
"Waduh repot juga ya!!" kata Dina.
"Begini saja, kakek ikut Dina saja kerumah siapa tau ada pihak keluarga yang merasa kehilangan kakek!!" jawabku.
"Terima kasih ya nak..."
Lalu Dina membonceng si kakek yang belum diketahui identitasnya itu pulang kerumah.
Di rumah mereka disambut oleh Sania dan Della juga Riko di teras depan.
"Siapa itu Dina?" tanya Sania melihat kedatangan putrinya dengan seseorang.
"Dina tadi menolong kakek ini di jalan bun, kakek habis dirampok dan alamat yang dibawa dari kampung juga uang beliau dirampok sama tukang ojek...Dina jadi kasihan melihatnya dan Dina ajak kerumah kita aja. bun!!"
"Maafkan kakek ya nak jika kakek merepotkan lebih baik kakek pergi saja!!" ujar kakek yang diketahui namanya adalah kakek ubud.
"Nama asli kakek adalah Saribud tetapi orang di kampung kakek memanggilnya dengan kakek ubud."
"Sebenarnya kakek kekota mau mencari siapa?" tanya Sania.
Sehabis peristiwa pernikahan Niko itu, berkat dorongan moril dari Sultan dan Riko akhirnya Sania berangsur membaik dan sedikit demi sedikit bisa melupakan Niko.
Dia juga sudah ikhlas dan menerima kalau kedua orang tua kandungnya sudah meninggal dan dia hanya anak angkat ibu Kamsiah.
Dia juga sudah bisa menerima kalau kak Della itu hanya kakak angkatnya saja. Dia juga berserah diri pada yang Kuasa tentang penyakit yang dideritanya.
Sultan tampaknya juga sudah mengikhlaskan Riko dengan Sania.
"Kakek mau cari alamat anak kakek di sini!!" jawab kakek ubud.
"Ya sudah kakek tinggal sama kita aja di sini, kita ngga keberatan kok, ya kan bun??" kata Dina.
Sania hanya mengangguk mengiyakan..
*
*
Hari ini kepulangannya ke Balikpapan. Sofwan mondar mandir di dalam kamarnya. Rasa rindunya begitu menghimpit dadanya. Ingin sekali dia bertemu dengan mantan istri dan anak-anak yang selalu dirindukan olehnya setelah itu baru dia akan menjemput Aisyah di Yogyakarta.
Tiba-tiba...
Tok..tok...
Pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar.
Sofwan membuka pintu dan dia terkejut...
"Vivi...mau apa kamu kemari?" tanyanya saat melihat Vivi tersenyum cantik berdiri di depan kamarnya.
__ADS_1
"Kok nanyanya gitu sih sayang...akukan calon istrimu...aku sudah menelpon ayah bahwa kamu akan datang kerumah dan melamarku, aku juga sudah cerita pada ayah bahwa kita sudaj tidur bersama dan melakukannya berkali-kali."
"Gila kamu Vi, sampai hal memalukan itu kamu ceritakan juga pada ayahmu??" kata Sofwan geram.
Jangan lupa siang nanti...lalu dia berdiri dan mendekat pada Sofwan
"Sofwan, bisakah sebelum pulang kita mengulangi kembali seperti semalam? Dari tadi pagi aku gerah sendiri membayangkan malam panas kita!!" rayu Vivi sambil memeluk Sofwan.
"Maaf vi, aku tidak ingin mengulanginya kembali...semalam itu adalah sebuah kesalahan!!" jawab Sofwan.
"Apa maksudmu Sofwan?" Vivi langsung melepaskan pelukannya.
"Seandainya kamu tidak menggodaku semalam, tentu penyatuan itu tak akan terjadi." kata Sofwan.
"Lalu bagaimana jika aku hamil?" tanya Vivi gusar.
"Aku akan tetap bertanggung jawab, Vi!! aku akan tetap menikahimu tapi aku tidak ingin mengulang kembali, cukup malam itu saja!!"
"Maaf Vi, tolong jangan paksa aku...pikiranku sedang kalut sekarang...kembalilah ke kamarmu bereskan barang-barangmu kita akan check out jam satu siang nanti."
"Keterlaluan kamu Sofwan, tega kamu sama aku!!" Vivi dengan cepat berlari keluar meninggalkan Sofwan sambil menangis.
"Maafkan aku Vi, aku sama sekali tak bisa menggantikan dia dengan sosok yang lain...walaupun aku terlalu sering menyakiti hatinya tetapi bagiku dia tetap wanita nomor satu, dia ratu di hatiku."
Sofwan terduduk di tepi pembaringan. Dia tak tau lagi apa yang akan dia lakukan kedepannya, yang jelas harapannya untuk menikahi Sania kembali dan berkumpul bersama anak-anaknya musnah sudah.
