
"Ko...jangan sama semua orang kamu bilang aku istrimu...aku malu."
"Kenapa harus malu? Toh hitungan hari lagi kita akan menikah juga."
"Aku hanya ngga mau, kalau kamu diganggu siapapun."
"Yaelah...Ko, siapa juga yang mau sama perempuan kampung seperti aku ini?"
"Beb...kamu tuh ngga pernah sadarkah?"
"Aku kan ngga pingsan, Ko?"
"Bukan...maksudku itu selama ini apa kamu tidak menyadarinya?"
"Kamu tuh memiliki mata yang sangat indah...bening sebening telaga...setiap orang yang menatapmu pasti akan jatuh cinta saat menatap kedua bola matamu."
"Kalau wanita cantik itu relatif tapi tidak semua wanita cantik itu mempunyai hati yang lembut."
"Parasmu itu ayu, beb...cantik dan anggun, seseorang yang cantik belum tentu anggun."
"Tapi bukan anggun, anjing gundul kan, Ko?"
"Kok anjing gundul pula yang dibahas sih, beb?"
"Sejak dulu aku tuh jatuh hati pada kelembutanmu...tak pernah sedikitpun kudengar kamu berkata kasar walau dalam keadaan marah sekalipun."
"Ko...memangnya siapa saja yang akan kamu undang nanti sih?"
"Orang terdekat saja...orang kantorpun tak semua kuundang."
"Nah...kembali lagi kepembahasan kita waktu itu...kemungkinan setelah naik jabatan, aku tidak lagi di situ...aku akan pindah ke kantor pusat, beb."
"Paling sebulan sekali aku mengecek ke kantor cabang."
"Kamu tetap tak mau ikut aku pindah ke kantor yang baru?"
"Aku d ikantor lama aja...paling ngga lama aku juga akan berhenti."
"Sebentar lagi kan Juned masuk taman kanak-kanak...Syifa di rumah ngga ada yang jaga...apalagi kalau Dina sekolah."
"Kasihan juga bibi jadi terpontang panting kalau harus mengurus rumah dan mengurus anak-anak."
"Kenapa ngga cari babysitter aja kalau begitu?"
"Ko...berapa duit lagi yang harus dikeluarkan untuk membayar babysitter? Mending uangnya ditabung aja..."
"Terserah kamulah nyonyaku...sekarang semua keuangan keluarga, kamu yang atur."
"Tugasku sekarang hanya kerja cari uang dan malam minta jatah lelahku."
"Jatah apaan, Ko....?"
"Jatah buat bikin dedek barunya Syifa..."
"Mikooo...kupikir jatah apaan..."
"Rasanya lama banget ya beb, nunggu hari yang di tentukan."
"Sabar, Ko...kalau jodoh mah ngga akan kemana."
__ADS_1
"Besok aku akan ke kantor pusat, beb...dan kayaknya orang yang bakal menggantikan posisiku juga akan berkunjung besok."
"Kamu ngga kangenkan kalau kutinggal di kantor?"
"Yaela, Ko...kita lho hari-hari ketemu di rumah kok."
"Lagian di sana ada mbak Fina, ada rahmat, ada orang kantor yang lain juga,,,"
"Beb...denger-denger dari selentingan karyawan, orang yang akan menggantikanku itu ganteng banget..."
"Katanya sih menantunya pemilik perusahaan."
"Terus kalau dia ganteng, kok laporannya ke aku?"
"Ya, kamu jangan lirik-lirik ya..."
"Astaghfirullah...suudzon banget kamu, Ko? Lagian ngga mungkin jugalah dia mau melihatku...secara aku lho cuma office girl di kantor."
"Makanya...kamu cepat resign, napa...jadi aku ngga posesif terus."
"Sabar...paling ngga lama kamu di pindahkan, aku juga bakal resign."
"Beb...."
"Hmmmm..."
"Malam ini tidur di kamarku ya...kita toh sebentar lagi juga akan menikah...tidur aja ngga ngapa-ngapain...paling yah...sekedar pegang-pegang doang."
"Eitsss...enak aja...tetap aja belum boleh..."
"Hanya boba doang, beb..."
"Bobo bareng...Beb!!" Miko nyengir.
"Tetap belum boleh, Ko...tinggal satu atap gini aja sebenarnya aku risih...karena belum ada ikatan pernikahan di antara kita."
"Tapi aku juga takut, kalau malam-malam penyakitku kambuh...Aanak-anak ngga bisa apa-apa."
