Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 115 Terima Kasih Kehadiranmu


__ADS_3

Pasti banyak dari readers ingin mengetahui visual wajah-wajah pemeran dalam tokoh kutukan cinta. Secara author ambilkan dulu wajah yang mendukung pemerannya menurut versi author...dan semoga juga cocok menurut versi pembaca😊😊.



Sofwan Prayoga


menurut versi dari author sih...Lin Yi sangat cocok dengan karakter Sofwan yang ganteng, imut dan punya senyum yang sangat manis.



Jatmiko Sarendra


Pracaya Ruangroj...karena dia punya gaya yang cool dan wajah yang tak kalah gantengnya dengan Sofwan, jadi author pilihkan sebagai tokoh Miko.



Sania Marfiah


Karena Sania sosok yang dewasa, punya senyum yang teramat manis dan punya mata yang indah dan bening seperti kaca, maka author pilihkan sosok si cantik Mahi vij sebagai visualnya



Sultan


Sosok Sultan yang kalem, manis, sabar dan perhatian, maka author pilihkan Aditya Redij sebagai visualnya.


Empat visual dulu ya...ntar author beri lagi nanti di bab selanjutnya.


*


*


"Non...non...sebaiknya non Alena keluar saja, jangan membuat pak Miko tambah stres dan memperburuk keadaan ya...bibi mohon, tolong mengertilah dengan keadaam pak Miko.


"Ish..."


"Brak..."


Dengan kesal Alena keluar dan membanting pintu kamar lalu masuk ke kamarnya.


"Aku benci padamu kak Sania...seandainya percobaan pembunuhanku waktu di rumah sakit tidak gagal, pasti sekarang aku sudah bisa memiliki bang Miko seutuhnya."


"Apa sih istimewanya wanita itu? Sampai-sampai bang Miko memujanya seperti dewi dan mengacuhkanku?"


"Damn it..."


Alena membanting dirinya ke tempat tidur dengan sangat kesal.


"Cepat teleponkan ibu, bi...saya butuh ibu sekarang ini untuk menenangkan saya...." Miko berguling-guling di kasur menahan rasa sakit di kepalanya.


"Halo..."


"Iya Dina, ini bibi....bundanya Dina adakah? Bibi mau bicara sebentar dengan bunda..."

__ADS_1


"Bun....ada telepon dari bibi, katanya penting!!!"


Aku yang baru saja selesai mandi, bertanya-tanya dalam hati...ada apa gerangan bibi menelponku?


"Bu...tolong datanglah kemari, bapak sangat kesakitan...bu!! Bibi mohon, jika ibu masih membenci bapak dan non Alena, pandanglah bibi, bu...bibi mohon, bibi ngga tega melihat bapak terus mengerang kesakitan dari tadi."


"Kenapa harus saya, bi? Kenapa tidak telepon dokter keluarga aja?"


"Pak Miko ngga mau bu, bapak ingin ibu yang ada untuk bapak dan bukan dokter."


"Bunda pergi saja..." Dina menjawab dari samping pintu kamar.


"Kasihan ayah, bun...mungkin benar kata bibi, ayah butuh bunda di sana."


"Terus nanti adik-adikmu bagaimana Dina?"


"Bunda ngga usah khawatir, si kembar anaknya pintar kok...Juned dan Syifa juga bisa diandalkan untuk menjaga mereka."


"Toh bunda ke tempat ayah juga ngga lama kan?"


Akhirnya setelah aku menutup sambungan telepon dari bibi, aku bersiap pergi dengan mengendarai motor maticku yang dibelikan Miko untukku sewaktu aku masih bekerja sebagai office girl dulu.


"Jaga adik baik-baik ya Dina...bunda ngga akan lama kok!!"


"Bunda pergi ya, Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam, hati-hati di jalan ya, bun!!"


Sekitar 15 menit aku tiba di rumah kediaman Miko.


Dulu kami menghabiskan hari-hari kami bersama di rumah ini, bercanda, tertawa bersama, menyaksikan Juned dan Syifa yang berlarian di halaman, menyaksikan Dina yang sedang menyirami bunga-bunga yang ada di taman.


Tapi sekarang? Semua sudah tinggal kenangan.


Semenjak aku dan anak-anak pergi meninggalkan rumah ini hampir setahun yang lalu, halaman dan bunga-bunganya tampak tak terawat.


Aku memarkir motor di halaman samping.


"Assalamualaikum..."


