
"Kalian semua yang ada di sini dengar? Laki-laki ini suami saya, dan wanita ini adalah selingkuhannya...mereka berdua selingkuh di belakang saya saat saya sedang hamil begini."
Alena memperlihatkan ekspresi muka sedih dan pihak yang tersakiti.
"Gila kamu Alena?" Bentak Faisal.
Hhuuuu.....
"Dasar pelakor tak tau malu..." Pengunjung kafe teriak bersamaan.
"Sayang aku tak tahan lagi, aku malu banget!!" Dengan segera kekasih Faisal itu lari meninggalkan kafe.
Setelah membayar Faisal lalu menyusulnya. Setelah sebelumnya mengancam Alena.
"Awas kau Alena!!" Umpatnya.
"Kenapa marah? Setelah kepergok selingkuh kok malah marah." Kata Alena.
Setelah puas mempermalukan mantan suami dan kekasih gelapnya, Alena lalu pergi kesalon.
*
*
"Nia ngga jadi kerja di kafemu Sultan?" Tanya Tini pada adik iparnya.
"Dia tidak diperbolehkan bekerja oleh ayah mertua dan saudara kembar Miko!! Karena mereka telah meminta Nia membantu mengelola toko bunga mereka."
"Dan pada akhirnya kamu kecewa, gitu." Sindir Tini pada adik iparnya itu.
"Wah ada yang galau tingkat dewa nih!!" Mas nya ikut nyeletuk perkataan istrinya.
"Bu, tadi sewaktu ayah singgah di toko sembako dekat salon Sejati itu...ibu ingatkan yang waktu ayah marah-marah sewaktu ibu pirangin rambut seperti megaloman?"
"Iya...memang kenapa yah?" Tanya istrinya.
"Di sana tadi ada insiden seorang istri melabrak suaminya saat makan di kafe bersama selingkuhannya."
"Sepertinya ayah kenal dengan wanita pelabrak suaminya itu!! Atau mungkin ayah salah lihat ya?"
"Wanita itu seperti mantan istri sirinya almarhum Miko, bu?"
"Ah yang benar yah? Ayah salah lihat kali?" Kata istrinya lagi.
"Tapi jika memang benar wanita jahat itu kembali lagi ke kota ini setelah setahun menghilang bersama suami barunya, berarti keselamatan Sania dan anak-anaknya terancam dong!!" Kata Tini lagi.
__ADS_1
"Sewaktu percobaan pembunuhan Nia di rumah sakit, berat dugaan kita semua pelakunya itu adalah Alena..tapi karena kita tak punya bukti dan rekaman cctv juga tak berfungsi saat itu, akhirnya tuduhan kita termentahkan.
Plok...plok...plok
"Kenapa kalian berdua tepuk tangan? Memang ibu sekarang ini lagi pidato?" Wajah Tini mulai cemberut.
"Wah...analisa kakak hebat!!" Sultan mengacungkan jempol.
"Kakakmu itu punya ingatan super kuat Sultan, sepertinya dia selalu rangking satu terus waktu sekolah dulu."
"Apalagi jika menyangkut soal uang, luar biasa sekali daya ingatnya...selisih lima ratus perak aja, dia sudah naik darah." Suaminya terus menggoda sang istri.
"Iya...teruskan aja...ntar malam jatah malam jumat dihapuskan." Kata Tini santai.
"Ya jangan disangkut pautkan dengan sunah rasul dong bu...nanti nasibnya si otong gimana?" Wajah suaminya tampak memelas membuat Sultan jadi tertawa ngakak.
"Sudah...sudah...lanjutkan dulu ceritamu yah!!" Istrinya kembali ke mode serius lagi.
"Ayah tak mungkin salah, dia itu pasti Alena...setelah puas mempermalukan mantannya, akhirnya dia nyalon."
"Apa dia berniat kembali lagi ya? Mungkin dia tidak tau kalau mantan suaminya itu sudah meninggal dunia."
"Kalau begitu kita cepat peringatkan Sania, mas...kak..." Sultanpun mulai cemas. Karena mereka tau betapa liciknya Alena dulu.
*
*
Tengah asyik mereka ngobrol, pintu pagar terbuka dan tampaklah seorang wanita cantik melenggang masuk ke dalam.
