
Kami tak bicara sepatah katapun. Jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam, aku memandang lurus ke depan. Kepalaku terasa penuh, kejadian yang terjadi tadi seperti mimpi buruk bagiku.
"Semenjak tadi dia diam saja...apa dia marah padaku, ya?"
"Dek, mas minta maaf...mas tau kalau mas khilaf, tak seharusnya kita melakukan itu."
"Di dalam pikiran mas masih beranggapan, kamu masih istri yang mas Sofwan cintai."
Aku tetap diam tak menggubris perkataannya.
"Dek....hukumlah mas Sofwan jika itu bisa menghilangkan semua kemarahanmu."
Aku menoleh padanya. "Walaupun aku menghukummu, apakah bisa mengubah semua keadaan, mas? Apakah bisa mencegah semua yang telah kita lakukan?"
"Sudah sampai mas, aku turun duluan...pulanglah segera, kasihan istri dan anakmu lama menunggu di rumah."
Aku membuka pintu mobil, dan tanpa menoleh lagi aku berlalu dari hadapannya dan masuk ke rumah.
Sofwan termangu di dalam mobilnya. "Aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar, dia sangat membenciku sekarang."
"Bun...sudah pulang? Kok duduk aja di ruang tamu?" Dina menyapaku yang duduk termenung di sofa.
"Lho...Dina belum tidur? Juned sama Syifa sudah tidurkah?"
"Dina baru selesai belajar bun, terus tadi ayah telepon menanyakan bunda."
"Bunda sebenarnya bukan dari tempat tante Tini kan? Sebenarnya bunda dari mana?"
Kupandangi wajah gadis kecilku ini, memang secara wajah dia mirip denganku, tapi dari cara bicara dan tingkah lakunya, dia mirip bapaknya.
"Bunda tadi habis bertemu bapakmu, Dina!!"
"Bunda masih sayangkan sama bapak? Bun, sekarang sudah ada ayah Miko, kasihan ayah jika bunda duakan, lagian bapak sekarang sudah bahagia dengan anak dan istri barunya."
Aku diam tak tahu harus bilang apa pada putriku yang hampir menginjak remaja ini. Apa yang dikatakannya itu benar, Sofwan adalah masa lalu dan Miko adalah masa kini.
"Bunda mau mandi dulu ya, Dina." Aku beranjak masuk ke dalam. Aku merasa tubuhku ini sangat kotor dengan apa yang tadi telah kulakukan dengan mas Sofwan.
Aku berharap, air akan meluruhkan semua bekas yang ditinggalkan mas Sofwan padaku.
Belum sempat aku masuk ke kamar mandi, Dina menghampiriku dengan membawa ponselku.
"Ayah menelpon ingin bicara dengan bunda..."
__ADS_1
"Bun, sudah pulang ke rumah? Kok ngga langsung telepon ayah? Ayah khawatir tau, apalagi Dina bilang di sana hujan turun sangat deras."
Kudengar suara dari seberang sana terdengar sangat khawatir.
Perasaan berdosa atas pengkhianatanku semakin menjadi-jadi. Aku sangat takut, bahkan untuk mendengar suara suamiku aja aku tak punya keberanian.
"Kok diam aja sih, bun? Bunda baik-baik aja kan? Bunda ngga sakit kepala kena hujan waktu pulang tadi kan?"
Air mataku menetes mendengar suara penuh kekhawatiran dari Miko, alangkah berdosanya aku, karena cinta yang sudah berlalu aku mengabaikan cinta masa depanku.
"Bunda baik-baik aja kok, yah...hanya sedikit pusing kena hujan tadi."
"Ya sudah, ayah ngga mau menganggu dengan menelpon terlalu lama, bunda cepat istirahat ya...biar besok pagi badan bunda bisa segera enakan."
"Selamat malam istriku sayang...selamat tidur...mimpikan ayah ya, bun...Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam, ayah...ayah juga di sana harus jaga kesehatan ya, dan cepat pulang...bunda kangen sama ayah."
"Ayah juga kangen sama bunda, padahal baru tadi pagi ayah pergi, sekarang bawaannya sudah kangen aja."
"Rasanya tiga hari di Jakarta seperti tiga tahun lamanya."
"Ya sudah, ayah tutup dulu ya...!"
*
*
"Baru pulang jam segini, Sofwan?" kak Nuri menyapaku.
"Papah mau makan? Nanti mamah panaskan lagi makanannya." Anggita ikut menyapaku.