Walaupun aku masih istri sah Miko, yang kapan saja bisa keluar masuk rumah ini...tapi aku tetap mengucapkan salamku.


Pintu depan terbuka. Bukannya menjawab salamku, Alena malah berdiri menghalangi pintu.


"Mau apa kak Sania datang lagi kemari? Bukannya kakak sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini? Dan itu sudah bagus!!"


"Alena..." Aku masih mencoba sabar untuk menghadapi ular betina ini. "Ingat, saya masih istri sah dari Jatmiko Sarendra...kami belum bercerai...dan kamu!!! Sepertinya harus saya ingatkan lagi posisimu seperti apa....kamu hanya istri ke dua, istri siri Miko yang belum dinikahinya secara hukum negara."


"Lagi pula saya datang ke sini karena bibi yang menelpon memohon-mohon agar saya datang kemari...bukan sepertimu yang dengan sengaja masuk dan menawarkan diri ke dalam kehidupan rumah tangga orang lain!!"


"Kamu...."


Wajah Alena merah padam. Perkataanku merupakan tamparan telak di wajahnya.

__ADS_1


"Kamu minggirlah...saya tidak punya banyak waktu, karena saya juga harus mengurus anak-anak saya di rumah."


"Oh, ibu sudah datang?? Masuklah bu, bapak sudah menunggu di kamar sejak tadi."


Rupanya mendengar suara keributan kecil di depan, bibi segera keluar dari kamar Miko.


"Ish..."Alena menghentakkan kakinya lalu masuk ke kamarnya dengan membanting pintu sekerasnya.


Aku bergegas mengikuti bibi ke dalam kamar. Aku terpaku sesaat berdiri mematung di luar kamar tidur kami dulu.


Kamar yang memberikan sejuta kenangan dan keindahan dan juga memberikan neraka dunia untukku.


Seandainya jika tidak dalam keadaan terpaksa, enggan rasanya aku kembali ke tempat yang menyakitkan ini.


Aku melihat Miko tergolek tidur di pembaringannya. Karena dia tidur menghadap pintu, jadi aku bisa melihat jelas wajahnya.


Wajah ganteng suamiku yang dulu selalu berseri-seri dengan senyumnya yang selalu tampak sumringah, kini berganti dengan wajah yang pucat pasi.


Miko kulihat semakin kurus, dan seperti tak terurus.


Mau tak mau aku meringis melihat keadaannya sekarang ini.


"Masuk bu!!! Kok diam saja berdiri mematung di depan pintu."


"Bapak baru saja tertidur setelah tadi bibi memberikan bapak obat penenang."


"Bu, bibi tinggal ke dapur dulu ya...kalau perlu apa-apa, panggil saja bibi."


Aku melangkah masuk dan duduk disamping pembaringan. Kugenggam tangannya yang dulu kekar berisi, tapi sekarang tampak kurus dan layu.


Aku masih membencinya, tapi aku juga tak tega melihat keadaannya seperti ini.


Entah merasa sedikit terganggu atau dia merasa seperti ada yang duduk di sampingnya, perlahan Miko membuka matanya.


Awalnya matanya tertuju pada tangannya yang tengah digenggam oleh seseorang, lalu dia membuka matanya lebih lebar agar dapat melihat dengan jelas siapa orangnya.


Miko mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan kalau dia tak salah mata.


"Bunda...bundakah itu?"


Aku juga kaget melihat Miko tiba-tiba nembuka matanya, aku tak menyadari karena tadi aku sedang melamun.


"Ayah sudah sadar?" Suaraku agak tercekat.


"Ayah ternyata tidak sedang bermimpi, tadi ayah bermimpi bunda datang dan duduk di samping ayah."


Dia tersenyum...bibirnya yang dulu selalu basah kini jadi kering dan layu.


Miko menggenggam tanganku erat-erat. "Ayah senang bunda mau datang ke mari bun?"


"Mana anak-anak bun? Bunda tidak mengajak mereka ke sini? Ayah kangen banget sama mereka..."


Miko terus mengoceh sementara aku hanya diam saja mendengarkan semua pembicaraannya.

__ADS_1


***Bersambung....


Visual tokoh utama sudah....nanti di bab selanjutnya, akan author sisipkan visual tokoh yang lainnya lagi. Dukungannya selalu ya guys. Like, komen, vote, favorit dan rate nya. Terima kasih🙏🙏


__ADS_2