Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 97 Kau Membuatku Jatuh Cinta


__ADS_3

"Bu...adikmu itu akhir-akhir ini ceria banget ya...selalu bernyanyi dan bersenandung.


"Wong sudah di bilangin lho mas iki, Sultan itu sedang jatuh cinta...ngerti...ora?"


"Kayak anak muda aja bu..."


"Kenapa, bapak iri? Mau jatuh cinta juga lagi? Nih..." Tini mengacungkan tinju ke wajah suaminya.


"Opo tho bu...jatuh cinta karo sopo? Jatuh cinta karo jangkrik atau karo pitik?"


"Wess mboh...sekarepe sampean ae...Mestinya kita itu kudu seneng...Sultan selama ini selalu murung...dari rumah ke sekolah...dari sekolah ke rumah dan ke kafe...gitu aja!!"


"Lha, terus tu bocah arep neng ndi?"


"Ya, mana ibu tau...tanya aja langsung sama Sultannya."


"Sultan...kamu mau pergi kemana? Habis pulang ngajar tadi langsung mandi langsung mau pergi lagi?"


"Anu mas...mau jalan ke alun-alun..." Sultan tampak mesem-mesem.


"Mau pergi sama siapa? Hmmm...wangi tenan tho, leh...leh..."


"Mau pergi sama mba Sania dan anak-anak, mas..."


"Hati-hati lho, Sultan...bukannya mas mau melarang kamu, tapi kamu kudu inget...Sania itu belum bercerai dari suaminya, jangan sampai anggapan orang yang ngga tau, perpisahan mereka karena orang ketiga...dan kamulah orangnya!!"


"Nanti kamu di juluki pebinor lagi..."


"Apa maksudnya itu pebinor, mas??"


"Perebut bini orang, Sultan!!!!"


"Ya, ngga lah mas...Sultan dan mba Sania itu ngga ada hubungan apa-apa kok!! Lagian jalannya kan rame-rame sama anak-anak."


"Iyo...witing tresno jalaran soko kulino...cinta hadir karena terbiasa."


"Mas iki lho...." Mukanya Sultan sudah merah sampai ketelinganya.


"Kan...kan...kamu mau berkilah gimanapun mas mu ini tau, leh...kita ngumpul mulai kecil sampai kamu dewasa...jadi mas tau apa yang dirasakan olehmu."


"Sekali lagi mas ngga ngelarang kamu dekat dengan siapa aja...hanya jika dengan Sania, kamu harus jaga jarak...ya, itu tadi...tunggulah dia bercerai dari suaminya, Sultan."


"Nggeh mas...yo wes...Sultan mau jalan dulu.."


"Semangat Sultan...kejar wanita impianmu sampai dapat..."


"Ibu ini lagi, kayak kompor mleduk ae...malah di asap-asapin, ngapi itu sebentar."


*


*


"Itu om Sultannya bun...ayo kita jalan...naik angkot...naik angkot...." Juned dan Syifa bersorak kegirangan.


Sultan menungguku dan anak-anak di halaman. Sementara aku mengunci pintu, kulihat dia bercanda dengan anak-anak.


"Jauhkah jaga angkotnya, Sultan?"

__ADS_1


"Ngga jauh mba...nanti kalau mba Nia capek akan saya gendong."


"Norak, kamu ini...masa jalan sedikit aja, capek?"


"Nah itu...ada angkot yang lewat..." Dia melambaikan tangannya untuk menghentikan angkot itu.


"Ayo anak-anak naik duluan...langsung duduk di belakang, ya!!"


"Ayo mba..." Dia mempersilakanku untuk naik. Lalu dia naik paling belakang.


"Mesranya ibu sama bapak ini, lho.." Kata supir angkotnya.


"Saya bu..." Sultan cepat memotong pembicaraanku.


"Iya memang harus begitu, pak...masa mesranya diawal menikah saja..."


"Sultan...." Bisikku.


"Ssttt...ngga usah didebat...iya in aja..." Dia menggenggam tanganku untuk memberi tanda supaya diam.


"Ehem...ehem..." Dina batuk-batuk kecil di jok belakang.


Aku dan Sultan cepat-cepat saling melepaskan pegangan tangan. "Maaf, mba..." Wajahnya bersemu merah.


"Iya...ngga apa- apa...saya juga minta maaf..." Aku menunduk.


"Ehemm...ehem..." Dina batuk- batuk kembali.


"Kakak kenapa, sih?? Makanya inget pesan ayah...kalo minum es jangan ditelan dengan plastiknya, jadi nyangkut ditenggolokan kan?" Kata Juned.


