
Aku merasa kasihan melihat Aisyah, aku jadi teringat ketiga anak-anakku dulu saat bapak mereka pergi meninggalkan mereka bertiga. Di saat mereka butuh kasih sayang dari bapaknya, tetapi keadaan telah memisahkan mereka.
Akhirnya para tamu pulang dan hanya menyisakan kami satu keluarga saja.
"Bagaimana keadaanmu nak? Apa kamu baik-baik saja?"Jonathan mendekatiku yang sedang duduk menemani sikembar bermain. Entah kenapa sampai malam begini mereka belum juga tertidur.
"Alhamdulillah sudah lumayan yah!!" Jawabku.
"Ayo anak-anak ayah...sudah waktunya tidur, hari sudah malam." Niko muncul dari pintu luar sehabis merapikan teras yang tadi dijadikan tempat duduk santai oleh para tamu.
"Ayah..." Miko dan Miki lari menyongsong Niko.
Niko menggendong keduanya masuk ke kamar.
"Aku istirahat duluan ya yah!!" Aku sebisa mungkin menghindari pertanyaan orang di rumah tentang penyakitku ini.
"Iya kamu beristirahatlah biar ayah yang merapikan sisa-sisa di sini...Dina, Juned sama Syifa jadikah ikut menginap di rumah bapaknya Nia?" Tanya Jonathan.
"Iya yah, Aisyah mau ditemani oleh kakak-kakaknya." Jawabku.
Aku masuk kekamar. Aku ingat kejadian beberapa hari lalu saat kepalaku sering sakit dan aku sering mimisan, padahal sejak kecil aku tak pernah mimisan sama sekali.
Dengan perasaan berdebar aku berinisiatif untuk memeriksakan sakitku, maksudku agar cepat segera diobati jika ada penyakitnya. Karena memang semasa kecil aku sering sakit-sakitan.
***Flashback***
Aku baru saja selesai mandi saat aku masuk ke kamar dan memandang tak sengaja kecermin di meja rias, aku melihat hidungku mengeluarkan darah.
Awal-awalnya aku berpikir ada yang luka di dalam lubang hidungku tapi tidak terasa perih sama sekali.
Dengan panik aku mengambil tisu dan berusaha mengelap darah yang terus mengalir dari hidungku.
Akhirnya aku menjepit hidungku berharap darah yang keluar segera berhenti.
Aku memutuskan siang ini untuk periksa kesehatanku ke dokter. Aku pergi seorang diri. Anak-anak sedang berada di sekolah, sikembar ikut dengan Niko dan kakeknya ke kios jadi aku leluasa pergi tanpa ada yang tahu.
Aku menceritakan keluhanku pada dokter yang memeriksaku. Aku dianjurkan untuk mengikuti serangkaian tes dan akhirnya positif aku terkena kanker darah. Dan yang lebih parahnya lagi kankerku sudah ada pada stadium 3 dan aku tak menyadarinya sama sekali.
Dokter menyayangkan mengapa aku tidak cepat memeriksakan penyakitku diawal aku sering mengalami keadaan seperti yang aku alami sekarang.
__ADS_1
Aku terduduk lesu di ruangan apotik sambil menunggu namaku dipanggil. Aku sama sekali tak menyangka semua bakal jadi seperti ini.
Terkadang aku merasa sebagai orang yang paling malang di dunia, seolah kebahagiaan enggan menyapaku.
Aku terkejut saat sebuah tepukan lembut memukul pundakku.Aku menengadahkan kepalaku.
"Laki-laki ini lagi? Inikan orang yang bertabrakan denganku di mall tempo hari?" Batinku.
"Oh...hai!!" Sapaku.
"Siapa yang sakit?" Tanyanya.
"Saya yang sakit, hanya sakit biasa!!" Jawabku.
"Oh iya, kita belum kenalan waktu kita bertabrakan saat itu saya masih penasaran dengan anda!!" Katanya sambil mengulurkan tangan.
"Riko Ananda!!"
Aku mengerenyitkan dahiku mendengar dia menyebutkan namanya. Kutatap dia lebih seksama dan kembali aku melihat liontin yang menggantung di lehernya.
Bukannya menjawab pertanyaannya aku malah yang balik bertanya.
"Kalungmu bagus...mirip sekali dengan kepunyaan saya dulu...saya dulu pernah membelikan seorang bocah laki-laki kalung seperti ini." Kataku.
