
"Kamu jangan ngeliatin aku sampai begitu...aku jadi ngga enak!!" Aku pura-pura ngeliat kelain.
Niko jadi tertawa melihat kelakuanku. Dicubitnya pipiku dengan gemas dan di toelnya ujung hidungku.
"Ayo kita lanjut pergi kepasarnya nanti kesiangan..." Aku segera menarik tangan Niko menuju kemotor.
"Aku akan terus berusaha mencari cara untuk menyembuhkanmu Nia, aku tak mau kehilanganmu...aku posesif dan protektif padamu dan anak-anak karena aku tak mau kehilangan kalian semua." Batin Niko.
Niko tersenyum bahagia. Dia menunduk sesaat melihat tangan Sania melingkar di perutnya.
"Ya Allah...beginikah rasanya jatuh cinta? Aku merasa hatiku berbunga-bunga setiap dekat dengannya, aku tak pernah mengalami hal seperti ini seumur hidupku...karena separuh hidupku hanya diisi oleh kegelapan dan kehampaan saja."
"Nia, jika kamu setuju aku akan bilang pada ayah untuk melamarmu...bukankah kamu sudah melewati masa iddahmu?"
"Pernikahan kita ini adalah pernikahan turun ranjang Nia...jadi hubungan kekeluargaan kita terus berlanjut tak akan terputus." Niko menggenggam tangan Sania yang melingkar di pinggangnya.
Ciiitttt...bruk...
"Apa sih Riko? Kenapa berhenti dadakan gini sih? Kamu mau membunuhku ya? Ingat Riko, aku tengah mengandung anakmu jadi perlakukanlah aku dengan baik!!" Alena terus menggerutu.
"Diamlah Alena...jangan itu ke itu saja yang kau ungkit, jika anak itu nanti lahir kita akan melakukan tes DNA jadi ketahuan siapa sebenarnya ayah biologis dari anak yang kamu kandung itu."
Alena memonyongkan bibirnya mendengar ucapan Riko.
Riko memandang kesatu arah, yaitu Sania yang tengah berboncengan dengan Niko.
Alena mengikuti arah pandangan Riko yang tengah memperhatikan Sania dan Niko yang memarkirkan motornya di sebuah swalayan.
Awalnya Niko dan Sania hendak berbelanja kepasar tetapi karena Sania mengeluh kepalanya pusing, akhirnya mereka memutuskan untuk ke pasar swalayan saja.
Riko yang sedang bad mood karena setelah tau dirinya hamil, Alena terus menempel pada Riko kemanapun laki-laki itu pergi jadi bertambah-tambah setelah dia melihat Sania berboncengan dengan Niko dan berhenti di swalayan. Dengan mesranya Niko menggandeng tangan Sania semakin membuat Riko seperti kebakaran jenggot.
"Oohh jadi karena melihat janda ganjen itu kamu sampai mau membunuhku dan bayimu yang kukandung ini?" Tekan Alena.
"Hoho...rupanya seorang Riko Ananda Baskoro bisa cemburu juga ya?" Alena tersenyum smirk.
__ADS_1
"Ayolah kita turun, kita susul mereka." Lalu tanpa menunggu lagi Alena turun dari mobil dan berjalan mendekati Sania dan Niko yang sedang asyik memilih sayuran.
Dengan cepat Riko menyusul Alena, dia takut Alena akan berbuat yang aneh-aneh apalagi sampai menyakiti Sania.
"Halo mantan maduku? Hai juga mantan iparku?" Sapa Alena tanpa dosa.
"Mesra amat kalian, ingat lho kak Nia...Suamimu belum lama meninggal, kamu sudah tak tahan untuk menikah lagi!!"
Niko dan Sania berhenti memilih sayuran. Niko memandang tajam pada Alena.
"Memang kenapa kalau dia mau menikah lagi? Toh Sania telah melewati masa iddahnya...saya memang berencana menikahinya, apa kamu keberatan?" Tanya Niko.
"ckckck...benar-benar sudah tak tahan rupanya kalian ya? Alena mencibir.
"Riko...tolong bawa wanitamu itu sebelum batas kesabaran tante habis...dia selalu mencari gara-gara jika bertemu dengan tante!!" Aku mulai tersulut emosi mendengar kata-katanya.
