Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 7 Cinta Akan Datang Dengan Sendirinya


__ADS_3

"Nduk...kenapa senyum-senyum sendiri?" Ibu rupanya memperhatikanku yang sedang mengetik wa sambil tersenyum.


"Ah ngga apa-apa bu...jawabku tersipu malu."


"Jalan kemana semalam dengan nak Sofwan?"


"Kelapangan merdeka bu, jalan-jalan terus ditraktir makan bakso."


Ibu tersenyum memandangku. "Ibu memang tidak pernah melihatmu jalan dengan laki-laki, Nia," kamu selalu berjalan dengan ibu paling banter kamu jalan dengan teman-temanmu.


"Kamu selalu menomor satukan ibumu ini nak."


Semoga saja Sofwan bisa menjadi imammu kelak. Karena ibu tidak mungkin hidup terus untuk bisa selalu bersama denganmu.


Ibu berlalu meninggalkanku, melanjutkan kegiatan menjahitnya. Sesuatu yang tak pernah bisa kulakukan. Bagiku itu sesuatu yang susah. Apalagi menjahitnya dengan mesin jahit manual seperti kepunyaan ibu.


Pernah sekali aku mencoba, hasilnya yang ada malah seperti pohon tertiup angin. Miring kanan miring kiri.


Sama juga bikin ketupat, ketiga temanku pandai semua membuatnya. Juga ibuku. Mereka berusaha mengajarkan kepadaku caranya.Yang ada mereka pusing sendiri karena aku tidak bisa-bisa.


Terlebih aku, lebih pusing. Sampai jelek mereka mengajariku, sampai buram penglihatanku mengawasi, tetap saja berawal dengan ketidak jelasan dan berakhir dengan ketidak pastian. Begitulah ketiga temanku mengomentariku.


Ibu pernah bilang padaku. Membuat ketupat itu seperti uji kesabaran. Semakin sabar dan semakin kamu mencoba semoga bisa menemukan titik ujungnya.


Tapi bagiku tetap sama, buatanku seakan terputar terpelilit tak ada menemui ujungnya.


Kadang aku protes dengan ibu. Kenapa tidak beli ketupat yang sudah jadi saja.


"Hidup itu kudu sabar dan iklas nduk...ngga semua keinginan bisa kita dapatkan dengan mudah dan instan."


Kok malah jadi kehidupan pula yang diceramahi oleh ibuku ini. Apa hubungan beli ketupat jadi dengan kesabaran dan keiklasan.


"Kelak kamu akan mengerti inti dari ucapan ibu ini Nia."


"Mungkin naluri sebagai seorang ibu, beliau sudah berfirasat akan terjadi sesuatu pada kehidupanku kelak." Ah entahlah...pikirku. Otakku tidak sampai kesana memikirkannya.


"Assalamualaikum... kompak bener ngucapin salamnya." Lamunanku buyar seketika.


"Waalaikumsalam..." eh trio kwek-kwek.


"Mau kemana nih pagi-pagi gini? mau konser?"


"Masih pagi darimana?" Wati menimpali. Ini loh sudah lewat jam 10. "Jangan-jangan efek belum mandi membuat pandangan matamu jadi buram, dan ingatanmu sedikit berkurang."


"Kurang ajar loe ti..." pagi gini sudah ngajak ribut.


"Siapa yang ngajak ribut sih?" kita ini kesini mau ngajak kepantai.


"Kita bawa saja bekal dari rumah supaya hemat."


"Hmmm...boleh juga ide kalian, bosan juga nih dirumah libur gini."

__ADS_1


"Jam berapa kita mau berangkat? terus kita naik angkotkah?"


"Kalau bisa berangkat sekarang saja, secara perjalanannya cukup jauh tuh."


"Ntar kamu boncengan sama bang Sofwan, Tini sama Tuti, aku sama adikku...gimana?"


"Kok sama bang Sofwan sih...ngga bisa kita-kita ajakah?" aku agak keberatan.


"Lha...terus kamu kesana naik apa? mau by sikil...mau terbang...masa mau naik angkot sendirian?"


"Secara, masuk kedalamnya jauh loh Nia.."


"Sudah sama bang Sofwan saja biar makin mesra."


"Siapa tahu dipantai masih melanjutkan pembicaraan yang belum kelar semalam." Wati mengedipkan matanya.


"Pembicaraan apasih? kataku, orang tadi malam cuma jalan kelapangan merdeka terus makan bakso terus pulang."


"Tidak jalan gandengan keliling lapangan sambil pegangan tangan gitu?"


"Terus makan suap-suapan dibawah sinar bulan!"


"Terus mengatakan cinta dan bilang, Nia...apakah kamu mau menjadi pacarku??" Ouwh...romantisnya...


