
"Niko merasa sangat bersalah yah, seandainya Niko belum menikah dengan Maya, tentu Niko akan langsung lari kerumah sakit menyusul Sania."
"Iya Niko, ayah tau kamu sangat mencintai Sania dan anak-anak...tapi mau bagaimanapun kamu mengingkarinya kalian tidak berjodoh maka itulah sebabnya ada saja rintangannya untuk kalian bisa bersama.
Ceklek...
Tiba-tiba Juma keluar dari kamarnya sambil membawa ponselnya dan memberikannya kepada ayahnya.
"Ada apa Juma?" kata Niko pada putranya itu.
"Ibu telepon, katanya ibu menghubungi nomor ayah hanya saja nomor ayah selalu di luar jangkauan!!! jadi ibu menelpon Juma.
📱"Assalamualaikum, ada apa Maya?"
Niko langsung to the point untuk menanyakan maksud dan tujuan istrinya itu menghubunginya.
📱"Mas, suaramu itu ngga ada lembut-lembutnya!!! ngga ada mesra-mesranya.
📱"Katakan ada apa kamu menghubungiku, Maya?"
📱"Aku mau tinggal di rumah mas dan ayah bersama Juma dan anak-anak!!"
Maya mulai melancarkan rengekannya.
📱"Maaf Maya, bukan aku tidak mau tetapi rumah ini bukan rumah aku dan ayah, ini rumah mendiang saudara kembarku dan istrinya...ngga enak terlalu banyak orang yang ditampung di sini."
📱"Memangnya penginapan yang kamu kelola kenapa? apa ada masalah?"
📱"Ngga ada sih, aku cuma pengen tinggal bersama dengan suamiku aja, masa kita suami istri tinggal berjauhan?"
📱"Maaf Maya, tampaknya aku harus mengingatkanmu kembali...kita memang suami istri tapi hanya bukti hitam di atas putih, selebihnya kita tak punya hubungan apa-apa!!! yang terpenting aku selalu memberikanmu nafkahkan?"
📱"Aku tidak butuh itu, aku hanya butuh mas selalu ada di dekatku!!"
📱"Tidak bisa Maya, aku sungguh tidak bisa!!"
📱"Apa karena mantan iparmu itu mas? apa dia selalu menggodamu sehingga mas selalu menolakku?"
📱"Jaga bicaramu, Maya...bahkan Sania dan anak-anaknya pindah dari rumah yang semestinya dia tempati ini...dia tidak mau menggangguku."
📱"Nah itu mereka tau diri, dia tahu kita suami istri dan dia memilih mengalah."
Tut...tut...tut
Niko yang sudah emosi mendengar perkataan Maya memilih mematikan sambungan ponselnya ketimbang dia harus marah-marah di telepon.
📱"Halo...halo...iihhh kok malah di putus sih!!"
Maya terlihat sangat gusar. Dia melemparkan ponselnya ke atas pembaringan.
"Sabar sayang...menghadapi orang seperti Niko harus sabar!! ponselmu jangan di lempar begini dong!! inikan ponsel mahal, sayang kalau rusak!!"
"Habis aku kesel banget Darma, bagaimana aku bisa menjual penginapan ini sedangkan akta tanahnya aja atas nama Juma dan dibawa oleh Niko kerumahnya?"
Di atas pembaringan, tidur telentang seorang laki-laki muda tanpa sehelai benangpun menutupi seluruh tubuhnya.
Laki-laki yang dipanggil Darma oleh Maya adalah selingkuhannya.
__ADS_1
Sebenarnya kenapa dulu Samsuri meninggalkannya? karena Samsuri menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Maya istrinya sedang bergumul tumpang tindih dengan Darma.
Samsuri adalah laki-laki yang berpikiran jernih. Dia memang tak pernah mencintai Maya tetapi dia selalu menafkafi istrinya itu, Samsuri memang tak pernah menyukai Juma, karena sifat Juma yang dingin, diam dan tertutup. Tetapi dia tetap menyekolahkan dan berusaha memberikan kehidupan yang layak tanpa membeda-bedakan anaknya sendiri dengan anak tirinya.
Tetapi sejak malam itu dia melihat Maya sedang bercinta dengan seorang laki-laki di dalam kamar, di atas ranjang yang biasa mereka gunakan untuk menyatukan diri, ranjang itu juga di gunakan Maya untuk menyatukan diri dengan laki-laki lain membuat Ssmsuri sangat murka dan kecewa.
