
Dia bangkit dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar dan mencoba melihat ke bawah.
Ternyata Aisyah bersama baby sitter dan eyang kakungnya sedang bermain tebak kata, siapa yang kalah akan dicoret wajahnya pakai kapur.
Ingin rasanya dia ikut bergabung dengan mereka untuk bermain, bercanda dan tertawa bersama.
"Assalamualaikum!!"
"Waalaikum salam!!"
Ternyata Sofwan sudah pulang bekerja dan dia ikut nimbrung dengan anak, mertua dan baby sitternya.
"Wan, kamu tau ngga tadi Anggita menyusulmu ke perusahaan?" Tanya Pak Irawan.
"Ngga yah, kok ngga ada ketemu ya?" Sahut Sofwan. Karena dia memang sama sekali tidak berjumpa dengan Anggita.
"Ya sudah, Sofwan mau mandi dulu yah!! Badan Sofwan sudah gerah dan lengket."
Tak sengaja mata Sofwan memandang ke lantai 2, dilihatnya Anggita berdiri mematung di sana.
Lalu Sofwan pura-pura lagi melihat kearah lain, dia sudah malas bersitatap dengan istrinya itu.
*
*
"Bagaimana rasanya kembali ke rumah lama, mba?" Sultan bertanya sambil membantu beres-beres.
Dari pagi sampai sore tiga lelaki tampan itu, ayah Jonathan, Niko dan Sultan sangat sibuk membantuku memindahkan barang.
"Nia, semua sudah beres!! Ayah dan Niko pulang dulu ya! Kita masih mengambil beberapa barang dari toko mau dibawa ke rumah."
"Iya ayah!" Jawabku.
"Nia, jika kamu atau anak-anak ada perlu apa-apa, jangan sungkan untuk menelpon ya!" Pesan Niko.
"Sebenarnya aku sangat keberatan jika kamu dan anak-anak tinggal jauh dariku dan ayah, tapi aku juga menghormati keputusan yang kamu buat."
"Kamu jaga diri baik-baik ya, juga anak-anak! Ingat jangan sungkan menelpon jika butuh bantuan." Pesannya lagi.
Kutatap mata hazel milik Miko yang ada pada Niko, hanya itu yang bisa kulihat darinya selain kedua anak kembar kami.
"Kamu tenang aja ko, aku juga akan membantu menjaganya! Kata Sultan.
Niko mengangguk.
__ADS_1
"Titip para ponakanku dan juga istri saudaraku ya Sultan!" Kata Niko dan ayah Jonathan sebelum pulang.
Juned dan Syifa juga tidak banyak bertanya mengapa harus pindah. Karena mereka juga merasa kehilangan ayah mereka dan selalu terbayang terus jika masih tetap tinggal di sana.
"Sultan, terima kasih banyak ya! Kamu sudah terlalu banyak membantu, mulai dari suamiku masih hidup sampai dia tiada...aku sangat bersyukur bisa mempunyai sahabat sebaik dirimu." Aku menggenggam erat tangannya.
Dia menatap mata Sania dalam-dalam.
"Sahabat? Dia hanya sekedar menganggapku sahabat saja! Bagaimana mungkin aku mau menyampaikan amanat dari almarhum Miko, kalau sedikitpun dia tak mempunyai perasaan apapun padaku." Batin Sultan.
"Sultan? Kok kamu malah bengong?" Kataku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya berusaha mencari tau penyebab dia nampak bengong.
Wajahnya nampak merah merona. Cepat-cepat dia menarik tangannya yang kugenggam.
"Kamu kenapa sih? Sakitkah?" Aku malah yang bingung melihat sikapnya yang mendadak aneh begitu.
"Ngga...aku ngga apa-apa kok!! Ya sudah aku pulang dulu ya mba, telepon aja jika ada perlu apa-apa." Lalu dia cepat-cepat berbalik dan berlalu dari hadapanku.
"Kenapa sih tu orang? Kelakuannya kok jadi aneh begitu?" Lalu aku bergegas masuk ke dalam menyusul anak-anakku
Sementara itu....
"Kenapa kamu? Kok wajahmu merah sampai ketelinga?" Tini menyapa adik iparnya yang tengah duduk di teras sendirian.
