
"Memang sikap Niko ini agak mendominan tapi entah mengapa aku merasa kasih sayang Miko yang kurasa sempat hilang semenjak dia pergi jadi bisa kurasakan kembali...salahkah aku jika mengharap Miko hidup kembali walaupun dalam tubuh orang lain?" Batinku.
"Pak bubur ayam enam es teh nya enam juga." Sebuah suara yang aku kenal mengagetkanku.
"Sudah lama banget ya Nya...kita tidak main kemari lagi!!" Wanita yang dipanggil Anya mengiyakan.
"Aku terakhir ke kota ini bersama almarhum suamiku...eh pas momennya kok ketemu sama mantan istrinya Sofwan itu, bukan main dia sekarang sudah berani menentangku." Si mulut comel yang tentu saja Nuri cs sengaja datang kemari karena mereka tau Sofwan dan putrinya sudah kembali dari Yogyakarta dan pindah kemari.
"Kak Nuri, Anya...pada akhirnya adik kita sekarang sendiri lagi, bercerai lagi!! Itu karena kalian terlalu banyak ikut campur tangan dalam hidupnya Sofwan." Kata Juwita.
"Seandainya kalian dulu tidak memisahkan dia dan Sania...tentu sampai saat ini mereka masih bersama!!" Juwita sejak dulu memang jarang bicara tapi sekali bicara mulutnya akan terasa pedas.
Niko menyenggol tanganku memberi isyarat jika yang sedang di bicarakan orang-orang itu adalah aku.
Aku dan Niko cepat-cepat menyelesaikan makananku agar kami bisa segera meninggalkan tempat itu, malas jika harus berurusan dengan Nuri dan Anya.
Tetapi rupanya Nuri melihatku juga yang sedang menunggu Niko membayar buburnya.
"Eh...bukankah itu Sania si bodoh itu ya..." Tunjuk Nuri di barengi dengan tatapan kedua saudaranya.
Nuri segera menghampiriku yang hendak beranjak pergi.
"Wih...cepat sekali kamu dapat pengganti suamimu yang meninggal itu, Nia? Lho, mereka berdua mirip sekali...kembar ya..." Aku masih diam tidak menanggapinya.
"Mas...hati-hati lho...dulu suami pertamanya gila...lalu suami keduanya meninggal dunia...apa mas ngga takut untuk berhubungan dengan wanita seperti ini? Siapa tau dia membawa sial!!" Cibir Nuri lantang. Bahkan semua orang yang makan di situ menoleh pada kami.
Niko yang pada dasarnya suka emosian hendak mendamprat balik Nuri, tapi segera kutahan tangannya.
"Kak, justru nasib saya yang sial sudah masuk dalam kehidupan kalian...seandainya dulu saya tidak masuk dalam lingkungan hidup kalian, tentu saya tidak akan sesial ini."
"Jika tidak kenal dengan kalian si biang kerok pasti hidup saya sampai sekarang akan baik-baik saja." Balasku santai.
__ADS_1
Anya berdiri menghampiri kami dengan geram melihat kakaknya dilawan oleh Sania.
"Heh Sania....berani sekali kamu mengatakan ketiban sial karena masuk dalam lingkungan keluarga kami." Anya yang pada dasarnya memang suka bikin onar berdiri berkacak pinggang di dekatku dan Niko.
"Ya beranilah...kalian pikir kalian siapa sampai saya harus takut? Dan memang kenyataannya kamu dan kak Nuri memang sialan semua!!" Ucapku tak kalah lantang karena sudah sekian tahun aku memendam gejolak rasa di hatiku.
Anya mau mengayunkan tangannya menamparku tapi dengan cepat dicegah oleh Niko.
"Eits nyonya berhijab...kasar sekali perkataan kalian...mau dia sial mau tidak, apa hak kalian mencampuri lagi urusannya? Ingat kalian bukan apa-apa dan bukan siapa-siapanya lagi." Niko tersenyum sinis pada Anya dan Nuri.
"Heh...kamu pikir kamu siapa ikut campur masalah kami? Malu dong laki-laki ikut campur masalah perempuan?" Lantam suara Anya.
