Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 74 Sandiwara Cinta


__ADS_3

"Entah cinta dari masa lalu kalian berdua atau apapun itu, yang jelas jaga jarak lah, mbak." Rahmat bicara setengah berbisik.


"Mat, bagaimana kamu bisa berkata seperti itu? Apa kamu mengetahui sesuatu?"


"Mbak, waktu itu aku pernah bilang saat menghadiri acara pernikahanmu dengan pak Miko, ketiga anakmu sangat mirip dengan pak Sofwan, terlebih lagi yang laki-laki itu."


"Mungkin mereka yang lain tidak begitu memperhatikan kemiripan itu, karena fokus mereka ada di mbak Sania dan pak Miko."


"Tapi karena aku duduk di belakang, maka aku leluasa memperhatikannya...semula aku juga tidak begitu menyadari, sampai kemudian si cowok kecil itu tertawa dipeluk oleh pak Miko."


"Aku sempat berpikir, di mana aku pernah melihat senyum dengan dua lesung pipit yang dalam di kedua pipi itu ya?"


"Sampai akhirnya aku melihat pak Sofwan tersenyum kepada para tamu, di situlah aku melihat ke miripan itu."


"Aku bukan tipe orang yang ingin mencari tau tentang masa lalu orang lain, hanya saja mbak dan pak Sofwan, sekarang ini sama-sama sudah tak sendiri lagi."


Aku menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar. "Kamu benar, Mat...semua sudah jadi bagian dari masa lalu yang tak mungkin lagi di tarik ke masa kini."


"Jangan sampai masuk dan terjerat ke dalam lubang yang sama, mbak mengerti maksudku kan?" aku hanya mengangguk lesu.


*


*


""Kita mau makan di mana?" Aku yang lagi melamun, hanya mengangkat bahu, "Terserah bapak saja, aku cuma ikut."


"Nia, bisakah kalau hanya berdua gini jangan memanggilku dengan sebutan bapak? Panggil mas aja atau Sofwan aja, jadi lebih nyaman didengar!!"


Aku berpaling padanya, menatap bola mata coklatnya, berusaha mencari kebenaran yang dikatakan oleh Rahmat tadi.


"Mas Sofwan...aku mau tanya dan kuharap mas jawab dengan sejujur-jujurnya."


"Apa sebenarnya mas sudah ingat semuanya? Mas sudah tidak amnesia lagi kan?"


Dia menghentikan mobilnya ke pinggir jalan yang agak sepi.

__ADS_1


"Kalau iya, apakah kamu dan anak-anak mau kembali kepadaku lagi, dek?" Aku tersentak mendengar ucapannya.


"Sejak kapan ingatan mas pulih kembali? Kenapa harus berpura-pura amnesia terus?"


"Agar aku bisa selalu dekat denganmu, hanya dengan masih berpura-pura amnesialah, aku masih bisa bersamamu."


"Ingatanku berangsur pulih saat aku melihatmu duduk bersanding dengannya di pelaminan waktu itu."


"Aku merasakan hatiku teramat sakit saat melihat wanita yang sangat kucintai bersama dengan yang lain."


Aku membuka handphone, kubuka galeri di mana masih tersimpan foto pernikahannya dengan Anggita dan foto akte cerai kami.


"Nih...mas lihat dan perhatikan, lebih sakit mana? Mas Sofwan atau aku?"


Dia mengambil handphone di tanganku. dipandanginya foto pernikahan dan foto akta cerai kami.


"Maafkan aku!!! Aku memang salah...aku pantas menerima rasa sakit ini."


"Rasa yang tak sebanding dengan penderitaan kalian selama ini, yang tak dapat kubayar dengan apapun."


"Tak masalah jika mas ingin sandiwara ini tetap berlanjut, aku akan memainkan sesuai dengan perananku!! Karena tak lama lagi aku juga akan resign dari perusahaan, begitu kontrak kerjaku berakhir."


Dia menatapku sendu. Jelas gurat-gurat kesedihan terpancar di sana. "Apakah kita bisa bertemu lagi? Bagaimana jika aku merindukanmu dan anak-anak kita?"