Pria itu yang ternyata adalah Riko menarik kembali uluran tangannya lalu membuka kalung di lehernya.
Aku meneliti kalung itu lalu membuka liontinnya. Dan di sana ada foto seorang wanita dan seorang bocah lelaki yang tengah tersenyum.
"Lho...inikan aku?" Batinku.
Lalu mataku beralih padanya. Meneliti wajah bocah yang sekarang sudah menjelma menjadi seorang pria dewasa yang tampan.
"Riko...Ikonya tante Nia kah?" Dengan gemetar aku memegang kedua pipinya.
"Iya tante, ini Riko Ikonya tante!!" Riko tersenyum dengan matanya yang sudah merah menahan haru.
Aku memeluknya dengan erat sambil menciumi pucuk kepalanya persis seperti saat dia masih kecil dulu.
"Kamu sudah besar sekarang leh...sudah jadi pria ganteng!!" Mataku berkaca-kaca sambil mengusap kedua pipinya yang dulu sangat gembul.
__ADS_1
Awalnya Riko juga sangat bahagia tapi tiba-tiba tangannya tertahan dan matanya teralihkan oleh sesuatu lagi yang keluar dari hidungku.
"Darah tante...hidung tante berdarah lagi persis seperti waktu kita bertabrakan di mall itu?" Katanya.
Karena tidak membawa tisue akhirnya dia menarik ujung lengan kemejanya dan mengusap perlahan di bawah hidungku. Lalu dia memijit hidungku.
"Bajumu jadi kotor Riko, penuh noda darah!! Sudahlah tante sudah terbiasa kok keluar darah dari hidung seperti ini."
Lalu namaku dipanggil aku segera berdiri walau agak sempoyongan. Aku tak menyadari Riko juga berdiri mengikutiku.
Aku mengambil obat yang diberikan padaku. Tapi aku kaget saat Riko merampasnya dari tanganku. Dilihatnya dengan seksama obatku itu lalu beralih menatapku.
"Tante, aku seorang lawyer tapi aku juga bukan orang bodoh yang tak mengerti soal obat-obatan, obat ini obat pereda nyeri kan? Katakan pada Riko tante Nia sebenarnya sakit apa?" Cecarnya dengan penuh khawatir.
Awalnya aku bungkam, tapi Riko terus mendesakku untuk berterus terang soal penyakitku. Akhirnya aku terpaksa harus mengatakan yang sejujurnya pada Riko.
Kini gantian Riko yang memelukku erat. Tak terasa air matanya menetes membasahi bahuku.
"Cup...cup...Riko sayang lihat tante, tante tak pernah mengajari Riko jadi laki-laki yang cengengkan? Masih ingat dulu apa hukumannya jika Riko sering menangis?" Riko melepaskan pelukannya sambil mengangguk.
"Riko harus makan banyak supaya cepat besar, dan kalau sudah besar nanti Riko boleh jadi pacarnya tante Nia, begitukan?" Riko kembali tak bisa menahan linangan air matanya.
Wanita baik hati yang sangat tulus menyayanginya bahkan ibunya sendiri tak setelaten Sania mengurusnya waktu dia bocah dulu.
Jika Dia mulai nakal maka Sania mengancamnya jika besar nanti tidak mau pacaran dengan Riko karena dia nakal. Padahal jika dipikir, rentang usia keduanya terpaut belasan tahun.
Kini wanita tercintanya itu sudah ada di hadapannya dalam keadaan sakit, hati siapa yang tak akan tersayat pilu melihat keadaannya? Wajah pucat pasi, tubuhnya mengurus tetapi dia masih selalu berusaha tersenyum dan tertawa.
"Riko, tante sudah selesai tante mau pulang dulu ya...kasihan anak tante jika ditinggal terlalu lama, silakan Riko melanjutkan menunggu antriannya yah!!"
Dengan tertatih wanitaku itu berdiri dengan langkah yang masih sempoyongan berjalan meninggalkan aku yang masih termangu mendengar dia sudah punya anak sekarang.
"Siapa laki-laki beruntung yang telah mengambil hati wanitaku itu? Berani-beraninya dia mengambil tante Saniaku dari sisiku?" Begitulah yang ada dalam pikiranku.
*
*
***Bersambung....
__ADS_1
Akhirnya bertemu dengan cinta masa lalu, dan bagaimana dengan Alena jika mengetahui cinta Riko itu adalah Sania yang menjadi rivalnya?
Ayo dong beri dukungannya...like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏🙏