
Aku mengambilkan segelas air putih untuknya. "Semangat ya sayang, jangan pernah menyerah...bunda selalu ada di samping ayah."
Miko mengangguk dan tersenyum bahagia. Kini dia tak takut apapun lagi, karena Sania akan selalu ada di sampingnya.
"Tapi yah, seandainya Alena tau kita menikah kembali, bagaimana dengan reaksinya?"
"Ayah akan segera menceraikan Alena bunda, ayah sudah mempersiapkan rumah dan sejumlah uang untuknya sebagai modal usahanya kelak."
"Dia pasti sangat keberatan yah, secara Alena begitu mencintai ayah!!"
"Apalagi yang dia harapkan dari laki-laki berpenyakitan dan sekarat seperti ayah ini, bun?"
"Ayah tau selama ini dia selalu mencari laki-laki di luar sana untuk memuaskan dirinya."
"Tapi kenapa ayah diam saja? Ayah tidak cemburu? Dia kan istri ayah juga?"
"Ayah memang sengaja menyembunyikan dulu kebenarannya bun, hingga waktu yang tepat, ayah akan jadikan alasan untuk menceraikannya."
"Cemburu??? Sama sekali tidak bunda, ayah malah cemburu saat Sofwan mengatakan tentang perselingkuhan itu."
"Ingin rasanya ayah membunuh Sofwan detik itu juga jika tidak mengingat bahwa dia adalah bapak dari Dina, Juned dan Syifa."
"Dan ayah marah setiap kali Sultan memandang bunda dengan tatapan mesranya."
"Sekarang hanya ada kita bertujuh bunda...ayah, bunda. sikembar dan anak-anak."
Miko memelukku lagi dengan erat dan mengecup pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.
"Ayah...kok bunda telus sih yang di cium...Syifakan juga mau di cium sama ayah!!" Syifa merengek melihat kami.
"Sini sayang, sama ayah..." Miko memeluk Syifa dan mencium serta mengelus rambutnya.
"Ayah mau makan apa? Nanti bunda buatkan ya!!" Tawarku.
*
*
"Hai cantik...kok mabuk sendirian? Lebih baik ikut abang pulang ya!!"
"Bang Miko datang menjemputku?" Alena yang setengah mabuk mengira laki-laki yang menghampirinya adalah Miko.
Lalu dia mau saja diajak laki-laki asing itu pergi dengan mobilnya melaju menuju ke sebuah hotel.
"Alena cinta sama abang, please jangan tinggalin Alena ya, bang!!"
"Tentu tidak sayang, abang akan di sini untukmu."
Mahluk yang berlainan jenis itu berpacu di dalam gelapnya malam. Sampai menjelang subuh baru hasrat mereka terselesaikan.
Alena tertidur memeluk pria yang dipikirnya Miko itu. Pria yang hampir semalaman suntuk telah menikmati tubuhnya walau dia dalam keadaan mabuk.
Alena bangun saat matahari sudah tinggi, dia menyibakkan selimut yang dipakainya. Tulang-tulang di tubuhnya terasa remuk semua karena pertempuran panas semalam.
__ADS_1
"Di mana aku? Yang aku ingat bang Miko membawaku pergi dan kami bercinta semalaman suntuk."
Alena menoleh ke samping, betapa terkejutnya dia melihat lelaki yang tidur di sampingnya.
"Bukan bang Miko? Lalu siapa dia?"
Sosok itu menggeliat dan membuka matanya. "Kau sudah bangun, kau hebat sekali semalam, kau bisa memuaskan hasrat kelelakianku.
"Siapa kau?" Bukannya menjawab. Alena malah bertanya sambil menatap laki-laki itu tajam.
"Namaku Faisal." Lelaki tampan itu membuka selimutnya.
Mereka berdua saling menatap tubuh satu dengan yang lain yang tak tertutup oleh sehelai benangpun itu.
Faisal meraih tubuh Alena dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman panasnya, karena terpancing maka Alena membalasnya. Dan sekali lagi mereka bergelut dalam gelimangan dosa.
Drrtt..drrtt..
"Halo bos, saya melihat Istri muda anda keluar dari hotel xx dengan seorang lelaki muda..."
"Kamu ambil saja gambar-gambar mereka supaya bisa kujadikan senjata jika akan menceraikan dia nanti.
"Siap bos...."
"Aku tidak membencimu Alena, tapi pernikahan siri kita memang harus segera berakhir."
"Perselingkuhanmu akan aku jadikan alasan untuk menceraikanmu."
