
Dina membantu memijit hidung bundanya untuk menghentikan pendarahan.
"Dina, paman Niko dan kakekmu sudah ada menelponkah?" Tanya Sania pelan.
"Belum ada bunda, tumben-tumbennya mereka seharian ngga ada nelpon...apa ngga ada jaringan kali!!" Jawab Dina.
"Kenapa perasaanku mendadak tak enak ya? Aku merasa ada rasa sakit menyucuk di dalam hatiku." Aku hanya membatin.
Mendadak aku kangen sama Niko, ngga biasa-biasanya aku merindukan pria petakilan itu, aku seperti merasa akan terjadi sesuatu pada kami berdua.
"Tidak..." Aku berusaha menepis perasaan itu.
"Niko bukan Miko, walaupun dia rada cengengesan dan sulit dibedakan kapan dia serius kapan dia bercanda tapi aku tau dia tulus menyayangiku." Aku membatin lagi.
"Bun, jangan lupa diminum obatnya...pesan om Niko begitukan sebelum om dan kakek berangkat semalam?" Kata Dina mengingatkanku.
"Iya, Nia...sebab besok kita akan cek kesehatan ke dokter." Kak Della menyodorkan segelas air putih padaku.
"Kak..."
Hmmmm
"Ada apa, Nia?" Tanya kak Della.
"Ngga jadi kak!!" Aku mengurungkan niatku untuk mengungkapkan unek-unek di hatiku.
"Aku hanya membatin dalam hati mengapa setiap laki-laki yang dekat denganku selalu berakhir dengan perpisahan, entah berpisah hidup ataupun berpisah mati."
Sementara Niko di sanapun dilema berat. Di satu sisi dia ingin bertanggung jawab pada wanita masa lalunya yang telah memberikan keturunan padanya, tapi di sisi yang lain dia sangat mencintai istri almarhum saudara kembarnya itu.
Tak bisa dipungkiri oleh Niko, Sania membuatnya tau bagaimana arti mencintai dan dicintai. Para keponakannya memberikannya rasa bagaimana mempunyai tanggung jawab menjadi seorang ayah.
Rupanya Niko yang gelisah membuat Jonathan terbangun dan duduk sambil menatap putranya.
"Jika kau dilanda kebimbangan maka sholatlah Niko di pertiga malam ini bagus untukmu memohon petunjuk pada yang Maha Kuasa apa yang harus kamu lakukan." Jonathan menepuk bahu putranya. Dia juga seolah ikut merasakan kegundahan yang dialami putranya itu.
"Baiklah ayah!!" Tanpa membantah lagi Niko turun dari tempat tidur dan langsung menuju toilet untuk berwudhu.
__ADS_1
"Maafkan aku Nia, besok aku tak bisa menemanimu cek kedokter, aku hanya berdoa semoga sum-sum kak Della cocok supaya kamu bisa segera sembuh kembali."
"Aku ingin matahariku, penerang dalam kehidupanku bersinar lagi walaupun ada ataupun tak ada lagi aku di dekatmu."
Setelah sholat Niko memohon dengan khusyuk. Dia meminta jika memang meninggalkan Sania untuk memenuhi tanggung jawabnya menikahi Maya adalah keputusan terbaik, maka akan dia lakukan.
"Ya Allah, kau mempertemukan aku dengan wanita ibu dari anakku pasti mempunyai maksud tersendiri, aku ikhlas ya Allah...tapi aku hanya memohon tolong jangan hapuskan dan jangan membuang rasa cintaku untuk Sania meskipun kau tak ijinkan aku untuk bersamanya."
"Apa arti cinta ini bila pada akhirnya tak akan bersatu? Sesulit inikah jalan takdirku yang tak menginginkan aku dan Sania bahagia?" Niko meratap dalam diamnya.
Jonathan bukannya tak merasakan rasa sakit di hati Niko, tapi diapun sendiri bingung untuk memutuskan sesuatu.
"Tidurlah Niko, besok ayah akan mengurus pernikahan kalian." Niko hanya mengangguk tanpa menjawab. Perasaannya hampa sehampa-hampanya. Dia melipat sajadah lalu melangkah menuju tempat tidur.
"Maafkan aku Nia, maafkan aku..." Jeritan itu hanya menggema di dalam hatinya.
*
*
Niko setengah sadar setengah tidak sehabis membuang separuh air matanya diapun tertidur. Belum lama dia tertidur suara dering ponsel mengagetkannya.
