
Tapi sampai di depan pintu kembali Sania ambruk tak sadarkan diri. Tekanan batin yang dialaminya sangat hebat, musibah seakan bertubi-tubi menghantam dan menderanya.
Untung Sultan reflek menangkap tubuhnya yang ringkih itu. Sudah hampir sebulan ini dia merawat Miko di rumah sakit. Hanya pulang sebentar untuk mengurus anak-anaknya dan kembali ke rumah sakit lagi.
Badannyapun semakin kurus karena efek sering begadang bergantian dengan Jonathan dan Niko untuk menjaga suaminya.
Sania di baringkan kembali ke tempat tidur dan sudah nyata jarum infus menghiasi tangannya karena kondisinya yang begitu lemah.
Sultan dan ketiga sahabatnya hanya bisa menatap prihatin pada penderitaannya.
*****
"Tempat apa ya ini? Sunyi sekali...sejauh mata memandang, hanya ilalang setinggi pinggang yang nampak." Aku bergumam sendiri.
"Aku harus berjalan kearah mana ya? Aku takut tersesat nih..." Di hatiku mulai dilanda kecemasan.
Tiba-tiba satu tangan memegang pundaknya dari belakang.
Akkhhh....
Sania berteriak sangking kagetnya dan cepat-cepat menoleh kebelakang.
"Ayah...." Dia kenal pada lelaki berbaju serba putih yang berdiri di belakangnya.
"Ayah? Aku...?" Lelaki itu tampak bingung sambil menoleh kekanan dan kekiri.
"Iya...bukankah kamu Miko suamiku?" Tanya Sania!!
"Kau salah orang...aku kebetulan hanya lewat di sini dan melihatmu berdiri kebingungan."
"Kau mau pergi kemana?" Tanya pria berbaju putih itu.
"Aku tidak tau mau kemana...sejauh mata memandang, hanya padang ilalang yang kulihat." Jawabku.
"Kamu sendiri mau kemana?" Tanyaku padanya.
"Aku mau meneruskan perjalananku melewati ilalang ini menuju ke lembah yang di sana itu?" Dia menunjuk kesuatu tempat yang akupun tak melihat apa-apa.
"Lembah yang mana?" Tanyaku bingung.
Pria itu juga tampak bingung.
"Berarti kamu tidak punya undangan masuk ke sana...lebih baik kamu pulanglah, ikuti saja arah ilalang ini lurus jangan kamu mencoba menoleh lagi kebelakang."
__ADS_1
"Apakah kita bisa bertemu lagi?" Tanyaku.
Dia nampak berpikir sejenak.
"Bisa, nanti jauh di belakang sana kamu bisa menemukan seseorang yang mirip denganku...sekarang cepatlah kembali, sebelum gerbang di belakangmu tertutup."
*****
Aku membuka mataku perlahan. Kulihat satu persatu orang-orang di sampingku. Kulihat pula anak-anakku yang menangisiku juga si kembar yang sedang digendong oleh bibi dan Jonathan. Sementara Syifa menangis tersedu-sedu dipeluk oleh Niko.
"Syukurlah kamu sadar kembali Nia..." Tini menangis sambil menggenggam tanganku.
"Detak jantung dan denyut nadimu tadi sempat tak ada...dan napasmu juga sempat terhenti...kami pikir kamu ngga akan selamat, bestie..." Kata Tini.
"Kenapa aku kembali? Aku ingin ikut dengan Miko!!" Mata Sania berkaca-kaca.
"Sadar bu...eling...anak-anak masih membutuhkan ibu, bapak di sana pasti kecewa melihat sikap ibu seperti ini." Kata bibi sambil menyeka air mataku.
"Aku belum siap kehilangan bapak, bi...apa yang harus aku lakukan tanpa bapak di sisiku."
"Nak, ikhlaskan kepergian Miko!! Dia sudah ada di alam kedamaian...di mana tak ada rasa sakit lagi yang selalu menyiksanya setiap detik."
"Apa kamu ngga kasihan melihat suamimu yang begitu menderita menahan sakitnya?" Ayah Jonathan membelai kepalaku mencoba memberiku semangat hidup.
"Setelah itu, aku tak bisa melihat suamiku lagi ya, yah!! Aku menggigit bibir bawahku sampai berdarah.
Tak lama suster datang...
