Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 134 Cepat Sembuh Ayah


__ADS_3

"Sebenarnya ibu Niko kemana yah? Sejak dulu ayah bilang ibu hanya pergi sebentar, tapi sampai sekarang Niko tunggu...ibu tidak juga kunjung datang menjenguk Niko!!"


Hati Jonathan teriris pedih mendengar Niko yang selalu menanyakan perihal ibunya. Mau dia menjawab bahwa ibunya telah meninggal, tapi kenyataannya Mira masih hidup. Mau di bilang hidup tapi tak pernah datang menjenguk putranya.


"Niko sabar ya nak, minta sama Allah agar kelak Niko bisa dipertemukan dengan ibu lagi."


Niko yang pada dasarnya anak yang patuh akhirnya diam. Hanya yang membuat Jonathan sedih adalah setiap kali selesai sholat Niko selalu meminta untuk dipertemukan lagi dengan ibunya.


"Ya Allah...pertemukan Niko dengan ibu...sehatkanlah juga ayah agar selalu bisa mencari nafkah untuk makan kami dan biaya sekolah Niko. Jangan ambil ayah dari hidup Niko karena Niko sudah tidak punya ibu jangan lagi tak punya ayah."


"Jika pertanyaan soal ibu selalu membuat ayah sedih maka Niko janji tak akan lagi bertanya tentang ibu supaya ayah tak sedih lagi."


"Nak...sini!!!"


Niko memanggil Syifa. Untungnya Syifa juga mengerti kalau Niko itu memanggilnya.


"Om...siapa? Kenapa wajah om mirip sekali dengan ayah Miko?" Tanya Syifa.


"Om ini saudara kembar ayah kalian..." Jawab Niko ramah.


"Om tidak bisa melihatkah?"


"Syifa..." Kata Sania memperingatkan anaknya takut Niko tersinggung dengan kata-kata Syifa.


"Ngga apa-apa...om memang buta sejak lama...siapa tadi namamu, nak?"


"Syifa om..."


"Om juga dulu semasa sekolah sering diolok-olok oleh teman-teman om Niko karena om tidak punya ibu."


"Awalnya om sedih, tapi lama-lama om akhirnya kebal dengan olokan mereka dan pada akhirnya mereka lelah sendiri lalu berhenti mengolok-olok om Niko."


Syifa memperhatikan Niko dengan seksama.


"Om Niko ini sebenarnya ganteng sekali, apa om sudah punya pacar?" Tanya Syifa.


"Syifa..." Lagi-lagi aku harus angkat bicara untuk memperingatkannya.


"Om tidak punya pacar, Syifa...lagi pula siapa yang mau dengan laki-laki buta seperti om Niko?"


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini om...berdoa saja minta sama Allah...pasti suatu hari kelak akan dikabulkan."


"Pinternya...siapa ysng ngajarin Syifa kok pinter banget kata-katanya?"


"Bunda om..."


Niko terus mengajak Syifa bercakap-cakap...sebentar saja mereka sudah akrab seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal sehingga akhirnya Syifa lupa akan kesedihannya tadi.


"Nia, berapa lama operasinya akan berlangsung?" Tanya Jonathan.

__ADS_1


"Kurang lebih 3 sampai 5 jam yah..." Jawabku.


"Sultan, bisakah saya minta tolong? Anak- anak dibawa pulang aja, kasihan mereka kelamaan di sini."


"Coba lihat Miko dan Miki sepertinya sudah sangat mengantuk."


"Mba ngga apa-apa saya tinggalkan di sini? Tanya Sultan lagi!!"


"Ngga apa-apa...kan sudah ada ayah Jonathan dan Niko yang menemani di sini."


"Syifa ngga mau pulang bun!! Syifa mau di sini sama om Niko..."


"Syifa ngga boleh gitu, nantikan kita bisa ketemu lagi!!" Niko berusaha membujuknya.


"Oke deh...jika om Niko yang bilang gitu, Syifa mau!!"


"Dadah om Niko, dadah kakek..."


"Kalau kamu lelah ingin istirahat, pulanglah dulu, Nia!! Jangan sampai kamu ikutan sakit juga, kasihan anak-anakmu...ayah lihat wajahmu agak pucat."


"Tidak apa-apa yah...paling nanti saya mau pergi ke mushola di belakang rumah sakit ini mau sholat azhar di sana."


