Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 29 Tidak Boleh Sakit


__ADS_3

"Mak...mamak melamun lagi ya...melamun tentang bapak lagi?"


"Sudah dua hari ini mamak demam terus, istirahat aja mak, supaya cepat sembuh."


Dina membawakanku segelas air putih dan obat penurun panas.


Memang sudah dua hari aku sakit, badanku panas dingin, kepalaku sakit sekali, rasanya seluruh badanku terasa tak bertenaga.


Memang beberapa hari kemarin aku mencetak bata sampai larut malam. Dina perlu uang untuk membeli buku pelajaran dan sepatu sekolahnya yang sudah jebol.


Aku memporsir tenagaku untuk bekerja demi kebutuhan anak-anakku. Pada akhirnya tubuhku ambruk kelelahan.


"Makan dulu ya mak, ini tadi ada makanan dibawakan sama bude sebelah."


"Kamu sama adik-adikmu sudah makan, Dina?"


"Sudah mak, mamak bekerja terus sampai larut malam tapi tidak memperhatikan kesehatan."


"Ya sudah, kamu mandikan Juned sama Syifa ya nak..."


Dina menggangguk lalu keluar kamar mencari adik-adiknya.


Aku paksakan untuk makan walaupun rasanya pahit seperti menelan pil kina, tapi aku harus cepat sembuh, aku tidak boleh sakit terlalu lama.


Air mata terkadang bercampur dengan makanan yang kutelan. Di depan Dina aku berusaha menahan kesedihanku, tapi akhirnya runtuh juga pertahananku.


Bagaimana aku tidak sedih, sekarang semua beban dan tanggung jawab jatuh di pundakku. Dan aku sama sekali tak tahu di mana keberadaan suamiku sekarang.


Kami benar-benar tersisih dan terbuang dari keluarga.


Tiba-tiba..."mak...ada telepon dari tante Wati...teriak Dina," lalu lari menghampiriku.


"Assalamualaikum....terdengar suara cempreng dari ujung sana."


"Waalaikum salam...apa kabarmu, Ti?"


"Aku baik-baik saja Nia, kami bertiga mau mampir ke rumahmu nih...kamu ada di rumahkan?"


"Ada...aku ngga kemana-mana kok."


"Ya sudah tunggu aja, satu jam lagi kami tiba."


"Tante mau mampir kemari ya mak?" Dina mengambil handphone dari tanganku.


"Iya nak, satu jam lagi mereka tiba di sini."


"Asyik..." Dina terlihat sangat senang mendengarnya.


"Kok kayaknya senang banget Dina?"


"Iyalah mak, biasanya tante Wati, tante Tuti sama tante Tini kalau datang pasti bawa banyak makanan."


"Ya sudah Dina mandi juga sana...tante-tantemu ngga suka lihat ponakannya bau apek."

__ADS_1


*


*


"Assalamualaikum...."


Serentak ketiga anakku menjawab "Waalaikum salam tante."


Mereka bertiga berebut berlarian kepintu untuk menyambut.


"Eh...ponakan-ponakan tante sudah mandi...sudah wangi ya..."


Mereka bertiga bergantian memeluk anak-anakku.


"Eh, tante bawa oleh-oleh buat kalian bertiga lho!!"


Tuti membawa tiga kantong belanjaan yang isinya cemilan semua.


"Mana mamak kalian?" tanya Tini.


"Mamak di dalam tante, mamak lagi sakit! Kata Dina."


Mereka bertiga bergegas masuk ke dalam kamar sempitku.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam, masuklah."


"Kami bertiga jadi tak tega melihat keadaanmu ini, Nia...!" kata Tuti.


"Insya Allah kalau bisa pasti kami bantu, kan sudah kami beri tahu berkali-kali."


Mereka mengoceh bergantian seperti burung beo. Aku cuma diam karena memang aku yang salah.


"Bagaimana...apa ada kabar dari bang Sofwan dan keluarganyakah?"


"Belum ada Tini, Aku bahkan nyaris putus asa."


"Nia, apa kamu ngga capek harus banting tulang mencetak bata begini terus? hasilnya tak seberapa, yang ada kamu sakit begini terlalu memporsir tenagamu."


"Mau sih, tapi aku mau kerja apa Tin? Secara usiaku sudah 36 tahun."


"Coba nanti aku tanyakan sama suamiku ya Nia, siapa tau dia bisa bantu!!!" kata Tini.


