
Lega rasanya malam ini...Walaupun kami belum berberes semuanya. Miko janji besok datang lagi membantu. Maunya dia sih nginep disini...Tapi tentu saja aku ngga enak sama tetangga sekitar...Jadi dengan berat hati dia pulang.
Anak-anak sudah pulas tertidur kecapean. Tadi sore Miko sudah membelikan mereka nasi goreng, jadi aku tak perlu repot lagi memasak malam ini.
"Drrt...Drrrttttt...."
"Assalamualaikum...Iya Ko, ada apa?"
"Kangen...."
"Bukannya jawab salam, Ko...Kan tadi hampir satu hari kita sama-sama."
"Waalaikum salam, cinta..."
"Beb...Kamu sudah mau tidurkah?"
"Belum...Kenapa Ko? Aku pengen main kekontrakanmu lagi beb..."
"Kamu istirahat, Ko...Nanti kamu sakit...Ingat asam lambungmu nanti naik...Vertigomu nanti kumat..."
"Aku pengen tidur dipangkuanmu seperti dulu bรจb..."
"Tapi ini sudah malam, Ko...Kamukan baru sampai, masa sudah mau balik kesini lagi?"
"Kak....Boleh ya..."
"Huft.....Kalau dia sudah mengeluarkan jurus manjanya begitu, aku jadi ngga tega."
"Terserah kamulah, Ko...Tapi tidurnya nanti jauh-jauh ya...Ntar tanganmu gerayangan lagi."
"Siap tuan putri...Aku akan segera meluncur...Ngga pake lama....Tiiiit...Tiiit...Dasar sableng...Main putus telepon aja si Miko."
Tidak ada setengah jam, pintu rumah sudah diketuk.
"Yaela Ko...Mandi aja kah tadi kesini?"
"Sudah dong beb...Ini aku sudah ganti baju..."
"Ya siapa tau hanya ganti baju aja tapi ngga mandi..."
"Ishhh sorry lah...Aku ngga sejorok itu tau..." Aku celingukan...Tadi kesini naik motor ya...Jangan-jangan kamu ngebut kesininya."
"Iyalah pake motor, kalau pakai mobil, aku belum sampai kesini...Tadi sore aja jalannya macet..."
"Lha terus salah siapa mau balik kemari lagi...Bukannya istirahat, malah keluyuran."
"Habis aku kangen beb...Jadi jangan salahkan akulah...Kamu tuh yang perlu disalahkan..."
"Lha kok aku, Ko? Salahku dimana? Kok jadi aku yang salah?"
"Kamu mau tau salahmu? Salahmu itu, kenapa bikin aku kangen terus sama kamu...Itu kesalahan terbesarmu...Miko menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya."
__ADS_1
"Dasar bucin aneh..." Sungutku....
"Bodo amat...Biarin bucin...Orang sama pacar sendiri..."
"Eh beb...Tadi waktu aku lewat mau kesini, aku kan lewat diujung jalan itu...Kayaknya ada tenda warung lalapan deh...Kesana yuk...Aku lapar lagi nih."
"Lho tadi sore, kitakan sudah makan nasi goreng, Ko?"
"Tau ya...Semenjak kembali bersama denganmu, perasaan aku tuh bawaannya mau makan terus...Lama-lama kamu yang kumakan, beb!!!"
"Maaf ya...Aku kurus kering...dagingku ngga ada...Hanya tinggal tulang tho..."
Miko memandangku dari kepala sampai kaki. "Kamu ini kurus darimananya...Dada montok...Pantat semok...Badan bohai...Pipi chuby...Jadi kurus dari mananya..."
"Mikooo....Dasar mesum...."
"Kok mesum sih...Akukan hanya bicara sesuai kenyataan yang kulihat."
"Ayo beb...Mumpung anak-anak lagi tidur...Sebentar aja kita keluar rumahnya...Habis makan kita pulang...Aku pengen manja-manja sama kamu beb, seperti dulu."
"Kita naik motor ninjamu itu, Ko...Ngga jalan kaki aja kah?"
"Itu lumayan jauh beb...Nanti lama nyampenya...Lagian kenapa sih kalau naik motor?"
"Anu...Aku melihat lagi kearah motor Miko yang posisi jok belakangnya lebih tinggi dari depannya."
Kebayang dimataku, pasti aku duduknya membungkuk kedepan dan pasti dadaku menempel erat dibelakangnya...Hih....Aku bergidik juga membayangkannya.
"Nah...Nah...Benarkan dugaanku..Ayo kak Nia...Cepat naik...Bebebku ini lemot banget sih kayak ulat bulu...Miko menggerutu."
"Aduh tinggi betul sih, Ko...Susah naiknya..."
