
"Aku kehilangan kontak denganmu saat kamu keluar dari pekerjaanmu sebagai cleaning service di rumah sakit, aku mencarimu seperti orang gila...Kiki dan Taniapun tak mengetahui di mana keberadaanmu...yang aku tau saat kamu keluar waktu itu karena kamu sedang sakit."
Vivi menjeda kalimatnya dengan menatap wajahku yang masih seperti orang bingung.
"Aku juga berusaha untuk mencari tau dan bertanya pada teman-temanmu dan hasilnya nihil...kamu lenyap bagai hilang ditelan bumi."
"Kemana saja kamu selama dua belas tahun ini, Sofwan? taukah kamu aku sangat merindukanmu."
"Oh iya, kamu sedang apa di sini?" Vivi tersenyum memandang Sofwan.
"Aku mewakili perusahaan tempat aku bekerja." jawab Sofwan.
"Wihhh, hebat kamu sekarang Sofwan, bagaimana kabar anak dan istrimu? anakmu pasti sudah besar sekarang ya??"
"Kita duduk dulu yuk...masa ketemu mantan lama, ngobrolnya sambil berdiri-berdiri begini!!" Vivi menarik tangan Sofwan masuk ke kafe yang ada di dekat gedung tempat pelatihan.
"Gimana kabarmu dan anak istrimu?" tanya Vivi.
"Aku sudah berpisah dengan Sania, Vi...aku menghilang waktu itu karena aku memang sakit!! aku mengalami gangguan kejiwaan dan amnesia yang parah!!" Sofwan menundukan wajahnya.
Pembicaraan mereka terjeda saat pelayan kafe datang menanyakan pesanan mereka.
"Jus Alpukat dua ya mba, nasi goreng dua!!" kata Vivi.
"Kamu masih ingat aja kesukaanku, Vi!!" kata Sofwan sambil tersenyum.
"Jangan kata kesukaanmu, letak tahi lalat di setiap jengkal tubuhmu aja aku masih ingat!!" Vivi tersenyum menggoda Sofwan.
"Oh iya, teruskan ceritamu tadi!!" Lalu mereka masuk lagi dalam mode serius.
"Aku sendiri awalnya tak tau kalau kecelakaan itu berpengaruh pada kepalaku, karena kepalaku yang menghantam sisi trotoar."
"Beberapa bulan sejak peristiwa itu baru efeknya muncul...sedikit demi sedikit ingatanku menghilang, jangan kata untuk mengingat istri dan anak-anakku, keluargaku bahkan aku tak lagi nengingat siapa diriku."
"Lalu secara sepihak aku menceraikan Sania dan meninggalkan tiga orang anakku lalu kakak-kakakku menikahkanku dengan Anggita, tetapi pernikahan kami hanya sekitar empat tahun lalu aku bercerai lagi."
"Jadi sekarang kamu jomblo dong? kamu ini semakin bertambah usia bukan semakin tua tapi semakin ganteng aja!!" Vivi tak pernah melepaskan sedikitpun pandangan matanya pada mantan kekasihnya itu.
"Kamu sendiri gimana? berapa anakmu sekarang? terus kabar om dan tante gimana?" tanyaku.
"Aku mengurus perusahaan di sini, mama dan papa ada di Kuala Lumpur."
"Aku belum punya anak Sofwan, pernikahanku juga hanya bertahan seumur jagung, suamiku berselingkuh dengan Tania dan terpaksa menikahinya karena Tania hamil!!"
"Aku tak mau di madu makanya aku memilih mundur dan melepaskan mereka untuk bahagia karena aku sadar ke bahagiaanku itu hanya kamu!!"
"Tapi rencananya, setelah pulang kekotaku kembali dari pelatihan ini aku dan Sania berencana untuk rujuk lagi demi anak-anak kami, Vivi!!" ucap Sofwan.
Vivi terdiam mendengar ucapan Sofwan. Lalu timbul niat jelek dalam hatinya.
"Sofwan, sejak kuliah dulu aku sudah mencintaimu...Sania itu hanya orang yang baru masuk dalam kehidupanmu, tak akan kubiarkan kalian untuk bersatu lagi...kamu harus kembali jadi milikku."
"Kamu menginap di hotel apa, Wan?" tanya Vivi sambil mengaduk minumannya.
"Itu..." Sofwan menunjuk hotel yang kelihatan berkelas tak jauh dari tempatnya pelatihan.
"Lho, sama dong!! aku juga menginap di situ!!"
