Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 152 Racun Berbisa Ular Betina


__ADS_3

"Dia datang ke rumah dengan gayanya seperti yang punya rumah. Berteriak-teriak mencarimu dan Miko."


"Tentu saja aku sangat emosi, jika tidak mengingat dia seorang wanita...sudah kuhajar dia."


"Aku itu heran pada Miko, dapat nemu di mana model perempuan seperti itu!! Cantik sih, tapi apa gunanya kecantikan wajah jika tidak di barengi oleh kecantikan hati."


"Aku lebih suka tipe wanita yang sederhana dan lemah lembut...mungkin bisa mengimbangi sifat keras kepalaku."


Aku hanya diam saja mendengar penuturan Niko.


"Kudengar Alena itu anak dari paman yang menjaga rumah kakeknya di Singapura...yang dijodohkan pada Miko karena Alena tak punya keluarga lagi."


"Menjaga bukan berarti harus menikahikan" Aku kembali diam mendengar celetukan Niko.


Seandainya Niko tau kejadian malam.dua tahun yang lalu yang telah membunuh jiwaku dan membuatku hancur sehancurnya...tapi aku tak mau dia tahu dan membuat dia membenci saudara kembarnya.


Tit...tit...tit


"Dina itu sudah dijemput om Sultan tuh, cepetan selesaikan makananmu." Kataku.


"Iya bun!!" Sahut Dina.


"Dina kalau berangkat kesekolah barengan sama Sultankah?" Niko melirikku.


"Ngga, kecuali pas Sultan ada jam mengajar di sekolah Dina!! Sultan akan menjemput Dina untuk pergi bersama kesekolah."


"Bun...om Niko...Dina berangkat dulu ya...Assalamualaikum!!"


"Waalaikum salam...hati-hati di jalan ya!! Jawabku.


"Lho...itukan motornya om Niko ya Dina?" Tanya Sultan sebelum mereka berangkat.


"Iya om, tadi om Niko memberi kabar kepada kami bahwa ibu Alena sudah kembali lagi ke kota ini."


Deg...


Sultan langsung bungkam. Karena dia tahu betapa jahatnya Alena.


"Om Niko memperingatkan agar kami berhati-hati!!" Kata Dina.


"Mau apalagi siluman kalajengking itu datang lagi, tidak puaskah dia menyakiti Sania dulu?" Sultan tampak menggeram marah.


"Kamu boncenglah Juned dan Syifa kesekolah, biar Miko dan Miki sama aku di rumah...sehabis itu baru kita pergi ke toko."


Aku hanya mengangguk saja. Setelah Syifa dan Juned berpamitan, kami bertiga pergi.

__ADS_1


"Juned...Syifa...jangan pulang sekolah sendiri tunggu sampai bunda atau om Niko jemput, mengerti kalian nak?"


"Mengerti om!! Jawab mereka kompak.


"Aku titip Miko dan Miki dulu ya Niko!!" Aku mencium pipi kedua anak kembarku. Lalu kulihat Niko menjulurkan tangan kanannya. Sontak aku bingung.


"Cium...kamu ngga pamit sama aku? Masa hanya pamit sama Miko dan Miki doang? Dina, Juned sama Syifa aja salim tangan sama pamannya, masa kamu ngga?"


Dengan setengah hati aku meraih tangan kanannya, menyaliminya dan menaruhnya di dahiku seperti dulu aku menyalimi Miko jika akan berangkat kerja.


"Ya sudah kalian hati-hati...cepat kembali Nia, jangan sampai di jalan kamu bertemu dengan mantan madumu itu." Aku hanya mengangguk saja.


*


*


"Ahhh...kepalaku sakit sekali....kenapa seluruh tubuhku juga terasa remuk? Ini di mana lagi aku?" Alena mencoba bangun dari pembaringan.


Dia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.


"Yang aku ingat semalam aku mabuk di bar, kok tau-tau aku sudah ada di sini ya?" Dia memijit-mijit pelipisnya sambil memandang sekitar kamar itu.


Ceklek


"Kamu sudah bangun cantik?" Sesosok wajah tampan yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana boxer masuk kekamar dengan membawa sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat.