"Apa hakmu melarangku dan kekasihku? Toh kami juga mau berbelanja? Kamu pikir swalayan ini milikmu?" Balas Alena.
"Sudah sayang, ayo kita pergi cari yang lain saja...kita ikutan miring jika meladeni orang seperti itu...orang yang waras ngalah saja, yuk!!" Niko menggandeng tanganku dan berlalu dari kios sayur-sayuran.
"Hei Niko orang aneh...kamu pikir aku gila? Wanita di sampingmu itu yang gila laki-laki!!" Alena berteriak-teriak tapi tak dipedulikan oleh Niko dan Sania membuat Alena bertambah kesal.
"Riko...sayang...kok aku ditinggal sih?" Alena merengek manja sambil menarik tangan Riko.
"Sumpah aku malu dengan kelakuan bar-barmu yang kampungan Alena...kamu tidak malu dilihat oleh orang satu swalayan?" Tanya Riko sambil cepat-cepat berlalu.
Hatinya bertambah gondok apalagi mendengar ucapan Niko mau menikahi Sania tadi.
"Aku tak akan pernah membiarkanmu menikahi wanitaku Niko...hanya aku yang boleh menikah dengan tanteku tersayang!!" Gumam Riko menyunggingkan senyuman liciknya seraya melangkah cepat-cepat meninggalkan Alena.
"Nia, sepertinya Riko itu memang suka sama kamu deh, bukan seperti ponakan pada tantenya tapi tatapan matanya itu mengharap sesuatu yang lebih darimu."
"Tampaknya berondong satu itu sudah tergila-gila padamu!! Awas saja jika dia sampai berani mengganggumu...aku akan menghajarnya!!" Geram Niko.
"Sayang...ngga usah diambil hati omongan perempuan tadi ya? Aku akan selalu melindungimu dari dia!!" Niko mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Sania.
__ADS_1
Kami beralih menuju tempat ikan dan daging. Capek rasanya hidupku hari ini. Ya bertemu kelompok biang kerok lah tadi pagi dan sekarang ketemu lagi sama si biang onar.
"Kenapa sih kamu uring-uringan terus Ko? Jangan bilang kamu cemburu melihat Kebersamaan Niko dan Sania tadi!" Alena berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Riko.
"Diamlah Alena...cepatlah jika kamu ingin berbelanja kebutuhan kehamilanmu, aku sedang tak enak hati hari ini." Riko semakin cemberut.
Pikirannya selalu ke Sania. Dia ingin selalu dekat dengan tante cantik itu..dia tau Sania sedang sakit dan diapun ingin selalu ada di samping Sania untuk menemaninya.
*
*
"Aduh maaf kak Della...kelamaan menunggu ya!!" Sofwan menghampiri Della yang sedang makan mie instan di pantry kantor.
Della memang disuruh Sofwan menunggu di lobby dan jika lapar Sofwan sudah meminta tolong pada seorang OB untuk membawa Della ke pantry karena kantin perusahaan tutup di hari sabtu begini.
"Tidak apa-apa kok Sofwan, kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu?" Tanya Della sambil menyudahi makan mie instannya.
"Sudah kak...kita pulang kerumah Sofwan dulu mau jemput Aisyah terus sama-sama kerumah Sania!! Sebab Aisyah selalu saja menanyakan tentang Sania setiap hari."
"Adikku itu memang wanita yang sangat baik Sofwan, jangan kata orang dewasa...anak-anakpun suka pada keramahan dan kelembutannya."
"Kakak mendukungmu jika kamu mau kembali pada Sania lagi Sofwan!!" Kata Della.
"Sofwan itu mau banget kembali pada Sania, kak...tapi sekarang saingannya banyak banget, kelas berat semua!!" Sofwan meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kok kamu jadi cemen gini sih? Di mana Sofwan yang dulu yang tak pernah kenal kata menyerah sewaktu mendekati adikku?" Della tersenyum mengejek Sofwan.
Sofwan terdiam. Terbayang kembali semua dalam ingatannya masa-masa indah bersama mantan istrinya yang hingga detik ini masih sangat dicintainya itu.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Siapa yang dukung Sofwan balik dengan Sania? Atau dengan Niko atau Sultan? Kalau Riko nggalah ya secara dia masih berondong banget😂😂
Mampir, baca berikan like dan komennya, vote dan favoritnya juga lupa rate nya!!!