Dengan susah payah aku berusaha naik..."Sudah kak...Kita jalan ya..."
"Brummm...Bluk...Aku langsung menempel erat dibelakangnya...Kan tadi aku sudah bilang mau jalan...Ngeyel sih...Coba pegangan...Miko tersenyum-senyum sendiri."
Mau ngga mau aku duduk membungkuk dan memeluknya dari belakang.
"Ah...Hangatnya...Kenyal-kenyal gimana gitu...Adik kecilku jadi pengen bangun.."
"Mikooo...Aku mencubit pinggangnya keras-keras..."
"Adududuh...Sakit beb...Dari dulu sampai sekarang hobinya nyubittt...Aja..."
"Habisnya kamu nakal sih...Godain aku terus..."
Miko tertawa saja sambil melajukan motornya dengan santai, berkali-kali dia berhenti mendadak, sehingga membuat dadaku tertekan berulang-ulang dibelakangnya.
"Itu warung yang kumaksud, beb...Lumayan besarkan...Pembelinya juga lumayan ramai."
"Kita duduk dipojok aja ya, Ko???Aku malu kalau duduk ditengah-tengah."
__ADS_1
Setelah memesan dua porsi, kami duduk di bangku ujung paling pojok.
Tiba-tiba mataku menangkap dua sosok pria dan wanita yang tak jauh dari kami. Si wanita duduk membelakangi kami, sementara si pria duduk menghadap kami.
"Deg...Laki-laki itu....Bukankah itu mas Sofwan, mantan suamiku?"
Aku menajamkan penglihatanku...Mungkin aku salah liat...Karena laki-laki yang duduk didepan kami itu kulitnya putih bersih.
Tapi dua tahi lalat didagunya dan tahi lalat dipipi kirinya...Masa ada orang yang memiliki ciri sama persis?
Rambut ikalnya tambah berombak karena sudah sedikit gondrong. Mereka asyik bercanda sambil suap-suapan makanan...Senyum dengan dua lesung pipit yang dalam dipipinya...Tak salah lagi itu mas Sofwan...Dan cincin berlian yang melingkar dijari manis tangan kanannya?
Mendadak aku lemas melihatnya...Hatiku menggerenyit nyeri...Aku merasa luka itu berdarah lagi.
"Ternyata betul kata kak Nuri tempo hari, kalau mas Sofwan akan segera menikah lagi."
"Ya Allah...Aku berusaha tegar dan kuat dalam beberapa bulan ini...Tapi mengapa disaat aku sudah mulai menerima keadaan, tiba-tiba aku bertemu dengan dia lagi?"
Miko menangkap raut kegelisahan diwajahku sambil menatap kedepan...Dia lalu memutar badannya dan mencari dengan pandangan matanya, apa yang sedang kulihat.
Tiba-tiba dia berdiri menghampiri meja mas Sofwan dan wanitanya.
"Maaf...Bisa saya ambil kecapnya???Istri saya sangat suka kecap, tapi dimeja kami tak ada kecap."
Kedua pasangan yang sedang bersenda gurau itu berhenti dan menatap kepada Miko.
"Oh silakan mas...Ambil aja...Mas Sofwan mempersilakan sambil tersenyum manis..."
Miko tak lepas menatapnya seolah mencari keistimewaan apa pada laki-laki yang tengah duduk dihadapannya.
"Ganteng banget laki-laki ini...Wajahnya mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki orang lain."
"Senyumnya sangat manis dan menawan...Aku yang laki-laki saja tidak bisa memungkiri ketampanannya."
Miko kembali kebangku kami. Pandangannya tak lepas dariku yang duduk tertunduk nanar.
Aku mengaduk teh es dihadapanku, mengaduk tak tentu arah seperti hatiku yang seperti teraduk dan tercabik-cabik.
"Beb...Are you okay? Kalau kamu merasa tak enak badan, makanannya kita bungkus, kita bawa pulang saja.
"Jangan, Ko...Niat kita tadi dari rumah mau makan disini...Jangan rusak moodmu."
"Dia sama sekali tak melihatku...Padahal aku duduk tepat berdepanan dengan bangkunya."
"Sakit ya Allah...Ketika sesuatu yang masih kita cintai, tapi tak bisa lagi disentuh apalagi direngkuh, walaupun aku ingin melakukannya."
***Bersambung...
Pesan author...Jangan pernah sia-siakan orang yang mencintai kita. Karena rasa cinta dan benci itu, perbedaannya tipis sekali..Seperti kabut yang bisa hilang kapanpun angin berhembus...
Jangan lupa like dan komennya ya...votenya juga favoritenya biar author tetap semangat menulisnya.๐๐***
__ADS_1