"Maaf ibu-ibu dan bapak-bapak...pasien akan diberikan penenang dulu supaya bisa beristirahat ya...sebaiknya di ruangan ini jangan terlalu banyak orang agar pasien tidak terganggu.
Akhirnya mereka semua keluar dan meninggalkan Sania yang tertidur kembali.
"Apa bunda akan baik-baik saja bi?? Bunda tidak akan pergi menyusul ayah untuk ninggalin kami kan?" Dina bertanya dengan air matanya terus membanjiri pipinya.
"Non Dina, Juned dan Syifa berdoa aja semoga kondisi ibu lekas membaik ya!!" Kata bibi.
Sementara itu...
"Niko...nanti sore operasi transplantasi kornea matamu akan dilaksanakan, semoga berjalan sesuai rencana ya!!"
"Terima kasih dokter Alvin!!" Kata Niko.
"Terima kasih juga saudaraku...selama nyawa masih di badanku, aku akan menjaga titipan terindahmu untukku...tenanglah kau di sana dalam tidur panjangmu Miko...mimpilah yang indah ya!! Niko berkata seorang diri.
__ADS_1
*
*
"Lho...mba Nia sudah bangun?" Sultan yang masuk ke dalam ruangan kaget melihat Nia duduk bersandar di pembaringannya.
Matanya menatap kosong keluar jendela sebelah tangannya mendekap syal yang dipakai Miko sebelum dia meninggal.
"Kenapa dia pergi meninggalkanku, Sultan? Kenapa dia tidak menepati janji yang dia buat sendiri?" Sania bicara tapi matanya tetap menatap kosong kedepan.
"Sekarang aku tersiksa Sultan, semua kenangan pahit dan manis seolah berseliweran di kepalaku...seolah dia masih saja ada bersamaku, memeluk dan mendekapku di saat aku jenuh dengan semua penderitaan hidupku."
"Selalu mrmberiku dukungan dan semangat di saat ku mulai rapuh."
"Mestinya saat dia mengkhianatiku dengan menikahi Alena, aku tak usah lagi memaafkannya...tapi aku lemah karena aku masih mencintainya."
"Mestinya aku biarkan saja dia pergi kala itu, jadi aku tak perlu merasa sesakit ini saat kehilangan dia untuk ke dua kalinya."
"Aku seakan merasa hidup tak adil untukku...bagai lingkaran sebuah kutukan yang tak menginginkan aku untuk bahagia."
"Atau memang orang sepertiku tak pantas untuk bahagia, Sultan?" Dia lalu berpaling menoleh pada Sultan yang duduk di depannya.
"Mba...jangan berkata begitu!! Ngga boleh!!"
"Allah menyayangimu makaNya Dia mengujimu karena Dia tahu mba Nia orang yang kuat...dan Allah mencintai Miko karena Allah kasihan padanya maka dari itu Dia mengangkat seluruh penyakit Miko dan membawa serta Miko untuk kembali ke pangkuannya."
"Rasanya aku ingin menyerah, Sultan...sejak dulu aku selalu menghadapi seluruh penderitaanku seorang diri."
"Mungkin aku memang tidak diijinkan untuk bahagia, Sultan!!"
Sultan menatap wanita berparas ayu yang bersandar di pembaringan itu. Matanya redup seolah tak ada lagi sinar kehidupan, pipinya terlihat tirus dengan deraian air mata yang tak pernah kering dari ke dua kelopak mata indahnya.
"Rasanya aku tak tega untuk menyampaikam amanat Miko tempo hari...kulihat dia terlalu mencintai Miko." Batin Sultan.
"Mba Nia harus kuat, jika mba rapuh seperti ini maka tak ada lagi yang bisa melindungi anak-anak."
"Mereka sudah kehilangan sosok bapak, lalu kehilangan sosok ayah, jangan sampai mereka akan kehilangan sosok ibunya juga."
"Mereka adalah permata yang harus dijaga...kuatlah demi mereka...jika mba begini terus, saya tak akan mengijinkan mba Nia untuk ikut ke pemakaman Miko."
"Saya sangat prihatin dengan keadaan mba Nia, tapi hanya nasehatlah yang bisa saya berikan untuk mba Nia."
Digenggamnya tangan itu untuk memberi dukungan dan kekuatan, bahwa dia tak sendiri menghadapi kesedihannya.
__ADS_1
Happy reading guys...Author tak bisa menuliskan lebih karena author juga sedih...jangan lupa tinggalkan jejak ya!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