
"Tadi aku sudah bilang, Sofwan!! apapun akan aku lakukan asal Sania bisa meraih kebahagiaannya walau bukan bersamaku."
"Jadi sekarang nasehatku, berhenti mengganggu dan mencari Sania, lebih baik kamu memfokuskan diri pada wanita yang telah kamu nodai itu, Sofwan."
"Tapi aku sama sekali tidak mencintainya, Sultan!!"
Sofwan sudah benar-benar seperti orang yang sedang putus asa dan frustasi.
"Tapi pada saat kalian bercinta, apakah terpikirkan olehmu kamu mencintainya atau tidak, Sofwan? tentu tidak kan? yang kalian ingat hanya nikmatnya saja, kalian berdua lupa segalanya.
"Sekali lagi aku mohon Sofwan, jangan kamu ungkit itu di depan Sania kalau kamu tak mau melihat dia terbujur kaku di ruangan ICU kembali."
"Baiklah Sultan, aku akan menikahi Vivi tapi tolong jangan ceritakan apapun pada Sania ya!!" Sofwan menatap Sultan penuh harap.
"Kamu tak perlu khawatir tentang itu, aku bukan lelaki tipe penggibah, Sofwan!!"
"Terima kasih atas saran darimu Sultan, jika memang Allah tak mengijinkan aku dan Sania kembali bersama, setidaknya aku ingin melihat dia bahagia dengan seseorang dan kuharapkan itu kamu...Sultan!!"
Sultan hanya tersenyum saja.
"Jodoh, hidup dan mati manusia itu ada di tangan Allah...kita hanya bisa berharap, berusaha dan berdoa tetapi Dia jugalah yang menentukan semuanya."
"Besok aku akan kembali ke Yogyakarta Sultan, aku mau menjemput Aisyah tapi mungkin aku agak lama di sana aku mau menenangkan diri dulu!!" kata Sofwan.
"Terserah kamu Sofwan yang penting intinya kamu jangan lari dari kenyataan..." kata Sultan.
"Aku titip berikan ini untuk Sania dan anak-anakku ya Sultan...salamkan juga untuk mereka katakan sampai kapanpun aku akan tetap mencintai mereka."
Mata Sofwan berkaca-kaca. Betapa harapannya untuk bersama hanya tinggal angan semata.
Mereka berpisah. Sofwan langsung pulang dengan perasaan yang teramat galau. Sebenarnya hati Sultanpun terasa hampa, dia tau pernikahan Sania dan Riko tak lama lagi, tapi dia tetap berpegang pada satu keyakinan, dia bahagia jika melihat Sania bahagia walaupun kebahagiaan itu tak bersama dengannya.
*
*
Hiya....
Plok...plok...plok...plok
Dina berhasil memecahkan batako yang dia susun menjadi dua. Lalu terdengar tepukan tangan kakek Ubud di belakangnya.
Dua minggu lagi pertandingan antar sekolah akan dilaksanakan...Dina dengan dibantu oleh kakek Ubud yang di desanya adalah guru silat, walaupun mereka berbeda aliran.
"Kamu sudah mendapatkan cukup banyak kemajuan Dina, pukulan dan tendanganmu sudah mantap hanya tinggal kamu sendiri yang harus sering-sering melatihnya!!" kata kakek Ubud.
"Baik kek, akan selalu Dina perhatikan nasehat kakek."
__ADS_1
"Kamu tergolong gadis pintar Dina, kamu mampu menggabungkan gerakan silat yang kakek ajarkan dan karatemu dalam satu jurus."
"Terima kasih, kek!!" ucap Dina tambah semangat.
"Asalkan kamu ingat nasehat kakek, Dina...belajar ilmu bela diri bukan untuk gaya-gayaan tetapi untuk membela yang lemah dan untuk membela diri kita juga di saat ada dalam bahaya."
"Iya kek!!" jawab Dina.
"Coba kamu salurkan hawa murni dan bagi di tangan kanan dan kirimu kemudian kamu pukul batang yang biasa kita jadikan tempat duduk itu."
Dina tampak mengempeskan perutnya dan berusaha mengalirkan hawa murninya ke kedua tangannya.
Lalu dia meninju bangku yang terbuat dari dahan yang telah dihaluskan itu.
Hiya....
Prak...prak...
Bangku dahan yang keras itu patah menjadi empat bagian.
"Bagus Dina, tidak sia-sia selama hampir sebulan ini kamu berlatih tak kenal lelah, ditambah lagi kamu memang memiliki tenaga luar yang kuat."
"Kamu baru berumur 15 tahun, tapi tulang-tulangmu kokoh seperti gadis berusia 17 atau 18 tahun...kakek bangga padamu, nak!!" kakek Ubud membelai rambut Andina.
