Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 17 Ibu Sakit


__ADS_3

"Kamu masih mengantuk?" Mas Sofwan menggenggam tanganku yang terasa dingin seperti es.


Kami berangkat dari rumah mertua sehabis sholat subuh. Mobil Colt pertama jam 6 pagi lambat dari itu kami harus menunggu 1 sampai 2 jam lagi.


"Ngga mas...cuma perutku agak mual karena tadikan ngga ada sarapan sama sekali, mas."


"Lho...mas pikir kamu tadi sarapan roti yang disiapkan ibu."


"Aku menggeleng...aku ngga enak mas...tadi ada kak Nuri di meja makan."


"Minumpun tadi aku ngga sempat mas." Padahal bukan tidak sempat, aku takut dia berkomentar pedas lagi pagi-pagi.


Tadi pas pamitan pulang aja waktu aku mau menjabat tangannya, dia pura-pura mengambil makanan jadi tangannya belepotan makanan.


"Ya sudah...pakai ini dikeningmu." Mas Sofwan memberiku minyak kayu putih.


"Ini tadi ibu sebelum berangkat membawakan bekal buat kita, makanlah...perjalanan cukup jauh nanti kamu masuk angin lalu muntah."


"Ya Allah ibu mertuaku yang baik dan perhatian."


Beliau diam-diam memasukan ke dalam tupper ware sisa makanan acara tadi malam yang sudah dipanaskan. Ada nasi dan 2 tempat lain berisi ayam, daging dan sambal goreng.


Di kantongan yang satu lagi berisi kue-kue dan makanan ringan. Rupanya ibu sengaja langsung memberikan ke suamiku agar anak-anaknya yang lain tak berkomentar.


"Makanlah...untuk ibu dirumah, ibuku sudah membawakan di tas lain."


"Terima kasih ya mas...mas ngga makan?"


"Mas tidak terbiasa sarapan pagi dengan nasi Nia, tadi sebelum berangkat sudah makan roti kok."


Kami duduk di kursi paling belakang, jadi aku bisa leluasa sarapan dulu.


"Maaf ya Nia...Mas Sofwan berbisik pelan."


"Untuk apa?" kataku.


"Atas perlakuan yang tak menyenangkan dari kakak-kakakku."


"Mas janji tidak akan lagi membawamu kesana jika hanya akan membuat hatimu terluka."


"Sudahlah mas ngga usah terlalu dipikirkan, kataku menyemangatinya."


"Sehabis makan kamu tidurlah, nanti setelah sampai mas akan bangunkan ya."


Mataku terasa mulai mengantuk sehabis perutku diisi. Aku menyenderkan kepalaku di bahu mas Sofwan dan mulai tertidur.


*


*


"Bu...ibu mau pergi kemana? kok rapi tenan tho bu...biasanya walaupun mengambil pensiun bulanan ibu tak pernah serapi dan secantik ini."


"Ibu mau nunggu bapakmu Nia...tadi bapakmu janji mau jemput ibu, dan ibu disuruh dandan cantik dan rapi begini."


"Ibu pie tho...bapakkan sudah lama meninggal bu."


"Siapa bilang?" ini buktinya bapak mau datang jemput ibu.


"Bapak cuma pergi jauh Nia...tapi ibu yakin suatu hari pasti bapak akan datang menjemput ibu."


"Nah itu bapakmu sudah datang Nia..."


"Terus jika ibu sama bapak perginya lama, Nia sama siapa dong bu..." rengekku.

__ADS_1


"Jangan manja Nia..." bapak yang sedari tadi diam angkat bicara dengan bahasanya yang tegas tetapi tetap lembut seperti biasanya.


"Ada seseorang yang sekarang sudah ada bersama dengan kamu nak, jadi bapak dan ibu tak merasa khawatir meninggalkan kamu sendiri kini."


"Bu...pak...Nia mau ikut....!"


"Nia...Nia...bangun...kamu mimpi apa pagi-pagi gini sampai ngigau begitu?"


"Napasku tersengal-sengal...aku meminum air yang disodorkan suamiku."


"Aku mimpi ketemu bapak dan ibu mas..."


"Bapak katanya mau jemput ibu, mau membawa ibu ke rumah bapak yang baru."


"Sudah...itu cuma bunga tidur...kamu sudah hampir 2 jam tidur bersender di bahu mas...sampai bahu mas kesemutan."


Aku nyengir..."Maaf ya mas...masih lama lagikah kita baru sampai?"


"Sebentar lagi...pusing sama mualmu sudah hilang?"


"Sudah mas...ya sudahlah...orang tadi kamu tidur kekenyangan sampai ngiler gitu...


"Iyakah mas..." kataku sambil mengelap mulut dan pipiku...


Suamiku tertawa melihat kelakuanku. "Ngga sayang...walaupun kamu ngeces atau ngiler kamu tetap istriku yang paling cantik"


"Ngegombal pagi-pagi...aku mencubit lengannya."


"Ngga apa-apalah mas ngegombal istri sendiri...kamu mau mas ngegombal Dinara?" Mas Sofwan menggodaku.


"Haduh...untung mobil coltnya mau masuk kedalam gang tempatku tinggal."


