Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 118 Karma Berbicara


__ADS_3

"Bun...katanya mau makan, ayo!!" Dina menjenguk dari depan pintu kamar.


"Tante Tini sudah menggelar tikar di ruang tamu jadi kita bisa makan barengan."


"Ayah bunda tinggal dulu ya...nanti kalau ayah sudah bangun ntar bunda suapi."


"Suamimu ngga diajak makan sekalian kah Nia? Kata Tini.


"Miko lagi tidur Tin, nanti kalau sudah bangun baru ta' suapi."


"Manjanya...ngga bisakah dia makan sendiri? Kayak anak kecil aja disuapi segala." Sofwan menggerutu.


"Idih...ada yang cemburu ni ye..." Goda Wati.


"Sudah sebaiknya kita makan dulu ya, ngga baik ribut-ribut sambil makan..." Tini menambahkan lagi.


"Bang Sofwan, kata Juned mau balik ke Yogya lagi sore ini ya? Emang istrinya ngga mau diajak tinggal di sini lagi?" Tuti bertanya pada Sofwan.


"Ngga Tuti, semenjak Anggita di amputasi kakinya, dia tak mau lagi diajak kembali ke sini."


"Jadi ngga tau lagi mau balik ke sini nya kapan?"


"Tapi ya ngga apa-apa juga sih...anak istri bang Sofwan kan ada di sana...di sini kan cuma mantan istri dan anak-anak juga sudah besar-besar di sini, lagian kan sudah ada Miko yang menjaga...Sultan juga ikut menjaga ya kan?"


"Hah..." Sultan tergagap mendengar perkataan Wati.


Sultan melirik ke arah Sofwan yang mengelam wajahnya.


"Adawww..." Wati meringis saat Tini mencubit bahunya.


"Tapi omonganku benarkan? Mereka sekarangkan sudah sama-sama menikah dan masing-masing sudah punya keluarga sendiri!!"


"Hadeuh...ngga peka banget sama perasaannya orang ni anak, asal jeplak aja mulutnya kayak rem blong." Tuti menepuk jidatnya.


Sofwan tampak murung mendengar perkataan Wati. Ada rasa pedih di lubuk hatinya yang paling dalam. Dia sadar bahwa dia bukan siapa-siapa lagi bagi kehidupan Sania.


"Sultan kalau makan itu makan aja, jangan melirik terus ntar salah masuk itu nasi."


"Apa sih kakak ini? Sultan melirik keluar sana kok..."


"Keluar mana dulu...yang duduk dekat pintu kah?" Kata Wati lagi.


"Yang duduk dekat pintukan bunda kita tante!! Jawab Juned spontan.


Wajah Sultan memerah. "Eh wajah om Sultan kayak tomat mateng...." Kata Syifa sambil menunjuk wajah Sultan.


Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. "Jam berapa mas Sofwan berangkat ke bandara?"


"Pesawatnya berangkat jam 7 malam nanti, tapi mas berangkat dari sini jam 5 sore."


"Wih yang sudah ngga sabar untuk pulang ketemu anak istri!!" Kataku menggodanya.


"Bukan gitu dek, supaya ngga terjebak macet aja sih!!"


"Andai kamu tau dek, berat rasanya hati mas meninggalkanmu dan anak-anak untuk waktu yang mas sendiri tidak tau kapan bisa datang ke kota ini lagi."

__ADS_1


"Tapi apa daya, keadaan yang memaksa harus demikian, mungkin mas disuruh oleh keadaan untuk sedikit demi sedikit belajar melupakanmu dan belajar mengikhlaskanmu hidup bersama dengan yang lain."


"Pak, kapan bapak mau main kemali lagi?" Kata Syifa.


"Bapak belum bisa memastikan kapan nak, cuma bapak janji untuk sering-sering menghubungi kalian."


"Bun...." Miko muncul di muka pintu.


"Oh ayah...sudah bangun? Sini makan bareng dengan kita!!" Kataku.


Miko duduk disampingku. Wajahnya masih pucat pasi.


"Ayah mau makan apa? Nanti bunda ambilkan ya!!"


"Suapi ya bun, "Katanya manja.


Sofwan dan Sultan melirik tajam pada Miko.


"Ehemmmm...." Dina mendehem.


"Ayah makan nasi sama sayur aja bun!! Ngga usah pakai ayam gorengnya."


"Kok tumben? Biasanya ayah suka banget makan ayam goreng?"


"Ayah mau diet bun..." Kata Miko sambil tersenyum.


