
Sebelum dia kembalikan obat-obatan itu pada Sania, terlebih dahulu ditelitinya obat itu dan semua nama dan data tentang obat yang dia pegang langsung tersave di memori otak Niko yang memang encer dan punya kemampuan untuk bisa mengingat sesuatu hanya dengan sekali melihat dan membacanya.
Setelah Sania masuk kekamar dan beristirahat, Niko mulai browsing melakukan pencarian pada nama-nama obat Sania yang tadi dibacanya.
Niko mengerenyitkan keningnya pada sebuah pencarian obat yang mengarah pada leukimia.
"Sania terkena kanker darah?" Tiba-tiba darahnya berdesir karena dia mengingat selama ini ciri-ciri yang dialami oleh Sania memang mengarah kesana.
"Ya Allah? Jika dia sampai kau ambil untuk menyusul suaminya, bagaimana nasib anak-anak? Dina, Juned, Syifa dan sikembar? Mereka masih butuh sosok seorang ibu di samping mereka!! Dan aku? Bagaimana juga dengan nasib hatiku yang sudah tertambat padanya sejak saat pertama kali aku melihatnya di pemakaman dulu?"
Niko tersandar di kursi sambil memejamkan matanya...galau? Tentu saja, siapa yang tak akan galau melihat orang yang kita cintai nyawanya ada di ujung tanduk.
Tadi dia membaca tentang tranplantasi sum-sum tulang belakang. Dan itu memungkinkan jika Sania masih mempunyai orang yang punya hubungan darah dengannya.
"Ibu dan Bapak jelas Sania tidak punya, karena aku tau persis kedua orang tuanya telah meninggal dunia...apakah Sania masih mempunyai saudara kandung ya?" Gumam Niko sambil memainkan pulpen di tangannya.
*
*
"Dina....!!!"
Dina yang sedang duduk di taman belakang sekolah menoleh kearah suara yang memanggilnya.
"Pak Sultan!!"
Dia memang Sultan dengan sebutan pak jika berada di sekolah.
"Bapak apa kabar? Kok sekarang ngga pernah kelihatan mengajar lagi?" Tanya Dina.
"Iya...bapak sudah terangkat jadi PNS dan mengajar agak jauh dari sini, kabar kamu dan adik-adikmu bagaimana?" Tanya Sultan lagi.
__ADS_1
"Kabar kami baik pak!! Om Sultan tidak menanyakan bagaimana kabar bunda?" Dina berbisik sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Sultan. Karena dia tau bahwa laki-laki di depannya itu sudah lama menyukai bundanya meski hanya dalam diam.
Wajah Sultan kemerahan mendengar godaan Dina.
"Bundamu sekarang sudah lupa sama om Sultan, apalagi semenjak ada kembaran ayah kalian dan kalian sudah pindah lagi kerumah lama."
"Om Sultan kok jadi pesimis gitu sih? Om masih suka sama bundanya Dina kan? Om, rasa suka itu harus diperjuangkan...jangan dibiarkan...nanti kalau sudah diambil orang ntar nyesel lho...!" Dina menceramahi Sultan panjang lebar.
"Apalagi sekarang sudah ketambahan bapaknya Dina sudah kembali kekota ini lagi dan sekarang kehidupan bapak sudah jauh berubah."
"Baru ada om Niko saudara kembar ayahnya sikembar...dia juga mempunyai peluang untuk mendekati bunda dengan alasan sikembar adalah keponakannya."
"Dan Dina dengar kemarin sewaktu om Niko ribut dengan seseorang yang mengantar bunda pulang, orangnya masih muda pokoknya ganteng banget sepertinya dia dan bunda sudah lama saling mengenal karena Dina melihat dari cara mereka berdua berbicara dengan akrabnya."
Sultan menelan salivanya dengan susah payah mendengar semua penuturan Dina.
"Terus bundamu memilih siapa?" Kata Sultan penasaran.
"Terus Dina dan adik-adik memilih siapa? Tanya Sultan.
"Entahlah kalau adik-adik karena Dina tidak pernah menanyakan perihal itu secara langsung dengan mereka, tapi kalau Dina sih netral aja om!!"
