
"Aduh, tante mesti jawab apa Riko?" kataku.
"Riko ngga mau mendengar penolakan tante, jadi jangan menolak Riko...Riko bisa berbuat apapun agar tante mau menerima cintanya Riko."
"Oke...oke...kita coba dulu jalani ya!!"
"Haduh dari pada aku mampus di tangan ni bocah bucin, mana aku lagi sakit, malah mempercepat kematianku saja!!" Sania membatin dengan gemetar.
"Terima kasih tante...mulai sekarang Riko akan memanggil tante Nia dengan sebutan mamah dan tante harus memanggil Riko dengan sebutan papah!!"
"Aduh...mampuslah aku, bagaimana caranya aku lepas dari bocah sinting ini?" aku mendadak merasa lemas seluruh sendi-sendi di tubuhku.
"Ya sudah kalau begitu antarkan tante eh...mamah pulang ya!!! mamah mau istirahat kan mamah baru sembuh dari sakit!!" aku mulai merayunya agar bisa secepatnya pulang, aku takut jika bocah ni khilaf karena kami hanya berduaan di sini.
"Oke...papah akan antar mamah pulang, secepatnya papah akan membeli rumah sendiri, lalu mengurus pernikahan kita jadi kita bisa tinggal bersama...bawa anak-anak bersama kita biar rumah jadi ramai." Riko tersenyum-senyum membayangkan dia mewujudkan semua mimpinya.
"Ya Allah...mimpi apa aku semalam? kok buruk nian nasib diriku, sekarang aku terjebak dan ingin dinikahi bocah gila ini!!"
Riko mengantarku pulang dengan disambut wajah khawatir kak Della dan Sultan di depan pagar.
"Aduh, kamu dari mana saja Nia? Sultan dan kak Della sangat mengkhawatirkanmu...kamu ini pulang dari rumah sakit bukannya langsung pulang, eh malah ngelayap entah kemana..."
"Maaf kakak ipar, saya yang mengajak jalan Sania kok!!" jawab Riko mantap.
Sultan dan kak Della mengerutkan dahi mereka mendengar kata kakak ipar!!
Della memang tak mengenal Riko sama sekali tapi Sultan pernah melihatnya waktu Riko ribut dengan Niko tempo hari.
"Waktu itu aku tak begitu jelas melihat wajahnya, tapi sekarang aku dengan jelas dapat melihatnya.
Sosok tubuh tinggi putih macam opa-opa korea. Usianya masih muda . Dengan hidung mancung dan rahangnya yang tegas.
Ganteng sih...tapi kenapa harus dengan SaniaðŸ˜ðŸ˜...ngga ada yang lainkah? sudah tau bahwa Sania itu wanita yang kusuka, eh diambil juga!!" batin Sultan dalam hati menjerit.
"Mah, besok papah main kesini lagi ya...ingat obatnya jangan lupa di minum, makan makanan sehat yang banyak, ikuti anjuran dokter supaya mamah segera sembuh."
Lalu tanpa permisi diraihnya tubuh Sania masuk dalam dekapannya, lalu dikecupnya kening itu penuh kasih sayang.
"Nih salim tangan papah dulu, istri yang baik itu harus salim tangan jika mau kemana-mana!!" katanya sambl mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Tapi aku bukan istrimu...dasar anak aneh!!! gila kali nih anak ya?? mana kak Della dan Sultan ngeliati terus lagi!!" batinku lagi.
Setelah dia pamit dan pulang, aku masuk kedalam rumah dan menghempaskan tubuhku kesofa.
"Sania, jelaskan...apa hubunganmu dengan laki-laki aneh yang datang-datang mengaku papah tadi itu?"
Sultan pun berpikir sama dengan kak Della hanya saja dia tidak bertanya, dia memilih diam dan mendengarkan dulu. Dia juga penasaran banget pengen tau jawaban Sania.
"Namanya Riko Ananda Baskoro...dulu semasih bocah, dia selalu main di rumah kita!! aku ngga tau semenjak kapan dia menyukaiku dan menganganku jadi istrinya."
"Lalu tak lama dia dibawa orang tuanya pindah jauh dan karena ponselku rusak maka kami putus hubungan, entah karena apa tapi masa karena jodoh sih?? kami dipertemukan lagi."
