Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 135 Akhirnya Sadar


__ADS_3

"Kalian berdua kakak beradik pada mau pergi ke mana?" Tiba-tiba Tini muncul dari ruangan tengah!!


"Kita mau jalan-jalan sebentar bu, Sultan minta temani ada yang mau dia cari di toko."


"Ohhh oke deh...asal jangan pulang larut malam ya!!"


"Siap kak, cuma sebentar aja kok." Jawab Sultan.


Mereka naik motor berboncengan menuju taman kota.


"Kita ini seperti orang mau pacaran saja, Sultan...inikan tempatnya orang pacaran."


"Kita duduk di situ aja mas." Ajak Sultan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Sultan?" Penting sekalikah sampai kita harus bicara di luar begini."


"Mas...Sultan diberikan amanat oleh Miko!! Tapi Sultan ngga tau bisa atau tidak melaksanakan permintaannya tersebut."


"Amanat apa?" Tanya kakaknya.


"Miko meminta Sultan, jika kelak operasi pengangkatan sel-sel tumor di otaknya tidak berjalan dengan lancar dan Miko harus pergi, Miko menitipkan mba Nia dan anak-anaknya pada Sultan."


"Maksudnya menitipkan gimana?" Kakaknya menggeser sediki tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan Sultan.


"Sultan dititipi amanat untuk menikahi Sania, mas!!"


"Memang sebegitu parahkah sakitnya Miko itu, Sultan?"


"Miko itu mengidap kanker otak stadium 4, mas!! Kemungkinan hidupnya juga ngga akan lama."


"Ojo ngomong begitu, umur kita ini di tangan gusti Allah...bukan di tangan dokter apalagi di tangan penyakit..."


"Terus Sania tau jika suaminya memberi amanat demikian padamu?"


Sultan menggeleng. "Sania sama sekali tidak tau, mas!!"


"Ini seandainya Sultan, kita bicara buruknya aja dulu...seandainya hal itu benar terjadi, apakah kamu bersedia menerima Sania dan menjalankan amanat dari Miko?"


"Sultan ngga tau mas, Sultan rasanya ngga tega...dulu Sultan memang berniat mendekati mba Sania karena iba dan menyangka mereka akan segera bercerai...tapi jika kenyataannya seperti ini maka Sultan jadi ngga tega."


"Tapi semoga aja operasinya berjalan lancar, Sultan!! Ilmu kedokteran sekarang lho sudah canggih."


"Iya mas, semoga Miko segera sembuh."


*


*

__ADS_1


Setelah dua hari pingsan, akhirnya Miko berangsur-angsur kembali sadar. Selama itu juga Sania tak henti-hentinya berada di dekat Miko. Mengajak Miko ngobrol walaupun tak ada respon dari suaminya.


Jonathan dan Nikopun bergantian mendampingi Sania ikut menjaga Miko. Sesekali Sultan membawa anak-anak ke rumah sakit untuk melihat keadaan ayah mereka.


Hari ini Miko sudah bisa berbicara walaupun sedikit lemah.


"Bunda, apakah bunda dan anak-anak baik-baik saja?"


Hal pertama yang ditanyakan adalah keadaanku dan anak-anak...begitulah Miko, itulah yang kusuka selama hampir dua tahun ini menikah dengan Miko.


"Bunda baik-baik saja, yah...anak-anak juga!!"


"Terus bagaimana keadaan Niko dan ayah?" Tanya Miko lagi.


"Mereka juga baik yah, ini ayah dan Niko lagi keluar mau sholat sekalian cari makan dulu di kantin."


"Bunda juga jangan lupa makan, agar jangan sakit!! Kasihan anak-anak kalau bunda juga sakit, siapa nanti yang akan mengurus mereka?"


Sementara itu di Yogyakarta****


Gubrak...prang....


"Bi....bibi..."


"Aduh...apalagi sih pagi-pagi buta gini sudah ribut aja?" Sofwan yang sedang menyuapi Aisyah sebelum berangkat ke kantor jadi terganggu.


Selain Anggita selalu bersikap memusuhinya, dia juga enggan ribut dengan istrinya yang menjadi labil sejak dirinya cacat dan harus terus menerus duduk di kursi roda.


Sofwan lebih memilih tidur di kamar Aisyah. Berdua dengan putri hasil dari pernikahannya dengan Anggita, sedikit banyak bisa mengobati kerinduannya dengan ketiga anak-anaknya sendiri.


