
"Kenapa ngga bisa?? ayah aja bisa selingkuh tanpa memikirkan konsekuensinya, kenapa ibu ngga?" tanya ibu Intan.
"Dan kamu dengar Lestari....kekayaan Baskoro separuhnya adalah milikku sebelum aku menikah dengan Baskoro jadi kamu jangan berbangga diri jika nanti bayimu lahir bisa mendapatkan harta warisan yang banyak."
"Bu...jangan berkata keras begitu pada lestari, dia kini sedang mengandung!!" kata Baskoro.
"Emang aku peduli...?? ngga sama sekali!!" sarkas Intan Anggraini. Tak ada lagi tatapan cinta dan kelembutannya seperti selama dia mendampingi pak Baskoro.
"Kamu tunggu saja besok Baskoro, tanda tangani berkas perceraian besok jadi kita sama-sama menjadi orang yang bebas sekarang!!" kata Intan sebelum meninggalkan ruangan.
"Kenapa kamu cepat-cepat mau mengajukan gugatan cerai dariku Intan?? apakah kamu sudah tak tahan ingin menikah lagi??" seringai mengejek Baskoro tersungging di bibirnya.
Belum sempat Intan menjawab, Rikolah yang mendahului memberikan jawabannya.
"Memang mengapa jika ibuku ingin menikah lagi ada urusan apa lagi denganmu?? sebelum bicara berkacalah dulu, apakah anda terlalu rakus untuk meniduri banyak wanita?? tak cukupkah hanya dengan satu wanita saja?? sudah tua jangan terlalu serakah ingatlah mati tuan Baskoro!!"
Merah padam wajah pak Baskoro mendengar perkataan putranya sendiri.
"Ingatlah...jangan sekali-kali kalian berdua menyakiti ibuku...dan anda tuan Baskoro yang terhormat, saya selama ini selalu diam dan mengikuti apapun yang anda katakan dan inginkan semata-mata karena saya menghormati ibu saya bukan karena saya takut dengan anda, tetapi sekarang lain ceritanya...jika kalian berani menyakiti ibuku lagi maka akan kupastikan kakimu...dan kaki wanita pelakor itu...akan saya patahkan!!" tunjuk Riko tepat di kening Lestari yang langsung menciut karena dia melihat kemarahan dan kebencian di mata Riko begitu juga dengan tatapan mata Asdar, Abdullah dan juga Afifah.
"Ayo bu kita tinggalkan sampah masyarakat ini di sini...sampah kumpulannya ya juga sampah, sampah tak pantas berdekatan dengan wanita berharga seperti ibu, nanti ibu akan ikut kotor seperti mereka berdua."
Lalu mereka berlima pergi meninggalkan Baskoro dan Lestari yang duduk termangu.
"Bu...apakah ibu baik-baik saja?" tanya Afifah sambil memeluk ibu mertuanya itu.
Ibu Intan terisak, bagaimanapun masa 27 tahun hidup berumah tangga dengan Baskoro bukanlah waktu yang sebentar...hingga kini dia tak mengerti di mana letak kesalahan dan kekurangannya.
"Bu, sebaiknya mansion ini kita jual saja...kita mulai hidup baru di indonesia."
"Terserah nanti Asdar dan Afifah akan tinggal di Malaysia atau kah akan ikut ke Indonesia.
"Afifah terserah sama ayah mertua dan suami saja..." kata Afifah sambil menunduk dan tersenyum malu-malu!!"
Mendengar gurauan anak-anaknya, Intan tersenyum bahagia. Dia kehilangan satu orang tetapi dia mendapatkan tiga sekaligus sebagai gantinya.
Akhirnya Afifah dan Asdar bersama ayah mereka memutuskan untuk tinggal di Malaysia karena Asdar bekerja di sana!!
Sedangkan Riko membawa ibunya menemui Sania dan keluarganya di Indonesia.
*****
"Aduh...angin sore ini kenceng banget ya..." gumam Sania sambil sesekali membetulkan kerudungnya yang selalu diterbangkan angin.
__ADS_1
Tiba-tiba ada dua tangan memeluknya dari belakang membuat Sania terlonjak sangking
kagetnya.
"Makanya kalau kerja itu yang betul jangan mikirin suami terus..." kata orang itu.
Dan Sania sepertinya kenal dengan suara itu.