"Mungkin semua memang salahku, seharusnya dulu aku tak menikahinya, cukup menjaganya seperti adikku sendiri."
"Ada urusan yang harus ayah selesaikan bun, anak-anak sudah siap untuk pergi sekolahkah?"
"Sudah yah, sudah ditunggu di depan tuh!!"
"Hati-hati di jalan ya, yah!! Selesaikanlah semua masalah dengan kepala dingin, jangan sampai terpancing emosi...ingat penyakit ayah."
"Iya bundaku sayang, mana Miko dan Miki? Uhhh anak ganteng ayah...cium sini dulu, ayah berangkat dulu ya...jangan nakal dan ngerepotin bunda, kakak dan abang pada sekolah semua, oke ganteng!!"
Seolah mengerti akan ucapan ayah mereka, Miko dan Miko tertawa-tawa senang saat dipeluk dan dicium oleh Miko.
"Theo...tolong ikut saya ke rumah, kita harus bertemu dengan Alena, bawa semua bukti foto yang kamu kumpulkan beberapa hari ini."
"Siap pak bos."
*
*
"Bapak...kok pulang ngga kasih kabar?" Bibi tampak gelisah sambil sesekali matanya melirik ke dalam.
"Kan ini rumah saya bi, mau kasih kabar gimana?"
"Bi, dekat pintu gerbang ada mobil terparkir...mobil tetanggakah? Kok parkirnya dekat dengan gerbang pagar saya sih?"
__ADS_1
Bibi semakin gelisah. "Pak..."
"Iya bi? Ada apa?"
"Alena mana bi? Kok ngga keliatan?"
Belum sempat bibi menjawabnya, Miko langsung menuju ke kamar Alena.
"Ya Allah...apa yang akan bapak lakukan jika tau di dalam kamar non Alena ada laki-laki lain?"
Ceklek...
"Astaghfirullah....Alena, apa yang kalian lakukan?"
Alena yang tak menyangka Miko akan pulang siang ini menjadi takut dan gugup.
Dia dan Faisal setelah menghabiskan waktu semalam suntuk di hotel, kembali melanjutkan kegiatan mesum mereka di rumah.
Sebenarnya bibi tau tapi Alena mengancamnya untuk tak memberi tahukan Miko.
Makanya bibi sedari tadi gelisah, Miko bukannya tak tau kegelisahan pembantunya itu, tapi dia ingin membuktikan sendiri ucapan asistennya tentang foto-foto dan kegiatan istrinya itu selama dia tak ada.
Ke dua insan berlainan jenis itu tampak baru menyelesikan pergumulannya saat Miko tiba-tiba membuka pintu kamar.
"Abang...kapan pulang?"
Miko berdiri mematung di depan pintu kamar. Akhirnya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kelakuan istri mudanya ini.
"Siapa dia Alena?" Nada bicara Miko datar saja, tapi bagi Alena bagai suara petir menyambar gendang telinganya.
Alena langsung bersimpuh di kaki suaminya itu. "Maafkan Alena bang, Alena khilaf ini semua karena abang yang tak pernah memberi perhatian pada Alena."
Miko menghela napasnya, dia tidak kecewa melihat Alena tidur dengan laki-laki lain di depan matanya...yang dia kecewakan adalah gagal membimbing Alena sesuai dengan amanat almarhum pamannya dulu.
"Berdirilah Alena, Miko mengangkat Alena."
"Kalian berdua pakailah pakaian kalian, saya tunggu di ruang tamu."
"Pak???" Bibi menahan Miko di ruang tengah.
"Ngga apa-apa bi, bibi ngga salah!!" Miko tersenyum pada bibi.
Tak lama Faisal dan Alena berada di ruang tamu yang sudah di tunggu oleh Miko dan asisten Theo.
Wajah ke duanya tampak pucat pasi. "Duduklah kalian, ada yang mau saya bicarakan dengan kalian."
"Siapa namamu?" Miko menatap Faisal.
"Saya Amril Faisal...panggil saja saya Faisal."
"Faisal, kamu sudah tau kalau wanita yang kamu setubuhi ini istri siri saya?"
Faisal mengangguk lalu menundukan kepalanya. Entah kenapa justru tatapan Miko yang tanpa kemarahan dan suaranya yang tenang, malah membuatnya menjadi takut dan ketar-ketir.
__ADS_1
***Bersambung...
Maaf baru bisa update lagi guys...karena fokus ke cerita satunya. Alhamdulillah sekarang bisa update. Mohon dukungannya ya...like, komen, favorite, vote dan rate nya...terima kasih masih selalu membaca karya saya🙏🙏