
Aku begitu terharu. Pertemuan anak-anak dengan bapaknya ini merupakan pertemuan yang tak terduga.
Mereka berempat tampak bahagia. Mas Sofwan mengajak kami berkeliling. Dia membelikan apapun yang diminta oleh anak-anak.
"Dek, mas bahagia sekali malam ini...bisa berkumpul bersama dengan kalian lagi."
"Seandainya kita bisa berkumpul lagi seperti dulu..."
"Ngga apa-apa mas, yang penting aku sudah menepati janjiku untuk mempertemukanmu dan anak-anak, walaupun secara tak sengaja begini."
"Drrttt...drrttt..."
"Kok malah di matikan, mas? Aku melihat dia mematikan ponselnya.
"Dari Anggita...mengganggu saja...aku sedang tidak ingin diganggu, "katanya."
"Ayo pak, kita beli gulali...yuk!!"
"Juned, makan yang manis terus dari tadi...pak!! Nanti gigi Juned sakit, lho!!"
"Untuk malam ini biarkan saja, Dina...kan jarang-jarang kalian jalan sama bapak."
"Ayo dek, sini...kok jalan menyendiri di belakang."
Mas Sofwan menarik tanganku. Digandengnya erat-erat tanganku sambil berjalan mengikuti anak-anak.
"Dek, serasa kita masih bersama ya??"
"Seandainya waktu bisa kuputar kembali, mas ingin membina kembali rumah tangga kita seperti dulu."
"Yang lalu ngga usah diungkit lagi, mas...kita sudah punya kehidupan masing-masing sekarang."
"Dek, beli batagor yuk...kesukaan kita dulu..." mas Sofwan menarik tanganku.
"Mas...batagor dua ya..."
"Kita duduk di bawah pohon itu aja yuk, sambil mengawasi anak-anak main."
"Kebiasaan lho kamu ini kalau makan selalu saja belepotan, dek!"
Mas Sofwan mengelap mulutku dengan tisu di tangannya. "Kebiasaan kok selalu dibawa terus."
Dia mengomel tapi masih mengelap mulutku dengan telaten.
Kupandangi wajahnya dari jarak sedekat ini. "Jantungku masih berdetak saat dekat denganmu seperti ini, mas!" bisikku dalam hati.
Sadar jika sedang kupandangi, dia balas menatapku.
Kami saling berpandangan lama sekali. "Dek, i still love you..." Bisik mas Sofwan.
Saat wajah kami semakin dekat, tiba-tiba..." hayo, bapak mau cium bunda, ya!!!" Juned dan Syifa datang mengagetkan kami berdua.
Wajahku memerah, begitu juga dengan mas Sofwan.
__ADS_1
""Ngga kok, tadi ada sisa makanan di bibir bunda kalian, bapak cuma mau mengelap saja, "elak Sofwan.
Mau tidak mau aku jadi tertawa geli melihatnya.
"Bun, kita pulang yuk!" Ajak Dina.
"Kok cepat banget kalian mau pulang? Bapak masih kangen sama kalian bertiga."
"Kangen sama kami atau sama bunda, pak? Secara lho dari tadi bapak ngeliati bunda terus, tangan bunda aja dipegangi terus kayak mau nyebrang jalan."
Sadar kalau kami masih berpegangan, aku segera menarik tanganku dari genggaman mas Sofwan.
"Iya mas, ini sudah malam! Besok Dina dan Juned harus sekolah lagi."
"Lagi pula tadi mas ke sini tujuannya mau beli apa?"
"Oalah...lupa dek! Tadi Anggita titip martabak manis sama pampersnya Aisyah."
"Ya sudah kalau begitu mas, kita berpisah di sini saja..."
"Sini semua peluk bapak..." Anak-anak serentak memeluk bapaknya.
Setelah puas memeluk anak-anak, dia mengangsurkan tangannya padaku. Dengan ragu aku menatapnya, tapi tetap kusambut juga.
Ada rasa pedih saat aku menaruh tangannya di dahiku seperti dulu sewaktu kami masih menjadi suami istri.
Diciumnya kepala anak-anak satu persatu. Dan tanpa aku sempat menghindar, kepalaku pun diraihnya dan diciumnya pucuk kepalaku.
"Dadah pak..." Anak-anak melambaikan tangan sambil berlalu.
