Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 163 Bertemu Sania


__ADS_3

"Nia, kami bertiga tidak akan memaksamu untuk pergi dengan kami, dan jika kamu sudah siap maka kami akan datang menjemputmu."


Ibu dan bapak memelukku erat. Lalu Miko juga memelukku erat. Diciumnya pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.


"Ayah kangen banget sama bunda!!" Bisiknya ke telingaku.


"Bunda baik-baik saja ya juga jaga anak-anak dengan baik, suatu hari nanti pasti ayah akan datang lagi menjemput bunda dan kita akan bersama-sama lagi seperti dulu."


"Kami pergi dulu ya Nia!!" Lalu bapak, ibu dan Miko hilang dari pandanganku.


*


*


"Bundamu sudah tidur?" Tanya Niko saat melihat Dina kembali ke acara pengajian.


"Sudah om, bunda tampaknya sangat lelah sekali." Kata Dina.


Sementara Sultan dan Sofwan menatap Niko dengan tajam.


"Kamu cemburu?" Kata Sultan melihat Sofwan mengepalkan tangannya.


"Ngga" Jawab Sofwan singkat.


"Ngga salah lagi maksudmu?" Tanya Sultan lagi. Dia bingung mau di bilang cemburu, dia bukan siapa-siapanya Sania...di bilang ngga cemburu tapi seperti ada bara api di dalam dadanya.


Aku terbangun setelah pengajian hampir selesai. Perlahan aku bangun dari tempat tidur. Kepalaku terasa sakit sekali, dan seluruh persendianku seperti tak berfungsi.


Tapi tentu saja aku tak enak jika lama-lama meninggalkan acara apa nanti kata para tamu.


Aku duduk di sebelah tiga sahabatku. Sebentar lagi acara hampir selesai. Mereka bersiap mengeluarkan kue-kue untuk para tamu.


"Kamu sudah ngga apa-apa Nia? Kalau masih sakit sebaiknya istirahat saja...toh semua kotakan kue dan nasi sudah dipersiapkan tinggal dibagikan saja."


"Aku sudah ngga apa-apa kok Tin...sudah agak mendingan." Jawabku.


"Wajahmu masih pucat Nia. Sebenarnya kamu sakit apa? Sudah kamu periksakan ke dokterkah?" Tanya Wati.


"Belum...aku belum ada waktu!!" Jawabku.


"Kalau punya penyakit itu cepat diperiksa, Nia...jadi cepat ketahuan sakit apa dan cepat diobati juga jangan nunggu sampai parah." Tuti yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.


Para tamu masih menikmati hidangan dan aku masih duduk bersandar sendiri sambil memperhatikan ketiga sahabatku yang sedang sibuk. Sikembar bersama kakak-kakak dan kakeknya.


"Bunda..." Sebuah suara seorang bocah perempuan menyapaku.

__ADS_1


Aku berpaling dan melihat bocah kecil yang cantik berdiri sambil memeluk tangan seseorang.


"Mas Sofwan...." Aku mencoba berdiri tapi segera terduduk kembali karena tubuhku masih terasa lemas.


"Tidak usah berdiri dek, duduk aja...mas hanya mau memperkenalkan Aisyah putri mas padamu!! Dia sering sekali menanyakanmu dan ingin sekali bertemu denganmu."


"Assalamualaikum cantik...sini dekat dan duduk sama bunda!!" Aku mengulurkan tanganku dan disambut gembira oleh Aisyah.


Mas Sofwan juga ikut duduk tak jauh dariku. Memperhatikan keakraban kami berdua. Aisyah langsung akrab dan duduk dipangkuanku.


"Dek, wajahmu pucat sekali...kamu sakit apa? Sudah kamu periksa ke dokter?" Rupanya tertangkap juga oleh mata Sofwan wajahku yang pucat pasi.


"Aku hanya kecapean mas, tidak ada yang perlu di khawatirkan kok!!" Jawabku. Lalu aku melanjutkan mendengarkan cerita Aisyah dan sesekali menimpali ucapan bocah lucu itu.


"Mas sama Aisyah tinggal di mana sekarang? Kok cuma berdua? Anggita ngga diajak kemari juga kah?" Aku mengalihkan netraku pada mantan suamiku itu.


"Mas dan Aisyah tinggal di komplek perumahan Residence, mamanya Aisyah tidak di sini dek, mas cuma berdua saja tinggal di Balikpapan dengan Aisyah."