Karena barang-barang yang kami bawa cukup banyak.


Kalau tetanggaku yang lain jangan ditanya jam segini sepi karena mereka rata-rata bekerja semua.


"Assalamualaikum bu..."


"Kok sepi ya mas...tapi pintunya ngga terkunci."


"Nia...Nia...ibumu tadi diantar ke puskesmas naik mobil pak rt, sebab tadi waktu ibu mau menengok ibumu badan beliau panas tinggi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur."


"Aduh...kenapa ibu tidak menelpon Nia memberitahu jika ibu sakit ya, bu?"


"Kami juga sudah menganjurkan begitu tapi ibumu bersikeras mencegahnya, ibumu bilang selesai acara kamu dan suamimu akan pulang."


"Eh...sebentar...pak rt menelpon... Nia."


"Hallo...oh...bapak langsung bicara dengan Nia saja pak...ini dia dan Sofwan baru sampai."


Bu Marno menyerahkan handphonenya kepadaku.


"Hallo Assalamualaikum...Nia...ini bapak lagi di puskesmas...ibumu mau dirujuk ke rumah sakit umum."


"Waalaikum salam...ibu sakit apa pak?"


"Kata dokter puskesmas tadi ibumu sakit liver, harus segera ditangani."


"Ini kami mau berangkat menuju rumah sakit umum."


"Iya pak nanti saya dan mas Sofwan akan segera menyusul kesana."


"Mas kita harus segera kerumah sakit, ibu dirujuk kerumah sakit, mas."

__ADS_1


"Ya sudah kamu tenang dulu ya...terima kasih ya bu Marno.."


"Iya sama-sama Nia...Sofwan...semoga ibu Kamsiah cepat sembuh ya..."


"Amin...sekali lagi terima kasih banyak ya bu."


Aku dan mas Sofwan memasukan barang bawaan ke dalam rumah. Kumasukan ke kulkas makanan yang dibawakan tadi oleh ibu mertuaku.


Mas Sofwan mengeluarkan motornya. Iya...sejak acara akad nikah, semua barang dari rumah kontrakannya sudah dibawanya pindah kemari.


Kubawa beberapa potong baju ganti untuk kami dan untuk ibu jika sewaktu-waktu disuruh menginap di sana kami tak perlu khawatir lagi.


"Pelan-pelan naik motornya mas jangan ngebut-ngebut aku takut."


"Ya makanya kalau takut pegangan sama mas dek, jangan pegangan sama jok motor...kirain mas ini ojek online apa...?"


"Iya mas maaf ya...kebiasaan sebelum nikah masih terbawa-bawa sampai sekarang..." aku nyengir.


Kami tiba di rumah sakit setengah jam kemudian.


"Pak rt di mana ya mas...kamu turunlah dulu mas mau parkir motor dulu."


"Assalamualaikum...bapak di mana....kami sudah di depan rumah sakit pak?"


"Masuk aja...ibumu dirawat di ruang Melati 2005."


Setelah kami bertanya pada sekuriti yang jaga di depan, kami lalu ditunjukan kamar tempat ibu dirawat.


Kulihat di dalam sudah ada pak rt dan istrinya, sedang menunggu ibu yang sedang direkam medis oleh seorang suster.


"Ini anak dan menantunya suster..." bu rt memperkenalkan kami.


Setelah suster pergi dan pak rt serta istrinya pamit, aku duduk di samping ibu.


"Bu...kenapa Nia tidak ibu telepon waktu sakit..." tak tega rasanya melihat tangan itu dipasang jarum infus.


"Ibu hanya sakit biasa nak...ngga usah khawatirkan ibu."


"Kamu dan Sofwan kapan tiba di rumah?" suara itu terlihat tegar walaupun aku tau ada rasa sakit yang ditahan oleh wajah teduh yang nampak semakin tua kini.


"Jam setengah sepuluh bu, lalu bu Marno memberi tahu ibu dibawa ke puskesmas dan pak rt yang menelpon bahwa ibu dirujuk ke rumah sakit."


"Sudah kamu istirahat saja...itu suamimu suruh istirahat dulu, bukannya besok dia mulai masuk kerja kembali."


"Ibu ngga apa-apa hanya sedikit lelah dan lemas, ibu mau istirahat juga dulu ya."


"Oh iya bu...ada salam dari bapak dan ibu serta keluarga di rumah."


Suamiku juga ikut duduk di sampingku menggenggam tangan ibu.


"Waalaikum salam...sampaikan salamnya kembali Sofwan dan ibu minta maaf tidak bisa mendampingi kalian."


"Dek...mas pulang sebentar ke rumah beres-beres dulu terus bawakan kamu makan siang ke sini ya..."


Mas Sofwan bicara setengah berbisik takut ibu yang baru saja tertidur akan terbangun lagi.


Aku hanya mengangguk sedih. Aku tidak tau sejak kapan ibu terkena liver begini. Karena sepenglihatanku ibu itu wanita yang ceria dan tak pernah mengeluh.


"Ibu...ibu Nia sayang ibu...cepat sembuh ya bu." Bisikku sambil meneteskan air mata.


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan votenya ya teman-teman...dan satu yang author minta please jangan boom like ya...

__ADS_1


__ADS_2