"Dadah, anak-anakku dan istriku sayang..." mas Sofwan bergumam sedih.
Setelah mereka hilang dari pandangan, barulah Sofwan mampir ke penjual martabak manis dan memesannya. Tak lupa dia singgah ke supermarket membeli pampers untuk Aisyah.
"Kenapa lama sekali sih, pah? Mana ponsel di matikan lagi!!"
Anggita menyambut di depan pintu sambil ngedumel.
"Iya maaf mah, tadi papah ketemu teman lama, terus kita ngobrol dulu."
"Tapi ngga harus matikan ponsel juga kali, pah!!!"
"Bukan di matikan sengaja, mah...tapi baterainya lowbat."
"Nih pesanannya mamah, dan ini pampersnya Aisyah."
Setelah itu dia berlalu dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Mamah tau, papah sedang berbohong! Sampai kapan, papah bisa mencintai mamah seutuhnya? Tubuh papah bisa mamah miliki tapi hati papah tidak."
Anggita memandang sayu ke arah suaminya yang menghilang di pintu belakang.
Sementara Sofwan sendiri berendam di bath tub sambil tersenyum bahagia. Pertemuan dengan anak-anak yang sudah setahun tidak di temuinya, seolah menjadi obat tersendiri bagi hatinya yang telah dingin membeku.
__ADS_1
Suara tawa canda Juned dan Syifa juga Dina, seolah bagai angin surga. Lalu tangan Sania yang terus digenggamnya dari awal hingga pulang tadi, sungguh membuatnya sangat bahagia.
Dia hanya merasa bahagia jika dekat dengan orang-orang terkasihnya. Jika tidak, dia akan kembali membeku seperti bongkahan es di kutub selatan.
*
*
"Bun, bapak sudah benar-benar sembuh ya? Bapak sudah ngga sakit lagi...kita ajak bapak pulang lagi yuk bun, ke tempat kita yang dulu."
"Dina kangen pengen ngumpul lagi seperti dulu, bun."
"Ya ngga mungkinlah, nak...bapak sekarang sudah punya ibu Anggita dan adik Aisyah, dan bundapun sudah punya ayah Miko."
"Bunda dan bapak sudah punya kehidupan masing- masing sekarang."
"Tapi bapak bahagia bersama kita, bun...terlihat dari pancaran sinar mata bapak tadi."
Aku terdiam mendengar pendapat Dina. "Tapi bapak lebih bahagia jika hidup bersama dengan keluarga barunya, Dina...begitu pula dengan bunda."
Oh iya, Dina minta belikan gitar emang sudah bisa main gitar?"
"Sedikit-sedikit bisa, bun!! Di sekolah sudah diajarkan kunci-kuncinya, sebab Dina nanti menyanyi di acara perpisahan sekolah."
"Wih...mantap anak bunda sekarang." Aku mengacak rambutnya.
Memang Dina mempunyai suara yang merdu. Mungkin dia mewarisinya dari mas Sofwan. Karena setahuku, mas Sofwan punya suara yang bagus.
Sementara itu Miko baru tiba di kediamannya di Singapura.
Rumah peninggalan kakek tampak lengang. Biasanya paman Leon selalu menyambut kedatangannya, tapi semenjak paman sakit, tak ada lagi yang menyambutnya.
Aku membunyikan bel dan tak lama kemudian keluarlah seorang gadis cantik bermata bulat dengan bola mata berwarna kebiruan.
"Alena...how are you?"
Kami saling berpelukan. Aku sudah menganggap Alena seperti adikku sendiri.
"I'm fine...akhirnya abang sampai juga ke Singapura, bang!!" Dia berkata dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata.
"Terus paman dirawat di rumah sakit mana, Alena?"
"Sudah pulang bang, itu ada di dalam."
"We don't have enough money, bang...Alena menatapku sedih.
Aku dan Alena masuk ke dalam lalu terus ke teras belakang. Tampak seorang lelaki tua dengan rambutnya yang kelabu nampak duduk di atas kursi roda membelakangi kami.
Dialah paman Leonku yang sudah merawatku sejak kecil dan sudah kuanggap seperti ayah kandungku sendiri.
***Bersambung...
Tetap selalu minta dukungannya ya, teman-teman...like, komen , vote dan favoritnya. Terima kasih🙏🙏***
__ADS_1