"Ngga kak, Sultan ngga apa-apa kok!" Jawabnya gugup.
Sultan tak menjawab, dia langsung berlari ke belakang menuju toilet. Dia berselisihan dengan kakak laki-lakinya di dapur. Dengan heran kakaknya menyapa sang istri.
"Adikmu iku ono opo? Kok ngrusah-ngrusuh?" Tanyanya pada sang istri.
"Kebelet" Jawab istrinya singkat.
Di dalam toilet, Sultan berulang kali mencuci mukanya untuk menghilangkan rona merah di wajahnya.
"Dasar norak...baru juga dilihat sama mba Nia dari dekat gitu, mukaku sudah merah semua bikin malu saja." Gerutunya.
"Sebenarnya aku ini kenapa sih? Aku ini hanya sekedar kasihan? Suka? Atau Cinta? Aku bingung sama perasaanku sendiri."
"Haruskah aku sampaikan amanat Miko sebelum dia meninggal kepada mba Nia ya?" Tapi aku bingung harus mulai dari mana, dan takut jika nanti dia menolakku."
"Aku tak mau persahabatan kami yang sudah seperti saudara harus terputus hanya karena masalah sepele."
"Aku ngga siap jika mba Nia menjauhiku dan menghindari aku, aku terlalu sayang padanya dan juga pada anak-anak."
"Hoi...Sultan...cepetan di kamar mandinya...kakak sudah kebelet mau buang air kecil nih, sudah setengah jam kamu di dalam sana...ngapain aja sih? Mengeram telur dinosauruskah?" Tini mengetuk pintu kamar mandi tak sabaran.
__ADS_1
"Isshhh...kamu ini kalau mau tidur itu di kamar, jangan di toilet!!! Noh di kamarmu sana!!" Lalu tanpa persetujuan adik iparnya itu Tini menyerobot masuk.
Sultan cepat-cepat masuk dan melaksanakan sholat maghrib lalu dia keluar untuk makan malam bersama kakak dan iparnya.
"Kenapa kamu leh???" Tanya mas nya.
"Yah, ngga perlu ditanya lagi!!! Kalau orang lagi jatuh cinta itu sering kali kelakuannya aneh." Celetuk istrinya.
"Jatuh cinta sama siapa lagi kamu Sultan?" Tanya mas nya sambil menyodorkan piring pada istrinya.
Lagi-lagi bukan Sultan yang menjawab, tapi kakak iparnya.
"Yah memang selama tinggal sama kita, pernahkah adikmu itu dekat sama wanita? Hanya ada satu wanita yang akrab sama dia!! Siapa lagi kalau bukan rondo yang baru di tinggal suaminya itu, pesonanya membuat Sultan sering klepek-klepek." Tini sangat senang menggoda adik iparnya itu apalagi jika melihat wajahnya yang semakin memerah.
Sultan hanya menunduk sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.
Drrrttt....drrttt
Ponsel Tini bergetar.
📞"Assalamualaikum...oh Sania, ada apa?"
📞"Tin, tolong kasih tau Sultan tadi ponselnya tertinggal
📞"Oh, ponselnya Sultan tertinggal? Kok bisa sih? Sepertinya dia grogi ada di dekatmu!!"
📞"Iya kali ya!!! Padahal aku lho ngga makan orang!!"
📞"Hatinya sudah termakan olehmu, Nia!!!
Uhuk...uhuk...Sultan batuk-batuk mendengar percakapan kakak iparnya itu.
📞"Nah itu orangnya sampai batuk-batuk..ya sudah Nia biar nanti Sultan yang akan mengambil kesana...dia senang kok walaupun harus sepuluh kali sehari bolak-balik ke rumahmu.
Percakapanpun terputus. Wajah Sultan sudah seperti buku gambar diberi spidol merah sangking malunya.
"Kenapa juga ponsel sialan itu bisa tertinggal sih? Pantas aja tadi kucari-cari ngga ada!! Bikin malu saja lho tuh ponsel!! Batin Sultan dengan kesal.
"Sana setelah makan pergi ambil ponselmu yang tertinggal, siapa tau ada pesan penting yang masuk di ponselmu itu."Mas nya buka suara.
*
*
***Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya....terima kasih😊😊🙏🙏