
"Tempatnya tenang dan asri karena ada di perbatasan kota. Di samping rumah itu ada hamparan sawah, hawanya juga masih sejuk sepertinya cocok untuk keadaan ibu Sania sekarang."
"Ada juga sekolah tingkat SD, SMP, sampai tingkat SMA di sana.kalau tidak salah tak jauh dari rumah itu sepertinya PAUD deh!!" kata Hans.
"Berapa kamu mau menjual rumah itu, Hans?? asal jangan mahal-mahal aja ya!!" kata kak Della.
"Saya tak berniat menjualnya bu, ibu sekeluarga boleh tinggal aja di sana...sayang juga itu rumah jika tidak ada yang menempati, nanti jabuk percuma!!" kata Hans.
"Okelah Hans terima kasih ya...aku akan merundingkan dengan keluarga dulu!!" ucap kak Della.
"Jika memang sudah positif mau pindah, saya akan minta cuti dulu 2 hari mau bersih-bersih di sana, jadi ibu Sania begitu sampai di sana bisa langsung menempati tanpa harus membereskan lagi!!" kata Hans.
"Terima kasih sekali lagi atas perhatianmu ya, Hans!!" kak Della menepuk bahu Hans terharu.
*****
"Jhon...kemana istriku perginya?? mengapa pesanku lewat WA hanya tercontreng satu?" kata Riko galau malam itu.
"Saya tidak tau tuan muda, orang-orang kita tidak bisa bergerak mendekat karena orang-orang suruhan ayah anda ada di mana-mana!!" kata Johan sang asisten.
Riko tampak mondar mandir dengan gelisah di kamarnya. Ingin sekali dia pergi kerumah sang istri malam itu, tetapi dia takut keselamatan keluarganya akan terancam.
"Kamu kemana sih, mah??? sejak sore pesan papah hanya dibalas singkat saja setelah itu pesan papah selanjutnya hanya contreng satu berarti ponsel mamah sudah ngga aktif mulai sore tadi."
"Apakah mamah masih dalam keadaan berkabung sekarang ini?? maafkan papah yang tak bisa ada di samping mamah ya!!" Riko tampak sangat frustasi.
"Besok papah akan kembali ke Kuala Lumpur, mah!! sekarang kehidupan papah jauh lebih buruk, semenjak papah harus terpaksa menikahi Afifah demi keselamatan keluarga kita, hanya itu yang bisa papah lakukan agar mamah, kak Della dan anak-anak bisa terhindar dari bahaya."
*
*
Setelah seminggu dirawat, kesehatan Sania berangsur pulih!! itu semua berkat dukungan moril dari orang-orang terdekatnya.
Kak Della sudah membicarakan pada Sania dengan perlahan tentang rencana kepindahan mereka agar Sania tidak terus menerus dilanda stress dan ketegangan.
Karena tak mempunyai pilihan lain, akhirnya Sania menyetujuinya, itu berarti anak-anak juga akan pindah ke sekolah yang baru.
Hanya Tini dan suaminya yang diberi tahu dan juga Hans tentunya karena mereka akan tinggal di rumah Hans. Bahkan seluruh karyawan kafe tak ada yang tau, pengurusan dan penangan kafe sementara ini diambil alih oleh Hans dan suami Tini, karena kondisi Sania yang harus butuh lebih banyak ketenangan.
Kak Della bergerak cepat mengurus surat pindah ketiga ponakannya setelah tau sekolah mana yang akan dituju di sana.
Pagi-pagi sekali Hans datang dengan sepeda motornya dan menaruhnya di rumah lalu menggunakan mobil peninggalan Miko untuk mengangkut barang seadanya, karena di rumah Hans juga masih ada kulkas, lemari, televisi dan kasur. Jadi barang-barang milik Sania masih banyak ditinggal di rumah.
Suami Tini mengikuti dari belakang dengan motor agar Hans nanti bisa balik bareng dengan dia.
"Wah...rumah om Hans ini mungil tetapi nampak asri ya, tante??" kata Dina memandang kagum pada suasana desa yang masih asri jauh dari perkotaan.
Mereka saling bahu membahu menata barang-barang. Saat Sania berinisiatif untuk memasak makan siang, Hans melarangnya.
"Jangan bu, biar saya aja...ibu istirahat saja...ibukan baru sembuh, kondisi ibu belum pulih benar!!" kata Hans.
