
Dengan langkah gontai aku masuk kembali ke tempat Anggita di rawat.
Bukan aku yang membawa kaki melangkah, tapi kakiku lah yang membawaku kemanapun dia akan melangkah.
Tak ada satu orangpun yang tau, bahwa ingatanku sudah kembali. Keluargaku, bahkan Anggita istriku sekalipun tidak menyadarinya.
Awalnya aku melihat Sania dan Miko duduk di pelaminan waktu itu...Entah mengapa tiba-tiba aku merasa pernah duduk di kursi itu, bersanding dengan seorang wanita tapi bukan Anggita.
Kok tiba-tiba pandanganku semakin jelas...ingatan itu sedikit demi sedikit kembali.
"Kenapa Sania duduk di pelaminan itu dengan laki-laki lain? Apa yang telah terjadi?"
Lalu aku melihat ke jari manis tangan kananku. "Ini bukan cincin pernikahanku dengan Sania, ini cincin siapa? Mengapa melingkar di jari manisku?"
Aku ingat betul bentuk cincin pernikahan kami, karena aku dan Sania yang pergi malam itu untuk memilih dan membelinya.
Waktu aku di rumah Miko pergi ke toilet...Di sana aku merasakan sakit yang hebat di kepalaku...seiring dengan berangsur pulihnya ingatan akan masa laluku.
Lalu aku berselisihan dengan Sania di lorong samping rumah. Aku mati-matian menahan hasrat ke rinduanku untuk memeluknya.
Awalnya aku sangat membencinya. Berpikir dia meninggalkanku untuk menikahi orang lain, di saat aku hilang ingatan.
Ternyata aku keliru...akulah yang telah secara sepihak menceraikan Sania dan memutuskan untuk menikahi Anggita.
Dari situlah aku belajar sabar dan berusaha ikhlas melepaskannya bahagia dengan orang lain. Semua itu kulakukan untuk menebus semua kesalahanku padanya.
Tak terbayang olehku bagaimana sakit dan menderitanya dia saat kutinggalkan, saat berusaha banting tulang mencari nafkah sendiri untuk melanjutkan hidup.
Dan bagaimana terluka dan sakitnya dia, saat mendengar kabar aku sudah menikah lagi dengan Anggita.
"Papah dari mana? Mamah nyariin papah dari tadi...kata dokter besok mamah sudah boleh pulang."
"Syukurlah kalau begitu, mah..." Aku tersenyum berusaha menutupi kegundahanku.
"Papah tadi dari kantin...papah lapar, mah!
Tadi mamah tidur pulas, jadi tak tega papah mau membangunkan mamah."
"Pah, coba telepon ayah deh...mamah mau liat Aisyah..."
Aku segera melakukan video call dengan mertuaku.
"Assalamualaikum ayah...Anggita pengen liat Aisyah nih..." Kata Sofwan.
Ayah menggendong bayi Aisyah. "Besok Anggit dan mas Sofwan pulang, pah...kangen sama Aisyah.
"Bayi kalian baik-baik aja di sini...tidak usah khawatir."
"Besok kakak-kakakku juga akan datang kemari menjengukmu dan Aisyah."
"Langsung ke rumah aja, pah...ngga usah ke rumah sakit lagi, kita kan besok juga mau pulang."
*
*
Aku merasa bahagia. Aku mendengar kabar bahwa besok Sofwan akan masuk kantor lagi.
__ADS_1
"Syukurlah kalau istrimu sudah sembuh, mas...aku tak bisa melihatmu terus menerus di rundung kesedihan."
'Cie...cie...Kayaknya ada yang lagi bahagia nih, senyum-senyum sendirian.'
"Mentang-mentang besok sang idola sudah mau masuk kantor lagi, tuh..."
"Aduh...Rahmat ini, ganggu kesenangan orang...aja."
"Kayak dukun aja anak ini, tau banget aku lagi sedih atau bahagia."
"Kamu lagi, Mat...kamu ngga pulang? Lembur lagi kah?"
"Iya mbak...adik Rahmat butuh uang yang tidak sedikit, sebentar lagi kan mau ujian otomatis bayar uang ujian, mbak...'namanya juga sekolah di swasta."
"Semangat ya, Mat..."
"Ini sudah sangat semangat, mbak...sampai bisa godain mbak Sania."
