Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 175 Bertemu Mantan


__ADS_3

"Tini dan suaminya mana, Sultan?? Kok kamu ditinggal sendirian saja?" Aku lalu duduk di dekatnya.


"Mereka pulang sebentar paling malam datang kesini lagi." Ucap Sultan sambil mencoba bangun dan duduk bersender di bednya.


"Kamu mau makan buah Sultan?" Aku membantunya duduk bersandar di bednya.


"Aku mau tapi mba Nia suapi ya?" Dia tersenyum menatap lekat padaku.


"Eleh...eleh...om Sultan ngambil kesempatan dalam kesempitan, mah!!" Dina menggoda Sultan.


"Dina ngga boleh begitu!! Jawab Sania yang sudah melihat wajah Sultan memerah.


Sania mengupas buah apel dan pir, mencucinya dan memotong-motongnya lalu meletakan di piring.


"Ah malas ngeliatin orang pacaran...Dina mau kekantin aja, bun bagi uangnya dong!!" Dina menadahkan tangannya padaku.


"Coba Dina ambilkan dompetnya om Sultan di atas nakas itu!!" Sultan menunjuk dompetnya.


"Jangan Sultan, kok yang sehat malah merepotkan!!" Kataku.


"Sudah ngga apa-apa...bawa kemari Dina?" Sultan menerima dompetnya lalu membukanya dan menyerahkan selembar uang seratusan pada Dina.


"Nanti kalau pacarannya sudah selesai telepon Dina ya om Sultan...bunda!!" Goda Dina sambil berlari keluar pintu takut di pelototi Sania.


"Ayo buka mulutnya Sultan!!" Aku menyuapinya pelan-pelan dan diterima Sultan sambil matanya tak lepas menatapku.


"Sultan, apa wajahku ada yang aneh?" Tanyaku bingung melihatnya tak berkedip menatapku.


"Kamu semakin hari semakin cantik!!" Sultan berucap pelan seolah bergumam tapi masih sempat tertangkap oleh indera pendengaranku.


"Mulai ya...sudah berani sekarang ya!!" Aku mencubitnya.


"Adududuh..." Sultan meringis lalu cepat menangkap tanganku.


Badanku tertarik kearahnya saat tanganku ditangkap oleh Sultan, netra kami bertatapan sangat dekat bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku.


"Aduh...aku kok jadi deg-degan gini sih?" Hal yang tak pernah kurasakan saat berdekatan dengan Niko.


Saat berdekatan dengan Niko aku hanya merasakan bahwa dia mirip dengan almarhum Miko, itu saja.


"Cantik!!" Gumam Sultan.


"Dasar playboy..." Kataku.

__ADS_1


"Aku tak pernah tebar pesona kemana-mana Nia, dari awal melihatmu aku jatuh hati padamu dan perasaan itu sampai kini masih tetap bertahan walaupun kamu tak pernah membalas perasaanku!! Mungkin ini saatnya aku mengutarakan semua perasaanku padamu walaupun aku selalu telat melangkah, selalu saja aku kedahuluan oleh laki-laki lain." Jawab Sultan.


Aku terdiam mendengar penuturan Sultan. Aku terlalu terkejut mendengar dia mengungkapkan isi hatinya padaku.


Sultan mendekatkan bibirnya pada bibirku. Aku diam tak tau mau apa karena tanganku masih digenggam oleh Sultan.


Tiba-tiba...


Ceklek...


"Weleh...kita datang di saat yang ngga tepat tho yah!!" Tini dan suaminya sudah berdiri di depan pintu.


Sultan dan Sania cepat-cepat menjauh. Sania langsung berdiri dan memandang pucat kearah pintu sementara Sultan memerah wajahnya karena sudah ketauan hampir mencium Sania oleh kakak dan iparnya.


"Kenapa mesti malu? Kami berdua akan mendukung jika kalian memutuskan untuk bersama!!" Kata Tini.


"Bu..."


Suami Tini yang tau bahwa Niko akan melamar Sania segera memberi isyarat pada istrinya dengan lirikan matanya.


Tapi dasar si istri yang seolah membutakan matanya malah berucap seperti tanpa dosa, "Lhoh...ngga apa-apa thoh yah, antara Sania dan Niko kan belum ada janur kuning melengkung, jadi Sultan masih punya kesempatan mendekati Sania...iya kan Sultan?" Dia meminta persetujuan adik iparnya itu.