Kusuapi dia sedikit demi sedikit walau sambil diiringi tatapan horor dari Sofwan dan senyuman sinis dari Sultan.


Tiba-tiba....drrttt...drrttt, ponsel Sofwan berbunyi.


Sofwan tersandar di dinding dengan lemas dan wajah pucat pasi.


"Ada apa mas? Kak Juwita kenapa?" Kataku.


"Mobil kantor yang membawa orang kantor kepuncak, masuk ke jurang dek!!"


"Di dalamnya ada termasuk kak Anya dan kak Nuri beserta suami mereka."


"Kak Nuri dan kak Anya mengalami cedera berat tapi seperti nya mereka masih bisa diselamatkan, hanya saja kak Anton dan kak Deni langsung meninggal di tempat."


"innalillahi wa inna lillahi rajiun..." Kata kami serempak.


"Sepertinya mas harus menunda kepulangan mas ke Yogya dek, mas mau pulang ke rumah kakak dulu...kata kak Juwita, jenazah ke dua kakak ipar mas akan di makamkan hari ini juga."


"Mas mau siap-siap dulu, jika sempat mas mampir lagi kemari jika tidak sempat maka mas langsung balik ke Yogya lagi."


Mas Sofwan balik ke hotel tempat dia menginap untuk kemudian langsung memesan taxi online dan pulang ke rumah kakaknya.


"Kasian ya Sofwan, perjalanannya pulang ke kota ini malah jadi penghantar untuk ke pemakaman kakak iparnya."


"Kayaknya itu karma buat para maklampir itu deh..." Bisik Wati.


"Jangan begitu, ngga baik menceritakan orang lain yang sedang tertimpa musibah!!" Kataku.


*

__ADS_1


*


Sofwan tiba di rumah kediamannya hampir menjelang maghrib. Jenazah ke dua kakak iparnya sudah dimandikan dan di kafani.


Kak Nuri dan kak Anya masih di rawat di ruang ICU.


Juwita menyambut kedatangan adik lelakinya. "Kamu sendiri kemari? Anggita ngga ikut?"


"Semenjak Anggita kecelakaan, dia tak pernah mau diajak kemana-mana lagi, kak!!"


"Aku ke kota ini karena mewakili mertuaku untu ikut rapat para pemegang saham."


"Terus aku singgah juga ke rumah mantan istriku untuk bertemu dengan anak-anakku."


"Bagaimana kabar Sania dan anak-anakmu?"


"Mereka baik kak, sekarang Sania sudah punya bayi lagi hasil pernikahan ke duanya."


"Syukurlah, semoga kali ini dia dan anak-anak bahagia Sofwan."


Sofwan diam saja hanya dalam hatinya membatin, "Aku tak bahagia melihat mereka bahagia kak, karena aku masih sangat mencintai Nia."


"Kasihan, bagaimana nanti setelah kak Nuri dan kak Anya sadar dan mengetahui suaminya telah tiada ya kak!!"


Juwita hanya bisa menggelengkan kepala saja.


Malam itu juga pemakaman dilaksanakan. Suasana duka masih terasa apalagi anak-anak dari kakak-kakakku terus menangis.


*


*


Malam ini Anggita menelponku dan merengek memintaku untuk segera pulang.


"Sabar ya mah, keluarga besar papah sedang berduka di sini ngga enak papah main pergi gitu aja..."


"Tapi mamah kangen banget sama papah!! Sudah lima hari papah pergi, perasaan mamah selalu ngga enak pah!!"


"Ngga enak gimana mah?"


"Mamah sering bermimpi kalau papah mau kembali lagi sama mantan istri papah itu..." Rengek Anggita.


"Ya ngga mungkinlah mah, mantan istri papah itukan sudah menikah dengan pak Miko." Aku mencoba membujuknya walaupun hatiku berdegup saat mendengar Anggita mengatakan demikian.


""Papah tau kan kalau mamah itu sangat mencintai papah, jika terbukti papah selingkuh lagi lebih baik mamah mati saja."


"Karena mamah itu sadar mamah tak sempurna lagi sebagai seorang istri..." Terdengar isakan dari sana menandakan Anggita sedang menangis.


"Papah usahakan untuk secepatnya pulang setelah urusan di sini selesai, mamah sabar dulu ya..."


***Bersambung...


Author mengucapkan "Selamat Hari Raya IDUL ADHA 1443 H Mohon Maaf Lahir Dan Batin Ya..."


Dan jangan lupa selalu dukungan like, komen, vote, favorit dan rate nya....Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2