
"Maaf ya readers....Jika author menulis alur ceritanya loncat-loncat...Biar ngga monoton aja...."
****
Aku mempersiapkan semuanya untuk besok...besok adalah hari pertamaku bekerja...walaupun aku baru akan di training dulu selama 3 hari.
"Jadi mamak sudah ngga mencetak bata lagi mak?" Dina, Juned dan Syifa mendekatiku.
"Masih lah nak...kalau ngga mencetak bata, darimana mamak dapat uang untuk ongkos transport selama belum gajian?"
"Terus kita beltiga ditinggal sendili di lumah ya mak...dengan bahasa cadelnya Juned dan Syifa duduk dipangkuanku."
"Iya sayang...nanti kalau mamak kerja terus kak Dina sekolah, Juned sama Syifa jangan main jauh-jauh dari rumah ya nak...terus Juned juga harus jaga adik Syifa."
"Telus nanti kalo bapak pulang telus nanya mamak kemana...kita beldua omong apa?"
Miris rasa hatiku mendengar pertanyaan kedua anakku. Mereka berdua tak akan pernah tau jika bapaknya tidak akan pernah kembali kemari lagi."
Mungkin bapaknya sekarang sudah bahagia dengan hidup barunya dengan ingatan barunya, dan mungkin bersama istri baru pilihan keluarganya, tanpa mengingat kembali ke masa lalunya. Meninggalkan kami berempat sebagai bagian dari masa lalu yang harus dilupakan.
"Bapak ngga akan pernah pulang lagi dek..." Dina menjelaskan kepada Juned!!
"Adek Juned liatkan waktu itu bapak pergi begitu saja meninggalkan kita bersama tante-tante yang jahat-jahat itu."
"Dina...untuk waktu sekarang kedua adikmu belum mengerti apa yang telah terjadi nak..." Aku menerangkan kepada Dina dengan hati yang terluka.
"Jika sudah besar nanti mereka pasti akan tau dengan sendirinya."
"Sekarang menjadi tugas mamak sepenuhnya untuk berjuang menafkahi kalian bertiga..."
Aku memeluk ketiga anakku dengan penuh kasih sayang. Pelukan yang mereka dapatkan hanya dariku tanpa dari bapak mereka lagi.
Ngenes memang ya...nasibku ini...sembilan tahun bersama dalam suka dan duka dan kini semua berakhir menjadi sia-sia.
"Aku tak pernah menyalahkan keadaan dan aku tak pernah membencimu mas...mungkin jodoh kita habis sampai disini, kini tiba saatnya aku berjuang sendiri untuk membesarkan anak-anak kita tanpa kamu lagi disini bersamaku."
*
*
Sebenarnya agak berat hatiku meninggalkan anak-anakku pergi. Karena selama ini mereka bertiga tidak pernah jauh dariku.
Habis sholat subuh aku sudah mempersiapkan semua termasuk bekal yang akan kubawa.
Kulihat anak-anakku masih tertidur pulas di ruang tamu.
Kasihan...masih sekecil ini mereka sudah kutinggalkan bekerja tanpa diawasi siapapun. jika Dina sekolah siang nanti, Juned dan Syifa hanya berduaan di rumah.
"Ya Allah...jagalah ketiga anak-anakku, aku serahkan mereka bertiga di dalam perlindunganmu, ya Rab..."
__ADS_1
"Tidak...aku tidak boleh bersedih...aku memikul tanggung jawab menafkahi mereka, aku pasti bisa..."
"Din...Dina...bangun sebentar nak...mamak mau berangkat kerja...titip adik-adikmu ya..."
"Mamak sudah mau pergikah?" Dengan malas Dina bangun dari tidurnya.
"Nanti adiknya dimandikan, terus disuapi ya...kalau nanti siang Dina berangkat sekolah, pesan keadik-adiknya jangan main jauh-jauh."
"Iya mak...hati-hati di jalan ya mak..."
"Aku mencium ketiga anak-anakku. Semoga Juned dan Syifa tidak rewel saat bangun tidak melihat mamaknya.
Aku memang harus berangkat pagi-pagi agar cepat dapat angkot. Ngga enak juga masih di training sudah terlambat.
*
*
Kemarin aku disuruh menemui ibu Yati. Dari bu Yati aku disuruh ikut mbak Fina senior di sini. Mbak Fina usianya sudah 45 tahun, tapi masih cantik dan gesit.
