
"Papah sebenarnya ingin mengatakan pada mamah dan ayah, tapi papah batalkan karena papah ingin belajar mencintai mamah dan terlepas sepenuhnya dari masa lalu papah!!"
"Papah sadar sepenuhnya bahwa Sania adalah masa lalu papah dan mamahlah masa depan papah."
"Tapi ternyata bicara itu tidak semudah membalik kan telapak tangan mah!! Berkali-kali papah mencoba untuk mencintai dan berusaha menerima kelebihan dan kekurangan mamah, tapi papah tidak bisa."
"Awalnya semua itu hampir bisa papah lakukan tetapi mamah sendiri yang telah membentangkan jarak di antara kita."
"Mah...papah tau malam sebelum kejadian kecelakaan yang membuat kaki mamah harus di amputasi, mamah bersama tiga teman mamah pergi kepuncak yang katanya untuk reuni...tapi kalian tidak berempat kan? Kalian membawa pasangan gelap kalian masing-masing."
Wajah Anggita pucat pasi mendengar penuturan suaminya.
"Papah sengaja diam agar rumah tangga kita tetap utuh, cukup sekali perceraian papah dengan istri pertama papah dulu dan papah tidak ingin semua terulang kembali."
"Tapi bukannya sadar, mamah malah membenci papah dan parahnya membenci Aisyah juga dan menyalahkan kami atas kejadian yang menimpa mamah."
Anggita bungkam, diam seribu bahasa tak tau mau bicara apa lagi. Ingatannya seolah kembali ke masa saat kejadian itu terjadi.
***Flashback***
Dia saat itu sedang pulang ke Yogyakarta bersama dengan bayi Aisyah, sementara Sofwan belum bisa ikut karena pekerjaannya masih menumpuk jadi Istri dan anaknya berangkat terlebih dahulu.
Setelah dua hari tiba, dia bertemu dengan temannya semasa kuliah dulu. Vita teman satu jurusan dengannya lalu mengajak dia dan dua sahabatnya dulu untuk reunian ke puncak.
"Tambah cantik aja kamu sekarang Nggit...ngomong-ngomong kamu masih inget Edo ngga?" Tanya Seli sahabatnya.
Anggita tampak berpikir sejenak, "Edo yang mana ya?"
"Edo culun yang dulu suka dan ngejar-ngejar kamu mulai dari semester satu." Dini mengingatkannya.
Dulu dia, Dini, Vita dan Seli satu angkatan di keperawatan. Edo adalah laki-laki yang menyukai Anggita tapi Anggita terus menolaknya karena dia culun.
"Kamu pasti pangling jika melihatnya sekarang, Nggit!!" Ucap Dini.
"Paling juga tetap culun, Din...Din!!" Anggita mencibir sambil tersenyum.
"Eits jangan salah...besok kan kita mau reunian nih, kita-kita mau membawa mantan kekasih masing-masing ke puncak." Kata Seli.
"Gila kalian ya? Kalian lho sudah pada nikah, begitu pula dengan mantan-mantan terindah kalian!!" Sentak Anggita.
"Kita itu nggak mau macem-macem, Nggit...hanya sekedar mengingat cerita lama kita dulu aja!!" Ucap Vita.
__ADS_1
"Ayolah, Anggita...mumpung suamimu masih ada di Balikpapan, mari kita nikmati kebersamaan kita ini...seru lho!!" Vita dan dua temannya semakin memberikan tawaran yang menggoda.
"Tapi putriku bagaimana?" Anggita nampak berpikir.
"Yaelah...titipkan babysitternya dulu napa!! Toh kita pergi tidak lama juga!!" Ketiga sahabatnya terus membujuknya.
Akhirnya Anggita terbujuk juga, memang sejak menikah dengan Sofwan dan menetap di Balikpapan, mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.
"Okelah..."Kata Anggita menyetujuinya.
*
*
Pukul 14.00 mereka berkumpul di kafe tempat mereka suka nongkrong dulu.
"Sebentar lagi para lelakinya akan datang!!" Kata Dina lagi.
Tak lama kemudian sebuah mobil Honda Odyssey memasuki pekarangan kafe. Tampak tiga orang lelaki tampan turun lebih dahulu yang Anggita kenal bernama Salman, Doni dan Nino.
"Edo nya mana Vit?" Tanya Anggita penasaran.