"Lihat dirimu Nia, dalam waktu kurang lebih 3 bulan saja, kulitmu sudah hitam terbakar panas matahari."


"Mana Nia yang dulu, Nia yang manis dan periang."


Aku tersenyum getir, aku memang tak pernah lagi memperhatikan penampilanku, yang ada di benakku hanya bagaimana aku bisa membayar uang kontrakan rumah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari kami.


"Ya sudah kami mau pulang dulu ya, secepatnya akan aku kasih kabar tentang pekerjaan itu."


"Ponakan-ponakan tante kemari...kata Tuti dan Wati berbarengan."

__ADS_1


"Siapa yang mau dikasih uang jajan, cium tante dulu."


Tanpa di kasih komando dua kali mereka bertiga menyerbu. Masing-masing memberi ciuman.


Kulihat masing-masing anakku diberi seratus ribu dari tante-tantenya. Orang-orang yang bahkan tidak mempunyai hubungan darah sama sekali bahkan menyayangi mereka. Bahkan tante mereka sendiri, jangan kata memberi uang, bahkan menganggap mereka itu tak ada.


"Nia kami bertiga pulang dulu ya, cepat sembuh jangan sakit terlalu lama, kasihan anak-anakmu."


Mereka bergantian memelukku dan Wati yang memelukku paling akhir menyelipkan uang ketanganku.


"Ngga boleh nolak, katanya...kami tahu pemberian kami tak seberapa tapi berarti untukmu dan anak-anakmu."


"Terima kasih teman-teman...semoga Allah yang akan membalas semua kebaikan kalian...Amin..."


Sepulangnya mereka, aku duduk di ruang tamu kami. Kepalaku masih terasa sakit, tapi badanku tak lagi demam.


"Mak...uang kita bertiga yang di kasih tante tadi biar mama aja yang pegang ya..." kata Dina.


"Kan mamak sudah 2 hari tidak bekerja, jadi bisa buat beli kebutuhan dapur."


Pintarnya ketiga anakku ini, mereka tau aja kesulitan yang dihadapi oleh orang tuanya.


"Dina mau ngerjain pr dulu ya mak, mumpung Juned sama Syifa lagi nonton televisi."


Kulihat Juned dan Syifa baring-baring di depan televisi sambil makan camilan yang dibawakan tadi. Biasanya jam segini aku masih di pencetakan bata sana, masih berkutat sama lumpur dan pasir.


"Alhamdulillah ya Allah, padahal aku tadi sudah bingung, aku masih sakit tapi beras sudah habis terus anak-anakku mau makan apa?"


Dengan uang yang diberikan teman-temanku tadi, kami besok masih bisa makan. Sakitku juga sudah mulai berkurang, semoga besok aku sudah sembuh.


Kudengar Juned dan Syifa tidur mendengkur mungkin kecapean main siang tadi terus' perut mereka juga kenyang.


"Maafkan mamak ya nak...sudah membawa kalian masuk kedalam penderitaan ini."


"Kalian bertiga sudah harus belajar mandiri dalam usia sedini ini."


Apalagi Dina, dia harus bisa lebih dewasa dari usianya karena harus menjaga kedua adiknya sekaligus mengurus mereka saat kutinggalkan bekerja. Terkadang dia banyak membantuku mengurus rumah.


Dia juga harus mengerjakan tugas-tugas sekolahnya seorang diri.


Kuambilkan bantal untuk menyangga kepala Juned dan Syifa. Badanku sudah agak mendingan, mataku juga tidak berkunang-kunang lagi.


"Dina, besok belikan mamak beras di warung bu Darmi ya, nak..."


"Iya mak...besokkan hari minggu, Dina libur juga."


"Mamak istirahat aja besok, senin kalau sudah benar-benar sembuh baru kerja lagi."


Aku berbaring di samping kedua anakku, lelah rasanya seluruh jiwa dan ragaku. Bukan hanya lelah tubuh, tapi juga lelah hati dan pikiran memikul semua beban ini.


Untung saja sepeninggal mas Sofwan, aku masih punya anak-anak tempatku berkeluh kesah berbagi cerita suka dan duka. Entahlah sampai kapan semua akan berakhir...


***Bersambung....

__ADS_1


Bantu like, komen dan juga bila tidak keberatan votenya ya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š agar penulis bisa terus berkarya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™***


__ADS_2