"Ngga usah, mah...papah tadi sudah makan di kantor."
"Aisyah sudah tidur ya, mah? Papah pengen menciumnya."
"Ya sudah dong pah, anak bayi kan memang kerjanya cuma bobo, papah mandi terus ganti baju sana, gih..." Anggita mengambil tas kerja dan jas yang kupakai.
Kenapa rasanya tak semangat jika harus kembali ke rumah? Dulu semasa masih bersama Sania dan anak-anak, hatiku itu rasanya pengen cepat pulang aja, bertemu dan berkumpul dengan anak istri di rumah.
Tapi sekarang? Semua terasa hampa, sampai berapa lama aku bisa bertahan hidup dalam kepura-puraan dan menjalani sandiwara cinta seperti sekarang ini?
Semenjak ingatanku berangsur pulih, aku merasa hidupku benar-benar membosankan. Dari rumah ingin cepat-cepat pergi ke kantor, supaya pikiranku tidak suntuk. Berharap di kantor aku bisa bertemu dengan Sania, dan di rumah? Hiburanku cuma Aisyah saja.
__ADS_1
"Kak...akhir-akhir ini, sikap mas Sofwan berubah!!" Anggita menyampaikan keluh kesahnya kepada Nuri dan Anya.
"Berubah bagaimana, dek? Perasaan sikapnya, biasa-biasa aja, sih!!"
"Entah hanya perasaan Anggit aja atau gimana, tapi hati kecil Anggit mengatakan, mas Sofwan seperti menyembunyikan sesuatu, kak!!"
"Bagaimana dia bisa menyembunyikan sesuatu, dek...Sofwan lho ngga ingat sama sekali akan masa lalunya."
"Kak, amnesia yang dialami oleh mas Sofwan bukanlah amnesia permanen alias amnesia yang suatu hari nanti bisa saja sembuh."
"Terkadang dia melihat Anggita seperti orang asing yang tidak dikenalnya...kadang sikapnya manis, kadang sikapnya dingin ke Anggita...berubah-ubah macam bunglon itu kak."
"Ada-ada aja kamu ini, Anggita! sudahlah, jangan suudzon pada suamimu sendiri...ngga baik."
"Iya kali kak, mungkin ini hanya perasaan Anggit aja, karena Anggit sangat mencintai mas Sofwan, dan Anggit tidak ingin kehilangan mas Sofwan."
"Sofwan juga ngga mungkinlah meninggalkan kamu, dek! Secara sekarang sudah ada Aisyah bersama kalian."
"Iya kak, semoga saja begitu..."
Aku berendam dalam bathtub, aku berusaha menenangkan pikiranku. Karena sejak tadi yang ada di otakku hanya Sania dan Sania. Dalam pikiranku selalu terbayang persetubuhan kami tadi di penginapan. Terbayang pemberontakannya berusaha menolakku, lalu rintihan tak berdayanya saat jiwa dan raga kami bersatu.
"Hufffttt..." Aku menenggelamkan tubuhku sampai kepalaku ke dasar bathtub. Berharap aku bisa menghilangkan semua bayangannya.
Aku harus terbiasa tanpa dia, karena di hari senin nanti, dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan. Tapi mampukah aku tanpanya?
Sudah setahun lebih aku menyia-nyiakan dia, aku sungguh-sungguh menyesal...seandainya ada cara untuk membawa Saniaku kembali kepadaku?
Pikiranku benar-benar galau tingkat dewa, aku seolah ada di persimpangan jalan yang memiliki dua cabang. Dan aku bingung harus memilih jalan yang mana.
"Lama amat Sofwan di kamar mandi, dek?" Anya keluar dari kamar setelah menidurkan anaknya.
"Mas Sofwan memang biasa begitu, kak...apalagi kalau dia sedang suntuk, kayaknya dia sedang suntuk sekarang."
Anggita termenung sambil menyusui bayinya. "Entah mengapa mamah merasa, papah sekarang mulai berubah? Apakah ingatan papah sudah kembali?"
"Mamah ngga mau kehilangan papahmu, Ais...papah milik kita dan selamanya tetap akan jadi milik kita."
***Bersambung....
Happy reading readers๐๐ semoga selalu suka dengan ceritaku...dan satu lagi aku minta jangan boom like ya...jika tidak mau membaca please jangan boom like.
Tidak lupa minta selalu dukungannya...like, komen, vote dan favoritnya jika berkenan...terima kasih๐๐๐๐***
__ADS_1