Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 107 Sadarlah Bunda


__ADS_3

"Sebaiknya anak-anak di suruh pulang dulu kak Tini, kasihan kalau di sini...apalagi Syifa." Sultan bicara sambil memeluk Syifa yang masih rewel.


"Biar saya yang berjaga di sini, Sania istri saya." Miko menyela ucapan Sultan.


"Biar Sultan aja yang jaga dulu Miko, kamu kan punya dua istri...jangan sampai istrimu yang satu lagi merasa terabaikan," sindir Tuti.


"Maksudnya apa kok berkata begitu, mba? Saniakan istri saya bukan istri Sultan."


"Maksud kami kan jelas, kamu kan memang beristri dua...kami sebagai temannya tidak mau Sania disalahkan oleh istri mudamu."


"Tuti...." Tini mencoba menyela Tuti yang sudah sejak datang tadi pagi memendam kemarahannya pada Miko.


Wajah Miko merah padam mendengar ucapan mereka. Dia mau marah tapi dia sadar dia salah.


"Apa kamu tidak melihat keadaannya di dalam sana? Itu semua karena kamu, Jatmiko!!"


"Saya tidak mau, saya tetap mau menunggu di sini menjaga istri saya..." Setengah mati Miko menahan kekesalannya.


"Terserah kamulah...tapi kamu ingat, jangan sampai istri mudamu datang kemari marah-marah karena kamu tidak pulang ke rumah."


"Aku sendiri yang akan memberi pelajaran pada istrimu itu, paham?" Wati bicara penuh penekanan.


Akhirnya diputuskan Sultan dan Miko yang berjaga, sementara kaum wanita pulang dulu ke rumah.


"Syifa ngga mau pulang, tante...Syifa mau belsama bunda di sini..." Hu..hu hiks..hiks..


"Syifa pulang dulu ya...kak Dina sama Juned juga pulang, biar ayah sama om Sultan yang menjaga bunda di sini."


"Doakan bunda biar cepat sembuh, ya!! Miko memeluk Syifa penuh kasih sayang.


Dia berdiri di dekat kaca. Dipandangnya wajah istrinya yang terbaring dengan banyak alat penunjang di dalam ruangan itu.


"Cepat sadar bun, ayah kangen sama bunda..." Air mata meleleh dari kelopak matanya. Dia hanya bisa melihat dari luar saja.


"Kenapa hidup bunda semenjak menikah dengan ayah malah semakin sengsara?"


"Ayah terkadang iri dengan Sofwan. Dia mampu bersama bunda selama sembilan tahun lamanya, hanya karena dia mengidap gangguan kejiwaan saja yang akhirnya memisahkan kalian."


"Sementara ayah? Belum genap setahun pernikahan kita, rumah tangga kita sudah diguncang badai prahara."


Drrtttt..drrtttt...


"Siapa lagi sih menelpon dalam kondisi begini?" Dengan malas Miko melihat ponselnya.


"Mau apa lagi Alena ini pakai acara menelpon segala."


"Ada apa Alena?"

__ADS_1


Sultan melirik Miko dengan tajam dari bangkunya. Entah kenapa dia benci sekali pada laki-laki di depannya itu.


"Bang...sudah sore...kapan abang pulang?"


"Abang tidak pulang Alena, istri abang sedang dirawat di ruang ICU."


"Ishhh...sakit apa lagi sih kak Sania itu bang?"


"Jaga bicaramu Alena...Sania mengalami pendarahan hebat, untung bayinya lahir dengan selamat."


"Abang jadi curiga sama kamu, setelah Sania menelpon tadi pagi, abang liat kamu menerima panggilan darinya, dan setelah itu dia dibawa ke rumah sakit."


"Apa ada yang kamu katakan padanya sehingga membuatnya shock begitu?"


"Mana ada bang...Alena tidak bilang apa-apa!!"


Alena tersenyum penuh kemenangan. "Mampus...semoga kamu tidak akan pernah sadar dari komamu kakakku sayang...semoga malaikat maut cepat menjemputmu."


"Aku ingin bang Miko menjadi suamiku sepenuhnya tanpa harus ada kamu di antara kami berdua."


"Pokoknya abang pulang dulu jenguk Alena..." Suara manja Alena terdengar dari seberang sana.


"Sudah, kamu pulang saja...kamu urus tuh bini mudamu...aku bisa kok jaga mba Sania di sini sendirian."