Dengan lemas dan tak bersemangat, dia memasukan baju-bajunya kedalam koper pakaian dan dua tas lagi berisi oleh-oleh untuk anak-anak dan Sania tentunya.
Ddrrttt...ddrrrttt
📱"Assalamualaikum..."
Sultan yang baru saja menyelesaikan ibadah sholat maghribnya langsung menerima telepon dan menjawabnya.
📱"Waalaikum Salam..." Sofwan bisakah kita bertemu dan bicara?"
📱"Bertemu gimana, Sofwan? bukankah kamu masih di Jakarta sekarang ini?"
📱"Aku sudah tiba di rumah sekitaran pukul empat sore tadi, ada hal yang ingin kubicarakan padamu tapi tak bisa melalui telepon!!"
📱"Tumben kamu datang tidak langsung menemui Sania dan anak -anak, dan tumben juga bicara di telepon ada hal yang penting...biasanya langsung ngomomg aja.
📱"Sudahlah temui aku, aku menunggu di mana ya enaknya?"
📱"Sudah di kafeku aja, ada private room agar orang lain tak mendengar pembicaraan kita.
📱"Okelah kalau begitu, selepas sholat Isya kita bertemu ya!!
📱"Okelah kalau begitu, terima kasih Sultan sudah mau mendengarkan ceritaku...Assalamualaikum!!"
__ADS_1
📱"Waalaikum Salam!!"
"Apa kira-kira yang akan di bicarakan Sofwan ya?? tumben-tumbennya tuh orang!!" gumam Sultan.
Dia keluar dari kamarnya untuk makan malam dulu. Kedua kakaknya sudah menunggu di meja makan.
"Kenapa kamu leh??? wajahmu tampak gelisah begitu??" tanya suami Tini pada adiknya.
"Ngga apa-apa mas, aku paling hanya sedikit lelah saja!!" jawab Sultan.
"Ingat Sultan, penyakit jantungmu...jangan sampai kamu terlalu lelah dan banyak beban pikiranmu!!" jawab Tini menimpali suaminya.
"Mas...kak...sehabis makan Sultan ijin ke kafe sebentar ya!! ada yang harus Sultan cek di sana!!" ksta Sultan.
"Tumben!!! semenjak Sania dan Dina sudah tidak bekerja lagi di kafe, kamu sudah tak pernah keluar malam lagi ke kafe ini kok keluar mau ngecek apa?? biasanya pembukuan sudah kamu serahkan pada Wina semuanya." Suami Tini memandang menyelidik pada adiknya itu.
"Ngga apa-apa toh yah...namanya juga jomblo, kan ngga ada yang melarang dia!!" kata Tini membela adik iparnya.
"Asalkan masih dalam batas-batas yang wajar ya, leh!! jangan berbuat yang aneh-aneh apalagi sampai menghamili anak orang, kamu sebagai guru yang menjadi panutan, akan mencoreng wajahmu sendiri." Kata kakaknya.
"Astaghfirullah mas...jangan sampai lah mas!! Sultan bukan tipe laki-laki seperti itu!! bagi Sultan kalau satu ya satu ngga akan ada yang lain lagi!!" jawab Sultan.
"Bagus itu, jangan kayak mas mu...ngaku di depan satu di belakangnya ada dua!!" seloroh Tini sambil tersenyum memandang suaminya.
"Astaghfirullah bu, ngga gitu juga kali...amir-amit bu, satu aja ngga habis-habis kok, malah mau nambah lagi!!" ucap suaminya.
"Di keluarga kami, kesetiaan itu sangat di junjung tinggi kak, "jawab Sultan."
"Tapi setia bukan berarti setiap tikungan ada ya!!" jawab sang istri lagi menggoda suaminya.
"Ngga lah bu, hanya ibu wanita yang ayah cintai dari hidup sampai mati bahkan sampai hidup lagi!!"
""Wuidih, rayuannya bukan main...pasti ada maunya nih!!" kata istrinya.
"Anu bu, nanti malam jatah ya...sudah seminggu lebih ayah ngga dapat jatah!!" suami Tini mesem-mesem memandang istrinya.
"Kan sudah ibu duga, kalau melancarkan rayuan maut begini pasti ujung-ujungnya minta jatah!!" Tini langsung cemberut memandang suaminya.
"Di situlah letak keharmonisan rumah tangga kak, dari pada mas jajan di luar hayo!!" Sultan ganti menggoda kakak iparnya.
*
*
***Bersambung...
Apa yang hendak disampaikan Sofwan pada Sultan? apa ada sangkut pautnya dengan rencana pernikahannya dengan Vivi?
Ikutu terus kisah selanjutnya ya guys....
__ADS_1