Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 145 Penyesalan Selalu Datang Terlambat


__ADS_3

"Yah...mengapa Aisyah lari melihat mamanya sendiri?" Tanya Anggita.


"Mungkin dia masih trauma karena sering kamu marahi..." Jawab pak Irawan apa adanya.


Anggita berdiri mematung mendengar ucapan ayahnya. Dia menyadari semua kekeliruan yang telah dia buat selama ini.


"Bagai mana dengan kaki palsu yang kamu pakai? Apa terasa lebih nyaman?" Pak Irawan mengalihkan pembicaraan.


Alhamdulillah sudah lebih nyaman daripada harus duduk di atas kursi roda?" Anggita menjawab.


"Syukurlah kalau kamu merasa lebih nyaman, Anggita!"


"Anggita mau masuk dulu ya, yah! Kepala Anggita sedikit pusing."


"Kamu tidak menemui putrimu dulu?" Tanya pak Irawan.


"Nanti saja yah, Anggit khawatir jika tiba-tiba Aisyah menangis takut sama Anggit."


Dengan melangkah tertatih-tatih Anggita naik tangga ke lantai dua yang dulu menjadi kamarnya dan Sofwan.


Dia termenung duduk di tepi pembaringannya. Dia sangat ingat dengan semua perkataan Sofwan di hadapan teman-temannya tadi.


"Maafkan atas semua perlakuan mamah yang kasar selama ini pada papah dan Aisyah!! Bisakah waktu berputar kembali agar mamah bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang papah dan Aisyah lagi?"


Penyesalan .memang selalu datang terlambat. Entahlah apakah Sofwan masih bisa menerima Anggita seperti dulu ataukah tidak.


*


*


"Wan...Sofwan..." Adit dan Sandro menepuk kedua pundaknya.


Sofwan yang sedang bengong menatap kesatu jurusan jadi kaget.


"loe ngeliatin apa sih?" Tanya Sandro penasaran.


"Wanita yang sedang duduk bersama teman-temannya yang memakai atasan biru dan rok hitam."


Sandro dan Adit menoleh pada seseorang yang ditunjukan oleh Sofwan.


"wanita yang sedang menghadap kemari itukan? Adit kembali meyakinkan pertanyaannya.


"Kamu ini, tau aja yang cantik-cantik sama yang bening-bening, Wan? Itu Dewi puspita sekretarisnya pak Leo, dia itu keponakan ibu Selvi." Kata Sandro.


"Ibu Seivi yang mana, Dro?" Kataku lagi.

__ADS_1


"Itu...perawan tua!!" Kata Adit.


"Perawan tua yang mana sih?" Tanyaku penasaran.


"Ya ela Wan, kemana aja sih kamu selama bertahun-tahun kerja di sini?" Sandro menepuk pundakku.


"itu lho, bu Selvi manajer keuangan." Jawab Adit.


"Oalah...mbok ya bilang dari tadi bu Selvi dari manajer keuangan, karena setahuku resepsionis di depan itu nama juga Selvi." Jawabku.


"Kenapa memangnya dengan Dewi Puspita, Wan? Kamu naksir sama dia ya!" Tembak Sandro langsung.


"Dro, kamu ini kalau bicara seolah ngga ada filternya tuh bibir bemo...ntar kalau kedengaran orangnya atau ada yang ikut mendengar, disangka nanti betulan."


"Aku ngeliati dia karena beberapa hari yang lalu kami bertemu di warung nasi mawut." Kataku lagi.


"Lagian wajahnya itu membuatku teringat pada mantan istriku, Sania."


"Wah...cantik dong kalau mantanmu mirip sama Dewi Puspita itu, si Dewi itu termasuk idola kaum jomblo di sini lho Sofwan!" Sandro tersenyum-senyum.


"Kaum jomblo seperti kamu juga dong, Dro!" Kata Adit.


"Dia memang mirip, yang membedakan hanya matanya saja! Kalau matanya Dewi agak sipit, kalau mata Sania bulat seperti mata boneka." Kata Sofwan.


"Hati-hati lho bosku, nanti dari liat-liat ntar naksir dengan alasan doi mirip dengan mantan...ingat masih sah jadi suaminya bu Anggita." Adit mengingatkanku.


Adit dan Sandro menepuk pundak Sofwan secara bersamaan untuk memberikan semangat padanya.