"Kamu ini Mat, candaanmu itu keterlaluan...coba misalnya ada karyawan lain yang dengar, lalu menyampaikan ke ibu Anggita atau pak Miko, mateng aku, Mat..."
"Mereka ngga akan ada yang dengar kok, mbak...lagian ini kan cuma candaan doang."
"Mbak Sania nanggapinnya serius banget, kayak betulan aja."
"Bun...lagi bahagia ya...kok senyum-senyum terus ayah perhatikan sejak tadi?"
"Bahagia lah, yah...siapa yang ngga bahagia kalau pulang dijemput oleh suami tercinta."
Miko pun tersenyum sumringah. "Bun, kita makan dulu yuk...ayah lapar nih..."
"Perasaan ayah itu lapar melulu, mana ada kenyangnya."
"Ini aja kepengen terus dari siang tadi, makanya ayah kerjanya cepat-cepat biar bisa cepat pulang."
"Dasar mesum..." Aku mendelik pada Miko.
"Kok mesum sih? Orang sama istri sendiri juga."
"Kita mau makan di mana bun? Sekalian juga nanti minta bungkuskan buat anak-anak di rumah."
"Di warung sate itu aja yah...ngga usah jauh-jauh."
Kami berhenti di depan warung sate. Pembelinya lumayan ramai. Setelah memesan untuk makan di sini dan untuk yang dibawa pulang, kami memutuskan untuk duduk di bangku pojok.
"Kita duduk di situ aja yah...jadi enak bisa liat keluar juga."
"Hai...Are you Miko? Kamu Miko kan?"
Kami berdua yang asyik ngobrol, sontak menoleh. Seorang wanita yang menurutku cantik banget menyapa Miko. Rambutnya kepirangan sebahu dan bola matanya berwarna zamrud sama seperti bola mata milik Miko.
"Cleo...? Is that you?"
Miko berdiri seakan tak percaya pada penglihatannya.
"What are you doing in this city, Cleo?"
"Jauhnya dari Singapura kok bisa sampai kemari?"
__ADS_1
"I am looking for you...Miko..."
"Who is this? This is your girlfriend?"
"No...this is my wife..."
"What...?
"Kupikir kamu tidak ada niatan untuk menikah, Miko..."
Dia tersenyum sambil berbicara dalam bahasa Indonesia yang masih terbata-bata.
"Kenalkan....dia mengulurkan tangan padaku..."
"Aku cleo...kami bersahabat mulai kecil...bertetangga dan satu universitas."
"Sania....aku menjabat tangan wanita cantik itu."
"Serius...ada keperluan apa hingga kamu sampai kemari?"
"Aku ada urusan bisnis, Miko...ya iyalah....Masa iya aku mau mencarimu..." Cleo mencibir.
"Jadi di mana kamu menginap disini, Cleo?"
"Di hotel permata"
"Aku duluan ya, Miko...Sania...See you again..."
"Dia cantik banget ya, ayah..." Sambil aku mengunyah makananku.
"Kami berteman mulai kecil lalu SMP kelas tiga aku pindah ke indonesia dan SMA juga disini lalu bertemu dengan bidadariku!!"
Miko mengedipkan matanya padaku. "Kalau aku tidak pindah kemari, aku tak akan pernah bertemu dengan pujaan hatiku."
"Gombal...."
"Bunda mau, ayah gombalin Cleo?"
"Boleh...tapi ngga usah ayah dekat-dekat bunda lagi selamanya."
"Ya janganlah, bun...gitu aja sewot!!"
""Ayah suka godain bunda...kalau bunda cemburu itu artinya bunda sayang sama ayah."
"Sudah... di makan dulu satenya, yah...lekas kita pulang...bunda rada ngga enak badan nih!"
"Kepala bunda pusing, dan badan bunda rasanya meriang...mungkin bunda masuk angin, yah."
"Mau ayah temani ke dokter kah, bun?"
"Ngga usah, yah...paling-paling dibawa istirahat, besok sudah baikan sendiri."
"Tapi janji ya, bun...kalau sakitnya berlanjut, kita segera ke dokter."
"Iya yah...ngga usah khawatir."
"Wajar jika ayah khawatir, bun...itu tandanya ayah sayang sama bunda." Miko mengacak rambutku pelan.
__ADS_1
***Bersambung....
Happy reading....Selamat bermalam minggu ya...Jangan lupa author tetap mohon like, komen, vote dan favoritnya jika berkenan...Terima kasih***...