku berbunyi lagi...
📞"Kamu di mana Nia? Kenapa lama sekali?" Terdengar suara Jonathan yang sangat panik.
📞"Ini sedang meluncur ke sana yah...tadi motor Nia mogok di tengah jalan."
📞"Ya sudah...cepatlah nak!!"
Suara telepon terputus. Aku nampak sangat gelisah.
"Sudah sampai bu..." Suara bapak supir angkot mengejutkanku.
"Alhamdulillah...berapa pak?" Tanyaku.
"Ngga usah bu, turun saja...saya kasihan melihat ibu."
"Tapi pak..."
__ADS_1
"Sudah ngga apa-apa, cepatlah masuk kasihan suami ibu di dalam."
"Terima kasih banyak pak...semoga Allah membalas kebaikan dan kemurahan hati bapak."
"Amin!!" Jawabnya.
Aku terus berlari menuju ruangan ICU. Rasanya malam ini aku seperti atlit saja berlari terus sejak tadi.
"Kamu dari mana Nia? Lama sekali?" Jonathan dan Niko menunggu dengan wajah tegang di luar ruangan, sementara team dokter sedang berupaya menyelamatkan Miko.
Tak lama dokter Alvin keluar.
"Gimana keadaan suami saya dokter?" Aku langsung memberondong Alvin denga pertanyaan.
Dokter Alvin tak langsung menjawab, aku langsung menangkap gelagat yang tidak enak.
"Mba..." Suaranya tampak tercekat di tenggorokan.
"Yang sabar ya!!!"
Aku mengguncang lengan Alvin. "Katakan apa ada sesuatu yang terjadi dengan suami saya, dokter?"
Jonathan dan Nikopun juga sangat tegang menunggu penjelasan dokter Alvin yang tampak menggantung.
Aku tidak menunggu Alvin menyelesaikan ucapan terakhirnya, aku langsung menerobos masuk ke dalam ruangan.
Di atas pembaringan terbaring dengan tenang sosok Miko. Dia kelihatan tenang seperti halnya orang yang sedang tertidur. Tak ada lagi rintih kesakitannya yang selalu dia sembunyikan selama ini. Yang ada hanyalah sosok yang terbaring dengan wajah tenang dan damai.
"Ayah....." Aku berteriak pilu dan langsung bersimpuh di sebelah pembaringannya.
"Ayah...bangun ayah...jangan tinggalkan bunda sendirian di dunia ini!!" Aku menangis tanpa suara sambil berkali-kali mengguncang tubuhnya, berharap dia akan bangun dari tidur panjangnya.
"Ayah pernah janji untuk menemani bunda hingga anak-anak dewasa...kita menua bersama...tapi ayah bohong sama bunda, ayah meninggalkan bunda pergi sendirian...mana janji ayah?? Bunda kesal....bunda benci ayah bohong sama bunda."
Sania terus menangis memeluk Miko yang tentu saja tak bisa lagi balas memeluknya seperti biasa saat Sania sedih dan butuh pelukan semangat darinya.
Sampai menangis air mata darahpun, yang pergi tak akan bisa kembali lagi.
Yang ada tubuh Sania semakin lemah dan jatuh pingsan tak sadarkan diri masih dalam keadaan memeluk jasad membeku Jatmiko Sarendra suaminya.
Perawat dan dokter segera menolongnya. Sementara Jonathan dan Juan Niko Saputra berdiri kaku dalam diam. Hanya air mata mereka saja yang meluncur dengan deras.
__ADS_1
"Ayah ikhlaskan kepergianmu anakku!! Susul lah ibumu ke alam ke abadian, sampaikan salam ayah dan juga Niko ya...katakan bahwa kami berdua sangat merindukannya!!"
"Selamat jalan saudaraku tercinta, walau kita baru saja di pertemukan setelah puluhan tahun berpisah dan akhirnya Allah memanggilmu kembali padaNya karena Allah sayang padamu..."
"Aku bahagia sempat mengenalmu walau hanya bisa mendengar suaramu dan merasakan kehadiranmu di dekatku tanpa bisa menatap wajahmu."
Akhirnya jasad Miko ditutup dengan kain yang menandakan bahwa dia memang sudah tiada.
Niko, pak Jonathan...bisakah kita bicara sebentar? Kita ke ruangan saya saja ya!!" Alvin mengajak ke duanya pergi ke ruangannya.
Doktet Alvin menutup rapat pintu ruangan kerjanya.
"Silakan duduk pak Jonathan, Niko!! Avin mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Maaf sebelumnya...saya baru menyampaikan ini setelah Almarhum tiada, karena ini adalah pesan terakhir almarhum untuk kalian."
"Apa pesan putra saya itu, dokter? Kata Jonathan berusaha tegar. Sementara Niko diam membisu, sangat jelas kabut duka menggantung di wajahnya.
"Sebelum meninggal Miko berpesan agar dia bisa mendonorkan matanya untuk Niko...dia ingin kematiannya tidak sia-sia, dia ingin Niko bisa melihat indahnya dunia lagi seperti dulu...dan terutama dia ingin dirinya tetap hidup di dalam diri Niko agar istrinya tercinta bisa selalu mengenangnya sepanjang hidupnya."
Jonatahan menangis terharu mengenang putranya. Walaupun mereka baru bertemu di usia yang tidak muda lagi, namun ikatan dan rasa kasih sayang ke duanya masih terikat erat satu dengan yang lain.
Sementara Niko mendengar itu seakan tak percaya saat mendengar dia akan bisa melihat lagi. Semula dia sudah pasrah dengan keadaan dirinya yang buta. Dia sudah ikhlas menjalani takdirnya jika dia akan mengalami kebutaan sampai akhir hayatnya.
"Kita akan melakukan operasi secepatnya, Niko!!" Kata dokter Alvin.
Sementara itu di ruangannya Sania sudah mulai tersadar. Di sana sudah ada ke tiga sahabatnya dan juga Sultan sedang menunggunya.
"Kalian...kok ramai-ramai pada kumpul di sini ada apa?" Tanya Sania.
"Tadi kamu pingsan, bestie makanya kita pada kemari..." Wati mau memberi tahukan sesuatu tapi cepat diberikan isyarat oleh yang lain.
"Tadi itu aku pingsan kenapa ya? Oh iya, tadi aku bersama suamiku...Miko??" Tiba-tiba ingatan Sania kembali!!
"Ayah...." Kembali Sania meratap pilu.
"Miko sudah ngga ada, Tini...dia sudah pergi meninggalkanku sendiri."
Sania sambil terhuyung bangkit berdiri. "Aku harus bertemu Miko, aku ingin melihat suamiku..."
Tapi sampai di depan pintu kembali Sania ambruk tak sadarkan diri. Tekanan batin yang dialaminya sangat hebat, musibah seakan bertubi-tubi menghantam dan menderanya.
__ADS_1
***Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya... terima kasih🙏🙏🙏