
"Dina sudah siap manggung malam ini? Dina siap om...Dina nyanyi sambil main gitar ya..."
"Sultan...saya mulai kerjanya jam berapa?" Kataku.
"Dari jam 16.00 sore sampai jam 23.00, mba ngga usah khawatir, ntar mba dan Dina akan saya antar pulang."
"Ngga usah, Sultan...kita berdua naik motor juga...paling jemput Syifa sama Juned di tempat Tini."
"Jangan lupa ya sore nanti...."Siap om..." Dina tampak senang sekali.
*
*
"Tuti, kita ke rumah Tini yuk...kita ajak Nia jalan-jalan supaya dia tidak bosan di rumah terus, kasihan dia."
"Kita berangkat sekarangkah, Wati?"
"Tahun depan, Ti...ya, sekaranglah..."
"Okelah..." Aku sekalian mau belanja bulanan juga, Ti!!"
"Omonganmu belanja bulanan!!! Makan aja kamu masih di tempat mamamu kok!!! Suamimu pulang dua minggu sekali, anakmu mondok di pesantren, terus kamu itu mau beli apa?"
"Kan biar kayak ibu-ibu yang lain, gitu..."
"Ngga usah bergaya, biasanya belanja di lelek sayur juga...kamu inget ngga terakhir kamu naik eskalator?"
"Kamu mau naik ke lantai 3 tapi naiknya eskalator yang turun...kamu paksa mau naik tapi tuh tangga malah menurun terus."
"Iya...kalau inget itu, aku malu banget...eh...sampai ada yang bilang, "Dari kampung mana...bu?"
"Kujawab aja, dari negeri antah berantah..."
"Terus juga, sudah tau belanja di supermarket...tapi masih juga kamu nawar tu barang."
"Iya...kata mas-masnya, "Belanja aja di pasar bu..ada itu jagung harganya 10 biji 5000 rupiah."
"Iya, mas..." Kataku.
"Iya bu...kulitnya jagung...."
"Kesel aku jadinya..."
"Makanya jadi orang, jangan udik-udik amat...supaya ngga malu-maluin kalau kita belanja ke kota."
"Ayolah kita, go...." Dengan semangat Wati melangkah!!
"Ntar, sis...kamu pergi dasteran gitu? kalau pakaianmu gitu, ngga jadi bareng ah...malu aku..."
"Kan naik mobil juga kita perginya, Tuti..."
"Tetep aja aku malu...Wati...mbok-mbok aja bisa lebih keren, masa kamu kagak?"
"Haduh...kamu ngga pernah dengar pepatah ya, "Jangan pernah menilai orang dari luarnya saja."
"Emang dalam dastermu, kamu pakai apa?"
"Lingerie..." Jawab Wati enteng.
__ADS_1
"Ngapain pake lingerie? Siapa yang mau kamu pamerkan?"
"Tetangga..."
"Wes...daripada makin ngga jelas kita berangkat aja, yuk...tapi ganti dulu daster renda-rendamu itu...isin...aku!!" Tuti berlalu menuju ke mobil meninggalkan Wati.
"Tut..."
"Mbok ya manggil namaku itu yang jelas...Tut..Tut...ae...nanti sangka yang ngga tau dikirain, kentut."
"Ngga apa-apa...daripada disangka perkutut?" Wati nyengir sambil nyetir.
"Gini lho Tuti...diantara kita berempat, Nia itu kan paling ayu...ehmmm terus..." Tuti menunggu lanjutan ucapan Wati.
"Kalo aku, kalian semua bilang lubang hidungku besar...terus kamu katanya jidatmu jenong...terus kalo Tini, matanya sipit sebelah..."
"Nah yang paling sempurna itukan..."
"Kesempurnaan itu hanya milik Allah, Wati..." Kata Tuti kalem.
"Bah....coba dengerin jangan diputus dulu...Nia itu kan paling cantik dari antara kita bertiga, tapi nasibnya tak sebagus wajahnya, ya?"
"Kadang aku kasihan sama dia...orangnya ayu...tutur bahasanya lemah lembut, sabar dan pengertian...tapi kenapa nasib percintaannya selalu tragis ya..."
"Malah kita yang bermodalkan wajah pas-pasan ini...."
"Maksudmu, mentang-mentang wajahku pas-pasan terus kehidupanku kamu minta-minta supaya tragis juga? Oo..tak tutu'i ndasmu.." Wati menggerutu.
"Ngga Wati...kamu memang pas-pasan, tapi kan hidung besarmu membawa hoki, tho?"
