
Tiga bulan bukan waktu yang singkat. Kabar terus kunanti dengan sabar.
Siang itu ketiga teman-temanku yang juga tetangga dulu, datang berkunjung kekontrakanku.
"Nia...apa kabarmu sekarang?" Wati, Tini dan Tuti memelukku dengan penuh linangan air mata.
"Kami sudah mendengar kabarmu, tapi untuk kemari harus menunggu satu dan yang lain kumpul dulu."
"Tuti masih di Surabaya di rumah mertuanya, begitu juga Wati masih di Jakarta mengurus warisan kakeknya."
"Mengapa jadi begini nasibmu sekarang, temanku?"
Wati yang paling tak tahan melihat keadaanku. Atap rumah yang bocor dengan dinding kayu yang agak jabuk.
"Mana tiga ponakan kecilku?" Tanya Tuti.
"Dina masih sekolah. Juned dan Syifa lagi main dengan temannya, kataku."
"Sejak kak Della datang dan menjual rumah peninggalan ibu, aku dan mas Sofwan juga Dina harus pindah dari satu kontrakan kekontrakan lain."
"Keterlaluan memang kakakmu itu Nia."
"Sudah pergi lama tanpa kabar berita, ibu Kamsiah meninggal dia tidak ada, datang-datang membawa sertifikat rumah dan menjualnya."
"Benar-benar tak tahu diri dan sungguh tak punya hati, "umpat Tuti.
"Sebenarnya kalian itu bersaudara kandung atau bukan sih? mengapa sifat kalian berdua beda?"
"Kamu ini Wati, ya bersaudara kandunglah...tapi tak tahu dari mana menurun sifat jahat dan serakahnya."
"Terus Nia, bagaimana ceritanya sampai bang Sofwan jadi seperti ini?"
"Kalian duduk dulu lah, sebentar kubuatkan minum ya."
"Eh iya...Kamu tidak usah repot-repot...sebentar ya!"
Tini keluar rumah dan masuk kedalam mobilnya."
"Wati...tolong aku dong...berat ini..."
Wati bergegas menyusul keluar rumah. Mereka masuk membawakan sembako, sekotak minuman dan cemilan buat anak-anakku.
"Aduh...kalian bertiga jadi repot...aku jadi merasa tidak enak," kataku.
"Jangan merasa sungkan dengan kami Nia...kita berteman sejak kecil, apapun penderitaanmu juga kami rasakan."
Aku tak tahan untuk menahan isak tangisku mendengar perkataan Wati. Sementara Tuti dan Tini sudah tak lagi bersuara, menahan tangis mereka.
"Kamu juga selama ini jarang menghubungi kami, jika bukan kami yang menelponmu."
"Setiap kami tanyakan kabarmu, kamu selalu menjawab bahwa kamu baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku tak tahu pasti sejak kapan mas Sofwan begitu, karena dari menikah hingga aku hamil Juned , dia masih baik-baik saja."
"Apa memang bang Sofwan punya riwayat gangguan jiwakah?"
"Aku tak tahu persis Tin, karena selama 5 tahun pernikahan kami, aku tak melihat gejala apapun yang terjadi."
"Hanya saja setelah aku hamil Syifa, suamiku memang mulai berubah."
"Kamu ingatkan sewaktu aku pernah menceritakan kejadian mas Sofwan jadi korban tabrak lari?"
"Iya...kata ketiga temanku kompak."
"Untung waktu itu hanya terserempet, tapi fatalnya kepala mas Sofwan terbentur batu di trotoar."
"Waktu itu ada luka robek di atas sebuah luka lama di belakang kepalanya."
"Kata dokter waktu itu, ada bekas jahitan luka lama di tempat persis terbenturnya kepala mas Sofwan."
"Sewaktu aku menyinggung soal bekas luka itu, mas Sofwan sama sekali tidak mengingatnya."
"Hanya saja setelah itu, dia sering terserang sakit kepala hebat."
"Itu berlangsung kurang lebih sebulan sampai luka dibelakang kepalanya benar-benar kering dan sembuh."
"Sakit dikepalanya sudah tidak menyerang lagi, hanya saja jika ada hal kecil yang memancing emosinya, maka kemarahannya bisa berkali lipat."
"Kalian ingatkan aku pernah cerita rambutku di jambak mas Sofwan?"
"Terus aku juga pernah cerita bahwa leherku pernah dicekiknya, sewaktu dia kesal aku memarahi Dina?"
"Kami tak terima jika sahabat kami diperlakukan seperti itu." Wati menggeram kesal.
"Sekarang bang Sofwan di rawat di mana, Nia?"
