
Setelah sibuk selama tiga harian ini untuk mengurus berkas-berkas pernikahan kami, aku diberi tahu mas Sofwan, bahwa keluarganya akan datang lagi besok membawa seserahan.
Pagi ini di rumah, ibu sudah sibuk menyiapkan penyambutan untuk keluarga calon mempelai laki-laki.
Aku juga sibuk berberes rumah dibantu dengan mas Sofwan.
Dia laki-laki yang patut diacungkan jempol. Dia mau bersusah-susah membantu sampai hal yang sekecil-kecilnya.
"Nia, mas tinggal kerja dulu ya...nanti jam istirahat siang mas balik lagi kerumah menemui keluarga mas."
"Iya mas...kan keluargamu siang juga baru tiba di sini kan?"
"Nduk...ada bahan yang kurang untuk masakan ibu...coba kamu pergi kewarung sebentar ya!"
"Nggeh bu..." aku membereskan sapu dan serok, kurapikan disamping rumah lalu masuk kedalam.
"Cepetan jangan pake lama ya...ntar kamu ngobrol dulu."
"Nggeh bu...Nia akan langsung kembali...ngga usah khawatir."
Aku jalan kaki ke warung yang letaknya cukup jauh dari rumah. Mulai tiga hari yang lalu aku sudah tidak bekerja lagi, karena bosku di pabrik tidak bisa memberi izin terlalu lama. Akhirnya ibu dan mas Sofwan menyarankan untuk berhenti saja.
"Bruk...ya Allah sakitnya...lenganku lecet ter asah di jalan bersemen bercampur batu kerikil ini."
"Aku berusaha duduk...untung hanya terserempet bagian bahuku saja."
"Hei mbak kalo jalan hati-hati...Untung motor saya ngga lecet nih...masih belum lunas lagi cicilannya."
Dengan kesal aku berdiri dan balas membentaknya. Tak kupedulikan lagi rasa sakit di lenganku dan mengeluarkan darah dari luka lecetnya.
"Hei bu...jalan setapak ini bukan punya nenek moyangmu...seharusnya anda yang harus berhati-hati...apalagi di sini juga banyak anak
kecil yang berlalu lalang."
Ngga urus mau dia ibu-ibukah atau belum menikahkah...tetap kuberi penekanan pada kata ibu diawal kalimatku.
"Bukannya minta maaf habis nyerempet orang, malah memikirkan motornya lecet atau ngga."
"Saya ngga peduli ya dengan lenganmu...makanya jangan jalan ditengah."
"Kamu buta atau katarak hah...akupun mulai terbawa emosi...jelas-jelas saya jalan di pinggir...makanya kalo masih pagi gini jangan pake kacamata hitam..."
"Kamu jalan di jalan perkampungan bukan di jalan raya sana yang bisa seenak jidatmu mau ngebut-ngebutan."
"Terus kamu mau apa? mau minta ganti rugi? biasanya kan begitu...apalagi orang K.A.M.P.U.N.G...seperti mu."
"Dengan alasan menabrakan diri lalu minta ganti rugi." Dia tersenyum sinis.
Kemarahanku sudah memuncak melihat perilaku wanita yang ada di depanku ini.
Kutarik leher bajunya kudekatkan lenganku yang lecet berdarah ke wajahnya.
"Lihat pakai matamu ya atau perlu kucolok dulu biji matamu itu, hah..."
"Kamu ngga usah banyak gaya di sini...kami di sini tidak peduli kamu mau orang kaya atau apa...saya berteriak dan orang-orang pada berdatangan kemari...habis kamu!"
"Sudah salah bukannya minta maaf malah nyolot...pergi sana...saya tidak butuh uangmu..awas jika melihatmu lagi disini masih dengan gaya sok kayamu...habis kupereteli satu persatu nanti motor barumu itu dengan batu."
__ADS_1
"Ingat saya tidak peduli kamu siapa...jadi jangan banyak gaya di sini."
Kudorong dia sambil memberi isyarat jari-jariku melintang di leherku.
"Pergi sana...awas kalau masih saya lihat ngebut dijalan ini lagi ya."
"Dasar preman kampung, sahutnya dengan wajah pucat pasi."
"Pergi...tidak usah banyak berkomentar, atau saya sumpal mulutmu dengan kerikil-kerikil yang ada di sini." Aku meraup segenggam kerikil dan berjalan mendekatinya.
Dengan cepat dia naik dan melajukan motornya tanpa menoleh lagi.
"Astaghfirullah....aku mengusap wajahku sambil beristighfar berkali-kali."
"Pertanda apa ini ya Allah...masih pagi begini sudah ada orang yang cari ribut ngajak berantem."
Dengan menahan perih aku melanjutkan pergi kewarung.
"Calon pengantin kok kelayapan kemana-mana, bawa-bawa luka lagi."
