
Jam 12.00. Banyak karyawan mau menuju kantin untuk istirahat dan makan siang. Aku juga mau makan dulu dan mau pergi ke mushola untuk sholat dzuhur. Baru aja aku selesai makan saat mbak Fina memanggilku.
"Nia...pak Miko minta dibuatkan mie rebus pakai 2 telor katanya...nanti bawakan keruangannya ya, "Iya mbak..." Jawabku.
"Resenya...orang ini...eaktunya orang mau istirahat...waktunya juga dia membuat repot..."
Aku ke dapur membuatkan pesanannya. Tidak sampai 15 menit, mie rebusnya pun sudah jadi.
Aku bergegas membawa keruangannya. Aku takut keburu adzan dzuhur.
"Tok...tok...masuk!!!"
"Permisi pak Miko...Ini mie rebus dengan 2 telur pesanan pak Miko tadi."
"Taruh di meja aja kak, dan kapan-kapan kak Nia manggil aku bapak?"
"Saya hanya office girl di sini pak, jadi saya harus tau diri dan juga harus tau sopan santun."
Dia beralih dari menatap layar laptopnya lalu menatapku.
"Memangnya harus ya perbedaan begitu? Terus siapa yang mengharuskan? Perusahaankah?"
"Setidaknya saya mengikuti alurnya dan aturannya seperti itu, ya saya ikuti."
Dia tersenyum mendengar perkataanku..."Setidaknya jika cuma berdua, panggillah aku Miko seperti biasanya kak."
"Tapi tidak di dalam lingkungan perusahaan, saya tidak mau mendapat masalah yang bisa mengancam pekerjaan saya. Saya tidak mau dipecat hanya karena masalah sepele...saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
"Permisi pak...jika tidak ada lagi yang diperlukan, saya akan kembali istirahat."
"Kak Nia mau istirahat di mana?"
"Saya mau ke mushola, saya mau sholat dzuhur."
Aku mundur lalu membuka pintu dan keluar. Aku tidak ingin lama-lama beradu pembicaraan dengannya.
Karena kami memang berbeda, apalagi sekarang ini.
Sepeninggalku, Jatmiko duduk termangu di mejanya. " Aku mencarinya bertahun-tahun...Ssampai kini 19 tahun kemudian baru bertemu."
Flashback...
"Kak Nia...kenapa sih kak Nia ngga mau terima cintaku? Apa karena Miko masih kelas 1 dan kakak sudah kelas 3 ya..."
Aku menghentikan langkahku. "Miko...Kakak itu sebentar lagi mau lulus...kamu carilah yang seumur dan sepantar denganmu..."
__ADS_1
"Tapi Miko jatuh cintanya sama kak Nia...apa Miko salah ya kak...mencintai wanita yang usianya jauh di atas Miko."
Kupandangi bocah yang baru genap 15 tahun ini...kalo soal tinggi dia memang jauh lebih tinggi dariku...tapi tetap saja dia masih bocah di mataku...ya masa iya aku pacaran dengan bocah? Lagi pula aku belum terpikir yang namanya pacaran."
"Miko jatuh cinta sama kak Nia itu namanya cinta monyet...suatu hari nanti jika kak Nia sudah lulus, Miko bisa kok ngelupain kak Nia dan mencari cinta yang baru."
"Ngga mau...pokoknya Miko cintanya sama kak Nia..."
"Bah...keras kepalanya bocah ingusan ini...baru juga pakai seragam abu-abu sudah belagu..."
""Sini deh Miko duduk dekat kakak." Aku menarik tangannya ke sebuah bangku kosong dan membawanya duduk di sebelahku."
"Coba Miko tatap kak Nia baik-baik...Miko lihat betapa kita berbeda."
Dia mengikuti kemauanku...ditatapnya dalam-dalam mataku. "Ngga ada yang beda tuh...Kak Nia tetap manis...suaranya lemah lembut...tetap kalem...Miko sayang kak Nia..." Tiba-tiba dia memelukku.
"Ih...anak kampret ini...seenaknya main peluk aja..."
"Haduh...nyesel aku nyuruh dia duduk di dekatku dan menyuruhnya menatapku...nyatanya tetap aja dia kepala batu."
"Miko lepasin kakak dulu ya... ngga enak kalau ada yang liat ya..."Aku berusaha melepaskan pelukannya."
"Ngga mau...sebelum kakak bilang mau jadi pacarnya Miko...dia malah mengeratkan pelukannya."
"Oke...tapi lepasin dulu ya...kakak sesak napas tau..."
"Tapi Miko janji ngga ngikutin kakak kemana-mana, ngga cemburu kakak jalan bareng ke kantin atau duduk dengan cowok, ngga usah bawel nanyain melulu."