"Ishhh tau ah...nasib, jodoh, rejeki, hidup dan mati kan di tangan Allah."
"Ya..ya...Wati memang selalu benar..." Wati menggosok-gosok hidungnya bangga.
"Nah...kita sudah sampai...mudahan mereka sudah siap-siap!!"
"Lha...apa tadi kamu sudah telepon Tini dan Sania, Tut?"
"Belum..."
"Haduh Tuti...Tuti...kupikir aku ini pintar...sekalinya kamu jauh lebih pintar daripada aku, ya??"
"Ya jelaslah...mereka belum siap, diberi tau aja, kagak!!!"
"Assalamualaikum...Tini..."
"Waalaukum salam...apa sih kalian ini ribut amat?"
"Tin...suamimu mana?" Wati celingukan.
"Kamu ke sini perlu sama aku atau suamiku?"
"Perlu sama kamu, kita mau ngajak kamu, Sania dan anak-anaknya jalan."
"Oh, boleh deh...ntar kutelepon orangnya dulu ya..."
Sementara Tini menelpon Sania, Wati dan Tuti melihat Sultan baru keluar dari kamarnya.
"Sssttt...kita ajaki duren satu itu yuk..." Tuti berbisik.
__ADS_1
"Duren apa? Duriankah?" Wati celingukan mencari duren.
"Dasar dodol, Sultan itu lho yang kubilang duren!!"
Tak disangka..."Sultan...kamu bawa durenkah?" Kata Wati.
Otomatis Sultan bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu..."Duren? Ngga ada mba!!! Mana ada duren di kamar mandi...Sultan lho habis mandi...baru pulang ngajarin les anak-anak, mana sempat ke pasar beli duren?"
"Ampunkah dosa-dosaku dan temanku ini ya, Allah...pengennya kugetok kepalanya pake palu...biar pinteran dikit..." Tuti memijit keningnya.
Dengan lantang Tuti berteriak..."Wati, duren itu duda keren...Sultan itu kan duda...keren pula...mau kuajak jalan sama kita, biar dia bisa pendekatan sama Sania, tau...?"
Ngos...ngos.."Gemes aku jadinya..." Kata Tuti mengatur napasnya.
Mendengar itu, Wajah Sultan langsung memerah sampai ketelinga.
"Bener atau ngga Sultan...jawab yang jujur...kalau bohong, dosa sama kita mbak-mbakmu yang sudah tua ini!!"
"Aku belum tua, lho ya....aku masih muda..." Kata Wati.
"Kamu mah ABG..." Tini langsung nyeletuk sehabis menelpon Sania.
"Iyakah? Aku kayak ABG?" Kata Wati.
"iya...anak bau gosong, "Kata Tini.
"Kampret...kalian semua..." Wati cemberut.
"Sanianya mau, katanya tunggu sebentar dulu."
"Gimana Sultan? Mau ikut dengan kita, ngga?"
"Ayolah dek...Tini ikut membujuk...Kita semua di sini mendukungmu...soal mas'mu biar nanti mba yang nanganin."
Akhirnya Sultan mengangguk setuju. "Kita tunggu Sania dan anak-anaknya di luar aja yuk...panas di sini." Kata Tuti.
"Kalian serius mau menjodohkan adik iparku dengan Sania?" Tini berbisik.
"Ya, seriuslah..." Kata Tuti dan Wati kompak.
"Ok...kalau begitu kita sepaham untuk hal yang satu ini."
"Aku berharap mereka berjodoh...aku kasihan melihat Sania jadi kasir di kafe milik adik iparku itu."
"Baru kerjanya shift-shiftan lagi...aku kasihan dengan bayi yang ada dalam kandungannya."
"Dina juga sekarang menyanyi di kafe, buat bantu-bantu meringankan beban bundanya."
"Kasihan mereka itu, ya...dalam kondisi hamil diperlakukan demikian oleh suaminya...pengen rasanya kubunuh Miko dan Alena itu..." Kata Wati.
"Jangan asal main bunuh...ntar kalau kamu masuk penjara, suami dan anakmu yang mondok di pesantren siapa yang ngurus?" Kata Tuti.
"Iya sih...ngga jadi ah...nanti suamiku nikah lagi kalau aku masuk penjara..."
"Nah itu sudah...makanya kalau mau ngomong itu dipikirkan dulu...jangan asal jeblang aja." Kata Tini.
***Bersambung....
Mohon selalu dukungannya...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏
__ADS_1