📱"Halo, Assalamualaikum...
Sebuah suara lembut nan merdu di seberang sana membuat Niko terlonjak lalu duduk di tempat tidur.
📱"Waalaikum Salam...maaf Nia, tadi tidak sempat mengabarimu jaringan di sini sangat buruk.
📱"Kenapa suaramu serak Niko? Kamu sakit?" Suara penyejuk hati itu terasa seperti angin surga bagi telinga Niko.
📱"Aku agak pilek kena hujan tadi...gimana keadaanmu satu harian ini? Kamu baik-baik aja kan? Terus anak-anak gimana hari ini? Ngga nakalkan mereka?" Pertanyaan beruntun dari Niko membuat Sania tertawa dari seberang sana. Membuat Niko menempelkan ponsel itu kedada sambil memejamkan matanya.
📱"Banyak amat pertanyaannya!!" Lalu tawa renyah itu kembali terdengar.
"Ya Allah...bisakah aku hidup tanpa pemilik suara itu jika dia sudah tak ada lagi di sampingku?" Niko berusaha menahan isaknya agar tidak terdengar oleh Sania.
📱"Nia, kamu ngga kangen sama aku saat aku jauh begini?"
__ADS_1
📱"Ngga, paling-paling saat ini kamu sedang bersama dengan orang lain...jadi untuk apa aku merindukanmu, rugi aku!!" Lalu dari seberang sana Sania tertawa lagi.
Deg....jantung Niko berdegup mendengar perkataan Nia yang tanpa sengaja tapi telak menampar wajahnya.
📱"Terus kamu ikhlas jika aku bersama orang lain?" Niko memancing pertanyaannya.
📱"Ko, aku sudah sering kehilangan dan aku sudah sering merasakan pahit getirnya kehilangan, jika kamu memang bukan ditakdirkan Allah untukku terus aku bisa apa? Apa aku harus menyumpah-nyumpah lalu menjerit-jerit begitu? Yang ada malah pemilik alam semesta ini yang murka padaku karena berusaha melawan takdirnya."
📱"Jadi kamu tidak takut kehilangan aku? Padahal aku sangat takut kehilangan kamu!!" Ada rasa tak terima di hati Niko mendengar ucapan Sania.
📱"Sudah...kok kita jadi bahas itu sih? Kamu pulang ngga malam ini? Kalau ngga pulang, pintu rumah kukunci dari dalam, jadi aku maupun orang rumah ngga takut kamu tiba-tiba pulang."
📱"Aku dan ayah mungkin besok belum bisa pulang, Nia...masih ada urusan yang harus kami kerjakan." Suara Niko agak tercekat saat mengatakan itu.
📱"Baiklah...kamu jaga kesehatan ya!! Hati-hati di sana dan salam buat ayah!!" Ucap Nia tulus.
📱"Kamu juga, perbanyaklah istirahat semoga besok pemeriksaannya lancar agar tranplantasi sum-sum tulang belakangnya lancar...maaf aku tidak bisa mengantarmu tapi aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Sahut Niko dari seberang sana.
Akhirnya percakapan berakhir. Niko meletakan ponsel di atas nakas lalu merebahkan tubuhnya lagi.
"Niakah itu Niko?" Jonathan terbangun dari tidurnya.
"Iya ayah, dia sepertinya sudah mempunyai firasat akan terjadi sesuatu padaku di sini." Niko menjawab dengan lesu.
"Apakah jika dia tau besok Niko akan menikahi Maya, Nia akan membenci Niko yah? Apakah dia masih mau bertemu dengan Niko? Niko sungguh-sungguh takut tidak bisa melihatnya lagi yah!!" Niko menutup wajahnya gundah dengan kedua telapak tangannya.
Mereka berdua tak sadar jika sedari tadi ada sesosok berdiri menguping pembicaraan Niko dan Jonathan.
"Maafkan aku yang egois, Niko...tapi wanita yang bernama Nia itu tak tau bagaimana perasaanku hidup selama belasan tahun ini tanpamu, hamil, melahirkan dan membesarkan Juma tanpamu...setiap saat aku harus menerima perlakuan yang tak menyenangkan dari Samsuri." Ternyata sosok yang sedang menguping itu adalah Maya yang awalnya tak sengaja lewat di depan kamar Niko dan Jonarhan.
*
*
***Bersambung....
Jangan lupa untuk selalu memberikanku dukungan ya guys...terima kasih🙏🙏
__ADS_1