Tanpa permisi dan tanpa mengucapkan salam, wanita asing yang tak lain adalah Alena mau masuk begitu saja melewati Niko dan ayahnya.
"Maaf nyonya? Anda mencari siapa?" Tanya Jonathan."
"Saya mencari suami saya...." Dengan angkuhnya dia berkata pada Jonathan tanpa menoleh pada si penanya.
"Suamimu siapa?" Tanya Niko agak mangkel dengan kedatangan tamu tak sopan ini.
"Ya yang punya rumah inilah...dia lalu menoleh kesal pada Niko.
"Abang??? Kok abang ngga menyambut Alena datang sih bang?? Kita boleh telah bercerai tapi hubungan kitakan tetap harus berjalan baik."
"Maaf...siapa sih yang anda maksud?" Niko berusaha melepaskan pelukan Alena di tubuhnya.
"Bang Miko, abang amnesia ya sehingga lupa sama aku?" Dia tambah mempererat pelukannya membuat Niko semakin risih.
__ADS_1
Seumur-umur dia tak pernah disentuh oleh wanita apalagi dipeluk erat seperti ini membuat Niko mulai hilang kesabarannya.
Dia melepas paksa pelukan Alena di tubuhnya.
"Jika yang anda cari adalah Miko, anda salah saya bukan Miko...saya Niko saudara kembarnya. "
"Miko kembaran saya sudah meninggal dunia sekitar dua bulan yang lalu."
Alena menatap lekat-lekat pria tampan yang berdiri di depannya. Secara dari keseluruhan mereka mirip, yang membedakan hanya warna kulit yang sedikit kecoklatan, di pipi kiri ada lesung pipit dan di pipi kanan ada
tahi lalat. Sedangkan Miko tidak memiliki ciri seperti itu.
"Siapa kalian? Mau apa kalian berdua di rumah suamiku?" Alena mulai menuding dengan telunjuknya.
"Apakah telingamu tidak berfungsi dengan baik sehingga kamu tidak mendengar apa yang saya dan ayah saya ucapkan tadi?" Niko mulai tersulut emosi.
Niko bukan Miko yang elegan, yang mampu menahan kesabarannya. Niko adalah Niko...pribadi yang akan langsung to the point pada intinya jika dia tak suka pada seseorang, berkepribadian suka bicara ceplas ceplos dan tak suka bicara ngalor ngidul.
Alena sampai tercengang mendengar ucapan Niko. Di situ dia memang menyadari sosok laki-laki yang berdiri di depannya memang bukan Miko.
Miko yang tegas tapi bicara penuh kelembutan dan kasih sayang. Mau semarah apapun dia tapi tak pernah bicara keras pada Alena.
"Kau pasti berdusta telah mengatakan suami saya telah meninggal dunia." Air mata mulai menggenang di kelopak matanya.
Bagaimanapun dia masih sangat mencintai laki-laki itu.
"Lalu di mana kak Sania? Mengapa bang Miko bisa meninggal? Pasti wanita itu tak menjaganya dengan baik!! Geram Alena.
"Suamimu...suamimu...yang saya dan ayah tau bahwa ipar saya hanya satu, yaitu Sania!! Kamu hanya istri siri yang telah diceraikan oleh Miko."
"Dan satu lagi, sebelum meninggal Miko telah menitipkan anak dan istrinya kepada kami...jadi jangan coba-coba menyentuh ataupun menyakiti mereka lagi seperti dulu, atau kamu akan berhadapan denganku nyonya Alena!!" Bola mata Niko membulat memandang Alena.
"Panggil kak Sania aku ingin bicara dengannya..." Alena masih ngotot pada pendiriannya lalu menerobos masuk ke rumah sambi berteriak-teriak lantang.
"Kak Sania...keluar kamu...jangan bersembunyi di belakang ipar dan mertua kita, jangan jadi wanita pengecut!!" Teriaknya menggema di seantero rumah yang megah itu.
Niko menggeram marah, dia tak terima jika Sania dikatakan seperti itu. Tapi Jonathan menahannya dan berusaha menenangkan emosi putranya.
*
*
****Bersambung...
Seru kan!!! Si parasitamol sudah kembali dan membuat ulah lagi!!"
__ADS_1
***
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya...thank you all readersππππ