"Mas bisa menelponku jika merindukan anak-anak dan hanya ingin sekedar bertanya tentang keadaan mereka...tapi bukan untuk menelpon karena mas merindukanku, sebab ikatan cinta di antara kita sudah berakhir."


"Karena kisah cinta yang telah kita rajut selama sembilan tahun ini telah usai, mau di sesali bagaimanapun caranya, nasi yang sudah menjadi bubur tak akan mungkin bisa menjadi nasi kembali."


"Tapi aku mohon, izinkan aku untuk ikut menafkahi anak-anak seperti dulu, karena bagaimanapun aku ini tetap bapaknya."


"Hubungan kita boleh berakhir, tapi ikatan batin bapak dan anak tolong jangan dipisahkan, ya..."


"Aku tetap mencintai kalian walaupun kita tak bisa lagi bersama seperti dulu."


Aku memalingkan wajahku keluar jendela. Setegar apapun aku berusaha bertahan tapi air mata yang kutahan sejak tadi meleleh juga.

__ADS_1


Bahuku semakin keras berguncang saat dia meraih pundakku untuk memberi kekuatan padaku. Aku mencoba menepis tangannya yang merangkul pundakku, tapi semakin aku berusaha menepiskan semakin dia kuat merangkulku bahkan sekarang dia memelukku dengan erat.


"Aku masih mencintaimu, dek...sampai kapanpun itu!! kamu memang bukan yang pertama, tapi kamu adalah cinta terakhir dalam hidupku."


Dia menciumi kepalaku, mataku, kening dan pipiku lalu mengecup bibirku. Dan aku seolah tak punya daya untuk menghindarinya.


Aku menikmati setiap sentuhannya...apakah aku memang masih mencintainya? Tidak...dia bukan lagi mas Sofwan suamiku, ada seorang istri dan seorang bayi yang lebih berhak memiliki dia dari pada aku.


"Katanya kita mau makan? Ayo, nanti keburu maghrib."


Diapun menghapus jejak air mata di sudut matanya. Dia menatapku lama sekali. "Dek, andai waktu bisa kuputar kembali, aku ingin kembali hidup bersama dengan kalian lagi!!"


"Apa gunanya punya kedudukan, berlimpahan harta, tinggal di rumah mewah, tapi aku tak pernah merasa bahagia? Lebih baik aku tinggal di rumah kontrakan kita yang dulu, walaupun sempit dan bocor jika hujan turun, tapi kita bahagia."


"Sudahlah mas Sofwan, kita jalani saja takdir hidup kita masing-masing, kubur semua kenangan, simpan semua impian dan harapan yang pernah kita bangun bersama dulu."


"Masa lalu adalah harapan yang terkubur, masa kini yang akan menjadi masa depan kita semua."


Aku berusaha tersenyum untuk memberinya keyakinan dan kekuatan. Walaupun dalam hatiku sakit bahkan terlampau sakit. Karena pada dasarnya bicara itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Dia menjalankan mobilnya lagi. Kami sama-sama larut dalam diam, dengan seribu pikiran berkecamuk dalam benak kami masing-masing.


Kadang aku berpaling menatapnya. Kulihat dia menyetir sambil menatap lurus ke depan.


"Mas...kita akan kemana? Sudah banyak warung makan kita lewati, tapi mas ngga berhenti juga."


"Aku mau ke restauran kemala yang dekat pantai itu. Aku ingin makan sambil memandang ombak yang bergulung."


Kami parkir ke tempat yang agak remang. "Nah...kok ngga turun mas, katanya mau ma..." aku tak bisa melanjutkan kata-kataku.


Kepalaku di tariknya. Bibirku langsung di kecup dan di lumatnya. Aku hanya melotot tak bisa bicara tak berani bersuara.


Jantungku berdegup kencang, darahku berdesir. Seluruh tubuhku terasa bergetar hebat. Akupun merasakan jantung mas Sofwan berdegup hebat saat tubuh kami saling berpelukan.


***Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih kepada para reader yang sudah mau mampir dan membaca karyaku, tetap minta dukungannya ya...like, komen, vote dan favoritnya jika berkenan...happy reading💖💖***


__ADS_2