"Sudah waktunya masuk kembali, ayo!!" lalu Sofwan membayar makanan mereka dan mereka bersiap untuk mengikuti pelatihan selanjutnya.
*
*
"Mau apa kamu menghalangi jalanku?" mata Dina berkilat menatap beberapa sosok remaja lelaki yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Wuidih...cantik-cantik galak bener neng!!" ucap salah satu dari mereka.
Dina memang telat pulang sekolah hari ini karena dia harus ikut latihan terakhir sebelum besok bertanding melawan SMA rival sekolah Dina.
Dina merupakan salah satu karateka terbaik semenjak dia bersekolah di sekolah menengah pertama dulu.
Walau awalnya Sania dan Miko waktu itu melarang Dina untuk ikut latihan karate karena setiap pulang pertandingan badan Dina memar semua, tetapi gadis keras kepala itu tetap keukeuh pada pendiriannya.
Dia baru saja ujian kenaikan sabuk hitam dan karena pukulan dan tendangan Dina keras dan mematikan, dia menjadi wakil dari sekolahnya yang sekarang untuk ikut bertanding membawa nama sekolah.
"Neng geulis, sekarang sudah mau maghrib lho...kita antar pulang yuk!!" jawab salah satu dari antara mereka.
Dina menyeringai, hatinya hari ini sedang teramat kesal karena Juma juga ikut pindah kesekolahnya yang sekarang bahkan mereka di tempatkan di satu kelas yang sama.
Sewaktu Dina berencana mau masuk SMK, Juma juga mau mendaftar di situ, lalu Dina membatalkan niatnya masuk SMK dan memilih masuk SMA dengan harapan tidak usah bertemu dengan Juma.
Dia teramat membenci Juma, menurutnya karena pernikahan ibunya Juma dan Nikolah yang menyebabkan bundanya stres dan drop kembali.
"Aku tak akan pernah memaafkan orang yang telah menyakiti bundaku, siapapun dia aku tak peduli...menyakiti bundaku berarti dia menjadi musuhku!!" begitulah prinsip gadis manis itu.
Dina diam saja ketika tangannya akan diraih oleh para remaja berandalan itu, sedikit lagi tangan Dina akan tersentuh secepat kilat dia meraih dan mencekal lalu memutar pergelangan tangan pemuda berandalan itu.
""Lepaskan tangan teman kami gadis liar..." teriak salah satu dari mereka marah.
Dina sengaja berdiri membelakangi tembok, untuk menghindari dia diserang dari belakang, sementara tangannya terus mencekal pergelangan tangan pemuda itu.
"Gadis liar?? kalian menyebutku gadis liar?? kata Dina mrnyeringai, cekalannya semakin kuat mencengkeram lengan itu.
"Coba katakan sekali lagi? tapi jangan salahkan aku jika tangan teman kalian ini akan lepas dari persendiannya."
"Aduh...stop Rian, tangan gue sakit banget nih!!"
Laki-laki yang bernama Bastian itu merintih kesakitan.
"Oke...gadis cantik...lepaskan tangan teman kami dan silakan kamu lewat!!" jawab Rian.
"Kuperingatkan kalian, jangan coba-coba cari masalah denganku karena beberapa hari ini moodku sedang buruk, aku akan dengan senang hati menghajar kalian berempat...pergi sana!!"
"Awas kamu ya, ku ingat memang wajahmu itu!!" kata Rian lalu mereka berempat lari meninggalkan tempat itu.
Hahhhh....
Dina berteriak keras sangking kesalnya lalu meninju tembok yang ada di depannya.Sangking kerasnya pukulan gadis itu sehingga tembok tak berdosa itu menjadi retak.
Dengan gontai dia melangkah setelah sebelumnya memperbaiki kerudung yang di kenakan.
"Lho, Dina...jam segini kok baru pulang?" tanya Della di ruang tamu sedang menyuapi si kembar.
"Iya tante, tadi latihan terakhir sebelum besok bertanding terus tadi sewaktu pulang juga ada kejadian kecil."
Lalu Dina meraih kedua adiknya dan menciumi mereka.
"Bunda, Juned sama Syifa mana tante? kok ngga keliatan?" tanya Dina sambil melemparkan tubuhnya ke sofa.
"Lagi pergi kerumah tante Tini, tadi om Sultan pingsan lagi untung pingsannya sudah di rumah...kamu mandi sana gih!! bau acem." kata Della.
Dina hanya menyeringai saja mendengar perkataan Della.