*


*


Aku duduk berdoa saat selesai melaksanakan ibadah sholat azhar.


"Bantulah dia, angkat semua penyakitnya dan tolong sembuhkanlah dia , ya Allah...sungguh hamba belum siap untuk kehilangan dia lagi."


"Dulu kami sempat terpisah, dan sekarang kami sudah di persatukan lagi...apakah kami akan terpisah kembali?"


Aku betul-betul larut dalam doaku. sudah semingguan ini, tempat inilah yang menjadi tumpahan keluh kesahku.


Di tempat ini aku merasa lebih tenang. Pikiranku bisa sedikit lebih jernih.


Drrttt....drrtt..


Ponselku berbunyi, dan ayah Jonathanlah yang menelpon.


"Nia, suamimu sudah selesai di operasi...cepatlah kembali kemari."


Bergegas aku melipat mukena dan sajadahku dan kembali ke ruang tunggu.


Kulihat di sana dokter Alvin sedang menjelaskan pada ayah dan Niko.


"Kira-kira berapa lama suami saya akan sadar dokter?" Tanyaku.


"Tergantung kondisi kesehatan Miko, mba...yah berdoa saja Miko cepat sadar."

__ADS_1


Satu jam kemudian Miko dipindahkan ke ruangan ICU kembali karena dia belum juga sadarkan diri.


Sang istri, ayah dan saudara kembarnya dengan setia selalu menunggu dan bergantian menjaganya.


"Yah...dari tadi siang ayah dan Niko belum makan apapun, pergilah makan dulu biar Nia yang menjaga di sini."


"Tidak apa-apakah kamu kami tinggalkan dulu sebentar?" Kata Jonathan.


"Tidak apa-apa yah, biar nanti saya akan berjaga di sini.


Sementara di kediaman Sultan...


"Miko, ayah dan saudara kembarmu sudah kembali berada di sampingmu."


"Seharusnya Nikolah yang menggantikan posisiku karena dia lebih berhak untuk menjaga Nia dan anak-anakmu."


"Bukannya aku keberatan, aku sangat menyayangi Nia dan anak-anak...tapi aku merasa tidak pantas."


"Tapi semoga kamu.cepat sembuh, Miko...kalian baru saja bersama, masa harus berpisah lagi?"


"Apa yang kamu lamunkan, Sultan?" Kakaknya sudah berdiri di sampingnya, lalu duduk di kursi sebelahnya.


"Sultan hanya sedih mas, perasaan rumah tangga Miko dan Sania terus menerus tertimpa musibah."


"Mungkin jalannya Gusti Allah memang sudah begitu, leh!! Tapi yakinlah, di balik segala cobaan dan musibah, pasti akan datang masanya untuk bahagia."


"Allah tidak akan memberikan cobaan yang tak bisa dilewati oleh hambanya."


"Berarti Sania dan Miko orang yang kuat dan Allah tau mereka bisa melewatinya."


"Layaknya sebuah roda, tak mungkin ada di bawah terus...pastilah suatu hari nanti akan berputar ke atas."


"Begitu pula kehidupan Miko dan Sania, saat ini roda kehidupan mereka sedang ada di bawah, tapi Insyaallah kelak mereka akan bahagia."


"Mas, ada satu rahasia yang ingin sekali Sultan ceritakan...Sultan tau mas bisa menjaga rahasia ini baik-baik...tolong jangan diberitahukan kepada kak Tini, takutnya nanti bocor sampai ke telinga Nia.


"Kalau kamu mau menceritakan sesuatu yang bersifat rahasia, jangan di sini bicaranya.'


"Mbakyu kamu itu memasang cctv di setiap senti dinding dan atap di rumah ini..."


"O... iyakah, mas? Kok Sultan ngga pernah liat ada cctv di rumah ini?"


"Oalah Sultan, itu cuma istilah saja..."


"Ooo...begitu..." Sultan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kita pura-pura cari sesuatu di luar saja!!" Ide dari kakaknya Sultan itu akhirnya di sepakati.


"Kalian berdua kakak beradik pada mau pergi ke mana?" Tiba-tiba Tini muncul dari ruangan tengah!!

__ADS_1


***Bersambung...


Dukung selalu karya recehku ini ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya selalu kuharapkan...terima kasih🙏🙏


__ADS_2