"Lenganmu kenapa Nia...kok lecet biru lebam begitu?"
"Iya mpok...tadi saya terserempet di ujung jalan sana."
"Bukannya minta maaf malah nyolot."
"Oh kalo mpok jadi kamu sudah kutinju mukanya biar tau rasa."
"Percaya...siapa sih yang ngga kenal mpok Rina karateka pemegang sabuk hitam yang sudah menjuarai berbagai pertandingan," godaku.
"Oh iya sampai lupa...kamu mau beli apa? Kok malah terbawa emosi."
"Beli gula merah sama pewarna hijau sekalian betadinenya ya mpok."
"Ini uangnya ya mpok...saya permisi dulu..."
Sepanjang perjalanan aku berpikir...ada pertanda apakah ini atau memang pas hari sialku aja.
"Kok lama Nia...kamu belanjanya di Hongkong ya...terus kenapa tanganmu itu?"
"Habis jatuh bu...tadi terserempet motor dijalan, tapi Nia baik-baik saja kok bu!"
"Nak...calon mertua sama calon besanmu mau datang, kamu malah dapat musibah begini."
Ibu mengambil betadine di tanganku dan mengobati lenganku.
Aku meringis menahan perih. Air mataku tak terasa menetes sangking menahan pedihnya.
"Ngga apa-apa...lukanya sudah ibu bersihkan, semoga lukamu tidak akan infeksi."
"Memang siapa sih yang menabrakmu tadi?"
Kujelaskan dari awal sampai akhir ceritaku dengan ibu.
"Nia tidak pernah melihat wanita itu di kampung kita ini bu...entah dia tinggal di mana."
"Tapi kesombongannya...ampun...mungkin dia tinggal di kampung seberang, tapi hanya mengambil jalan pintas lewat sini agar cepat sampai ke jalan raya."
__ADS_1
"Ah...Sudahlah bu...malas Nia membahas masalah tadi."
"Ya sudah kamu siap-siap dulu, gunakan baju yang sudah dibelikan oleh nak Sofwan untukmu ya..."
"Nggeh bu," aku berlalu masuk kedalam.
Kulihat semua makanan tertata rapi dimeja termasuk dengan camilan pembukanya.
Tak lama Mas Sofwan datang bersama rombongan satu mobil. Rupanya dia langsung menunggu keluarganya lalu bersama-sama kerumah.
Ibu dan bapak kulihat sudah turun lalu menyusul seorang wanita cantik dan seorang gadis kecil berumur 6 tahun.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..." sambutku dan ibu.
"Masuk....kata ibu."
"Bu, ini kakak Sofwan yang nomor dua...kak Juwita namanya."
Kami berjabatan tangan. Kak juwita ini lebih tua dua tahun dari aku, orangnya ramah dan cantik tapi tak banyak bicara.
"Kak Nuri dan kak Anya berhalangan hadir, mereka titip salam buat ibu dan Nia."
"Sofwan..angkat barang-barang seserahan untuk Nia yang ada di mobil."
Mas Sofwan membawa semua kedalam rumah. Barang-barangnya banyak banget tak bisa kuperinci satu persatu.
Lalu kami semua duduk di ruang tamu sambil menikmati camilan yang dibuat ibu.
"Nia...jadi kami dari keluarga besar Sofwan sudah resmi melamar Nia untuk menjadi istri Sofwan, tanggal dan harinya sudah ditentukan."
"Dua hari lagi akad nikah kalian yang akan dilaksanakan di sini dan atas permintaan ibu Kamsiah, bahwa resepsinya diadakan di kediaman Sofwan."
Rasanya semua bagai mimpi. Bahkan sakit di tanganku tak lagi terasa, tertutup dengan rasa bahagia.
"Nia... mas ikut bapak dan ibu pulang nanti dua hari lagi mas kembali."
"Mas ambil cuti berapa hari?"
"Mas ambil cuti 2 minggu, sampai bertemu 2 hari mendatang di akad nikah kita Nia..jaga dirimu di sini..."
Tapi ada yang mengganjal pikiranku. Entah mengapa pandangan mata kakak perempuan mas Sofwan tadi menyorotkan tatapan tak suka padaku.
Tapi dia pandai menyembunyikannya. Dengan banyak tersenyumlah atau pura-pura ngobrol dengan putrinya.
Tapi dari awal datang tadi dia sama sekali tak ada menyapaku bahkan menatapku pun tidak.
"Astaghfirullah...semoga ini hanya perasaanku saja."
"Aku tak ingin bersuudzon kepada orang lain, apalagi dia akan menjadi kakak iparku."
Itu baru satu yang kutemui, belum lagi dua yang lain. Akankah lebih baik atau malah lebih parah dari yang tadi? Entahlah."
*Bersambung....
Jangan lupa like dan komennya๐๐๐*
__ADS_1