"Kan..." Suaminya menjawab pertanyaannya.


"Kak Tini...mas..." Sultan tersenyum sambil menahan rasa malunya.


"Sudah ah...kok malah bahas itu sih?" Kata suaminya.


"Nia kesini tadi sendiri?"


"Ngga om, Dina tadi disogok sama om Sultan pakai uang seratus ribu supaya pergi kekantin agar om Sultan bisa berduaan dengan bunda." Dina nenjawab pertanyaan di muka pintu sambil cengengesan.


"Pinter juga adikku sekarang ya!!" Tini berucap sambil mengacungkan jempolnya.


Mereka bertiga tertawa menyisakan Sultan dan Sania yang diam seribu bahasa sambil saling melirik satu dengan yang lain.


*


*


"Yah, sebaiknya kita mencari penginapan malam ini...hujan turun deras sekali, akan sangat berbahaya jika kita tetap nekad untuk melanjutkan perjalanan dalam situasi dan kondisi jalan licin seperti ini."


Niko mulai menajamkan penglihatannya untuk mencari penginapan terdekat sementara Jonathan tetap fokus menyetir.

__ADS_1


"Pelan-pelan aja yah, sulit buat Niko melihat plang penginapan di jalan karena pandangan tertutup dengan derasnya air hujan."


"Stop...stop yah!! Itu ada losmen, sebaiknya kita menginap di sana saja." Niko menunjuk kesebuah losmen di pinggir jalan dan Jonathan segera menepikan mobil pick-upnya dan parkir di halaman losmen.


Mereka berdua bergegas turun menerobos derasnya air hujan.


"Selamat datang pak, mas di losmen kami" Seorang wanita seusia Niko menyapa mereka.


"Kami mau menginap semalam mbak, berapa sewanya?" Tanya Jonathan sementara Niko sibuk mengeringkan rambutnya. Mata hazelnya semakin menawan dengan wajahnya yang basah terkena tetesan air hujan.


Wanita itu lama memandang Niko seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu.


"Kamu Juan Niko Saputra kan? Aku Maya Ruswanti teman sekelasmu dulu!!" Wanita itu memanggil nama Niko.


Niko beralih mata dan mengawasi dengan lebih teliti wanita yang berdiri di depannya.


"Aku agak lupa sebab itu sudah lama sekali sih!!" Jawab Niko.


"Oh iya Maya...apa kabarmu?" Akhirnya Niko ingat lalu menjabat tangan Maya.


"Buruk...aku harus menikah dengan laki-laki lain setelah kepergianmu yang tiba-tiba meninggalkanku." Mata Maya berkaca-kaca sementara Jonathan tak bicara dan tetap fokus mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.


"Ibu??? Diva menangis terus nih!!" Seorang remaja lelaki berusia kurang lebih 15 tahun keluar sambil menggendong adiknya.


Niko dan Jonathan melongo terutama Jonathan. Dia seperti melihat Niko semasa SMP dulu ada di dalam diri remaja lelaki itu.


"Maya...kenapa dia mirip sekali denganku?" Suara Niko bergetar.


"Dia putramu!! Putra kandungmu!!" Seperti tersambar petir Niko langsung terduduk di kursi tak jauh dari tempat dia berdiri.


Remaja itu juga tak kalah kagetnya mendengar pengakuan sang ibu yang tiba-tiba.


"Apa bu? Apa Juma tak salah dengar? Ibu dulu bilang ayah Juma meninggal kecelakaan saat Juma masih di dalam kandungan ibu?" Remaja yang dipanggil Juma itu sampai menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.


"Juma, namamu itu bukan sekedar nama biasa tapi singkatan Juan Maya nama ayah dan ibumu yang digabung menjadi satu.


"Sebentar nak...saya semakin bingung pada apa yang telah terjadi di masa belasan tahun lalu...mengapa Juma ini kamu bilang adalah putra kandung Niko anak saya?" Tanya Jonathan akhirnya membuka suara.


"Karena yang saya tau Niko itu tak pernah punya pacar!!" Ucap Jonathan.


*


*

__ADS_1


***Bersambung...


Happy Holiday guys...jangan lupa untuk selalu mendukung novel recehku ini agar author tetap selalu bisa berkarya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2