"Itu sudah permasalahannya Tin, aku sama sekali tidak bisa menghubungi keluarganya."
"Aku juga takut diusir oleh keluarganya, jika aku tetap nekad untuk kesana."
"Malangnya nasibmu Nia, takdir seolah-olah memporak porandakan hidupmu, kata Tuti."
"Aku tak pernah menyalahkan takdirku, Ti! Semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa."
"Kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya Allah lah yang menentukan."
"Mungkin di balik cobaan yang menimpaku, ada pelajaran yang bisa kuambil hikmahnya di kemudian hari."
"Yakin sajalah, bahwa Allah tidak akan pernah memberi cobaan yang tidak mampu dihadapi hambanya."
"Kamu benar Nia, Allah memberi cobaan padamu karena Allah sayang padamu, suatu hari kelak Allah akan membalaskan sesuatu yang lebih baik, asal kamu ikhlas menjalani takdirmu."
"Aku akan kuat teman-teman terlebih lagi ada tiga malaikat kecilku yang ada bersamaku."
__ADS_1
"Mereka titipan Allah yang harus kujaga dan kulindungi, merekalah sumber kekuatanku."
"Terima kasih kalian selalu ada bersamaku, disaat suka dan duka, selalu memberi support untukku."
Aku memeluk mereka bertiga penuh rasa haru dan syukur. Terharu memiliki tiga sahabat sebaik mereka, dan bersyukur masih ada teman-teman yang baik yang mendukungku disaat kakak kandungku sendiri dan keluarga suamiku membuangku dari kehidupan mereka.
"Ya sudah hari semakin siang, kami bertiga tahu kamu harus bekerja lagi, kami pamit dulu ya Nia."
"Jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami, "ingat, hubungan kita memang hanya sebatas teman, tapi darah persahabatan kita lebih kental dari pada saudara kandung sekalipun."
"O iya Nia, aku hampir saja lupa menyampaikan amanat."
"Wati merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan dua amplop."
"Ini ada titipan dari mamak sama bapakku untuk anakmu, kalau yang satu ini dari kami bertiga."
Tanpa menunggu persetujuanku, dia sudah menyelipkan amplop ketanganku.
"Aku jadi semakin tidak enak sama kalian, kesannya aku dan anak-anakku hanya merepotkan."
"Kalau kamu merasa tidak enak, kasihkan kucing saja, pertama dan yang kedua bagi kami, kalian tidaklah merepotkan."
Setelah mereka pulang, barulah dua laron kecilku datang mau minta uang untuk beli jajan
"Ngga usah beli jajan, Juned...Ini ada titipan cemilan sama minuman dari teman-temannya mamak.
"Asyik...sorak keduanya gembira.
Kupandangi kedua anakku yang asyik menikmati makanannya. Lalu kubuka lagi genggamanku yang berisi dua amplop dari mereka tadi.
Kubuka amplop yang dari orang tua Wati terlebih dahulu. Isinya kurang lebih lima ratus ribu rupiah dan kubuka lagi amplop satunya, isinya kurang lebih sejutaan.
"Alhamdulillah ya Allah...atas rejeki yang engkau berikan pada kami hari ini, rejeki yang tak terduga datangnya dari ketiga sahabatku."
"Uang mamak banyak..." kata Syifa sambil mengunyah kuenya, dapat dari mana?
Anak bungsuku ini memang lancar berbicara dan tembus perkataannya, berbeda dengan Juned yang terkadang masih belum jelas mengucapkan sesuatu.
"Tadi dari tante Wati, tante Tuti dan tante Tini, tadi mereka kemari tapi Syifa dan Juned lagi main."
Kedatangan mereka bertiga sungguh tak terduga, setelah sekian lamanya kami tak saling berkomunikasi.
Aku yang lebih memilih mundur dan menjauh, karena aku merasa minder dan malu pada mereka.
Aku mengira mereka juga akan menjauhiku sama seperti mereka yang lain yang selalu memandang sebelah mata pada kami.
Apalagi setiap pulang sore bajuku penuh cipratan lumpur adonan pembuatan bata merah. Terkadang kenalpun pura-pura tak melihat.
Miris memang, di tengah kesulitan ekonomi dan prahara rumah tanggaku, kami seperti terbuang. Tanpa sanak saudara yang membantu, aku merangkak mencoba bangkit dari keterpurukanku.
Alhamdulillah Allah masih mengirimkan orang-orang baik untukku. Seperti teman-temanku tadi.
__ADS_1
***Bersambung...
Ditunggu like dan komennya ya...Vote nya juga jika berkenan๐๐๐๐***