Bibi bergegas masuk ke kamar Anggita, sebab jika lambat sedikit saja, maka di pastikan Anggita akan ngamuk parah.


"Iya ada apa non? Masyaallah...kenapa berantakan semuanya non?"


"Makanannya ngga enak, bi...kurang garam, kurang gurih...bibi mau meracuni saya dengan masakan yang rasanya tak karuan ini?" Suara Anggita mulai meninggi.


"Apa non Anggita minta dibuatkan sup saja?" Tawar bibi.


"Ngga usah...ngga perlu...saya sudah ngga nafsu untuk makan!! "


"Bereskan aja yang berserakan di lantai itu!!"


Pak Irawan ayah Anggita muncul di muka pintu kamar.


"Ada apa sih? Masih pagi buta begini ribut...aja!!! Ada apa lagi Anggita?"


"Ini yah...masakan bibi sangat tidak enak di lidah, jadi anggita hambur semua di lantai."

__ADS_1


"Anggita, cobalah hargai bibi...bibi sudah capek-capek berkutat mulai subuh memasak untuk kita, Aisyah dan Sofwan aja tenang-tenang makan di kamar dan ayah rasa masakan bibi itu enak kok!!! Mungkin lidahmu aja yang sedikit bermasalah."


"Karena sikapmu yang demikian, anak dan suamimu semakin jauh darimu."


"Mereka takut, lebih tepatnya Sofwan takut terjadi sesuatu pada Aisyah jika dia di tinggalkan di kamar berdua denganmu."


Anggita tampak cemberut mendengar perkataan ayahnya.


"Ya sudah bi, jika Anggita tidak mau makan nasi goreng, buatkan sup saja."


"Baik pak!!" Kata bibi sedikit lega dengan kemunculan pak Irawan.


Lalu bibi perlahan mundur meninggalkan kamar dan menyiapkan makanan baru untuk tuan puteri Anggita yang pemarah.


Aku hanya geleng-geleng kepala dari dalam kamar. Suasana rumah ini sudah sangat tidak nyaman. Ingin rasanya aku membawa Aisyah pergi jauh dari rumah ini.


"Papa...mamamnya udah...Ais sudah kenyang!!" Aisyah menepuk-nepuk perutnya tanda dia memang sudah kenyamg.


"Aisyah minum susu dulu ya, nak!!"


Aisyah hanya manggut-manggut aja. Setelah dia habiskan susunya aku lalu mengajaknya turun ke bawah menemui pengasuhnya.


"Mba...saya titip Aisyah ya!! Aku berpesan pada pengasuhnya sebelum aku berangkat kerja.


"Ais...papa berangkat kerja dulu ya, nak!!! Ingat jangan nakal, jangan buat repot eyang kakung sama mba sri, ya!!"


"Jangan ribut juga nanti mama marah lagi sama Ais seperti kemarin...ingatkan?"


Aisyah hanya menganggukan kepalanya saja.


Aku ingat betul saat kemarin sore...baru saja aku menjejakan kakiku di depan pintu, terdengar teriakan lantang Anggita memarahi Aisyah hanya karena dia tidak mau mandi sore.


Memang biasanya Aisyah selalu kumandikan sepulangnya aku dari kantor. Tapi kemarin aku memang agak telat pulang karena jalanan sore kemarin sangat macet.


Aisyah langsung meringkuk di samping pintu karena takut dengan teriakan mamanya.


"Ya Allah...aku saja sampai terkejut mendengar bentakannya. Kasihan putriku, ibu kandung berasa ibu tiri.


Untungnya pak Irawan segera datang. "Apa-apaan kamu Anggit...jangan membiasakan diri membentak putrimu seperti itu!!"


Aisyah sudah menangis tanpa suara, mau tak mau belum sempat berganti baju, aku menggendong Aisyah dulu yang ketakutan.


"Maafkan atas ketidak nyamanan ini ya Sofwan, ayah harap kamu memaklumi keadaannya Anggita."


"Kalau Sofwan masih memaklumi yah, tapi tolong Aisyah jangan dibentak seperti itu...kasihan nanti terganggu pada perkembangan mentalnya."


***Bersambung....

__ADS_1


Happy reading...jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya ya🙏🙏😊😊😊


__ADS_2