"Tetapi saya ngga enak sejak tadi hanya jadi mandor saja!!" kata Sania.
"Sudah...ibu turuti dulu nasehat saya deh!!" Hans lalu mengambil alih tugas Sania untuk memasak makanan agar mereka bisa bersantap siang itu.
Menjelang sore Hans dan suami Tini kembali ke kota.
"Mas, tolong liatkan rumahku di sana, ya!! dan Hans, tolong handle dulu masalah kafe ya....saya percaya pada kalian berdua." Kata Sania sebelum kedua orang yang baik hati itu meninggalkannya.
"Kamu juga Nia, baik-baik di sini ya!!" pesan mas Kirman suami Tini.
__ADS_1
"Bu, ibu baik-baik di sini ya...jangan pikirkan yang berat-berat dulu biar ibu cepat sembuh!!" Hans menatap iba pada bos nya itu. Jujur berat rasanya dia meninggalkan wanita yang telah berhasil mencuri hatinya itu tapi demi kesembuhannya, apa boleh buat.
"Minggu depan kalau libur saya mampir kemari lagi, bu!!" kata Hans.
"Ngga usah terlalu repot-repot Hans...perjalanan bolak balik memakan waktu 6 jam, kasihan kamu!!" ucap Sania tulus.
Hans hanya tersenyum tapi dalam hatinya membatin, "untukmu...apapun akan aku lakukan, bu!!"
Tinggal lah Sania sekeluarga di sini. Juned dan Syifa semenjak tadi manyun melulu.
Mereka keberatan jika harus pindah rumah dan pindah sekolah, karena mereka akan kehilangan teman-teman mereka.
Sedangkan Dina anaknya memang cuek dan dia memang tak punya banyak teman, jadi tak masalah baginya mau pindah kemanapun, mau kekutub utara atau kehutan belantara Afrika sana, dia tidak peduli.
"Kita akan memulai hidup baru kita di sini!!" ujar kak Della.
"Karena di sini letaknya dekat dengan kantor kelurahan dan SMP, tante mau buka tempat fotokopi dan toko kecil-kecilan buat menyambung hidup kita.
"Kak kalau nanti papahnya Raftar nyariin kita gimana???" kata Sania pelan.
"Sudahlah Nia, jika kalian memang jodoh pastilah bisa bertemu kembali...lupakan Riko lupakan semua yang bisa memperburuk keadaanmu kita memulai hidup baru di sini dengan tenang!!" ucap kak Della.
Sania hanya terdiam lalu menganggukan kepala.
*
*
"Bagus ya, bang...kau berjanji tak lama kat Indonesia, ini sudah 3 hari baru balek!! ketemuan lagi kah dengan istrimu tuh!!" Afifah sudah berkacak pinggang di ruang tamu di mansion yang luas itu.
"Heh Afifah...saya baru saja pulang dari mengurus perusahaan di Indonesia...bukannya suami disambut baik-baik, kok malah mau diajak berantem!!" kata Riko ketus. Kata yang tak pernah dia keluarkan selama bersama sang istri tercinta.
"Ini yah, janjinya pergi cuma sebentar, ini mau 4 hari baru kembali!!" adu Afifah pada ayah mertuanya.
"Kamu juga Riko...kenapa lama sekali ke Indonesia?? bertemu lagikah dengan mantan istrimu itu??" kata pak Baskoro membela menantunya.
"Ayah...Riko mau menikahi Afifah bukan karena cinta...tapi karena terpaksa, sebab jika Riko tak mengikuti permintaan ayah, maka istri dan anak-anak Riko jadi taruhannya!! tak ada mantan istri karena Sania masih istri Riko yang sah...persetan dengan kalian semua!!"
Riko yang memang sedang galau dan frustasi karena menurut laporan anak buah Johan, rumah Sania yang lama sudah tak berpenghuni, menurut tetangga sekitar mereka sudah pindah tapi entah kemana tak ada yang tau!!
Dia bertambah galau dengan segala ocehan Afifah yang menurutnya tak bermutu itu yang seolah-olah mau menguasai hidupnya.
Brakkk....
Riko membanting berkas yang dia bawa kelantai dengan keras lalu melangkah masuk ke kamarnya dan ...
Brakkk...
Pintu kamar yang tak bersalah itu dia banting dengan keras dan menguncinya dari dalam.
