
"Kalau tidak salah tadi sore ibu Sania diangkat pak Sultan dan diantar oleh kakaknya ibu Sania dalam keadaan pingsan dan dibawa ke rumah sakit...kalau anak-anaknya paling di rumah iparnya pak Sultan.
"Oh ya sudah kalau begitu terima kasih banyak ya, pak!!" kata Riko lalu bergegas menuju rumah Tini.
Tok...tok
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum Salam..."
Sebuah jawaban dari dalam.
Ceklek...
"Oh om Riko, kok bisa kemari? kok ngga langsung kerumah sakit?" kata Syifa.
"Om memang mau ke rumah sakit tapi ngga tau rumah sakit mana dan di rawat di ruang apa!!"
"Siapa Syifa?" tanya Tini dari dalam.
"Om Riko tante!!" jawab Syifa.
"Oh Riko, Sania dirawat di rumah sakit xxx di ruangan anggrek 145." jawab Tini.
"Oke makasih tante, saya langsung kesana aja saya khawatir banget dengan keselamatan calon istri saya!!"
Setelah pamit setengah berlari Riko masuk dalam mobilnya dan melaju kearah tujuan.
"Dasar bocil bucin!!" kata Tini sambil menggelengkan kepalanya.
Riko menuju ke ruangan yang di maksud. Sultan dan Della sedang pergi kemesjid untuk melaksanakan sholat Isya. Sementara Sania masih terbaring lemah. Dia baru saja dipindahkan dari ruangan ICU kondisinya pun masih lemah.
Riko membuka pintu dan menghampiri wanita yang sangat dicintainya itu.
"Mah..."
Suara Riko tercekat. Dia sangat tak tega melihat keadaan Sania. Dia menyesal tadi pagi tak bisa ikut mengantar Sania kerumah sakit.
"Sayang..."
Dia duduk dan menggenggam tangan Sania.
"Riko!!" suara Sania lemah saat menyapa Riko.
"Sstttt bukan Riko...papah!!" sahutnya sambil menggenggam dan mengecup tangan dalam genggamannya.
"Mamah kenapa? kok bisa jadi begini?" mata Riko mengembun saat berbicara.
"Mamah ngga apa-apa...papah ngga usah khawatir."
"Papah dari kantor langsung kerumah saat berkali-kali papah telepon tak ada jawaban dari mamah."
"Maafkan mamah ya pah, sebaiknya papah berpikir ulang untuk menikahiku...apa yang papah harapkan dari wanita sakit-sakitan sepertiku?" ucap Sania pelan tapi bagaikan suara petir menggelegar di telinga Riko.
"Mamah bicara apa sih? ngawur aja...papah ngga suka mamah bicara begitu, sekali cinta tetap cinta mau sakit mau sehat justru ujian cinta dan kesetiaan di mulai saat pasangan kita sedang sakit begini."
Merah gelap wajah Riko mendengar ucapan Sania.
"Kita tetap akan bersama sampai maut memisahkan...titik ngga pakai koma dan ngga pakai bantahan lagi."
"Mamah mau makan? papah suapin ya!! maaf papah tadi buru-buru sampai lupa belikan mamah sesuatu."
"Ngga usah pah lagian tadi ada Sultan dan kak Della yang membantu kok!!" sahutku.
"Mah, tapi mamah ngga suka sama Sultan kan?" tanya Riko tiba-tiba.
"Kok nanyanya gitu amat, kenapa memangnya pah?" tanyaku lagi.
"Papah cemburu...!" katanya sambil cemberut.
"Sudah...Sultan itu orangnya baik banget, ngga mungkinlah dia punya pikiran yang macam-macam!!" kataku.
"Mah, gimana hasil tes kesehatannya? kapan mamah bisa segera di operasi?" kata Riko sambil menyuapkan potongan buah ke dalam mulut Sania.
"Ngga akan ada operasi pah!!" sahut Sania sedih!!"
__ADS_1
"Kenapa mah, kok bisa?" kata Riko.
"Ternyata mamah dan kak Della bukan saudara kandung, pah!!"
Deg...
Riko berdebar mendengar ucapan Sania barusan.
"Maksudnya gimana, mah?" tanyanya memastikan.
"Kak Della bukan kakak kandung mamah, orang tua kak Della hanya orang tua angkat mamah!! sedangkan orang tua kandung mamah meninggal saat usia mamah bari menginjak 3 tahun.
"Jadi mah???" tanya Riko tercekat.
"Kemungkinan mamah untuk sembuh itu sangat kecil?" tanya Riko.