"Sabar ya sayang...belasan tahun kamu bisa bersabar, masa hanya menunggu hitungan hari aja kamu ngga sabar?"
"Justru ada kamu di sini, itu yang bikin aku panas dingin tiap malam, beb."
"Kalau kepanasan, ya ac nya nyalakan...Ko"
"Kalau dingin, ya tinggal pake selimut...gitu aja harus diajari segala."
"Haduhhh...ngga peka banget sayangku ini...lama-lama kucipok juga tuh bibir biar tau rasa..."
" Habis kamunya sih...nanti kan kalau sudah menikah, mau kita jungkir balik...mau pagi sampai malam...sudah ngga ada larangan lagi."
"Kalau kita menikah nanti...aku mau minta cuti...supaya aku bisa mengurungmu di kamar aja..."
"Emang aku ayam...mau dikurung segala..."
"Pokoknya ngga boleh pergi dari tempat tidur...supaya dalam seminggu sudah ada hasilnya..."
"Haduh kalau dalam seminggu harus jadi...bisa-bisa aku ngga kuat berdiri lagi, Ko..."
"Biarin aja...supaya kamu ngga bisa kemana-mana."
__ADS_1
"Egois...."
"Bodo...."
*
*
"Hari ini kita akan ada kunjungan bos besar...katanya sih dia sama anak dan menantunya."
"Menantunya yang nanti akan menjabat sebagai manajer personalia menggantikan posisi pak Miko."
"Nia...apa kamu akan terus bekerja di sini, setelah pak Miko pindah nanti?"
"Apa pak Miko akan tetap mengizinkanmu untuk bekerja setelah kalian resmi menikah?"
"Paling-paling...aku bekerja cuma sebentar lagi aja, mbak...sebab anakku yang tengah sudah mau sekolah."
"Memang harus begitu...Nia, anak-anak adalah prioritas utama..."
"Pak Miko sudah dari tadi berangkat ke kantor pusat...kita di sini bersiap-siap aja."
"Nia stand by di lantai 1 dan rahmat stand by di lantai 2 ya...takut kalau di perlukan...cleaning servicenya ngga ada di tempat."
"Nah...itu mereka sudah tiba, Rahmat cepat naik ke lantai 2 dan Nia stand by ya...siap mbak..." Jawabku dan Rahmat kompak.
Tapi..."Siapa itu? Bukankah itu Mas Sofwan dan istrinya Anggita? Oh...pantas mantan para kakak iparku langsung merestui hubungan mereka...rupanya Anggita adalah putri dari pemilik perusahaan ini."
Ada desiran nyeri di hatiku...mengingat aku dulu diperlakukan seperti pengemis...sementara Anggita dipuja-puja macam seorang ratu...hanya karena status sosial kami yang berbeda.
Semua karyawan berdiri di pintu menyambut kedatangan mereka.
Aku hanya mengintip saja dari balik pintu...terkecuali jika tenagaku dibutuhkan, barulah aku keluar.
"Nia...tolong buatkan kopi dan teh dan bawakan ke ruang rapat ya...mereka dan para staff penting akan berkumpul di sana."
"Siap mbak..."
Aku dibantu Rahmat masuk ke ruangan. Di dalam mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.
"Silakan minumnya pak..." Kata mbak Fina...
Mas Sofwan yang sedari tadi asyik mendengarkan dan menyimak pembicaraan, mengalihkan pandangannya ke Rahmat lalu menatapku.
Lama kami saling menatap sebelum akhirnya aku menunduk sedikit memberi hormat padanya dan ke yang lain, sebelum aku dan Rahmat meninggalkan ruangan.
"Aduh...kenapa juga hatiku masih berdegup kencang tak karuan begini ya..."
"Tidak...dia hanya masa lalu...kami sudah lama bercerai...dan aku juga akan melangsungkan pernikahanku dengan Miko dalam waktu dekat ini."
"Mbak Nia...kenapa tangan mbak gemetar begitu? Muka mbak juga tampak pucat...mbak sakitkah?" Sehabis keluar ruangan, Rahmat menegurku.
"Ngga, Mat...mbak Nia baik-baik aja kok..."
"Kalau mbak Nia sakit...duduk aja dulu di janitor sini ya...biar Rahmat yang stand by..."
"Terima kasih ya, Mat..." Rahmat mengangguk lalu meninggalkanku sendiri.
***Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih atas like, komen dan favoritenya teman-teman๐๐๐ Kritik dan saran yang membangun akan lebih author perhatikan lagi..Sekali lagi terima kasih...Happy reading๐๐***