"Aku Riko, semalam kamu mabuk dan aku membawamu ke rumahku tepatnya ke kamarku."


Dia meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas nakas.


"Kamu makanlah dulu setelah itu kamu mandi...kamu benar-benar luar biasa semalam." Pemuda yang paling tinggi usianya sekitar 23 tahun itu tersenyum pada Alena.


"Semalam?" Alena tampak mengerenyit mencoba mengingat-ingat sesuatu.


Lalu dia melihat di balik selimut tebalnya. Polos...benar-benar polos...tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya di balik selimut tebal itu.


"Apa yang telah terjadi semalam?" Suara Alena tampak bergetar.


"Semalam kamu menantangku dan mengatakan kalau aku hanya bocah ingusan yang tak bisa apa-apa, dan akhirnya aku telah membuktikan keperkasaan bocah ingusan ini padamu."


Dalam benak Alena tiba-tiba melintas satu pikiran licik.


"Ini rumahmu? Lalu bagaimana jika kedua orang tuamu tau kamu membawa seorang wanita masuk kedalam kamarmu?" Tanya Alena lagi.


"Mama dan papaku tinggal di luar negeri...aku di sini hanya bersama pembantu dan tukang kebunku saja."

__ADS_1


"Ehhhhmmmm....aku baru tiba di kota ini!! Aku datang dari Singapura untuk mencari suamiku yang bekerja di kota ini, tapi..."


Alena berhenti lalu menangis tersedu-sedu...


"Ada apa dengan suamimu?" Tanya Riko dan menggeser duduknya lebih dekat pada Alena.


"Ternyata di kota ini suamiku telah menikah dengan wanita lain...kemarin saat aku menuju kealamat rumah yang dia tuliskan padaku sebelum dia pergi, ternyata dia pura-pura tidak mengenaliku karena saat itu dia sedang bersama mertua laki-lakinya."


"Mereka mengusirku disangka aku ini wanita gila!!" Hiks...hiks...hiks...Alena kembali mengeluarkan air mata buayanya.


"Itulah sebabnya semalam aku sampai di bar untuk menghilangkan stresku dan bertemu denganmu."


Pandai sekali Alena bersilat lidah memutar balikan kata-kata mengarang cerita.


"Siapa nama suamimu? Oh iya, siapa namamu?" Tanya Riko sambil membelai rambut pirang Alena.


"Nama suamiku Niko, istri barunya namanya Sania dan namaku Alena."


"Sekarang aku tidak tau mau menuju kemana lagi, aku tidak punya siapa-siapa di kota asing ini."


Riko sejenak termenung mendengar penuturan dari mulut Alena yang sangat meyakinkan.


Terus terang dia jatuh hati pada wanita cantik ini sejak semalam dia melihatnya mabuk berat di bar. Akhirnya dia membawanya pulang dan merasakan kehangatan bersamanya.


Jujur dia masih ingin bersama dengan wanita cantik ini, karena wanita ini mampu memuaskan gejolak hasrat jiwa mudanya di atas ranjang.


"Alena, kalau kamu tidak keberatan...kamu boleh tinggal di sini."


"Banyak kamar kosong di rumah ini yang bisa kamu gunakan...atau jika kamu mau, kita bisa sekamar dan seranjang." Riko mengulum senyum mesumnya.


"Nanti kalau orang tuamu pulang bagaimana? Apa yang harus aku katakan?: Tanya Alena.


"Itu bisa diatur Alena...kan aku bisa bilang kamu keponakan bibi."


"Terus jika pacarmu marah saat melihat kita berdua bagaimana? Aku tidak mau menjadi sebab kehancuran hubungan cinta orang lain." Padahal dialah dulu yang menjadi akar masalah keretakan rumah tangga Miko dan Sania.


Tapi memang dasar wanita ular yang pandai bersandiwara, kata-katanya sungguh-sungguh meyakinkan siapapun termasuk Riko yang terjerat masuk kedalam jebakan cintanya.


"Aku tak punya pacar Alena, karena aku tak suka keterikatan...aku tak suka hidupku selalu diatur-atur layaknya seperti orang yang berpacaran."


*


*


*****Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak cintanya ya guys!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya ya😊😊🙏🙏


Hiks...hiks...hiks


__ADS_2