"Unda....anty...bangkunya patah dipukul kakak!!! tiba-tiba Miki berteriak dari depan pintu dapur.
"Haduh...datang lagi si tukang ngadu!!" keluh Dina pada kakek Ubud.
"Aduhhh Dina...kakek...ini sudah patahan keberapa? kakek juga sudah tau Dina bar...bar...ditambahi lagi belajar tenaga dalam...aduh, tau ah!! pusing tante!!" sementara Sania hanya geleng-geleng kepala saja.
Dina dan kakek Ubud menggaruk kepala mereka yang tidak gatal sambil cengengesan.
"Kakek curang, hanya kak Dina saja yang dilatih...Juned sama Syifakan juga mau!!" Juned dan Syifa langsung protes pada kakek Ubud.
"Makanya sehabis sholat subuh kak Dina kalian berdua bangun, jangan habis sholat subuh langsung tidur lagi." gerutu Dina pada dua adiknya.
"Lagian siapa yang mau kalian pukul? bapak yang tidak bertanggung jawab? atau om Niko yang bisanya cuma janji doang? atau om Riko yang katanya sebentar lagi akan jadi ayah kita?" ucapan Dina telak mengenai semuanya...semua orang yang telah menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya.
"Dina ngga boleh gitu ngomongnya!! kata kakek Ubud.
"Memang begitu kenyataannya kek!! bundanya Dina menderita sampai sekarang gara-gara ulah mereka itu...Dina benci sama mereka semua!!"
"Dina, ingat!! kebencian akan merusak diri kita sendiri, biarkan saja toh karma berjalan sesuai jalurnya masing-masing...intinya siapa yang menabur maka dialah yang menuainya."
"Astaghfirullahaladzim...iya kek maaf...Dina terlalu terbawa perasaan."
"Ya sudah, hari sudah sore sebentar mau maghrib kalian mandi dulu nanti kita sholat berjamaah..." kata kakek Ubud.
__ADS_1
*
*
"Kamu di mana Sofwan? aku sudah telat sebulan nih!!" Vivi mondar mandir di kamarnya.
"Sebaiknya aku keapotik aja beli test pack, aduh...jangan-jangan aku hamil lagi!!" pias pucat wajah Vivi mengingat itu semua.
"Apa yang harus kukatakan pada ayah dan ibu tentang semua ini? kamu kemana Sofwan, aku sudah berusaha menghubungimu tapi nomormu selalu ngga aktif!!"
"Apa dia sudah tak ada di Balikpapan lagi? padahal sepulangnya kami dari Jakarta dia pulang menuju rumahnya."
"Apa aku datang langsung ke rumahnya aja kali ya!!" berpikir sampai kesana membuat Vivi nekad mau mendatangi kekompleks perumahan yang jadi tempat tinggal Sofwan.
Vivi terus memencet bel tiada henti. Lalu keluarlah seorang perempuan tua yang diperkirakannya adalah pembantu di rumah itu.
"Maaf ibu mencari siapa?" tanyanya pada Vivi.
"Apa benar di sini kediamannya Sofwan Prayoga?" tanya Vivi lagi.
"Benar bu, tapi sudah dua minggu ini pak Sofwan berangkat ke Jogjakarta mau menjemput non Aisyah."
"Tapi bibi dengar semalam bapak menelpon kalau bapak belum bisa pulang dalam waktu dekat ini sebab beliau sedang dinas ke Batam menggantikan den Angga adik iparnya.
Terduduk lemaslah Vivi mendengar semua itu.
"Aku sebenarnya meragukan, apa ini anak Sofwan ataukah anak Deni ya? aku berhubungan dengan Sofwan baru dua minggu lalu, sedangkan aku sudah telat sebulan lebih."
"Aku harus menemui Deni di rumahnya...aku tak mau anakku ini lahir tanpa ayah."
"Ya sudah bi, saya permisi dulu...oh iya apa bibi mempunyai nomor ponsel pak Sofwan yang aktif?" tanya Vivi.
"Tidak ada bu, biasanya bapak jika menelpon langsung dengan telepon rumah baru bibi juga buta huruf bu!!" bibi cuma cengengesan.
"Jika pak Sofwan menelpon lagi katakan saya datang kemari mencarinya, katakan saya tengah mengandung anaknya!!"
Pembantu tua itu hanya melongo mendengar penjelasan Vivi tadi.
"Kok seperti kucing saja ya? ninggalin anak kesana kemari?" bibi itu hanya bisa menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
*
*
***Bersambung...
Gimana sih Vivi ini?? ya Deni...ya Sofwan, lalu dia sebenarnya hamil anak siapa?"
__ADS_1
Pelajaran buat kita semua ya guys...jangan sampai nafsu membutakan mata kita...akal sehat harus tetap jalan 😁😁🙏🙏
Dukungannya selalu ya reader...terima kasih!!