"Ohhh nanti Anggita menyusul belakangankah ke Balikpapannya?" Tanyaku sambil menyuapi potongan kue ke mulut Aisyah.


"Anggita tidak mungkin kemari dek, dia sudah menikah lagi!!" Jawab Sofwan pelan sambil menunduk.


Aku termangu mendengar ucapannya.


"Seperti inikah alur kehidupan kita masing-masing mas? Dulu kita berpisah dan kemudian menikah dengan pilihan kita masing-masing...lalu akhirnya berpisah lagi!!"


"Niko tampaknya sangat perhatian padamu, kenapa kalian tidak menikah saja? Mas lihat Niko orangnya sangat baik dan sangat perhatian."


"Apa sih mas? Kami masih tetap iparan jadi wajarlah jika kami baik satu dengan yang lain." Jawabku.


Wajah Sofwan sedikit berseri mendengar jawabanku barusan.


"Dek, masih adakah kemungkinan untuk mas membawamu kembali membina rumah tangga kita seperti dulu?" Bisik hati Sofwan.


"Unda..."Sikembar datang menghampiriku.


"Sini kenalan dulu sama kakak!!" Lalu aku memangku mereka bertiga dan saling mengenalkan mereka.


"Bunda di sini? Halo siapa bocah cantik ini?" Niko datang dan menyapa kami.


"Ini anak siapa bun?" Niko mengusap rambut Aisyah.


"Anak mas Sofwan!!" Aku menunjuk pada mas Sofwan yang duduk tak jaub dariku.


Niko saling bersitatap dengan Sofwan. Lalu mereka tersenyum dan saling mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Niko ini saudara kembar Miko, mas...dan mas Sofwan adalah bapak dari anak-anakku Niko." Aku memperkenalkan mereka.


"Wah...kebetulan sekali!! Datang kemari cuma berdua mas? Istrinya tidak ikut?" Tanya Niko.


"Kami sudah bercerai!!" Jelas Sofwan.


Raut wajah Niko berubah.


"Kamu tidak bermaksud mengajak Sania rujuk kembalikan?" Tanya Niko to the point.


"Niko??? Apaan sih?? Ngga lucu tau!!" Aku melototkan mataku padanya.


"Wajar aku bertanya Nia, aku bertanggung jawab pada kalian...aku tak mau terjadi apapun lagi padamu dan anak-anak." Niko menjawab dengan mantap.


"Kamu sendiri? Apakah kamu berniat menikahi mantan istriku ini?" Tanya Sofwan tak mau kalah.


"Kalau memang jodohku adalah dia, kenapa ngga? Lagi pula aku mengemban amanat untuk menjaga ipar dan para keponakanku."


"Niko!!" Seketika wajahku memerah mendengar perkataan Niko barusan.


Lalu Niko berdiri dan berlalu dari depan kami untuk menyalami tamu yang bersiap mau pulang.


"Dek...mas juga mau pulang dulu ya!! Besok-besok jika ada waktu mas akan bawa Aisyah lagi kemari, bolehkan?"


"Aisyah belum mau pulang pah...Aisyah mau main di sini sama adek Miko dan Miki sama kakak-kakak yang lain...di rumah Aisyah kesepian pah!!" Aku sedih mendengar bocah kecil itu berkata demikian.


"Sayang...besok-besok Aisyah boleh kok main kemari, sekarang Aisyah pulang dan bobo dulu ya!!" Aku ikut membujuknya.


"Betul besok-besok Aisyah boleh main kemari lagi bunda?" Tanya Aisyah ragu.


"Boleh dong!" Jawabku.


"Bolehkah Aisyah menganggap bunda Sania sebagai bundanya Aisyah juga?" Aisyah menatapku penuh harap.


"Boleh Aisyah!! Aisyah boleh kok menganggap bunda Sania sebagai bundanya Aisyah!!" Aku tersenyum sambil membelai rambutnya.


"Terima kasih bunda!!" Aisyah memelukku erat. Pelukan kasih sayang yang sudah lama tidak dirasakannya dari ibu kandungnya sendiri.


Aku merasa kasihan melihat Aisyah, aku jadi teringat ketiga anak-anakku dulu saat bapak mereka pergi meninggalkan mereka bertiga. Di saat mereka butuh kasih sayang dari bapaknya, tetapi keadaan telah memisahkan mereka.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak untuk menjadi penyemangatku.


Like, komen, vote, favorit dan rate nya.🙏🙏😊😊


__ADS_2