Flash back...
"Bu, bapak mau bawa barang keluar kota sore ini, mungkin dua hari bapak tidak pulang...ngga apa-apakan bapak ibu tinggal? lagi pula ada Juma yang bisa menjaga Diva dan Cleo jika ada orang yang akan menginap di penginapan kita?"
"Juma, bapak minta tolong jaga adik-adikmu dulu jika ibumu sedang sibuk ya!!" Samsuri mencoba mengelus kepala Juma tetapi dengan cepat ditepis oleh Juma.
Juma yang waktu itu sudah duduk di kelas 6 sekolah dasar menatap datar dan dingin pada laki-laki ayah dari kedua adiknya itu.
Juma sudah tau jika Samsuri bukan ayah kandungnya, karena setiap kali mereka bertengkar hal itu saja yang diungkit-ungkit oleh Samsuri dan juga Maya.
Terkadang timbul niatnya untuk kabur mencari ayah kandungnya yang tak pernah dia liat sama sekali bagaimana rupanya.
Dia pernah melihat sebuah foto di album lawas ibunya semasa sekolah di SMA dulu, ada seorang remaja laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengannya dan diyakininya bahwa itu adalah ayahnya.
Hhmmmm...
Samsuri tampak menghembuskan napas kesal pada kelakuan anak tirinya itu tapi dia berusaha tetap sabar.
"Jadi bapak dua hari akan pergi?" Maya meyakinkan lagi ucapan suaminya.
"Iya, dan ini uang jalan yang bapak dapat...gunakan sebaik mungkin untuk keperluanmu dan anak-anak!!" katanya.
Siang itu Samsuri sudah berkemas dengan mengendarai motor bututnya yang nanti akan ditinggal di kantor selama dia mengantarkan barang dengan mobil boks kantor.
Sementara motor matic yang bagus dia tinggalkan untuk tranportasi istrinya di rumah.
Ibunya tengah berbincang mesra di telepon dengan seseorang yang Juma yakini bukan Samsuri ayah tirinya.
Karena ibunya tak pernah dia lihat bicara semesra itu dengan Samsuri.
Dia berdiri di samping dinding dan mendengarkan percakapan ibunya dengan orang misterius itu.
Sebenarnya dia merasa tidak sopan untuk menguping pembicaraanorang tuanya tetapirasa penasarannya mengalahkan segalanya.
"Iya sayang...suamiku berangkat tadi sore mengantarkan barang keluar kota, katanya dua hari di sana...bisa kan malam ini kita bertemu? aku kangen permainan ranjangmu...sudah sebulan kita tidak melakukannya!!"
"Oke...aku tunggu ya!! rasanya aku sudah tak sabar lagi...apalagi sekarang musim hujan begini dan Samsuri laki-laki yang sama sekali tak bisa memuaskan hasratku."
Sambungan telepon terputus dan Juma kecil cepat-cepat pergi menjauh sebelum ketahuan menguping oleh ibunya.
Dia sengaja mendekam di kamar sambil menidurkan kedua adiknya agar tidak mengganggu rencananya untuk mengintai siapa orang yang telah ditelepon oleh ibunya tadi.
Pukul sebelas malam saat para penginap di penginapan telah sepi, Jumapun hampir tertidur menunggu kelamaan...tiba-tiba dia mendengar bel pintu depan penginapan berbunyi.
Biasanya jam segini tidak ada lagi yang check in kepenginapan ibunya. Lalu Juma yang penasaran berjingkat keluar kamar agar kedua adiknya tak bangun dari tidur mereka.
Dia mengintip dari ruang tengah, ibunya tengah membukakan pintu untuk seseorang.
Ternyata orang itu adalah laki-laki yang tadi ditelepon oleh ibunya.
Masih muda, ganteng dengan tubuh yang atletis. Lebih muda dan lebih ganteng dibandingkan ayah tirinya. Pantas ibunya begitu tergila-gila pada orang itu.
__ADS_1
Maya membawa Darma kekamarnya yang terletak di lantai dua. Mereka sama sekali tak menyadari bahwa sepasang mata tengah mengawasi kelakuan bejat mereka.
Karena pintunya di kunci dari dalam, Juma tak dapat mengintip tapi dia tak kehilangan akal dia melompat kebalkon dan mengintip dari balik jendela kaca.
Dia melihat bagaimana ibunya dan laki-laki asing itu melakukan adegan orang dewasa. Hati Juma sakit melihat kelakuan ibunya itu. Dia tak melihat adegan itu sampai selesai, dia buru-buru kembali kekamarnya sambil mengepalkan kedua tinjunya.
