
"Saya hanya berharap kamu menjaganya baik-baik Niko...terlalu banyak sudah penderitaan yang dialami olehnya selama ini...kalian berdua berhak bahagia." Sofwan tersenyum tulus walaupun jauh di dalam hatinya bagaikan sebuah silet menyayat melukainya.
Niko menepuk pundak Sofwan sambil tersenyum.
"Terima kasih atas pengertianmu Sofwan, saya akan selalu menjaganya hingga jantungku berhenti berdetak...sebaiknya kita bicarakan masalah ini dengan ayah dan kakaknya Sania itu." Niko berdiri terlebih dulu meninggalkan Sofwan.
Sofwan menarik napasnya berulang kali untuk menghilangkan perih di hatinya. Dia tak ingin seorangpun tau betapa dia sangat terluka.
"Kalian berdua dari mana?" Sania yang baru saja dari dapur membawa nampan berisi empat cangkir teh dan setoples cemilan.
"Kami berdua baru saja membicarakan sesuatu yang penting dan sebaiknya kita bicarakan ini bersama mumpung kita kumpul semua di sini." Ujar Niko.
"Ayah...mungkin ayah dan Sofwan pikir Sania itu hanya sakit biasa tetapi sebenarnya Sania itu sedang sakit parah." Lalu Niko menceritakan pada ketiga orang yang duduk di depannya tentang penyakit yang diderita oleh Sania.
Mereka juga tak menyangka sama sekali. Dan Niko mengutarakan pengobatan untuk Sania melalui Della kakak kandungnya.
"Saya setuju saja jika memang itu jalan yang terbaik untuk kesembuhan adik saya!!" Ujar Della.
"Mungkin ini saatnya saya membayar semua segala kesalahan yang telah saya perbuat padanya bertahun-tahun yang lalu."
Akhirnya disepakati kapan mereka akan berkonsultasi dengan Dokter bagaimana baiknya, intinya pendonor itu sudah ada tinggal pemeriksaan kesehatan Della saja nanti di rumah sakit.
Della memeluk Sania dengan sangat erat sambil menitikan air mata.
"Kak Della akan berusaha membantu sebisa mungkin agar kamu bisa sembuh dek, bila perlu jika sum-sum di seluruh tubuh kakak akan diambil, kakak ikhlas asal kamu bisa sembuh."
"Terima kasih kak, terima kasih Niko dan mas Sofwan yang telah membawa kakakku kemari." Aku menangis terharu.
"Aku akan melakukan apapun untuk calon istriku." Niko memeluk Sania berusaha menenangkannya.
Sofwan mengalihkan pandangannya dengan rasa sakit yang menghimpit dadanya. Dia ingin terlihat tegar walaupun Della melihat luka di mata mantan adik iparnya itu.
__ADS_1
Ditepuknya bahu Sofwan dengan tersenyum tulus. Dan Sofwan menatapnya lalu mengangguk dengan mengisyaratkan bahwa dia akan baik-baik saja.
"Kak, sebaiknya kakak tinggal saja di sini bersamaku dan anak-anak...kakak bisa bantu-bantu di kios yang ada di jalan Sudirman bersama dengan ayah!!" Aku melirik pada ayah Jonathan yang sedari tadi selalu mencuri pandang pada kak Della.
"Itu benar kak, biar kios yang di depan saya dan Sania yang menjaganya." Jawab Niko.
"Siapa tau ayah berniat membuka pintu hatinya untuk menerima cinta yang baru setelah puluhan tahun ditinggalkan oleh ibu." Niko tersenyum seolah tau perasaan laki-laki itu.
Ayah Jonathan tak menjawab hanya saling pandang dengan Della lalu tertunduk dengan senyum malu-malu persis seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"Bu, makan siang sudah tersedia...monggo silakan langsung makan!!" Bibi memberitahukanku.
"Ko, tolong ajak mereka masuk makan di dalam dan ajak anak-anak juga...aku mau bicara sebentar dengan mas Sofwan." Awalnya Niko ragu-ragu untuk membiarkan aku bicara pada Sofwan mengingat hubungan yang pernah ada di antara kami tetapi Jonathan meyakinkan putranya untuk mempercayaiku.