"Obsesi Riko yang ingin menikahiku sempat tertunda karena waktu itu dia tau Niko akan menikahiku, tapi sekarang entah berita dari mana diapun tau kalau Niko sudah menikah dan kami sudah berpisah."
Sampai di situ aku menjeda ceritaku. Aku juga sebenarnya tampak shock dengan semua ini.
"Kalau kamu tidak suka kenapa tidak kamu tolak aja? kecuali jika kamu memang suka juga pada bucin satu itu." Kata Sultan.
"Kamu pikir aku tadi ngga nolak apa? tapi yang kutakutkan adalah anak-anak dan kalian semua yang jadi sasaran kemarahannya."
"Riko itu orang berduit, dia bisa melakukan apa saja, dan aku tak mau orang di sekitarku terlibat dalam masalahku."
"Terus apa langkahmu selanjutnya menghadapi bucin gila itu?" tanya Sultan.
Setelah kak Della masuk kedalam, Sultan mendekatiku.
"Nia, kamu beneran ngga serius sama Riko kan?" tanyanya serius.
Aku menatap manik mata coklat itu, orang yang selama ini selalu ada untukku di saat suka maupun duka, di saat semua meninggalkanku...dia datang mengulurkan pertolongan kepadaku dan anak-anakku.
"Menurutmu?" tanyaku balik.
Dia duduk di sebelahku, digenggamnya tanganku dan ditatapnya mataku.
"Kamu tau sewaktu tadi aku kerumah sakit dan tak menemukanmu di sana lalu kutelepon kak Della yang juga bilang kamu belum ada di rumah, aku cemas...aku takut...apalagi kondisimu sakit seperti sekarang ini!!"
"Aku takut kamu akan pergi dariku selamanya, aku lebih ikhlas melihatmu bahagia bersama yang lain asalkan aku masih bisa menatap wajahmu...kamu tau itu!!"
Aku diam mendengar perkataan Sultan. Aku sebenarnya hanya ingin dengar satu kata darinya. Tapi dia tak pernah mau mengatakan apa sebenarnya isi hatinya.
__ADS_1
"Aku ingin bersamamu...walaupun kita hanya bisa dekat sebatas sahabat yang penting aku bisa dekat denganmu!!" Sultan menggenggam tanganku erat.
"Kapan kamu dan kak Della menjalankan tes kesehatan untuk bisa tranplantasi sum-sum itu?" tanya Sultan.
Jika dalam beberapa hari ini aku sudah sehat kami bisa pergi kerumah sakit..." jawabku.
*
*
Riko masuk kedalam rumah sambil bersiul-siul riang. Hatinya girang bukan main. Dihempaskan tubuhnya kesofa. Terbayang semua yang telah dia dan Sania lakukan hari ini.
"Mah...i miss you!!" dia tampak mengecup berkali-kali foto Sania di layar ponselnya.
"Kemana saja kamu seharian? aku dan calon bayimu kangen tau!!" Alena muncul dari kamarnya.
Ishhh...
Tiba-tiba mood di wajah Riko berubah. Suasana jadi berubah hening saat Alena datang.
"Sepertinya kamu bahagia sekali seperti orang yang sedang jatuh cinta??" Alena duduk di sebelah Ruko.
"Aku memang sedang jatuh cinta." jawabnya.
"Wih...hebat wanita itu ya bisa mencintai player sepertmu." cibir Alena.
"Aku bukan player Alena, aku sudah berhenti melakukannya semenjak aku dan dia bersama lagi."
"Nih buktinya..." Alena menunjuk kearah perutnya.
"Berapa kali sudah kukatakan bahwa aku tidak melakukan itu Alena, tunggulah sampai bayi itu lahir kita akan melakukan tes DNA untuk lebih meyakinkan."
Alena cemberut mendengar perkataan Riko. Bayi itu memang bukan hasil perbuatan Riko. Dia sengaja menjebak Riko saat dia tau bahwa dirinya sedang hamil.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Mencintai dalam diam lebih baik, dari pada tidak bisa mencintaimu sama sekali.
Mohon dukungannya selalu ya all readers....