"Saya wajar bu ikut campur, Sania ini calon istri saya...wajar saya membelanya dari manusia-manusia aneh seperti kalian berdua...datang-datang menyerang orang lain ngga ada angin ngga ada hujan, sebenarnya masalah kalian ini apa sih pada calon istri saya? Iri? Atau dengkikah atau tak suka jika melihat Sania bahagia? Terus hubungan dengan kalian berdua apa?" Niko terus berkicau seperti burung.
Juwita akhirnya dengan malu berdiri dari duduknya. Setelah membayar makanan mereka, dia menggandeng putrinya dan dua ponakannya menghampiri kami yang bersitegang.
"Sania...mas...mohon maaf atas kelakuan dua saudara saya ya...kak jika kalian masih mau ribut di sini silakan...aku dan anak-anak mau melanjutkan perjalanan sendiri ke rumah Sofwan." Lalu dia berlalu meninggalkan Nuri dan Anya.
Begitu pula aku dan Niko yang merasa sudah tidak berkepentingan lagi di situ beranjak pergi.
"Ngga jadi deh dapat tontonan gratis..." Seru mereka.
"Aku malu pada tingkah laku kalian berdua!!" Ucap Juwita mendengus kesal pada dua saudaranya.
"Kalian ini seperti orang tidak berpendidikan saja layaknya!!" Juwita memasang seatbeltnya dan putrinya yang duduk di sampingnya.
"Kok kamu malah membela wanita sialan itu sih?" Sungut Nuri cemberut pada adiknya.
"Aturan tadi biarkan saja rambutnya dijambak sama Anya, biar dia tau rasa!!" Cecar Nuri lagi.
"Kalian berdua pikir Sania akan diam saja seperti dulu kalian apa-apakan? Tentu kembaran almarhum suaminya yang tadi ada di sampingnya tidak akan pernah membiarkan kalian menyentuhnya...kalian mau dilaporkan oleh mereka kepolisi? Pikirkan dulu akibatnya sebelum kalian melakukan sesuatu...berpikir pakai otak bukan pakai dengkul."
__ADS_1
"Tujuan kita kemari mau mengunjungi Sofwan dan anaknya, bukan mau mencari masalah sampai kekantor polisi!!"
"Jika kalian berdua berurusan dengan polisi dan dengan hukum, akan kutinggalkan kalian berdua di sini, malas aku ikut campur dengan masalah kalian!!" Kalimat Juwita penuh penekanan.
Sementara itu...
Niko tidak langsung membawa Sania kepasar, mereka duduk dulu menenangkan diri apalagi Niko melihat ada darah lagi mengalir dari kedua hidung Sania akibat bersitegang tadi.
"Kurang ajar...awas saja jika sampai terjadi sesuatu padamu karena ulah mereka berdua, akan aku kejar sampai kelubang semut sekalipun!!" Geram Niko.
"Lagian dari apa yang aku dengar tadi, mereka itu mantan iparmu ya...terus hubungannya dengan kamu apa? Secara kamu dan Sofwan sudah bercerai empat tahun yang lalu, kok mereka masih mencari masalah denganmu." Niko sibuk mengusap darah dari hidungku yang terus mengalir.
"Entahlah Ko, aku juga ngga ngerti sebenarnya aku ini salah apa pada mereka." Aku memijit keningku yang mulai sakit kembali.
"Apa kita sebaiknya pulang saja? Biar nanti aku saja yang belanja kebutuhan rumah!!" Ujar Niko karena melihat keadaanku sekarang.
"Sayang..."
"Hah!!" Kataku kaget mendengar panggilan Niko padaku.
"Kenapa kita tidak menikah saja, agar mereka yang selalu ingin menjahatimu berpikir dua kali untuk mengganggumu dan anak-anak?"
Niko menatapku dengan mesra. Aku yang ditatap jadi kelabakan tak tau harus apa. Karena biasanya Niko tak pernah semesra itu menatapku dia selalu petakilan.
"Kamu jangan ngeliatin aku sampai begitu...aku jadi ngga enak!!" Aku pura-pura ngeliat kelain.
Niko jadi tertawa melihat kelakuanku. Dicubitnya pipiku dengan gemas dan di toelnya ujung hidungku.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Mampir...baca...like, komen, vote, favorit dan rate nya😊😊🙏🙏