Mata Miko mendelik ke arah Sultan yang menatapnya sambil tersenyum sinis.


"Ngga Alena...abang tidak bisa meninggalkan istri abang di sini sendiri bersama ORANG ASING..." Sengaja Miko meninggikan suaranya agar terdengar jelas oleh Sultan.


"Kalau abang ngga pulang, Alena nyusul ke rumah sakit nih..."


"Kalau kamu sampai berani datang kemari dan membuat keributan di sini, abang akan langsung menalakmu dan memulangkanmu ke Singapura."


Tanpa menunggu lagi dia langsung menutup telepon dari Alena dan menyisakan Alena yang marah besar di sana.


Miko mengusap wajahnya dengan gusar. "Oh iya...Masya Allah...aku hampir lupa, bayiku!!"


Dengan terpaksa dia mendekati Sultan dan bertanya, "Bayiku dirawat di mana Sultan?"


"Masih ingat kamu sama anakmu? Bukankah kamu tidak mengakui itu anakmu?"


"Please Sultan...aku lelah, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan bayiku."


"Bayimu terlahir kembar, laki-laki semuanya...sekarang lagi dirawat di ruang bayi."


Tanpa menunggu lagi Miko setengah berlari menuju ke ruang bayi.


"Suster, apa saya bisa melihat bayi saya?"

__ADS_1


"Ibunya atas nama Sania Marfiah yang sekarang lagi dirawat di ruang ICU."


"Bapak ini siapanya?"


"Saya ayah dari si kembar suster."


"Mari saya antar pak!!!" Lalu mereka berdua masuk ke ruangan bayi.


Di dalam dua boks berkelambu biru, tidurlah dua bayi mungil.


Miko menangis terharu..."Boleh saya menggendong mereka suster? Tadi saya tidak sempat mendampingi proses kelahiran anak saya."


"Istri bapak masuk ke ruang operasi sudah dalam keadaan kritis pak...jadi dokter harus melakukan operasi cesar."


"Kasihan ibu Sania...dia melahirkan belum genap sembilan bulan, sepertinya dia terlalu lelah."


Miko diam saja mendengar perkataan suster itu. Dia tau begitu besar kesalahan yang telah dia perbuat kepada istrinya.


Miko menerima salah satu anaknya dari tangan suster dan menggendongnya.


"Ganteng banget anak ayah..." Dia menciumi bayi merah itu sehingga bayi mungil itu menggeliat. Lalu dia menaruhnya kembali ke dalam boks dan menggendong yang satunya lagi.


"Ayah sudah tidak peduli apa kalian anak ayah atau bukan, ayah tetap mencintai kalian berdua."


Miko berbisik..."Lihat putra kita, bunda? Mereka berdua ganteng sekali...cepat sadar bun, kita akan pindah ke tempat yang jauh dan merawat anak-anak kita."


"Persetan dengan Alena, terserah sudah dia mau melakukan apa di rumah."


"Ayah janji tidak akan menyakiti bunda lagi, ayah sangat mencintai bunda."


"Rawat mereka berdua baik-baik suster, jika ada apa-apa yang diperlukan untuk bayi saya...suster tinggal bilang ke saya."


"Tentu pak, itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kami di sini."


Miko keluar dari ruangan bayi dan kembali menuju ruang tunggu ICU. Dilihatnya Sultan tengah berdiri memandang ke dalam dari jendela kaca.


Ada perasaan tidak rela di hatinya melihat Sultan menatap Sania dengan penuh perhatian. Tapi dia juga ingat budi baik lelaki itu atas apa yang telah dia perbuat selama ini kepada keluarganya.


Jika tidak ada Sultan entah apa jadinya. Mengingat itu semua perasaannya kembali menjadi tenang.


"Sultan..." Dia menyapa Sultan.


Sultan menoleh padanya. "Aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan dan perhatianmu selama ini pada keluargaku."


Sultan menarik napas. "Miko...Sania itu wanita yang baik...alangkah bodohnya kamu sebagai seorang lelaki jika menyia-nyiakan wanita sebaik dan selembut dia."


"Jika kamu tak lagi mencintainya, lepaskan dia...jangan terus menyakiti hati dan perasaannya."

__ADS_1


***Bersambung....


Happy reading guys💖💖 terus dukung author receh ini. Like, komen, vote, favorit dan ratenya...agar bisa terus semangat uo nya. Terima kasih🙏🙏


__ADS_2