"Jalan gandengan, suap-suapan, nyatakan cinta...norak kalian semua ya!"


"Memangnya tidak ada kerjaan keliling lapangan merdeka malam-malam...dasar stres."


"Hadeuh...kumat errornya ni anak..bisa panjang nie segala bulan kalau dibahas sama dia."


"Bisa sampai sore nanti tidak akan kelar pembahasan soal bulan."


"Ya sudah kita bertiga pulang dulu mau siap-siap."


"Satu jam lagi kita kumpul kembali disini..ok???" Tuti memberi perintah.


"Siap bos... " ucap kami bertiga serempak.


"Dan kamu Nia, jangan lupa bilang bang Sofwan supaya ikut, ntar kamunya jalan kaki lagi masuk kepantainya."


"Dan satu lagi jangan lupa mandi ya biar pikiran ngga butek dan mata ngga buram, rugi kalo buram apalagi bau belum mandi, bisa-bisa lari tuh pujaan hati."


"Kampret loe Tin, " aku mengumpat!


"Eh..tapi bener loe jarang mandi ya Nia, jangan-jangan kalau berangkat kerja cuma mandi bebek doang banter juga raup muka."


"Wah...ngajak berantem ya loe Wati, aku loh ngga sejorok itu!"


"Iya...parah ya kamu Ti...ntar didengar bang Sofwan sangkain beneran Nia malas mandi."


"Jangan jadi kompor meleduk deh Wati" Kata Tini.

__ADS_1


"Biarpun realitanya demikian, tapi demi teman kita harus simpan rahasia ini rapat-rapat jangan sampai ada yang tahi terutama bang Sofwan, kita ini kan soulmate."


"Sialan ya kalian semua...bener-bener dah.."


Tapi.."Apa kamu tadi bilang Tin? lowbat? Apa hubungan tidak mandi sama hape dan chargeran?"


"Dasar...keong sawah..." teriak Tini, lambat banget loadingnya, model anak gini ya kalau zaman perang dulu bisa mati duluan ditembak Belanda, orang pada lari kekiri dia kekanan sendiri."


"Habisnya gue kagak ngerti...tadi kita ngomong soal Nia jarang mandi..terus soal chargeran hape terus ini soal perang."


"Bukannya sekarang zaman sudah merdeka ya, masa iya ada Belanda keliling di kampung kita bawa senapan?"


"Haduh...mampus aku," aku menepuk jidatku.


"Sudah sana pulang siap-siap, bisa stres tingkat dewa kalo begini caranya."


"Iya ayo..." Tuti menarik tangan Tini dan Wati.


"Ingat satu jam lagi kita kumpul disini, sekali lagi ingat jangan telat, telat ditinggal."


"Tapikan pembahasan kita belum kelar Tin, main pergi aja." Tampaknya Wati belum puas.


"Apalagi yang perlu dibahas Wati..." kami serempak berteriak.


"Kamu...ikut atau tinggal, kalau tinggal ya sudah kami aja yang berangkat." Tini dan Tuti pergi meninggalkan Wati yang masih kebingungan.


"Gini amat ya punya teman?" Sayur bening sayur lodeh..capek deh....


"Mas...mau ikut kita-kita pergi kepantaikah?" Aku menelponnya.


"Kalau mau ikut, kami mau berangkat satu jam lagi."


"Harus ikut, aku tidak mau naik angkot sendiri terus jalan kaki masuk kearea pantainya...oke?"


Aku mematikan sambungan telepon. "Ngga urus dia bisa atau tidak, pokoknya harus ikut."


Aku juga siap-siap mandi dan memasukan bekal makanan lebih. Aku tahu tidak mungkinlah mas Sofwan bawa bekal, secara loh dia cuma tahu masak telur sama mie.


"Bawa bekal lebih Nia, masukan di dua tempat buat Sofwan."


"Nggeh bu...ini lagi Nia siapkan, ibu tenang saja."


Aku duduk sambil menunggu mereka dan aku mulai berpikir, mungkinkah sekarang aku sedang jatuh cinta? atau dari awal aku memang sudah suka padanya? tapi aku yang selalu menepis semua rasa itu.


Aku memang sudah membuka hati dan aku berharap pilihan hati ini tak akan salah. Karena aku tak ingin mengulangi semua kesalahan yang pernah kualami.


Aku juga berharap dia pun serius padaku. Karena di usiaku yang sekarang, bukan hanya sekedar ingin pacaran, tapi ingin mencari teman hidup dalam suka dan duka hingga maut memisahkan.


Walaupun usia mas Sofwan lebih muda 4 tahun dariku, semoga ini bukan menjadi penghalangnya.


...Bersambung.......

__ADS_1


...Jangan lupa like dan komen nya 😊🙏🙏...


__ADS_2