Aku diperkenalkan setiap ruangan di lantai 1 karena di lantai 2 sudah ada office boynya juga.Tugasku membersihkan semua ruangan, membuat minuman untuk karyawan di lantai 1 jika sudah selesai tinggal menunggu dipanggil jika dibutuhkan.
Aku sedang mengelap kaca di depan resepsionis, waktu ada seseorang menyapaku.
"Nia...kamu Saniakan?" Aku yang sedang fokus bekerja segera menoleh.
"Lho...kamu Jatmiko kan?" Aku memandang pada seorang laki-laki yang berdiri di depanku."
"Teruntuk Sania pujaanku...
Matamu bersinar memancar
kan keteduhan hatiku...
Seandainya kau tahu ...
Bagaimana perasaanku...
Betapa ku mencintaimu...
Pertanda...Jatmiko Sarindra..
Seluruh murid bersorak meneriaki kami. Ada
yang bersiul dan ada yang bertepuk tangan.
Malunya aku....ingin ku pites kepala anak ingusan ini. Masih pakai seragam putih biru sudah songongnya minta ampun.
"Kenapa Kak Nia ngeliati aku begitu? Masih kagum sama aku ya?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala saja mendengarnya.
"Kamu masuk sana...ntar kerjaanku ngga kelar-kelar.
"Kak Nia baru bekerja di sinikah? Kok aku baru liat?"
"Iya ...baru hari ini dan jangan kamu ganggu...aku baru saja training nanti malah di pecat."
Senyum tipis Jatmiko mendengar perkataanku..."Ya sudah aku masuk dulu ya, kak."
"Haduh...kenapa setelah 19 tahun berlalu, bisa ketemu lagi sama anak tengil itu? Dan kelakuannya masih saja menjengkelkan seperti dulu."
Setelah mengelap kaca dan membersihkan debu-debu di sudut ruangan dengan sula., sambil menunggu dipanggil kalau ada karyawan yang membutuhkan bantuanku aku membersihkan toilet dulu.
gedung ini hanya ada 2 lantai dengan 2 cleaning dan satu pengawasnya. Aku menggantikan posisi Tina yang sekarang ditarik kekantor besarnya. Bagiku walaupun hanya 2 lantai tetap saja terasa luas.
"Nia...pak Miko minta tolong dibuatkan kopi ya..." Mbak Fina menjulurkan kepalanya dari samping pintu toilet. "Sekalian kamu tawarkan juga kestaff yang lain di lantai 1 aja, siapa tau ada yang mau dibuatkan juga."
"Iya mbak...aku bergegas meletakan alat-alat kamar mandiku dan mengikuti mbak Fina."
Aku masih belum terlalu hapal ruangan-ruangan di sini, juga belum tau selera staffnya di sini.
Kami menuju keruangan paling ujung. "Kita mau kemana dulu mbak?"
"Kita keruangan pak Miko dulu ya...baru kita bertanya kestaff yang lain, mau minum apa."
"Semoga dalam waktu 3 hari ini kamu sudah bisa melakukan semua pekerjaan Mbak? Kata mbak Fina...mudahan mbak jawabku."
Mbak Fina mengetuk pintu ruangan paling ujung. "Masuk..." Suara dari dalam mempersilakan...
Kami berdua masuk..."Haduh...Anak ini manajer personalia di sini tho..."
"Perkenalkan pak Miko, ini Sania yang menggantikan posisi Tina..."Jelas mbak Fina...
"Iya mbak saya sudah tau kok, tadi sudah ketemu di depan waktu dia sedang membersihkan kaca...Miko tersenyum pada kami berdua.
"Mbak Nia, pak Miko ini biasanya minum kopi...tapi tanyakan saja terkadang beliau ingin minum teh...nanti saya jelaskan di dapur untuk takaran gulanya.
"Mari pak...kami segera buatkan dulu..." Kami keluar dari ruangan ini.
"Kamu bukan hanya menguasai dilantai 1 tapi juga ruangan dilantai 2, siapa tau amir yang bertugas dilantai 2 berhalangan hadir jadi kamu bisa menggantikannya."
"Dilantai 2 itu ruangan pejabat pentingnya...ruangan manajer dan ruangan direktur di atas. Sementara Direksi, direktur utama dan direktur keuangannya ada di kantor besar.
Pelan-pelan aku berusaha mengerti pembicaraan mbak Fina...walaupun setengah hati dan pikiranku ada di rumah, memikirkan anak-anakku.
***Bersambung....
Dukungannya ya teman-teman....Komen dan likenya...Vote dan favoritenya...Terimakasih🙏🙏🙏***
__ADS_1
.