Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 28 Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

"Mau pergi kemana hari minggu gini mas? bukannya mas Sofwan libur ya..."


Aku menggendong Dina yang agak rewel karena badannya panas habis imunisasi.


"Mas mau pergi sebentar ke rumah teman dek, ngga lama kok perginya!"


"Wow...pikirku, kerumah teman bajunya rapi banget plus wangi lagi."


"Rumahnya di mana mas?"


"Mas ke kerjaan dulu, kita semua kumpul di sana, baru berangkat bareng."


"Mas mau ngajak kalian berdua, tapi Dina lagi sakit begini."


"Ngga usah mas, pergi saja sendiri nanti Dina tambah sakit kena panas."


"Oh ya sudah, mas pergi dulu ya...Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, " jawabku.


"Kenapa mas Sofwan tidak jujur saja kalau dia mau pergi dengan mbak Feby keacara orang kantor yang namanya ibu Kiki itu?"


Semalam aku sempat membaca pesan tak sengaja dari Feby yang mau ngajak bareng keacara ultah ibu Feby.


Mas Sofwan sedang mandi, dan aku mau mencari nomor pak Joko yang membantunya masuk kerja tempo hari. Tak sengaja aku melihat pesan itu yang belum sempat dihapusnya.


Cemburu? Tentu saja, aku hanya manusia biasa, tapi aku lebih mengutamakan logikaku dan berusaha berpikir positif.


Sudah hampir 3 bulan suamiku bekerja. terkadang aku merasa minder jika harus jalan dengannya.


Mas Sofwan baru menginjak usia 26 tahun, sedangkan aku sudah 30 tahunan. Dandanannya sudah kembali seperti awal waktu belum menikah dulu.


Yang memang kulit aslinya putih bersih menjadi kecoklatan sewaktu dia kerja serabutan sebelum mendapatkan pekerjaan tetap seperti sekarang, kembali menjadi putih lagi.


Rambut ikalnya, mata sipitnya, dan lesung pipinya jika dia sedang tersenyum. Terkadang aku merasa ada yang salah, apa yang membuatnya mencintaiku dan akhirnya menikahiku?


Sementara tidak sedikit perempuan mengantri untuk bisa bersamanya. Tapi mengapa dia malah memilihku, bahkan melawan ketiga saudara perempuannya demi aku?


Sebenarnya itulah dulu mengapa aku selalu menjauhi dia, aku rasanya seperti tak pantas untuk bersanding dengannya.


"Apa mas Sofwan takut aku marah ya...jika dia bilang mau berangkat bareng mbak Feby kekerjaan?"


"Kenapa mas Sofwan tidak berkata jujur saja kepadaku?"


Aku menatap nanar memandang jauh kedepan, ada satu rasa yang berbeda mengganjal dihatiku.


*


*


"Istri dan anakmu tidak diajak ikut serta Wan?"


"Ngga Feb, anak saya lagi sakit habis imunisasi, jadi istri tidak mau diajak Feb."


"Hidupmu sudah sempurna ya Wan...punya istri yang baik, sudah punya momongan..."


"Alhamdulillah Feb...saya bersyukur bisa menikahinya yang mau mengerti dan mau menerima segala kelebihan dan kekurangan saya."


Aku tersenyum getir, "andai saja yang ada di sampingmu itu aku, dan bukan dia."


Sekarang aku juga malah punya saingan baru, yaitu ibu Kiki. Yang katanya dia dan almarhum suaminya adalah teman satu kampus Sofwan.

__ADS_1


Sekarang saja demi mendapat perhatiannya, aku memilih untuk satu motor saja dengannya.


Rasanya aku jahat masih mencintai laki-laki yang sudah menjadi milik wanita lain, tapi aku juga tidak bisa membohongi kata hati kalau aku masih cinta padanya.


Satu sisi di dekatnya aku merasa nyaman dan bahagia, tapi di sisi lain aku merasa sangat bersalah.


"Sudah sampai Feb, sudah banyak teman-teman kumpul tuh!!!"


"Hei bro...Makin dekat aja sama bu Feby, Anto menepuk pundakku."


"Kalau kulihat-lihat ni ya Wan, kayaknya ibu Feby itu menaruh hati sama kamu." Kata Bahar!


"Menaruh hati kok sama saya...mau saya simpan dimana? hati saya sudah penuh."


"Ya kamu selempitkan aja ke jantung kamu Wan!"


"Kamu tuh jadi laki-laki ngga peka banget sih Wan?"


"Anto...Bahar...yang satu di rumah aja ngga akan habis-habis kok, jadi untuk apa nambah lagi?"


"Untuk serep Wan...hahaha, Anto tertawa ngakak."


"Sompret, loe pikir ibu Feby itu ban..." Bahar menoyor kepala Anto.


"Teman-teman...kita berangkat kerumah ibu Kiki naik mini bus punya kantor aja ya...jadi ngga terpencar-pencar."


"Siap bu Feby..."


Yang pergi hari ini ada sekitar 30 orang, termasuk 4 leader dan 1 supervisor.