Riko...Riko...
Pak Baskoro merah mengelam wajahnya. Berkali-kali pintu kamar diketuk bahkan digedor tetapi sang empunya kamar malah menyetel musik keras-keras.
"Dasar anak kurang ajar!!" geram pak Baskoro.
Ibu Intan hanya menatap dari lantai dua melihat keributan di bawah. Hatinya terasa pedih melihat penderitaan putranya yang mengorbankan kebahagiaan dan perasaannya agar ancaman ayah nya dan Afifah dapat dicegahnya.
"Ayah..." rengek Afifah.
"Kamu sabar ya...Riko memang keras kepala, kita harus mencari cara untuk menjinakan dia." Kata pak Baskoro.
__ADS_1
Ahhhhh...
Riko berteriak di sela musik rock yang dia setel
"Kamu pergi kemana, mah??? Raftar...papah kangen kalian!!" teriaknya.
Riko sengaja mengunci pintu dan menyetel musik sekeras mungkin agar terbebas dari ayahnya dan istri yang tak pernah diharapkannya itu.
Afifah membanting-bantingkan kakinya kelantai dengan kesal.
"Apa sih istimewanya wanita Indon itu?? aku tak kalah cantik dibandingkan dengan dia...aku lebih muda, aku kaya...ahhhh!!" teriakan Afifah menggema.
Pernikahan terpaksa yang dilakukan oleh Riko dan Afifah bermula saat Afifah main tempat saudaranya di Balikpapan.
Secara tak sengaja dia melihat Riko sambil menggendong seorang bayi berumur 6 bulan dan tangan sebelahnya merangkul seorang wanita. Mereka bertiga tampak kompak dan mesra sekali.
Darah Afifah terasa mendidih melihatnya. Dia berteman dengan Riko sejak SMP dan sudah jatuh cinta sama Riko sejak lama tapi tak pernah Riko memperlakukannya secara istimewa, sementara wanita itu?
Afifah mengamati mereka bertiga sambil merekam mereka.
"Dia memang cantik..." bisik Afifah perlahan.
"Dia anggun dan keibuan, pantas Riko tergila-gila padanya walaupun usianya jauh di atas Riko tetapi sama sekali tak nampak perbedaan itu."
Bermodal video itu Afifah menekan Riko dan mengancamnya akan membeberkan semua pada ayah Riko di Malaysia.
Mau tak mau Riko menurut dengan pengajuan syarat dari Afifah dengan perasaan berat. Satu yang menjadi tujuannya, yaitu menyelamatkan keluarganya.
*
*
"Apa??? teriak Niko dan Juma bersamaan saat Jonathan mengatakan bahwa keluarga Sania sudah pindah dari sana.
Tadi siang Jonathan bermaksud menjemput si kembar dari sekolahnya seperti biasa jika malam minggu kedua cucunya itu menginap di rumah ayah mereka yang di tempati Niko dan Jonathan.
Tetapi alangkah kagetnya Jonathan saat guru sekolahnya bilang bahwa si kembar sudah 3 hari tidak sekolah di sana lagi.
Jonathan bergegas menuju rumah Sania dengan motornya. Dia mendapati rumah begitu sepi dan lengang. Setelah beberapa kali mengetuk akhirnya ada pak RT lewat dan menanyakan keperluan Jonathan.
Pak RT bilang jika keluarga itu sudah pindah 3 hari yang lalu dan tak seorangpun tau mereka pindah kemana.
Mendengar itu Jonathan bergegas pulang dan memberitahukan semua pada Niko dan Juma.
Juma memang 3 hari ini tak masuk sekolah karena asam lambungnya kambuh lagi, jadi dia tidak ada bertemu dengan Dina sama sekali.
Di sekolahpun Nathan seperti orang kebakaran jenggot saat tau gadis masa sekolah dasarnya itu pergi dan pindah tanpa pamit.
Tak ada seorangpun yang tau dia pindah kemana. Hanya menurut kepala sekolah, tantenya lah yang mengurus surat pindahnya.
Niko dan Juma sama-sama gusar, sama-sama kehilangan dan sama-sama tidak tau harus mencari kemana.
*
*
***Bersambung...
Akankah mereka semua yang kehilangan Sania bisa menemukannya kembali?
Ikuti terus kisah perjalanan sang kutukan cinta ya!!🙏🙏
__ADS_1