Dia memang tak pernah menyukai Samsuri, tapi sebagai sesama laki-laki Juma kecil juga merasakan bagaimana rasanya jika dia ada di posisi ayah tirinya itu, tentu jika sampai ketauan pasti sakit sekali rasanya.
Menjelang subuh barter cairan itupun sudah sampai pada puncaknya. Setelah selesai dengan terhuyung-huyung Darma memakai pakaiannya dan meninggalkan kamar itu setelah terlebih dahulu mengambil amplop berisi uang yang telah disiapkan Maya untuknya.
Di hari kedua...mungkin hari itu adalah hari tersial buat Maya dan Darma. Samsuri yang diperkirakan pulang besok siang tak diduga pulang malam itu. Sebenarnya dia sering mendengar beberapa temannya mengatakan bahwa istrinya itu sering jalan dengan seorang pria, tapi dia sama sekali tidak percaya jika belum melihat buktinya dengan mata kepalanya sendiri.
Dia pulang tak memberi kabar dan tak naik motor bututnya kepenginapan karena motornya sedang mogok.
Jam 24.00. Penginapan sudah sangat sunyi. Samsuri tidak lewat pintu depan tapi dia lewat pintu dapur yang selalu dia pegang kunci serepnya.
Kamar-kamar di bagian bawah sudah padam semua lampunya hanya tinggal lampu di kamar tidurnya masih menyala temaram.
Dia naik kelantai atas dan hatinya tiba-tiba berdebar dari celah pintu kamar yang tak dikunci mungkin lupa dikunci karena Maya tak menyangka akan kedatanganya. Dia melihat dari celah pintu, istrinya sedang ditunggangi dari belakang oleh seorang pria.
Belum puas dengan posisi itu kedua pasangan mesum tersebut berganti posisi.
Kini mereka berdua sudah tumpang tindih dan melanjutkan aksinya hingga mencapai puncaknya dan terbadai kelelahan.
Hati Samsuri sangat sakit. Dulu dia memutuskan pertunangannya dengan pacarnya demi memenuhi tanggung jawabnya karena telah memasukan obat perangsang kedalam minuman Niko dan Maya.
Lalu setelah Niko pergi dan Maya hamil, maka dialah yang memasang badan berkorban untuk menebus kesalahannya, tetapi semua perjuangannya tampaknya sia-sia...hingga lahir kedua anaknya sifat Maya tak berubah.
Dia memilih turun dan duduk di ruang makan dan mengambil minuman dingin untuk menenangkan dan mendinginkan panas hatinya.
Dua jam telah berlalu, rupanya permainan panas keduanya belum usai...membuat Samsuri tertidur menelungkupkan kepalanya di meja makan.
Saat Maya turun kedapur untuk mengambil minum wajahnya langsung pucat pasi melihat suaminya tertidur di sana.
Dia berpura-pura tak terjadi apa-apa dengan langkah pelan dan cepat kembali kekamar dan menyuruh Darma pergi. Lalu dia kembali kedapur seolah-olah dia baru bangun dari tidurnya.
"Mas...mas Sam...bangun...kok tidur di sini? kapan datang? kok ngga kasih kabar?" tanyanya.
Samsuri terbangun dan mengucek matanya.
"Oh sudah selesaikah ritual mengobok-obok lubangnya? lama juga ya? berapa jam dia menggali lubangmu dan menumpahkan muntahannya?" tanya Samsuri berusaha tenang walau hatinya teramat sakit.
"Mas ngomong apa sih? mas ngelindur ya?" kata Maya padahal dalam hatinya sudsh berkebat-kebit tak tenang.
"Sudahlah besok saja kita bicara, aku capek aku mau tidur di sofa lantai bawah aja!!" kata Samsuri.
"Kok sofa lantai satu? mas ngga tidur di kamarkah?" tanya Maya.
"Ngga usah, di lantai dua hawanya terasa panas, aku tidak tahan!!" kata Samsuri lagi.
*
*
***bersambung...
Niko, kamu melepas berlian yang kamu dapatkan besi karatan, kamu lepaskan sepatu dari kaca yang kamu dapatkan sepatu dari batu bata.
__ADS_1
Perumpamaan guys😁😁🙏🙏🙏
jangan lupa untuk selalu mengikuti kelanjutannya kisahnya ya😊😊😊