"Bagi Dina yang terpenting bunda bahagia saja itu sudah lebih dari cukup om, karena Dina tau persis bagaimana penderitaan bunda dan perjuangan bunda saat bapak meninggalkan kami bertahun-tahun yang lalu."
"Dari mencetak bata merah sampai bekerja jadi cleaning service semuanya bunda jalani supaya Dina dan adik-adik bisa makan, bisa sekolah dan supaya bisa membayar sewa rumah agar kami bisa tinggal di rumah kontrakan dan terhindar dari terik matahari dan dinginnya malam."
"Jadi intinya siapapun dia, asal bisa membuat bunda bahagia maka Dina akan menerimanya, tetapi jika Dina sampai tahu orang itu akan menyakiti bunda lagi maka akan Dina pastikan hidupnya juga akan menderita."
"Dina tau om Sultan orang yang baik dan pengertian, jika om mencintai bunda maka saran Dina kejarlah cinta itu sebelum cinta itu pergi menjauh dan semakin jauh meninggalkan om Sultan dan tak akan terkejar lagi.
Sultan terdiam memikirkan semua ucapan Dina yang banyak benarnya. Dia mencintai Sania berawal bertemu di rumah kakak iparnya saat Sania sedang hamil besar dan pergi dari rumah karena Miko telah menikah dengan Alena.
__ADS_1
Dari awalnya hanya kasihan melihat penderitaan wanita itu lalu perasaan itu semakin lama semakin jauh berkembang menjadi cinta.
Sultan selalu ada untuk Sania, melindungi dan menyayangi dia dan anak-anaknya dengan setulus hati sampai akhirnya dia lebih memilih mundur dan mengalah saat melihat Miko menghiba-hiba untuk meminta Sania kembali padanya.
Di satu sisi sebagai manusia yang terkadang mempunyai sifat egois, hati nya tak ikhlas walaupun harus belajar merelakan. Tapi di sisi yang lain karena hatinya terlalu lembut dan welas asih, dia juga jadi tak tega melihat perjuangan Miko saat itu untuk mengambil kembali orang yang dia cintai.
Akhirnya Sultan mengalah dan memilih untuk mulai belajar melupakan Sania walaupun ya itu tadi hatinya tak sepenuhnya merelakan tapi harus dia lepas karena Sania yang dia tau juga masih mencintai Miko.
Dan kini hati wanita malang itu terluka lagi untuk yang kesekian kali saat Miko hanya diberikan waktu sesaat untuk bersamanya sebelum kemudian Allah memanggil Miko untuk menghadapnya dan pergi meninggalkan kehidupan Sania untuk selamanya.
Padahal dia tak pernah lupa pada amanat Miko saat itu untuk menikahi Sania menggantikannya untuk menjaga Sania dan anak-anaknya, tetapi Sultan tetap tak mempunyai keberanian untuk mengatakan pada Sania tentang hal itu.
"Yee...kok malah bengong...bengong atau melamun??" Dina menepuk bahu Sultan yang duduk di sebelahnya.
"Om tadi menghampiri Dina ada keperluan apa?" Tanya Dina lagi.
"Oalah...om sampai lupa Dina, ini!!" Sultan menyerahkan dua amplop untuk Dina.
"Apa ini om? Surat cinta untuk bundanya Dina ya? Kok pakai surat-suratan segala...mending ngomong langsung kebunda kalau om Sultan suka, ngga usah pakai surat-suratan gini...diterima syukur ngga diterima ya...coba lagi!!"
"Apa sih Dina, itu lho gajimu waktu menyanyi di kafe om Sultan juga gaji bundamu." Kembali wajah Sultan memerah mendengar candaan gadis usil yang beranjak dewasa itu.
"Oh...kirain surat cinta untuk bunda!!" Dina tersenyum-senyum melihat wajah Sultan semakin merah.
*
*
Jangan pernah berhenti berjuang untuk mendapatkan apa yang kita impikan!!
Mampir, baca berikan like, komen, vote, favorit ddn rate nya agar author bisa terus up date...🙏🙏🙏
__ADS_1