"Oke Miko janji...dia menaikan jari kelingkingnya dan menautkannya dengan kelingkingku."
Semenjak itu kita sering ke mana-mana berdua. Bahkan ke pasar yang jalannya becekpun dia rela mengantarku walaupun aku tidak pernah memintanya.
Sampai tiba waktunya aku kelulusan dan saat itu juga Ibu Miko membawanya pergi mengunjungi neneknya yang sedang sakit di Singapura.
Miko yang menjadi anak tunggal yang selalu merindukan sosok seorang kakak, yang telah meninggal bersama ayahnya dalam kecelakaan pesawat sewaktu dia berumur 4 tahun.
Dia mendapatkan sosok itu dariku. Yang selalu dengan lemah lembut membimbing ke keras kepalaannya. Ibu Almirapun awalnya keberatan Miko pacaran denganku, tapi melihat semua perubahan Miko yang awalnya hanyalah sosok anak manja, songong, keras kepala, akhirnya bisa berubah sejak bersamaku.
Aku pacarnya yang sekaligus menjadi guru les private sih...kalau kubilang, yang mengajari dia setiap ada pelajaran yang tidak di mengerti olehnya.
Sebelum hari kelulusanku Miko janji akan kembali dari liburannya untuk menghadiri acara perpisahan sekolah, tapi sampai pada hari penentuan ternyata dia tidak kembali. Dan banyak beredar berita yang kudengar ternyata dia pindah ke sana.
Ya sebenarnya akupun tak masalah sih...karena pada dasarnya aku mau pacaran dengannya, agar dia tidak lagi menggangguku dan membuatku malu.
Sampai akhirnya aku lulus dari SMA tanpa tahu lagi bagaimana kabarnya. Tanpa aku tahu bahwa sebenarnya yang terjadi bahwa mobil yang membawa Miko dan ibunya dari bandara ke kediaman neneknya mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Akhirnya Miko tinggal di Singapura bersama kakek dan neneknya. Dan otomatis hubungan kami terputus, aku sudah berusaha mencari kabar tentangnya, tapi sia-sia. Dia bagai hilang ditelan bumi.
*
*
Aku termenung di depan laptopku. Kak Nia masih sama seperti 19 tahun silam. "Apa sekarang dia sudah menikah ya? Tentulah sudah..." Aku menjawab pertanyaan bodohku sendiri.
Secara sudah 19 tahun, aku saja yang belum mau membuka hatiku untuk wanita lain. Di usiaku yang sudah memasuki 34 tahun ini masih menjomblo.
Kulirik mie rebus di mangkok dengan 2 telur buatan kak Nia. Persis sama seperti belasan tahun lalu. Kucoba memakannya, dan ternyata rasanya masih enak seperti dulu yang membuatku ketagihan setiap hari minta dimasakkan kak Nia.
Siapa yang menyangka, kami dipertemukan lalu dipisahkan dengan tragis kemudian dipertemukan kembali. Tapi masihkah perasaannya padaku sama seperti dulu?"
Dia juga masih sama seperti dulu ngga mau ketinggalan waktu sholatnya. Bagaimanapun repotnya dia selalu diusahakannya sholat tepat waktu.
*
*
"Assalamualaikum...iya Dina...Apa adik-adikmu baik-baik saja? Syukurlah kalau mereka tidak rewel."
"Nanti pesan sama adiknya jangan main jauh-jauh ya..."
Aku termenung sambil memakan bekalku, terus terang aku tak tega meninggalkan anak-anakku begini.
"Kenapa melamun? Nanti nasinya nangis lho kalau di cueki."
Tanpa menolehpun aku sudah tau si pemilik suara itu.
"Ada perlu apa pak Miko? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Memang harus selalu begitu ya pertanyaannya, siapa tau saya mau pergi ke dapurkah...Ke toiletkah..."
"Maaf ya pak...jika anda mau ketoilet, untuk apa jauh-jauh...Di ruangan andapun ada...jika anda mau ke dapur, arah dapur sebelah sana bukan sebelah sini."
"Suka...suka saya dong!! Saya mau ketoilet yang mana, mau ke dapur lewat manapun juga...siapa yang larang?"
Aku menoleh padanya dan menatapnya tajam. Terus...maumu kemari itu apa? Aku to the point aja."
"Aku mau ketemu kekasih lamaku...yang dulu sangat manis dan lemah lembut, sekarang sudah berubah menjadi dingin seperti es di kutub."
"Sudahlah Ko...hubungan kita itu sudah sangat lama berakhir...sekarang yang ada hanya hubungan atasan dan bawahan saja."
Dia mendengus mendengar perkataanku, raut wajahnya berubah tegang...
__ADS_1
...***Bersambung........
Tak bosan-bosannya author meminta dukungannya...Like, Vote, komen dan favoritnya jika berkenan๐๐๐***