Aku hanya mengangguk sedih.
"Pernikahan kita tidak bisa ditunda lagi mah, papah ingin mengurus mamah...akan papah cari pendonor tulang sum-sum yang tepat untuk mamah...papah yakin walaupun sulit pasti akan papah dapatkan, apapun akan papah lakukan demi istri papah tercinta.
"Terima kasih ya pah!!" kataku.
"Kok kamu ngga masuk? kok malah duduk di ruang tunggu begini?" tegur Della pada Sultan yang sedang duduk termenung.
"Ada Riko di dalam, aku ngga enak kak!! takut ganggu dan takut Riko salah paham nantinya."
Della ikut duduk di dekat Sultan.
"Sultan, jujur...apa kamu suka sama adikku?" tanya Della.
Sultan terdiam sesaat tak mampu berkata apapun.
"Iya, aku suka bahkan bukan hanya sekedar suka tapi juga cinta dan sayang." kata Sultan.
"Lalu kenapa kamu hanya diam membisu? jika kamu terus diam begini bagaimana Sania bisa tau?" Della bertanya lagi.
"Aku tak punya keberanian, kak!! aku takut Sania akan menolakku karena kita dekatnya itu sebagai teman, tidak lebih."
"Aku tidak mau gara-gara masalah cinta maka hubungan pertemananku dengan Sania akan berakhir aku tak mau semua jadi begitu, aku ingin tetap selalu dekat dengannya dan anak-anak...biarlah kalau takdirku memang harus begini maka akan aku terima dengan ikhlas hati."
"Aku salut padamu, Sultan!! pantas Dina begitu memujimu dan menginginkan hanya kamu yang akan mendampingi bunda mereka...bukan laki-laki lain bahkan bapak kandungnya sendiri."
Lalu Sultan dan Della beranjak dari duduk mereka untuk pergi mencari makanan yang bisa untuk mengganjal perut.
"Papah akan menelpon ibu dan ayah di Kuala Lumpur untuk mempercepat kepulangan mereka agar kita bisa segera menikah."
Dielusnya rambut ombak Sania sampai wanita ayu itu tertidur.
Dipandangnya wajah yang masih terlihat cantik walaupun dibalut dengan kulit pucatnya.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Kecuali kamu sendiri yang akan meninggalkanku...selama hayat masih dikandung badan aku akan tetap terus menjagamu!!"
Akhirnya karena dia juga kelelahan maka Riko pun tertidur menelungkupkan kepalanya sambil menggenggam tangan Sania.
Sementara jauh di kota Jakarta...
"Bodohnya aku? apa yang telah aku lakukan? aku telah berkhianat lagi pada Sania dan anak-anak!! sekarang aku harus menikahi Vivi, kenikmatan satu malam, ke khilafan satu malam membuat aku harus menanggung beban seumur hidupku!!"
Sofwan berdiri di samping jendela kamarnya memandang gemerlapnya lampu-lampu ibu kota. Pikirannya kacau balau. Beberapa jam yang lalu dia dan Vivi baru saja melewati malam penuh dosa. Entah setan apa yang merasuki pikirannya sampai dia berbuat seperti itu!!"
Ddrrrtttt...ddrrtttt
Sofwan mengambil ponsel di atas nakasnya, dia berharap telepon itu dari Sania atau anak-anaknya yang semenjak sore tadi sudah dia kirim pesan bahwa mungkin dia akan pulang besok, tetapi pesan itu masih tercontreng satu.
Pesan yang masuk malah dari Vivi yang menanyakan apakah dia bahagia malam ini setelah melewati malam panas bersamanya?
Wajah Sofwan memerah. Dia sangat malu mengingat perbuatannya menggarap lahan milik Vivi dengan sangat menggebu-gebu entah mengapa malam tadi dia seolah melihat Sania yang ada di dalam kungkungannya.
Bahkan saat pelepasan berkali-kali, nama mantan istrinya itulah yang selalu dia sebutkan.
"Kamu sudah tidur?"
Sebuah notifikasi lagi masuk dari Vivi. Sebenarnya Sofwan enggan membalasnya tetapi jika tidak dia balas, maka Vivi pasti akan menelpon dan malam ini dia ingin sendiri tak mau diganggu oleh siapapun.
"Iya aku sudah mau tidur..." balasnya singkat.
__ADS_1
"Ya sudah sayang...mimpiin aku ya...i love you!!
Sofwan melempar ponselnya di atas tempat tidur. Dia marah, kesal, benci pada dirinya sendiri.