Akhirnya mereka menuju ruang makan dan hanya menyisakan aku dan Sofwan saja.
Mereka berdua sesaat diam saling memandang. Sania menatap dalam laki-laki cinta masa lalunya itu, mereka dulu saling mencintai tetapi takdir memisahkan mereka .
"Aku juga berterima kasih mas, semula aku sudah putus asa karena tak memiliki harapan hidup lagi tetapi Allah menunjukan jalan dengan membawa kak Della kembali melalui perantaraan mas Sofwan."
"Kamu berterima kasihlah pada Niko dan kamu harus bersyukur rasa cintanya padamu sebesar rasa cinta Miko dulu."
"Di tangannya aku percaya kamu bisa meraih kebahagiaanmu kembali." Sofwan tersenyum tulus.
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Tangan yang selama 9 tahun telah melindungiku, menyayangiku dan berusaha mencari nafkah dengan susah payah dengan tangan ini untuk menafkahi keluarganya.
Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipi pucatku.
'Jangan menangis dek, walaupun kita sudah tak lagi bersama tapi mas akan selalu ada untuk menjagamu dan anak-anak." Sofwan memeluk Sania dengan erat, tapi diapun menangis sambil mendekap mantan terindahnya itu.
"Yang kuat ya...semoga kamu cepat sembuh kembali, kuatlah demi anak-anak dan lelaki yang selalu mencintaimu itu." Sofwan melepaskan pelukannya dan membalikkan badanku dan mendorongku perlahan masuk kedalam pelukan Niko yang sudah berdiri tak jauh dariku.
__ADS_1
"Ya Allah...hatiku terasa sakit dan hancur tak berbentuk, sekali lagi aku harus mengikhlaskan wanita masa laluku untuk bersama dengan pilihan hatinya." Sofwan masih berusaha tersenyum tegar walaupun ribuan pisau seperti menyayat hatinya dan menghunjam tepat di jantungnya.
Sofwan tau sejak tadi Niko berdiri di samping pintu, dia tak ikut yang lainnya untuk masuk dan duluan kemeja makan.
Memang, calon suami mana yang akan membiarkan calon istrinya untuk bersama dengan laki-laki lain walaupun hanya sebentar saja. Tentu rasa curiga dan tentu rasa tak ingin kehilangan apalagi mengingat lelaki yang bersama dengan calonnya itu adalah sang mantan.
Niko sendiri berdiri termangu melihat Sofwan memeluk Sania walaupun pelukan itu hanya pelukan semangat untuk Sania.
"Kenapa terasa sakit? Di sini?" Niko memegang dadanya sendiri.
"Rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya? Aku hanya takut kehilangan dia!!" Batin Niko bergejolak
"Ya sudah ayo kita makan!!" Niko berusaha menutupi kegelisahannya lalu menggandeng Sania dan mengajak Sofwan masuk ke dalam.
"Seharusnya jangan Sania yang harus menanggung penyakit ini, biarkan aku saja yang menanggungnya karena dulu telah banyak membuat hidupnya menderita."
Sofwan mengikuti langkah Sania dan Niko masuk ke dalam dengan langkah yang gontai.
Di ruang makan semua telah menunggu termasuk anak-anaknya yang tampak bahagia kumpul satu dengan yang lain walaupun mereka saudara satu ibu tetapi berbeda ayah untuk sikembar dan untuk Aisyah satu ayah tetapi berbeda ibu. Mereka tetap tampak bahagia dan saling menyayangi satu dengan yang lain.
"Makanlah yang banyak sayang...agar kesehatanmu segera pulih." Niko mengambilkan makanan untuk Sania.
"Semoga kalian akan tetap bersama sampai maut memisahkan..." Doa tulus Sofwan terucap dari hatinya yang terdalam.
*
*
***Bersambung...
Hayo pasti ada di antara reader yang pernah mengalami mengikhlaskan orang yang masih dicintai untuk bersama dengan yang lain?😊😊🙏🙏
__ADS_1
Happy reading dan selalu tinggalkan jejaknya untuk penulis receh ini ya💖💖🙏🙏