"Kompak bener kalian berdua, dari tadi sama-sama terus menepuk bahuku." Kataku sambil tersenyum.


Kami berjalan melewati para wanita tadi. Aku dan Dewi saling bersitatap. Dia nampak mengerenyitkan dahinya seperti mencoba mengingat sesuatu.


"Mas yang waktu itu di warung nasi mawutkan?" Katanya setelah berhasil mengingatnya.


Teman di sebelah Dewi menyenggol bahunya pelan dan berbisik.


"Kamu tau siapa dia? Dia itu Sofwan Prayoga, manajer personalia sekaligus menantu dari pemegang saham terbesar di perusahaan kita ini!"


Dewi tersentak mendengar perkataan temannya. Bagaimana mungkin karyawan rendahan seperti mereka bisa seenaknya berbicara pada atasannya.


"Ma...maafkan saya pak!! Saya tidak tau..." Kata Dewi.


"Tidak apa-apa mba, biasa aja kali...namanya juga ngga tau!!" Jawabku sambil tersenyum lalu kami bertiga melangkah meninggalkan mereka yang masih bengong.


"Haduh Dewi, Santi...meleleh rasa hatiku melihat senyuman pak Sofwan!!" Teman mereka yang bernama Rita sampai memegangi dadanya.

__ADS_1


"Ingat Rit...pak Sofwan itu suami dari ibu Anggita anak dari pak Irawan...jangan cari perkara deh!! Kata Santi menoyor kepala temannya.


"Siapa coba yang ngga klepek-klepek melihat senyumannya, sugar daddy yang satu itu walaupun usianya sudah tidak muda lagi tapi wajah imutnya seolah tak pernah menjadi tua."


"Hoi Rita Safitri...kamu kesurupan ya??? Teriak Santi di telinga sahabatnya itu.


"Sialan loe San, loe mau buat telinga gue jadi budek?" Gerutu Rita akhirnya. Sementara Dewi hanya diam sambil tersenyum melihat kelakuan para sahabatnya.


"Oh...sudah punya istri tho...kupikir dia masih sendiri, benar kata Rita bahwa sugar daddy yang satu itu seolah menolak menjadi tua." Batin Dewi sambil tersenyum.


Dia teringat pada Sofwan saat makan di warung nasi mawut tempo hari. Laki-laki itu hanya fokus pada es teh dan nasi yang ada di piringnya. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Selesai makan dia pergi begitu saja setelah membayar makanannya.


"Kamu bilang tadi ketemu pak Sofwan di warung nasi mawut, Wi?" Tanya Santi.


"Iya!" Jawab Dewi singkat.


"Wess orang kaya mau juga makan di warung begitu ya?" Kata Santi.


"Memangnya kalau orang kaya ngga boleh makan di tempat begitu ya? Itu namanya mereka tak memandang dan memilih tempat untuk makan, bagus dong artinya mereka itu tidak sombong!" Bela Rita.


"Iya, sepertinya pak Sofwan waktu itu sedang ada masalah, terlihat dari wajahnya yang kusut dan cara makannya yang hanya menunduk saja!" Jawab Dewi.


"Iya...kita kan ngga tau masalahnya orang itu apa aja, contohnya si Rita nih...kayaknya dia juga lagi ada masalah nih!" Celetuk Santi.


"Apa? Aku ngga lagi punya masalah apa-apa kok?" Kata Rita bingung.


"Ada!!! Masalah kejiwaan!! Sebab dari tadi yang di omongin pak Sofwan melulu." Santi berkata sambil tertawa dan lari menjauh takut mendapat amukan Rita.


"Kurang ajar..." Kata Rita sambil melempar tisu yang ada di tangannya.


*


*


Anggita terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ramai orang tertawa di bawah.


Dia bangkit dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar dan mencoba melihat ke bawah.


Ternyata Aisyah bersama baby sitter dan eyang kakungnya sedang bermain tebak kata, siapa yang kalah akan dicoret wajahnya pakai kapur.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


***


Terima kasih buat para reader yang telah memberikan like dan hadiah, membaca dan selalu memberi komen yang positif dan membangun. Maaf ya jika ada yang komennya kadang belum sempat author balas...tapi Insya Allah author akan mengusahakan untuk mampir juga ke karya kalian. Banyak terima kasih ya teman-temanπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2