Vita tak sempat menjawab saat seseorang turun dari mobil itu. Penampilannya jauh dari kata culun. Tubuh tegap berisi, wajah indonya sangat mendominasi penampilannya sehingga membuatnya semakin terlihat macho dan seksi.
Dulu walaupun Edo itu adalah blasteran Indo Jerman, tapi karena penampilanya yang kurang menarik membuatnya nampak bodoh dan dijauhi kaum hawa, tapi sekarang?
Anggita kesusahan menelan salivanya karena terkejut sekaligus terpesona dengan penampilan Edo sekarang.
"Hai every body?" Edo yang bernama asli Theodorus itu menyapa kawan-kawannya.
Matanya lalu bersitatap dengan mata dan wajah cantik Anggita. Sejenak mereka saling diam dan mungkin saling mengagumi satu dengan yang lain.
"Anggita?" Ucap Edo.
"Kamu bertambah cantik sekarang malah pakai banget!!" Kata Edo lalu menjabat tangan Anggita dan mencium punggung tangan wanita pujaannya itu.
"Woi...nanti dulu temu kangennya, kita makan dulu lalu kita segera berangkat...perjalanan kitakan jauh!!" Seru Vita pada mereka semua.
"Gampang Vita sayang, kalau kita lelah kan kita bisa ngamar dulu di perjalanan sambil melepas lelah!!" Nino mengedipkan mata pada mantan pacarnya itu.
Mereka segera menyelesaikan makanannya dan berangkat.
__ADS_1
Anggita dan Edo duduk di kursi belakang sambil bercerita mengenang kisah yang lalu.
"Istrimu ngga marah kalau ditinggal pergi gini, Do?" Tanya Anggita.
"Istriku ikut pelatihan selama seminggu ke Jakarta...jadi sekarang aku jomblo dulu!!" Kata Edo sambil tersenyum.
"Kamu sendiri? Apa suamimu tidak marah kami pergi reunian ke puncak gini?" Tanya Edo pada Anggita.
"Suamiku masih di Balikpapan, masih ada urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan di sana." Sahut Anggita
"Wah pas ini...aku jomblo dan kamu juga jomblo...walau hanya untuk sementara waktu sih!!" Senyum genit Edo membuat wajah Anggita memerah.
Jujur saja sejak melihat sosok Edo tadi, Anggita sudah terpesona pada mantan si culun itu. Edo sudah berubah 180 derajat.
"Waduh guys...hujan turun nih, jalan menuju puncak pasti akan licin jika kita paksakan melewatinya!!" Salman selaku pengemudi berhenti sambil meminta pendapat kepada para sahabatnya.
Doni yang sejak tadi anteng duduk menempel pada Sela akhirnya buka suara.
"Sebaiknya sebelum gelap kita mencari penginapan di sekitar sini atau kita mau tidur sempit-senpitan di mobil ini?"
Akhirnya mereka setuju, karena terlalu beresiko menempuh perjalanan ke puncak dalam cuaca ekstrem seperti sekarang ini.
Walaupun sebenarnya Anggita kurang begitu setuju tapi dia terpaksa diam melihat ke tujuh temannya setuju semua.
Akhirnya mereka memilih menginap semalam di penginapan sekitar situ. Dan di situlah awal mesum ke delapan orang itu terjadi termasuk dengan Anggita yang tak bisa menolak pesona dari seorang Edo.
Dan itu mereka semua lakukan berkali-kali sampai lewat tengah malam mereka semua kelelahan. Cuaca ekstrem di luar tetapi di dalam kamar penginapan mereka berdelapan lebih ekstrem lagi.
Paginya mereka sarapan pagi sebelum melanjutkan perjalanan.
"Kalian berapa ronde semalam? Tanya Nino pada Salman, Doni dan Edo.
"Doni payah baru satu ronde sudah k.o!!" Cicit Sela kesal sambil menatap pada mantan kekasihnya semasa di bangku kuliah dulu itu.
"Kamu masih mending, lha Salman belum apa-apa sudah ngorok duluan...dasar muka bantal!!" Dini cemberut memandang Salman. Sementara Salman hanya nyengir mendengar omelan Dini.
*
*
***Bersambung....
__ADS_1
Bagaimana akhir perjalanan rumah tangga Sofwan dan Anggita?
Jangan lupa taburan like, komen, vote, favorit dan rate nya😊😊🙏🙏