Aku tersentak mendengar Juned mengatakan kata ayah.


Hatiku mengerenyit menahan sakit. Luka yang dulu pernah ditorehkan sangat dalam oleh mas Sofwan, dan perlahan sembuh berkat kesabaran Miko meluluhkan hatiku...namun Miko juga lah yang telah mengoyaknya kembali.


"Kenapa aku jadi ingat kembali padanya, ya? Untuk apa diingat, toh dia sekarang sudah bahagia bersama dengan Alena."


"Justru mereka lebih bebas melakukan apapun tanpa kehadiranku di tengah mereka."


Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela angkot. "Apa benar aku ini seperti benalu, ya? Dulu kakak-kakaknya mas Sofwan pernah bilang terus terang, bahwa aku seperti benalu."


"Begitu menikah dengan Miko aku juga jadi benalu bahkan menjadi parasit di antara suami dan maduku."


"Mataku memanas, seperti ada bongkahan sebesar gunung yang menghimpit dadaku."


Sultan yang sering melirikku dari kaca spion cepat tanggap bahwa ada sesuatu yang sudah terjadi padaku.


"Kenapa dia berubah ya? Mendadak dia menjadi sangat sedih."


"Kasihan sekali wanita ini, begitu berat beban hidup yang harus dipikulnya hanya seorang diri."


"Mba...mba ngga apa-apa?" Dia berbisik pelan di telingaku.


Si paras ayu itu menoleh kepadaku. Kulihat matanya merah seperti menahan tangis.


"Mba Sania kenapa sedih?"


Dia menggeleng pelan..."Ngga apa-apa kok Sultan...saya baik-baik aja."

__ADS_1


"Sudah sampai pak..." Suara si supir angkot mengagetkan kami.


"Ayo turun anak-anak...." Setelah Sultan membayar kamipun turun semua.


"Kita duduk aja di bangku itu yuk, mba...biarkan anak-anak bermain."


"Ngga tega saya liat mba Sania, hamil-hamil gini harus jalan mondar mandir."


"Aku menurut saja. Entah aku merasa kehamilanku yang kali ini, aku cepat sekali kelelahan."


"mba mau makan apa? Nanti saya belikan!!"


"Ngga usah Sultan, tadi di rumah saya sudah makan kok."


"Mba...saya yang mengajak kemari berarti saya yang akan mentraktir mba dan anak-anak."


Kulihat matanya mengarah pada penjual rujak buah. Aku maklum biasanya orang hamil memang doyan yang begituan.


"Mba mau itu?" Tawarku.


"Ngga usah Sultan...uang saya ngga cukup takut anak-anak minta dibelikan jajan nanti."


"Ya Allah...hatiku rasanya ikut menangis mendengar dia berkata seperti itu."


Tanpa menunggu lagi, aku berdiri kearah penjual rujak itu...dan memesan untuknya.


"Sultan...ngga usah...kasihan kamu...kok saya malah ngerepotin!!"


"Ngga apa-apa mba, semoga rejeki saya nambah karena membelanjakan orang hamil." Dia hanya geleng-geleng kepala melihat kekerasan kepalaku.


Aku belikan dua porsi untuknya, jika aku hanya membeli satu...takutnya nanti malah kurang.


Dia makan sambil melamun, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Sampai dia tidak menyadari, dari samping aku selalu memandang wajah teduhnya.


"Bodoh..." Aku mengumpat dalam hati...


"Kurang apa mba Sania ini...parasnya ayu, tutur katanya lemah lembut, sopan...tapi mengapa dia selalu ada di posisi yang tersakiti dan tercampakan?"


"Dasar para lelaki bodoh...jika aku diberikan kesempatan untuk memilikinya, maka aku akan menjaganya sampai akhir hayatku."


"Sultan...."


"Eh, iya mba..." Aku tergagap.


Dia memandangku membuatku jadi salah tingkah.


"Aku bisa minta tolong ambilkan minum yang ada di sebelahmu itu?"


"Pedes ya, mba rujaknya...maaf ya...padahal tadi lomboknya cuma satu doang."


Kulihat bibirnya yang merah jambu bertambah merah karena kepedasan.


Seandainya saja aku tidak mengingat pesan kakakku tadi, sudah kukecup bibir merah menantang itu..


"Gila...gila...pikirku."


****Bersambung....

__ADS_1


Mohon selalu dukungannya ya, guys...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏😊😊🙏


__ADS_2