Dia dengan cepat menoleh kebelakang untuk melihat suara siapa gerangan.
"Papah..." Sania mengerjapkan matanya berkali-kali...pasalnya baru satu jam yang lalu mereka video call, Riko bilang mau pergi kesuatu tempat ada yang mau diurus...tetapi sekarang sudah ada di depannya.
Di belakang Riko berdiri ibu Intan sambil memegang kopernya tersenyum menatap Sania.
"Ibu..." kata Sania lalu menghampiri wanita itu meraih tangannya dan menciumnya.
"Kok ibu sama Riko sudah ada di depan rumah? berarti tadi menelpon Nia sudah ada di Jakarta dong!!!" kata Sania kesal.
"Eits...dilarang marah sama suami...nanti kualat lho!!" kata Riko lalu memeluk istrinya tercinta.
Akhirnya mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
"Apakah ayah sudah merestui hubungan kita?" tanya Sania mencari kepastian.
"Sania senang sekali ibu mau tinggal di sini!!" kata Sania dengan mata berbinar-binar.
"Eh...di mana para jagoan papah ya mah??" tanya Riko karena sejak tadi rumah tampak sepi-sepi aja.
"Dina, Juned dan Syifa lagi menonton pertandingan basket di sekolah Dina...Miko dan Miki sedang diajak jalan malam mingguan oleh kakek dan paman Niko mereka sedangkan Raftar ikut kak Della ngejar lele yang jualan es krim." Kata Sania.
"Mah...Niko sering kemarikah?" tanya Riko dengan nada yang agak cemburu.
"Ngga juga...hanya malam minggu saja mereka dijemput untuk menginap terus minggu sore pulang karena seninkan si kembar harus sekolah..." jelas Sania yang tau ada cemburu dibalik sikapnya itu.
Tak lama...
Papapapah...
"Nah itu Raftar sudah datang!! Baru datang malah manggil-manggil papah!!" kata Sania.
"Jagoannya papah!!" kata Riko mengembangkan tangannya.
Raftar langsung lari menubruk Riko dan memeluk papahnya
__ADS_1
Riko amat terharu...dua bulan lebih dia tak jumpa dengan Raftar sekali berjumpa putranya itu sudah bisa berjalan.
"Papah janji tak akan pernah meninggalkan kalian lagi!!" Riko menciumi kepala Raftar.
Malam itu satu keluarga besar itu ramai bercerita.
Ibu Intan sangat bahagia berkumpul dengan anak menantu dan para cucunya.
Sampai celetukan Syifa mengundang tawa semua orang!!"
Nenek terlalu muda jika di panggil nenek...panggil tante aja ya!!" celetuk syifa.
*****
"Apa kamu bahagia??" kata Asdar sambil merengkuh tubuh mungil Afifah.
"Aku sangat bahagia bang...untung aku tidak terlambat menyadarinya, abanglah yang Fifah cintai!!" kata Afifah balas memeluk tubuh suaminya.
"Kita akan memulai hidup baru kita di sini...sebenarnya abang tidak mau menerima uang penjualan mansion dari Riko, tetapi ibu memaksa, kata beliau itu untuk
modal kita nanti." Kata Asdar lagi.
"Ngga apa-apa bang...kita bisa mulai membuka usaha..." kata Afifah sambil menenangkan suaminya tercinta.
"Sampai kapan kalian akan bermesraan di luar begini?? seperti tidak ada tempat di dalam saja??" kata pak Abdullah menegur anak dan menantunya.
"Ah ayah seperti tidak pernah muda aja..." goda Asdar pada ayahnya.
Lalu mereka masuk kedalam rumah.
Abdullah membatin dalam hati, "terima kasih ya Allah...semoga pernikahan Asdar dan Afifah akan langgeng sampai kakek nenek sepertiku dan almarhum istriku dulu!!"
"Semoga kamu dan Riko di sana juga bahagia, Intan adikku!!" kata pak Abdullah menghela napas sebelum masuk ke dalam rumah.
*
*
***Bersambung....
Masalah Riko, Asdar dan Afifah sudah berakhir dengan kehidupan bahagia Asdar dan Afifah...lalu bagaimana dengan Riko sendiri??
Mohon dukungannya selalu ya guys...terima kasih🙏🙏🙏
__ADS_1