"Apa yang harus kukatakan padamu dek? haruskah aku menyakiti hatimu untuk kesekian kalinya? betapa jahatnya aku ini sebagai laki-laki.
"Sofwan, sebegitu dalamnya cintamu pada Sania, sampai berkali-kali semalam kita melakukan pelepasan hanya namanya sajalah yang selalu kamu sebutkan."
"Kamu bercinta denganku, tetapi yang kamu sebut namanya...kamu menggauliku tetapi seolah yang ada di dalam benakmu adalah dia yang ada di dalam kungkunganmu."
"Sebenarnya aku sangat kecewa Sofwan!!! awalnya aku bahagia bisa bercinta denganmu, hal yang sekian tahun selalu kuimpikan tetapi pada akhirnya aku sedih, aku marah, karena ternyata cintamu padanya tak pernah luntur."
Vivi menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. Dia berharap Sofwan akan menelponnya tetapi harapannya sia-sia.
Dia tertidur dengan hati yang marah dan kecewa.
*
*
"Kamu belum tidur, Niko?" tanya Jonathan saat dia keluar kamar dilihatnya Niko masih menonton televisi di ruang tamu.
"Belum yah, biasanya jam segini anak-anak masih pada ribut...ada yang rebutan remote televisi, ada yang rebutan bantal sofa ada yang rebutan bundanya..." jawab Niko menerawangkan pandangannya ke langit-langit rumah sambil tersenyum.
"Sekarang rumah sepi ya ayah tanpa celoteh mereka lagi!!" sahut Niko kembali.
"Juma sepulang sekolah sibuk mengerjakan tugas-tugasnya, kita berdua terkadang pulang sudah malam mengurusi beberapa toko bunga kita yang semakin melunjak penjualannya."
"Niko kangen sama Sania, yah!! kangen dengan kelembutannya, kangen dengan kasih sayangnya..."
"Sekarang dia dan anak-anak sedang apa ya, yah? Niko takut untuk bertanya walaupun hanya sekedar lewat ponsel saja...rasanya Niko selalu tak sanggup untuk bicara dengannya."
Jonathanpun menarik napas panjang.
"Coba ayah yang bertanya, pura-pura aja kangen sama si kembar."
Lalu Jonathan mengambil inisiatif untuk menelpon terlebih dahulu.
📱"Assalamualaikum..."
📱"WaalIkum Salam..."
📱"ini Syifa kah? ini kakek, Syifa...bagaimana kabarnya Syifa dan yang lainnya?"
📱"Buruk kek, kita sekarang tinggal di rumahnya tante Tini, sebab bunda masuk rumah sakit sore tadi, jadi kita dilarang pulang kerumah dulu sama om Sultan dan tante Della, takut kalau ada apa-apa dengan si kembar.
Sengaja ponsel di aktifkan loudspeakernya oleh Jonathan.
📱"Kok bisa nak...bunda sakit apa?"
Sementara Niko sudah gelisah di tempat duduknya.
📱"Ngga tau kek, tapi hidungnya bunda mengeluarkan darah lebih banyak dari biasanya lalu bunda pingsan dan langsung dilarikan kerumah sakit oleh om Sultan!! untung pas ada om Sultan datang kerumah, kalau ngga kami tidak tau bagaimana jadinya bunda."
Niko semakin merasa bersalah mendengarnya.
📱"Terus bunda dirawat di rumah sakit mana, Syifa?"
📱"Rumah sakit xxx di ruang anggrek 145...tapi kakek ngga usah khawatir, di sana sudah ada tante Della, om.Sultan dan maghrib tadi om Riko menyusul datang ke rumah sakit."
Bukan main geramnya Niko mendengar nama Riko di sebutkan oleh Syifa. Hatinya dongkol bukan main.
📱" Ohhh ya sudah...kalian baik-baik di sana ya, jangan nakal!!"
📱"Iya kakek...Assalamualaikum!
📱"Waalaikum Salam!!"
"Niko merasa sangat bersalah yah, seandainya Niko belum menikah dengan Maya, tentu Niko akan langsung lari kerumah sakit menyusul Sania."
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Nah...nah...babang Sofwan nyesel kan!! habis mendahulukan nafsu dulu sih dari pada akal sehat...bisa jadi pelajaran buat kita-kita nih, terutama para kaum muda ya guys😁😁🙏🙏🙏
Terima kasih selalu author ucapkan kepada para reader yang sudah mau mampir dan membaca novel receh ini ya🙏🙏🙏