"Wan, aku duduk di sebelahmu ya...kata Mutia, cleaning service yang berdinas di ruang rawat inap.


"Oh silakan..." kataku.


"Hadeuh Wan...Wan...baru 3 bulan jadi cleaning service di sini, wajah dan senyummu sudah meluluhkan hati para gadis dan juga para jendes."


"Apa itu jendes sih, To? Kata Bahar."


"Janda...dodol...ngga gaul amat sih


loe...makanya jangan mengeram terus di lantai 3 sana."


"Kan kita tugasnya di poli-poli dan perkantoran, ngapain kita ngeluyur ke tempat rawat inap."


"Cewek cleaning yang dinas dirawat inap cantik-cantik dan seksi tau..."


"Ngga kayak di gedung sini, mati hidup yang kulihat Bahar dan Darmawan...aja."


"Untungnya setelah Darmawan resign, ada Sofwan yang menggantikan, jadi ngga sepat mata gue..."


"Kurang ajar kamu To...tapi iya juga sih, semenjak kita dekat dengan Sofwan, kita jadi ketiban tenar juga."


Mata Feby sebentar-sebentar melirik kearah Sofwan dan Mutia yang duduk sambil ngobrol.


"Cemburu? Mengapa aku mesti cemburu? Aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa."


"Tapi setiap Sofwan kulihat dekat dengan wanita lain rasanya aku tak ikhlas."


"Akankah aku mengulangi rasa yang sama seperti bertahun-tahun lalu? Seperti pungguk merindukan bulan.


*

__ADS_1


*


Dia idola di SMK. Walaupun masih duduk di kelas 10, tapi ketenarannya mengalahkan para anggota OSIS yang rata-rata berwajah ganteng dan berotak encer.


Kulit putih dengan rambut ikal dan wajah orientalnya mampu membuat cewek manapun yang dia lewati melirik padanya.


Termasuk aku, dari rasa kagum lama-lama menjadi rasa suka. Tapi dia tak sedikitpun melirik padaku. Kami memang tak pernah sekelas dari awal masuk sampai kelas akhir, tapi kelas kami selalu bersebelahan.


Dia hanya mau tersenyum, tertawa dan bercanda dengan teman laki-lakinya. Sementara dengan teman perempuan, wajahnya datar dan dingin seperti bongkahan es di kutub selatan.


"Makanya banyak para cewek memberi julukan padanya "Si gunung es berjalan,"


"Bu...bu Feby...kita sudah sampai kerumah bu kiki."


"Astaghfirullah..." aku melamun kembali kemasa lalu tadi.


"Ayo...ayo turun bergantian kita sudah sampai...leader Budi memberi aba-aba."


"Wau...rumahnya bu Kiki besar banget ya Wan...Bisik Bahar."


"Namanya wong sugih ya besar rumahnya kayak istana, Anto menimpali."


Didepan gerbang sudah ramai para tamu undangan. Para kerabat dan teman-teman bu Kiki juga teman almarhum suaminya.Pesta diadakan ditaman belakang .


"Selamat datang teman-teman, sudah meluangkan waktu untuk mampir keacara ulang tahun saya."


"Silakan mencicipi makanan ala kadarnya ya..."


"Bu kiki bercanda nih... pesta meriah yang begini di bilang ala kadarnya."


"Ngga usah cerewet To...minum yuk...aku haus nih!"


Aku menarik tangan Anto dan Bahar untuk mengambil minum dan makanan kecil.


"Sofwan, masih ingat mereka kan? Ibu Kiki menghampiriku dengan membawa 2 orang wanita cantik."


Aku yang lagi memakan puding menoleh, begitu pula dengan 2 temanku.


"Wih...tambah ganteng aja kamu, Wan!"


"Tania...Vivi...apa kabarnya..." aku menyalami kedua temanku sewaktu di kampus dulu.


"Kami baik, alhamdulillah...gimana dengan kamu sendiri, Wan?"


"Saya baik-baik saja...gimana kabar om dan tante, Vi?"


"Mereka baik...mereka sering menanyakanmu, Wan!"


"Hadeuh...yang lagi reunian sama mantan...Tania menimpali."


"Balikan aja lagi kalian berdua..."


"Hush...ngawur kamu Tan...Sofwan itu lho sudah menikah," kata Ibu Kiki.


"Tega kamu Wan...Vivi lho rela ngejomblo sampai sekarang gara-gara nungguin kamu."


"Tan... jodoh, rejeki, hidup dan mati itukan Allah yang menentukan, ya jika saya menikahnya dengan orang lain itu artinya kami tak berjodoh."


Vivi tersenyum sedih. "Kamu memang benar Wan...jodoh kita tak bisa dipaksakan sesuai keinginan kita."


Sementara aku bercakap-cakap, kedua temanku hanya bengong melihat keakraban kami. Sementara dari jauh ada sepasang mata yang menatap kearah kami dengan tatapan sedih.

__ADS_1


***Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan votenya jika berkenan...Terima kasih🙏🙏***


__ADS_2