Lalu dia pergi kebelakang untuk mandi dan sholat maghrib.
Setelah itu dia keluar lagi menemui Della dan kedua adiknya.
"Tante, bisa kita bicara serius? tapi jangan bilang-bilang sama bunda ya!!" katanya.
"Bicara apa Dina?" kata Della melihat raut wajah ponakannya itu menjadi sangat serius.
__ADS_1
"Waktu itu Dina sempat dengar kata bapak pernah bilang sepulangnya dari pelatihan di Jakarta nanti, bapak akan rujuk kembali dengan bunda!!"
Della masih diam menunggu Dina melanjutkan ceritanya.
"Jujur sebenarnya Dina ngga suka jika bapak rujuk dengan bunda lagi, terlalu banyak penderitaan yang dialami bunda karena bapak, belum lagi jika saudari-saudari perempuan bapak pada ikut campur semua.
"Lalu!!" kata Della.
"Dina juga ngga suka dengan om Niko, karena om Niko terlalu posesif, syukur mereka tidak jadi menikah hanya yang Dina benci adalah saat kesehatan bunda drop lagi mendengar om Niko menikahi ibunya Juma.
"Lalu om Riko...."
"Om Riko itu malah seperti abangnya Dina saja."
"Sebenarnya Dina sangat mendukung sejak dulu bunda bersama dengan pak Sultan.'
"Kenapa kamu malah lebih memilih Sultan?" tanya Della.
"Om Sultan itu baiknya tulus, tante!! Om Sultan selalu ada di saat kami butuh pertolongan."
"Om Sultan yang sabar dan pengertian, om Sultan yang tak pernah sedikitpun menyakiti hati bunda!!"
"Sebenarnya tante juga kepikiran begitu, Dina!! hanya saja Sultan terlalu lambat pergerakannya sehingga sering kalah cepat dengan yang lainnya."
"Kalau tante lihat, sebenarnya bundamu itu juga sudah lama menaruh hati pada Sultan begitupun sebaliknya...mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain, terbukti jika bundamu sakit maka om Sultan selalu ada untuknya, begitupun saat Sultan sakit maka bundamu selalu ada untuk Sultan."
"Tapi entahlah, sebenarnya apa lagi yang mereka pikirkan sehingga sulit sekali untuk bersama."
"Belum lagi sekarang om Riko berniat melamar bundamu untuk menjadi istrinya dalam waktu dekat ini."
"Jika bunda memang ngga suka, kenapa bunda tidak menolaknya tante, "jawab Dina tegas."
"Bunda itu memikirakan nasib kita jika menolak Riko, Dina!!"
"Riko itu tergolong pribadi yang nekad, Dina...mungkin itulah salah satunya yang membuat bundamu tak bisa menolak Riko.
"Lho kamu sendiri? kenapa benci banget sama Juma? Ingat lho Dina, rasa benci dan cinta itu setipis embun di pagi hari...nanti benci-benci lama kelamaan jadi bucin."
Della tersenyum menggoda Dina.
"Tidak akan tante, Dina tidak akan mencintai orang yang sangat Dina benci." tekan Dina datar.
"Sebenarnya Juma itu tidak salah, Dina...dia tidak tau menahu dalam hal ini." Della memberikan penjelasan pelan-pelan pada keponakannya yang keras kepala ini.
Dina diam saja tak menanggapi ucapan Della tantenya.
"Tante, sewaktu pulang latihan sore tadi Dina dihadang oleh beberapa remaja berandalan."
"Apa? terus kamu ngga apa-apa?" tanya Della terlihat cemas.
"Tidak apa-apalah tante, orang Dina pulang dalam keadaan utuh begini kok!!" kata Dina.
"Terus kamu apakan anaknya orang, Dina?" kata tante Della.
"Ngga Dina apa-apakan, hanya Dina buat tangannya sedikit sakit aja, agar tidak kurang ajar lagi dengan gadis manapun!!" sahutnya.
"Memang kamu mau diapakan oleh mereka?" tanya tante Della.
"Masa tangan Dina mau dipegang-pegang, ya Dina cekal aja tangannya sampai bunyi kletek...gitu!!" Della sampai mengerenyit mendengar cerita Dina lalu dia geleng-geleng kepala.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Vivi terhadap Sofwan selanjutnya? juga sepak terjang Dina putri pasangan Sofwan dan Sania yang sekarang sudah menjelma menjadi seorang gadis remaja...
Ikuti terus ceritanya ya guys...dan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan dukungannya selama ini.🙏🙏🙏🙏